My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-62 Mencari Keberadaan Si Psycho


__ADS_3

Entah mengapa aku selalu merasakan kebahagiaan hanya sekejap. Kesulitan akan datang beriringan dengan kebahagiaan. Hati yang sedang berbunga. Senyum yang sedang merekah. Berubah menjadi mendung awan kelabu.


“Senang banget kelihatannya ?”


“Frans ?”


Aku tidak tahu kalau Frans berada tidak jauh dari posisiku. Aku yakin dia melihat aku di antar oleh Pak Angga. Sebisa mungkin aku harus mengelaknya.


“Rupanya kamu masih berhubungan dengan Pak Angga ?”


“Enggak.”


“Tadi yang antar kamu siapa ?”


“Itu. . .itu. .”


“Angel sayang, aku tidak bodoh. Penglihatan aku juga masih normal. Dia Pak Angga, iya kan ?”


“Kalau iya emang kenapa ?”


“Oke. Kalau gitu aku kasih tahu Papah kamu.”


Frans mengambil ponselnya yang disimpan di dalam saku. Aku berusaha untuk meraih dan merebutnya dari tangan Frans. Tetapi tidak berhasil. Frans lebih tinggi daripada aku.


“Oke silahkan aja bilang sama Papah. Tapi gue juga akan aduin ke Papah kalau lo itu orang jahat yang telah bekerja sama dengan Windy untuk menjebak Pak Angga. kamu pikir gimana rekasi Papah ? Dia sangat mempercayai kamu. Menganggap kamu pria yang baik. Dan setelah tahu kejadian itu, apa kamu pikir Papah masih mengijinkan kamu menjadi kekasih gue ?”


Frans terdiam dengan ekspresi frustasi yang terlihat jelas di mukanya. Aku segera berlalu meninggalkan Frans. Sebelumnya Frans meminta agar dia mengantar aku sampai ke rumah. Dia bilang kalau tadi berangkat sama dia, maka pulangnya juga harus dia yang antar. Aku menyetujui saja. Karena aku juga tidak mau menjelaskan alasan mengapa aku pulang sendiri.


“Sayang udah pulang ?”


“Iya, Mah.”


Tidak ada pembicaraan lagi yang aku keluarkan. Setelah menyapa Mamah, aku terus berjalan menuju kamarku yang terletak di lantai atas.


“Kalau begitu, saya juga permisi tante.”


“Lho disini aja dulu ! Nanti biar tante suruh Angel untuk menemani.”


“Gak usah tante. Biarkan Angel istirahat. Kasihan dia kelelahan.”


***


Libur akhir semester telah usai. Kini saatnya aku kembali menjalani aktifitas sehari-hari. Hari ini masuk kuliah di semester yang baru. Kemarin Papah dan Mamah mengantarkan keberangkatanku. Tetapi mereka tidak lama. Ada urusan lain juga yang harus mereka selesaikan.


Aku melangkah memasuki gerbang depan kampus. Perlahan ku hirup udara pagi yang terasa dingin menyengat menembus hidungku. Suasana yang masih sama. Aku masih dapat melihat pemandangan ramainya orang berlalu lalang. Tentunya aku tidak sendiri. Alessyia menemaniku untuk membuka semester yang baru.


“Semoga semangatku semakin bertambah seiring dengan bergantinya semester.” Gumamku dalam hati.


Aku dan Alessyia memasuki ruangan yang telah ramai penghuni di dalamnya. Aku menyapa sebagian dari mereka yang aku lintasi. Tentunya mereka juga menyapa kami berdua dengan sangat ramah. Tidak lama Pak Jaka juga ikut masuk ke dalam ruang tersebut.


“Pagi para pejuang hebat.”

__ADS_1


“Pagi, Pak.”


“Bagaimana liburnya ? Menyenangkan ? Mengasikan ? Ataukah membosankan ?”


Seperti biasa Pak Jaka selalu membuat suasana kelas menjadi ceria. Aku sangat bersyukur karena awal semester dibuka oleh Pak Jaka. Semoga ini menjadikan awal yang baik untuk ke depannya.


Karena ini pertama masuk kuliah, mata kuliah yang disampaikan juga tidak terlalu berat dan serius. Kata Pak Jaka jangan terlalu tegang di awal. Nanti kita tidak bisa menikmati proses berikutnya.


Aku dan Alessyia berjalan ke arah kantin. Mungkin karena ini hari pertama, jadi kami lupa aktifitas apa saja yang harus dilakukan. Salah satunya sarapan. Karena bangun terlalu siang, aku dan Alessyia melupakan salah satu hal yang penting bagi kesehatan, yaitu makan pagi.


“Angel, lo mau makan apa ?”


“Samain aja kayak lo, Cha.”


“Bu, bakmie sama es teh nya 2 porsi !”


Setelah pesanan berada pada nampan yang kami bawa, aku dan Alessyia segera berjalan menuju meja yang masih kosong. Beruntunglah kantin belum dipenuhi oleh para mahasiswa. Sehingga aku dan Alessyia tidak perlu terlalu lama mencari meja yang tidak berpenghuni.


