My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-39 Trauma Datang Lagi


__ADS_3

Kondisi ini terasa de javu. Alat bantu pernafasan yang melekat, serta selang infus yang mengalir ke tanganku. Peristiwa itu terjadi lagi. Aku mengingatnya. Aku tidak bisa membuka mata pada waktu itu, tetapi pendengaranku masih berfungsi.


Alessyia berteriak memanggil namaku. Kemudian berteriak meminta tolong. Alessyia berusaha untuk menyadarkan aku, tetapi tidak berhasil. Kemudian ia menelepon seseorang untuk menolong kami.


Tidak lama datanglah seseorang mendobrak pintu. Ia sempat bertanya kepada Alessyia apa yang terjadi. namun melihat kondisiku semakin buruk, ia segera membawa aku keluar dari gudang sebelum mendapatkan penjelasan dari Alessyia.


Sekarang saat aku membuka mata terdengar kerusuhan antar dua orang yang sedang berdebat.


“Kamu lihat ! Ini semua gara-gara kamu. Jika bukan karena kamu Angel tidak mungkin sampai masuk rumah sakit lagi.”


“. . .”


“Kamu tahu Angel sekarang phobia terhadap ruang yang pengap tidak memiliki pentilasi ?”


“. . .”


“Itu semua karena kejadian waktu itu yang membuat Angel terkurung di gudang. Persis seperti saat ini.”


Alessyia hanya terdiam mendengarkan Kak Reza yang sedang marah kepadanya. Aku bisa melihat tetesan air mata yang keluar membasahi pipinya. Aku ingin menghentikan ini semua. Tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Kondisiku masih sangat lemah.


“Kakak tahu kamu yang telah mengurung Angel waktu itu.”


“Bukan Echa, Kak.”


“Terus siapa ? Mozea ?”


“. . .”


“Mozea atas bantuan kamu ? Iya ?”


“Echa bisa menjelaskannya, Kak.”


“Kakak tidak habis pikir sama kamu. Sikap kamu sangat kekanak-kanakan. Bukan ini cara kamu untuk bisa mendapatkat hati seseorang. Bukan dengan menyakiti orang lain agar bisa bersama dengan orang yang kamu cintai.”


“Maaf ! Maafkan aku ! Hiks. . .hiks. . .”


Alessyia segera berlalu meninggalkan Kak Reza beserta amarahnya. Sampa saat ini aku masih berusaha untuk mengumpulkan kembali tenagaku. Kak Reza menyadari aku telah terbangun. Ia segera menghampiri untuk memastikan kondisiku.


“Kamu tidak apa-apa ?”


“Angel tidak apa. Angel mau bicara sama Alessyia. Kakak tidak seharusnya memarahi dia.”

__ADS_1


“Kenapa kamu tidak bilang kalau Alessyia dan Zea yang telah mengurung kamu ?”


“Bagaimana Kakak tahu ?”


“Untuk mendapatkan informasi seperti itu mudah bagi Kakak. Kakak juga tahu alasan kamu meminta Kakak menjauh dari kamu.”


“. . .”


“Kakak tidak sengaja mendengar perbincangan kalian waktu itu di taman belakang kampus. Alessyia sahabat kamu sejak lama. Dia menyukai Kakak. Dan kamu tidak mau Alessyia membenci kamu. Iya ?”


“Masih ada lagi yang lebih besar.”


“Geng Mozea. Kamu takut sama mereka ?”


“Angel hanya ingin kuliah dengan damai tanpa memiliki musuh.”


“Maafkan Kakak ! Semua masalah yang menimpa kamu terjadi karena Kakak. Kakak hanya ingin berteman dengan kamu. Kakak tidak berniat untuk membuat kamu kesusahan atau membuat kamu celaka.”


Aku meminta Kak Reza untuk membawa Alessyia kembali ke ruang ini. Kak Reza segera menjalankan instruksi yang telah aku beri. Ia kembali setelah satu jam kemudian. Ia mengatakan bahwa Alessyia tidak ada di sekitar sini. Kak Reza telah berkeliling ke seluruh penjuru rumah sakit, tetapi tidak nampak kehadiran Alessyia.


Aku khawatir. Aku takut Alessyia kembali membenciku. Apalagi jelas Kak Reza memarahi Alessyia dan seolah membela diriku. Aku tidak enak kepadanya.


Berulang kali aku mencoba untuk memanggil Alessyia melalui telepon selular. Namun tidak ada jawaban. Terkadang ia mereject panggilan dariku.


Aku meminta Kak Reza untuk membantu aku duduk di kursi roda. Aku ingin mencari dengan mata kepalaku sendiri keberadaan Alessyia.


“Biar Kakak antar kamu !”


“Tidak usah. Angel sendiri aja. Angel tidak mau Alessyia salah paham jika melihat kita bersama. Apalagi kalian telah resmi menjadi sepasang kekasih.”


