
Berada dalam satu ruangan, terdiam melingkar pada meja yang sama, bersama seseorang yang telah menjadi penghuni hati, sungguh kebahagiaan yang sempurna.
Aku mengambil nasi untuk diberikan kepada Pak Angga yang dilengkapi dengan lauk pauknya. Kemudian aku melakukan hal yang sama kepada Rendy. Setelah semua piring terisi, aku merasa masih ada yang kurang.
“Bee, Bi Rani kemana ?”
“Oh iya. Bi Rani mana ya ?”
“Biar Rendy aja yang cari Bi Rani, Ayah.”
Dengan semangat pagi Rendy berlari keluar rumah untuk mencari Bi Rani. Karena sudah dapat dipastikan bahwa Bi Rani tidak ada di dapur. Dengan suara khas anak kecil, Rendy memanggil-manggil nama Bi Rani.
“Ayah, Rendy berhasil membawa Bi Rani.”
“Waah anak pintar. Makasih ya sayang.”
“Heem.”
Rendy segera kembali menuju kursi yang di atas mejanya telah tersaji makanan siap santap.
“Ada apa, Pak ?”
“Bibi disini ikut makan !”
“Tidak usah, Pak. Nanti aja Bibi makannya.”
“Bii, jangan seperti itu. Ayo makan disini bareng sama kita.”
Aku dan Pak Angga berusaha untuk membujuk Bi Rani agar ikut serta dalam acara sarapan pagi. Awalnya Bi Rani terus menolak. Tetapi karena rayuan yang dilakukan Rendy, Bi Rani tidak bisa menolaknya. Aku segera mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk ditaruh di piring Bi Rani.
”Terimakasih Non.”
“Mulai hari ini dan seterusnya, Bi Rani harus berada di meja yang sama ketika Rendy sedang makan. Pasti Rendy senang jika ditemani sama Bi Rani.”
“Kak Angel benar. Rendy senang kalau bisa makan bareng sama Bi Rani. Jadi Rendy banyak temannya. Bukan hanya sama Ayah.”
“Emangnya kenapa kalau sama Ayah ?”
“Rendy bosan.”
“Oh jadi gitu Rendy bosan kalau sama Ayah. Rendy mau ayah kelitik ?”
“Hahaha. Enggak mau. Rendy becanda Ayah. Rendy sayang sama Ayah."
Aku terkekeh melihat tingkah menggemaskan Ayah dan anak. Awalnya aku mengira Pak Angga adalah sosok yang kaku dan tidak ramah. Ternyata aku salah. Semakin lama aku mengenalnya, aku menemukan pribadi yang baru pada diri Pak Angga. Ia sangat ramah dan penuh perhatian.
“Bii, ini yang masak Pak Angga lho.”
“Serius Non ?”
“Iya, enak gak Bii ? Rendy gimana masakan Ayah, enak gak ?”
Rendy menampilkan ekspresi seperti kurang senang. Ketika aku melihat Bi Rani, ia juga seperti merasakan sesuatu yang aneh dari masakan itu. Dan aku menatap Pak Angga, ia seperti menahan sikap agar kuat menerima cacian.
__ADS_1
“Enak !!!”
Ucap Rendy dan Bi Rani dengan sangat antusias. Rupanya mereka sengaja berpura-pura merasa tidak enak terhadap masakan Pak Angga untuk membuatnya khawatir. Aku tidak tahu kenapa mereka bisa memberikan respon yang sama. Padahal mereka duduk berlawanan sangat jauh. Bagaimana mungkin mereka bekerja sama sebelumnya.
“Serius Bii ? Enak ?”
“Heem.”
“Kak Angel coba deh ! Pasti Kakak juga suka sama masakan Ayah. Pokoknya kalau Kak Angel jadi istrinya Ayah, pasti Kakak akan senang.”
“Rendy, bagaimana kamu mengerti perihal suami istri ?”
“Hehe. Rendy gak tahu sih, Kak. Cuma dulu Ayah bilang kalau Bunda Windy istri Ayah. Tetapi sekarang sudah tidak lagi.”
“Ekhem...nanti Ayah jelaskan kalau Rendy sudah besar, ya. Sekarang biarkan Kak Angel sarapan dulu !”
“Iya Ayah.”
Pak Angga menghentikan pertanyaan Rendy. Aku tahu mungkin Pak Angga juga belum mempersiapkan jawaban dari pertanyaan Rendy barusan. Aku juga tidak mau di usia Rendy yang masih kecil sudah mengetahui perihal masalah orang dewasa. Biarkan Rendy tumbuh sesuai usianya dan menikmati masa kecilnya.
Setelah sarapan pagi selesai, aku hendak pulang. Karena aku tidak enak jika terus berada di dalam satu atap bersama Pak Angga. Meskipun kami tidak hanya berdua. Dan juga aku harus membereskan kamar kost. Sudah menjadi kebiasaan jika hari weekend maka jadwalnya aku untuk membersihkan kamar yang berantakan.
