
Kepercayaan yang telah di khianati berulang-ulang. Akankah kepercayaan itu masih berpihak padanya ?
Frans menarik pergelangan tanganku. Aku berusaha untuk melepaskannya. Tetapi tidak bisa. Yang ada malah menimbulkan rasa perih disana.
“Lepasin Frans !”
“Enggak. Sampai kamu dengerin dulu penjelasan aku.”
“Gue gak mau. Gue gak mau dengar apa-apa dari lo.”
“Angel, please !”
“Lepas !!!”
Akhirnya setelah usaha sekeras tenaga untuk terbebas dari Frans, aku berhasil menyingkirkan tangan dia dari tanganku. Beruntunglah taksi segera datang, sehingga aku bisa segera pergi dari hadapan Frans. Frans berusaha menghalangi jalanku dengan menahan pintu mobil agar tetap terbuka. Tetapi sia-sia, kali ini tenagaku lebih kuat dari tenaga dia.
Aku berusaha untuk menghubungi Pak Angga. Karena yang ada dalam pikiranku saat ini yaitu bertemu dengan Pak Angga. Tetapi belum juga ada panggilan dariku yang mendapat jawaban darinya.
“Please, angkat angkat !”
“Aarrghh.”
Aku tidak menyerah. Akan ku coba terus sampai Pak Angga menjawabnya.
“Ahh syukurlah.”
Sebelum aku memanggilnya kembali, Pak Angga telah lebih dulu meneleponku. Aku segera menekan tombol hijau tanpa menunggu lama.
“Hallo, Bee. Bee Angel mau ketemu sekarang.”
“Kamu kenapa ? Suaranya gemetar gitu.”
“Gak papa, Bee. Bisa gak kita ketemu sekarang ?”
“Tentu. Mau ketemu dimana ?”
“Angel dalam perjalanan sekarang. Bee dimana ?”
“Aku di rumah. Kamu kesini aja, ya ! Ada projek yang harus aku selesaikan.”
“Eemmm. Oke.”
Aku sempat ragu untuk menerima tawaran dari Pak Angga. Entah mengapa aku selalu gugup jika sesuatu yang berhubungan dengan rumah Pak Angga. Tetapi ada yang lebih penting dari rasa gugupku. Aku segera memberikan alamat yang rumah Pak Angga kepada supir taksi.
“Pak, tolong ke Cilekong, Gang Situba, ya !”
“Baik, Neng.”
Sepanjang jalan, pikiranku tidak tenang. Tanganku gemetar sembari memegang gadget. Jika driver taksi tidak memanggil aku berulang-ulang, entah sampai kapan aku bisa tersadar.
“Eu-eu iya, Pak.”
“Sudah sampai, Neng.”
“Oh iya, Pak. Ini uangnya. Terimakasih ya, Pak.”
“Oh iya, Neng. Hati-hati, ya !”
Sebelum memasuki gerbang, aku menarik nafas dalam-dalam. Aku mencoba untuk menenangkan pikiranku agar tidak terlihat nervous.
Tok. .tok. .tok
“Sebentar.”
Pintu terbuka. Aku dapat melihat Pak Angga dengan jelas. Dengan celana jeans dan kemeja kotak-kotak berwarna merah marun.
“Ayo masuk.”
Aku mengikuti langkah Pak Angga sampai berhenti di ruang tamu. Di mejanya sangat berantakan. Laptop yang sedang terbuka. Serta beberapa buku terbuka acak-acakan manampilkan halamannya.
“Silahkan duduk ! Maaf ya berantakan.”
“Iya gak papa, Bee.”
“Kamu mau minum apa ?”
“Air putih aja, Bee.”
“Oke.”
__ADS_1
Pak Angga segera berlalu ke belakang. Kemudian kembali dengan membawa nampan yang berisi minuman dilengkapi kue kukis cokelat.
“Bee, Angel kan mintanya air putih.”
“Masa tamu spesial disuguhi air putih.”
“Tapi kan merepotkan, Bee. Apalagi kamu lagi mengerjakan projek.”
“Gak papa sayang.”
Aku tidak enak. Padahal aku sudah meminta air putih saja, tetapi Pak Angga membawakan aku jus alpukat. Aku tahu Pak Angga lagi banyak kerjaan. Makanya aku tidak mau merepotkan dia.
Pak Angga duduk di sebelahku. Ia mengambil dan menutup buku yang terletak di tengah-tengah antara aku dan dia.
“Kamu kenapa mau ketemu ? Kangen, ya ?”
“Bee aku tahu sesuatu.”
“Apa ?”
“Aku tahu siapa otak dibalik peristiwa di Hotel Angkasa.”
Pak Angga menatapku tanpa suara. Ia memberikan aku waktu untuk menjelaskan semuanya.
“Jadi ini semua ulah Frans sama Windy. Tadi aku tidak sengaja mendengar ucapan Frans ketika dia sedang menelepon. Frans menyebut nama Windy, dan berbicara perihal foto.”
“Kamu serius ?”
“Iya, Bee.”
“Oh iya, aku jadi ingat sesuatu. Tadi aku mengantar Rendy ke rumah Windy. Aku juga mendengar pembicaraan Windy yang sedang menelepon. Kurang lebih seperti ini pembicaraannya.
Pak Angga melakukan reka adegan Windy yang sedang menelepon.
“Gimana reaksi Angel ?”
