My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-53 Penyerangan Mendadak


__ADS_3

Biarkan aku menangis sekali ini saja. Aku janji tidak akan lama, hanya sebentar. Dan ijinkan aku meminjam pundakmu agar tangisanku tidak terdengar oleh orang lain.


Aku bukan orang yang kuat. Aku adalah orang yang mudah menangis. Aku tidak mau berpura-pura menjadi sosok yang tegar. Selama ini aku berusaha untuk tidak menangis di depan orang lain. Tapi kali ini, biarkan aku menangis sekencang-kencangnya seperti anak kecil yang tidak diberi permen.


“Kita masuk ya, Ngel. Gue temenin lo.”


Beruntunglah aku memiliki Alessyia. Dia selalu ada memberikan pertolongan pertama untukku. Alessyia membawa aku untuk masuk ke kamar kost-an. Ia tidak pernah melepaskan gandengannya kepadaku. Mungkin ia tahu jika dilepas, maka aku tidak mampu berdiri tegak.


“Ini lo minum dulu !”


“Makasih, Cha.”


Aku menerima gelas yang berisi air putih pemberian dari Alessyia.


“Angel, lo bisa cerita sama gue.”


Aku terdiam. Pikiranku masih kacau. Aku mendengar Alessyia berbicara. Tetapi aku tidak bisa mencerna maksud dari perkataannya tersebut. Melihat aku hanya melamun dengan tatapan kosong mengarah dinding, Alessyia memeluk aku dari arah samping. Pelukannya penuh arti. Dorongan untuk selalu menjadi pribadi yang kuat.


“Cha. . .tolongin gue. Hiks. .hiks.”


“Gue pasti tolongin lo. Jangan khawatir, gue akan selalu ada di samping lo.”


“Hiks. . .hiks. .”


“Apa yang harus gue lakukan agar lo gak nangis lagi ?”


“Gue mau bebas dari Frans, Cha.”


“Kenapa lo bisa bersama si Psycho itu lagi ?”


Aku menceritakan keseluruhannya kepada Alessyia. Dimulai dari kedatangan Papah dan Mamah yang secara tiba-tiba, dan memergoki aku sedang bersama Pak Angga. serta kehadiran Frans yang ikut serta bersama kedua orang tuaku. Dilanjutkan dengan Frans yang meminta restu untuk menjadi kekasihku yang langsung disetujui oleh Papah.


“Gue mohon Cha, bantu gue !”


“Gue akan bantu lo. Bagaimanapun caranya Frans akan menjauh dari lo. Dan akan gue pastikan lo mendapatkan hak dan kebebasan lo lagi.”


“Makasih ya, Cha. Makasih. Hanya lo yang selalu ada saat gue kesusahan.”


Alessyia tidak akan membiarkan aku seorang diri. Dia khawatir jika saja Frans datang secara mendadak. Alessyia menemani malamku, dan menemani aku menyambut sinar matahari.


Mungkin karena kehadiran Alessyia di sampingku, aku jadi merasa lebih tenang. Frans juga yang biasanya menjemput aku untuk berangkat ke kampus, pagi ini aku tidak menemukan sosoknya.


Dosen mata kuliah memasuki ruangan. Ia membuka pagi dengan sangat hangat. Meskipun usianya tidak lagi muda dan terdapat guratan kerutan di keningnya, tapi wajahnya masih sangat tampan. Bahkan sebagian rambutnya sudah berubah menjadi putih. Selama aku disini, dialah dosen satu-satunya yang sangat baik hati. Dengan kehadirannya, pagiku menjadi ceria. Sejenak aku bisa melupakan sosok Frans Psycho.

__ADS_1


“Hahaha.”


Aku dan Alessyia tertawa bersama sambil melangkah meningalkan kelas ketika dosen telah berlalu lebih dulu.


“Suka deh gue mata kuliah Pak Jaka. Dia bisa membuat suasana kelas lebih bernyawa."


“Benar, Cha. Gue juga suka. Dia lucu banget iya gak sih ?”


“Hahaha.”


Aku dan Alessyia kembali tertawa dengan sangat bahagia. Tanpa disadari telah ada orang-orang yang memperhatikan langkah kita sejak keluar ruang kelas. Mereka membuat kaget dengan berteriak dan menepuk bahu dengan kekuatan sedang. Sebenarnya pukulannya tidak sakit, tetapi karena dilakukannya secara tiba-tiba sehingga mampu membuat jantung berolahraga secara mendadak.


“Ihhh kalian apa-apaan sih ? Kaget tahu.”


“Kalian kenapa ketawa-tawa ? Kehadiran kita yang sudah menunggu sejak lama di depan kelas saja tidak dihargai.”


“Yaaah maaf ! Tadi kita gak lihat, iya gak Ngel ?”


“Tadi kita lagi membicarakan Pak Jaka.”


“Kenapa kamu naksir, Ngel ?”


“Ih Kak Aldo ada-ada aja. Enggak lah. Angel cuma senang aja dengan cara dia menyampaikan mata kuliahnya.”