“Rendy, Kak Angel pulang sekarang ya !”
“Kak Angel mau pulang ? Kenapa gak tinggal sama Ayah aja ?”
“Tidak bisa sayang. Kak Angel sama Ayah tidak boleh tinggal bersama.”
“Tapi Rendy masih ingin sama Kak Angel.”
“Mau...Rendy mau. Ayah, Rendy boleh ikut sama Kak Angel kan ?”
“Boleh.”
Setelah berpamitan serta menitipkan rumah kepada Bi Rani, Pak Angga segera membawa mobilnya melintasi jalanan kota. Selama perjalanan kami bernyanyi bersama dengan Rendy yang selalu mengawali untuk berubah lirik lagu.
“Angel..."
“Hem ?”
“Itu bukannya teman kamu ?”
“Teman Angel ? Yang mana ?”
Pak Angga menunjuk mobil yang berada di sebelahnya. Sepertinya benar pria itu tidak asing bagiku. Tetapi aku tidak bisa melihatnya karena terhalang oleh wanita yang berada di sebelahnya. Wanita itu bergelayutan di lengan pria tersebut.
“Clarissa. . .”
“Siapa ? Kamu bilang apa, Ngel ?”
“Itu Clarissa, Bee.”
“Mana ?”
__ADS_1
“Ayah, lampunya sudah hijau.”
Karena lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau, maka mobil yang berada di sebelah Pak Angga juga telah berlalu. Pak Angga juga segera menancap gas.
“Maksud kamu Clarissa siapa ?”
“Eu-eu, Angel mungkin lupa belum cerita perihal Clarissa kepada kamu. Nanti jika ada waktu akan Angel ceritakan siapakah sosok Clarissa itu. Dan Angel yakin pria yang ada di dalam mobil itu adalah Kak Beni.”
“Benarkan, Beni teman kamu itu ? Soalnya tadi aku melihat wajahnya sangat jelas.”
“Heem.”
Mobil hitam yang membawa aku, Rendy dan Pak Angga telah memasuki gerbang kost-an. Para penumpangnya segera berjalan memasuki ruangan yang berukuran sangat kecil dan hanya cukup untuk ditinggali oleh satu orang saja.
Benar saja dugaanku, ruangan yang sudah seperti kapal pecah. Seperti telah lama tak terurus. Padahal baru semalam ditinggalkan. Mungkin karena kebiasaan yang selalu beberes dengan jadwal satu minggu sekali, membuatnya terlihat tidak tertata.
“Maaf maaf ! Hehe berantakan.”
Dengan perasaan menahan malu, aku segera mengambil pakaian kotor dan menaruhnya di mesin cuci. Kemudian aku kembali untuk membuang beberapa bungkus snack yang masih tercecer di meja belajar.
“Kak Angel, Rendy bantuin ya ?”
“Tidak usah sayang. Biar Kak Angel aja. Rendy duduk manis aja sama Ayah !”
“Tidak mau. Rendy mau bantu Kakak.”
Meskipun aku telah menolak pemberian jasa dari Rendy, tetapi tekadnya sangat kuat untuk membantuku. Ia berkata bahwa akan lebih cepat jika dibantu olehnya. Pak Angga juga tidak menjadi penonton saja, ia ikut terjun bersama aku dan Rendy untuk membereskan barang-barang yang berantakan.
Setelah pakaian selesai dicuci, aku membawanya menuju atap depan balkon untuk dijemur. Rendy yang kelelahan sedang asik menonton film kartun yang ada di laptopku dengan posisi rebahan di atas ranjang. Sedangkan Pak Angga memperhatikanku dengan duduk di balkon.
Setelah satu demi satu pakaian berhasil aku gantung pada tempatnya, aku segera berlalu untuk menyimpan ember yang telah dipakai untuk menjadi wadah baju hasil cucian. Aku melihat Pak Angga merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebatang rokok. Ia meletakan rokok itu di mulutnya dan mengambi pemantik untuk menyalakan rokok tersebut.
“Bee. . .”
Sebelum pemantik itu berhasil membakar sebatang rokok, aku telah lebih dulu mengambil rokok itu dari mulut Pak Angga.
“Lupa ?”
“Maaf sayang. Aku lupa. Aku masih membawa satu bungkus sisa dulu. Pelase jangan marah !”
“Simpan rokok itu !”
Pak Angga mengeluarkan bungkus rokok yang tersimpan di sakunya. Ia memberikannya kepadaku. Dan saat aku buka, isinya masih penuh. Sepertinya baru keluar 2 batang.
“Aku berikan sama kamu. Tolong kamu bantu aku untuk menjauhkan barang itu dari hidupku ! Aku percaya hanya kamu yang bisa mengubah hidupku.”
*Bersambung*
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu mendukung author dengan meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰🥰
Terimakasih 🙏