“. . .”
“Dia cemburu gak ?”
“. . .”
“. . .”
“Iya dong. Windy akan menempuh segala cara untuk merebut kembali Angga Sutantyo.”
“. . .”
“Tapi kamu hebat juga jadi fotografer.”
Pak Angga kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Setelah itu Windy memutuskan teleponnya karena Rendy memanggil namanya. Aku juga curiga ketika dia menyebut namaku. Tapi aku tidak tahu kalau itu perihal Hotel Angkasa. Windy juga tidak menyebutkan lawan bicaranya. Jadi yang di telepon Windy itu Frans ?”
“Iya, Bee. Aku yakin banget. Aku sangat jelas mendengar Frans menyebut nama Windy. aku yakin mereka bekerja sama untuk menghancurkan hubungan kita, Bee.”
“Windy benar-benar keterlaluan. Sikapnya sudah tidak bisa di toleransi lagi. Dia terus mengganggu kehidupan kita. Aku harus memberinya pelajaran.”
“Bee, gak usah. Emosi tidak akan ada akhirnya jika dilawan dengan emosi lagi. Yang ada Windy akan semakin geram. Bisa jadi dia melakukan sesutau yang lebih jahat lagi.”
“Tapi jika di diamkan dia akan semakin ngelunjak.”
“Bee, balas dendam terbaik yaitu berbahagia di hadapan Windy. Kita tidak boleh gentar dengan ancaman yang dilakukan Windy. Justru kita harus semakin mempererat hubungan kita, agar tidak ada kesempatan bagi Windy untuk masuk di antara kita lagi.”
Pak Angga menggenggam jemariku dan berkata, “Terimakasih sayang. Kehadiran kamu sebagai pelengkap hidupku. Kamu menutupi semua kekuranganku. Jika tidak ada kamu, maka aku akan bertindak secara kasar kepada siapa saja yang mengganggu hidup aku. Kamu sebagai air yang memadamkan api amarah di hidupku. Terimakasih.”
Pak Angga mencium punggung tanganku, “I love you.”
“I love you too, Bee.”
Pak Angga menarik tanganku dan membawa aku mendekatinya. Ia mencium keningku mesra, dan memelukku penuh kasih sayang. Aku merasa nyaman disampingnya. Pikiranku yang sebelumnya melayang entah kemana, sekarang telah aku temukan ketenangan. Dialah yang selalu mengusir keresahan yang menghampiri diriku.
“Bee, nanti Rendy lihat.”
“Enggak bakal sayang. Rendy lagi berada di rumah Windy.”
“Tapi Bee, itu projeknya harus segera di selesaikan.”
“Sebentar lagi juga selesai sayang.”
__ADS_1
Sudah berbagai alasan aku ucapkan agar Pak Angga melepaskan pelukannya. Tetapi itu tidak mempan. Aku bingung harus bagaimana lagi. Karena jika berlama-lama berada dalam pelukannya, bisa jadi jantungku copot. Dari tadi jantungku bekerja sangat keras sejak pertama Pak Angga mencium tanganku.
“Kamu mau pulang kapan ?”
“Nanti aja, Bee.”
“Gak akan dicariin sama Mamah kamu ?”
“Mamah tahunya Angel keluar sama Frans. Kayanya Frans gak akan bilang kalau Angel kabur. Sama saja dia bunuh diri.”
“Sebentar ya. Aku selesaikan projeknya dulu.”
Aku mengangguk. Aku tidak mau berpisah dengan cepat. Lebih baik begini. Memperhatikan Pak Angga yang sedang fokus menatap layar monitor. Dengan begitu aku bisa menikmati paras tampan miliknya.
Hoaamm.
“Angel, kamu ngantuk ?”
“Hah ? Enggak kok, Bee.”
“Itu kamu nguap.”
“Hehe.”
“Kamu mau tidur di kamar aku ?”
“Hah ? Enggak, Bee. Gak mau.”
“Kenapa ? Tapi kamu ngantuk itu.”
“Eemm. Terasa sedikit mesum, Bee.”
“Haha. Kamu mikir apa sih ?”
“Eu-eu enggak, Bee.”
Pak Angga geleng-geleng kepala mendengar perkataanku. Entah karena efek kantuk sehingga aku sedikit berbicara ngelantur. Pak Angga benar, lama-lama kantuk itu semakin terasa. Padahal semalam aku tidur sangat nyenyak. Mungkin karena suasana sunyi tanpa suara, membuat mataku ingin terpejam.
Cup. . .
Aku membuka mata ketika merasakan hangatnya sesuatu yang menempel di kening.
“Bee ?”
“Yaah aku membangunkan kamu, ya ? Maaf ya sayang ! Gara-gara aku mencium kening kamu, kamu jadi bangun.”
*Bersambung*
.
.
.
Author mengucapkan terimakasih banyak kepada para pembaca yang berkenan mampir di karya author😘😘
.
.
Mohon maaf jika ada typo atau alur yang kurang jelas🙏
.
.
Jika ada kritik dan saran silahkan sampaikan pada kolom komentar dibawah 👇👇👇
Tentunya dengan selalu menggunakan kata-kata yang sopan, ya 😉😉
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung author dengan meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote🥰🥰
Agar kita bisa saling menyapa. Jangan menjadi pembaca gelap🤭🤭
.
__ADS_1
Terimakasih 😇🙏🙏