Aku tidak mau di antar sama Kak Reza. Itu hanya akan menimbulkan masalah lagi antara aku dan Alessyia. Aku bisa merasakan hancurnya hati Alessyia saat ini. Tetapi Kak Reza tidak mungkin membiarkan aku melajukan kursi roda sendiri. Apalagi aku tidak cukup mahir untuk mengoperasikannya seorang diri. Tidak semudah yang aku bayangkan. Tanganku pegal menggerakan roda agar bisa berputar.


“Kamu tidak bisa seorang diri. Kakak yang akan jelaskan kepada Alessyia jika dia salah paham.”


Aku tidak bisa lagi menolak. Kak Reza benar, aku memerlukan bantuan. Jika aku memaksakan melakukannya sendiri hanya akan membuang-buang waktu.


Kami berjalan berputar mengelilingi rumah sakit. Tetapi Alessyia tidak ada. Aku tidak enak kepada Kak Reza, pasti ia sangat lelah mendorong kursi roda yang aku tumpangi. Aku meminta Kak Reza untuk berhenti sejenak.


“Kak, itu bukannya Alessyia ?”


Aku seperti melihat bayangan Alessyia. Dia sedang duduk termenung di dekat kolam ikan. Matanya sangat sendu. Tatapannya kosong.

__ADS_1


“Cha. . dari tadi gue nyari lo. Akhirnya ketemu juga.”


“Cha. .”


Aku menarik tangan Alessyia dan memutarkan badannya. Matanya telah membengkak. Air matanya tidak berhenti mengalir. Aku membawa Alessyia dalam dekapan. Ia semakin menangis tersedu-sedu.


“Maafin gue, Ngel ! Maafin gue ! Hiks. . hiks. .”


“Udah lo jangan nangis ya.”


“Gue emang sahabat yang kejam. Gue gak pantas dibilang sahabat. Sahabat macam apa yang mencelakakan sahabatnya sendiri. Gara-gara gue. Ini semua gara-gara gue lo jadi masuk rumah sakit.”


“Cha, ini bukan salah lo. Semua yang terjadi telah menjadi rencana Tuhan. Kita hanya bisa mengikuti skenario yang telah disusun oleh-Nya.”


“Enggak. Ini salah gue. Andai dulu gue gak bilang sama Geng Mozea, lo gak mungkin memiliki phobia seperti sekarang. Gue khilaf, Ngel. Gue pikir Mozea bisa membantu untuk mendapatkan keinginan gue. Karena gue tahu Mozea akan melakukan berbagai cara untuk menjauhkan wanita yang berusaha mendekati Kak Reza. Tapi karena gue melakukan tanpa berpikir terlebih dahulu, gue jadi membuat lo celaka.


“Gue juga sadar bahwa cara yang gue lakukan adalah salah. Bagaimana bisa gue mendapatkan seseorang dengan cara yang kotor ? Mungkin ini balasan buat gue. Gue juga meraskan bagaimana terkurung di dalam ruangan pengap seperti itu.”


“Biarlah yang telah berlalu. Gue ikhlas. Yang terpenting sekarang gue menemukan kembali Alessyia yang gue kenal.”


“Maafin gue, Ngel. Hiks. . hiks. . .”


Alessyia memelukku sangat erat. Aku teringat akan suatu hal. Jika Alessyia berhasil meminta bantuan dengan menelepon seseorang, berarti dia berhasil melepaskan tali yang mengikatnya. Aku tahu bagaimana cara Alessyia terbebas dari tali yang membelenggu. Dengan menggesek-gesekannya kepada kursi besi. Aku bisa merasakan sakitnya. Itu sangat perih. Karena waktu itu aku juga melakukan hal yang sama. Namun usahaku gagal, aku lebih dulu tidak sadarkan diri karena tidak mampu bertahan dengan oksigen yang sangat rendah.


“Cha gue lihat tangan lo !”


Dan benar saja, tangan Alessyia penuh luka. Bahkan masih ada sedikit darah yang keluar. Alessyia meringis kesakitan.


“Tangan lo harus segera diobatin !”


“Gue gapapa, Ngel. Nanti juga sembuh.”


“Cha ini pasti perih. Nanti lo bisa infeksi.


Kak Reza segera melihat kondisi luka Alessyia.


“Kenapa Kakak gak berpikir kalau kamu juga pasti terluka. Maafkan Kakak, Cha. Kakak telah kejam kepadamu. Kakak malah marah-marah sama kamu. Padahal kamu juga kesakitan. Kamu juga pasti merasakan trauma.”


Aku senang melihat Kak Reza memperlakukan Alessyia dengan sangat baik. Kak Reza memeluk Alessyia dengan penuh perhatian. Sekarang aku dapat melihat tangisan bahagia yang keluar dari mata Alessyia. Meskipun masih tersisa sedikit penyesalan. Ia masih merasa bersalah atas semua musibah yang menimpa kepada kami berdua. Khususnya kepadaku. Dan Alessyia masih menyalahkan dirinya sendiri.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2