“Waduhh makan gak bagi-bagi.”


“Kak Ben ? Aaaaaa Kak Ben apa kabar ?”


“Kabar baik.”


Aku menyapa Kak Beni dengan sangat ramah. Aku mengulurkan tangan agar dijabat olehnya.


“Hai, Cha !”


“Aldo ke toilet dulu. Nanti juga kesini.”


Aku dan Alessyia mengangguk. Kak Beni segera melangkah menuju Ibu kantin untuk memesan makanan. Tidak lama Kak Beni kembali menuju meja yang aku dan Alessyia singgahi. Bersamaan dengan Kak Aldo yang baru datang.


“Hallo Angel apa kabar ? Uuuwww Kak Aldo gemes.”


“Ihhh Kak Aldo rese deh. Datang-datang main acak-acakin rambut Angel.”


“Hehe maaf maaf. Kakak kangen lihat muka kamu kalau lagi bete. Tuh kaya gitu tuh.”


“Hahaha.”


Semuanya tertawa melihat aku memonyongkan bibir. Aku tidak sadar kalau aku menunjukan wajah seperti itu. Mungkin itu salah satu refleks aku ketika sedang merasa kesal. Aku tidak mau terlalu lama menjadi bahan ketawaan. Segera aku kembalikan kepada wajah asliku.


“Kak, belum ada kabar dari Kak Reza ?”


Seketika semuanya hening. Tidak ada suara sendok dan garpu yang bertabrakan. Satu dan yang lainnya saling menatap.


“Kak Reza sama sekali tidak menghubungi kalian ?”


“Eemmm, Reza pernah mengirimi Kakak kabar.”


Akhirnya Kak Aldo membuka suara. Ia berusaha untuk memperlihatkan senyumnya dibalik setiap perkataan. Meskipun aku tahu, itu adalah senyum kamera. Atau senyuman yang dibuat-buat bukan berasal dari hatinya.

__ADS_1


“Kak Reza sekarang dimana, Kak ? Dia pasti kembali kesini kan ?”


“Katanya kita gak usah khawatir. Suatu saat dia akan menjumpai kita lagi. Tetapi untuk kembali, itu tidak mungkin.”


“Segitu kecewanya Kak Reza sama Angel. Sampai-sampai dia enggan untuk kembali kemari.”


Aku berbicara dengan suara pelan disertai nada penuh kesedihan.


“Reza juga berpesan agar kamu tidak menyalahkan diri sendiri atas kepergiannya. Semua ini menjadi jalan pilihan yang diambil Reza. Reza sudah merelakan kepergiannya meninggalkan kota yang telah membesarkan namanya demi kebahagiaan kamu. Semua pengorbanan dia akan sia-sia jika nyatanya kamu tidak bahagia.”


Perkataan Kak Aldo berhasil menyadarkan aku. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan. Kak Reza pasti akan terluka karena kepergiannya tidak membuat aku bahagia, justru sebaliknya. Tetapi aku juga tidak tahu apakah aku bisa merasa semuanya baik-baik saja. Apakah aku bisa berhenti menyalahkan diri sendiri atas kepergian Kak Reza. Walaupun itu sulit, aku akan mencoba untuk melupakan semua kenangan-kenangan menyedihkan.


Dred. .dred. .


“Kenapa gak di angkat ?”


“Nomor asing, Kak.”


Aku mengabaikan getar ponsel setelah sebelumnya aku melihat tidak ada nama yang tertera. Aku tidak mau sembarangan mengangkat telepon dari nomor baru yang tidak dikenal. Tetapi panggilan itu berulang kali dilakukan, membuat ponsel bergetar berkali-kali. Aku tidak enak karena suaranya sedikit mengganggu. Terpaksa aku menjawabnya dengan sangat hati-hati.


“Angel ? Ini benar Angel ?”


“Eu iy-ya saya sendiri.”


Aku dapat mendengar suara wanita yang sudah tidak muda lagi. Tetapi aku tidak dapat mengenali suara siapakah yang sedang menjadi lawan bicaraku. Dia berbicara sedikit parau dan kadang tersedak seperti sudah menangis.


“Ini Mami, Nak. Maminya Frans.”


“Oh iya, Mii. Ada yang bisa Angel bantu ?”


“Mami tidak bisa menghubungi Frans, Nak. Sudah beberapa hari yang lalu ketika dia pamit ingin berangkat ke kampusnya. Biasanya dia selalu memberi kabar sama Mami. Tetapi sampai sekarang tidak ada kabar darinya.”


“Mami tenang dulu, ya ! Angel akan membantu Mami untuk mencari Frans.”


“Mami minta tolong ya, sayang ! Mami khawatir sama Frans.”


“Iya, Mii. Angel pasti bantu.”


Mendengar Maminya Frans mengemis meminta tolong, aku tidak tega. Mau tidak mau aku harus ikut campur dalam kehidupan Frans. Untuk kali ini saja. Bukan untuk mencari keberadaan Frans. Tetapi untuk membantu Maminya Frans agar tidak sedih terus-menerus.


*Bersambung*


.


.


.


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote🥰🥰


Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2