“Hahaha.”


Semua tertawa terbahak-bahak. Aku mengejar Kak Aldo karena gak terima dengan perkataannya yang mengira aku menyukai Pak Jaka. Kali ini aku benar-benar kagum aja sama Pak Jaka, bukan suka. Karena gak mungkin aku suka kepada pria yang bahkan usianya lebih tua dari Papahku. Dan yang lebih utama karena hati aku masih menjadi milik Pak Angga.


“Oh iya, bagaimana hubungan kamu dengan guru kamu itu ? Sepertinya orang yang selalu antar jemput kamu, mereka orang yang berbeda.”


Aku menarik nafas dalam-dalam. Sangat berat jika mengingat perjalanan hidup yang saat ini aku jalani. Tetapi aku harus tetap melewatinya, untuk bertahan hidup.


Alessyia sepertinya merasakan jika aku tidak mampu untuk bercerita. Ia mengambil alih pertanyaan yang tertuju kepadaku. Alessyia menjelaskan kepada Kak Beni dan Kak Aldo persis seperti yang aku jelaskan kepadanya semalam.


Setelah mendengar penjelasan dari Alessyia, Kak Beni dan Kak Aldo semakin over protektif kepadaku. Mereka memaksa untuk mengantar aku pulang agar memastikan tidak diganggu oleh Frans. Padahal aku baru bisa bernafas lega karena Mozea tidak lagi mengusik hidupku. Tetapi aku harus merasakan kecemasan lagi karena ulah Frans.


Tidak ada pesan dari Frans. Sepertinya untuk saat ini aku bisa menerima tawaran Kak Beni untuk mengantar pulang. Alessyia berjalan di depan berdampingan dengan Kak Aldo. Sedangkan aku dan Kak Beni berada di belakang mereka. Sesekali kami tertawa bersama membicarakan topik yang lagi hangat dibicarakan orang-orang.


Bukk. . .


Tiba-tiba seseorang datang secara tiba-tiba. Aku tidak tahu kenapa dia bisa ada disini. Dia langsung menyerang Kak Beni. Pukulan keras yang mendarat di pipi membuat Kak Beni jatuh tersungkur di tanah.


“Kak Beni. . .”

__ADS_1


Aku langsung memastikan keadaan Kak Beni. Aku dapat melihat darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Aku segera berpaling melihat orang yang masih berdiri tanpa merasa bersalah setelah menyerang Kak Beni.


“Kenapa lo mukul dia ? Dia gak salah apa-apa sama lo ? Kenapa lo nyerang dia ? JAWAB GUE FRANS !!!”


“Itu karena dia telah berani dekat-dekat sama kamu Angel.”


“Lo gak tahu kehidupan gue. Termasuk orang-orang yang selalu berada disamping gue. Lo gak berhak memukul orang-orang yang gue sayangi. Lo mikir gak sih ?”


“Tapi gue gak suka melihat kamu ketawa dengan sangat bebas bersama mereka. Sedangkan saat bersamaku saja kamu tidak pernah tersenyum sedikitpun.”


“Lo tahu kenapa alasannya gue bisa ketawa bersama mereka ? Itu karena gue nyaman bersama mereka. Mereka bisa mengubah duka menjadi tawa. Sedangkan bersama lo, gue gak pernah merasa nyaman. Yang ada gue selau khawatir jika berada di dekat lo.”


“Kamu ikut aku sekarang.”


“Gue gak mau.”


Aku telah menolak ajakan Frans. Tetapi dia berlaku kasar dengan menarik tanganku secara paksa untuk menjauh. Padahal aku masih harus mengobati luka Kak Beni. Secara tidak langsung aku harus bertanggung jawab atas kesembuhan Kak Beni. Karena semua ini terjadi karena aku yang membawa Frans ke dalam kehidupan mereka. Mereka tidak tahu apa-apa, tetapi mereka juga kena imbasnya.


“Frans lepasin !”


“Frans sakit.”


Aku terus memberontak dan berusaha melepaskan ikatan tangan Frans. Tetapi tidak di dengar sama sekali oleh dia.


“Lepasin. Sakit.”


Frans membuka pintu depan penumpang mobilnya.


“Masuk.”


“Gak mau.”


“Masuk sebelum kesabaran gue habis.”


Dengan sangat terpaksa aku mengikuti perintah dari Frans. Aku takut jika Frans akan berbuat lebih kasar. Apalagi dia menyebut dirinya ‘gue’ padahal biasanya dia menggunakan kata ‘aku’. Sejak memasuki mobilnya aku hanya menunduk terdiam tanpa suara.


“Angel aku minta maaf ! Aku seperti itu karena cinta aku sangat besar sama kamu. Tapi kenapa kamu tidak pernah mengerti ?”


Frans menarik nafas kemudian melanjutkan pembicaraannya.


“Aku sangat mencintai kamu. Aku takut kehilangan kamu. Sudah cukup aku kehilangan kamu Karena hal bodoh yang aku lakukan. Aku gak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya.”


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2