
Cinta itu harus rela berkorban. Entah itu korban waktu untuk menghabiskan bersama kekasih. Atau bahkan korban harta demi bertemu sang pujaan hati nan jauh disana. Cinta juga harus berjuang bersama-sama. Bukannya satu pihak saja yang berjuang. Sesulit dan sepahit apapun ujian yang menghampiri suatu hubungan harus dilewati bersama. Karena jika bersama akan saling menguatkan dan memberikan dukungan. Bukannya membiarkan sebelah pihak berjuang mati-matian seorang diri.
Meskipun belum seutuhnya Papah luluh terhadap hubungan aku dengan Pak Angga, tetapi untuk saat ini Papah tidak melarang aku untuk bertemu dengan Pak Angga. Papah membiarkan Pak Angga untuk menjagaku, menyuapi aku makan, bahkan menemani sampai aku tertidur. Mungkin semua itu Papah lakukan karena saran dari dokter yang mengharuskan aku tidak terlalu banyak pikiran.
“Pak Angga, biarkan saya yang menjaga Angel disini. Lebih baik Anda istirahat di sofa! Pasti lelah dari tadi belum merebahkan badan padahal sudah menempuh perjalanan yang lumayan jauh.”
“Tidak apa, Pak.”
“Pah, biarkan Pak Angga disini.”
“Emm Pah, kita keluar sebentar yuk! Mamah mau cari makan. Bosan makan makanan kantin rumah sakit terus.”
Beruntunglah Mamah selalu mengerti apa yang aku inginkan tanpa aku meminta. Ketika Papah hendak menjauhkan Pak Angga dariku meskipun masih dalam satu ruangan, Mamah mengajak Papah untuk meninggalkan kami berdua.
“Oh iya sayang, kamu mau di belikan apa? Mau nitip gak?”
“Gak usah Mah. Kayaknya Angel gak mau makan yang aneh-aneh dulu deh.”
“Oh ya udah kalau begitu Mamah sama Papah keluar dulu. Pak Angga titip Angel sebentar ya!”
“Pak Angga tolong jaga Angel! Jangan pernah Angel ditinggalkan sendiri.”
“Baik Pak, Bu.”
Pintu sudah ditutup dengan rapat. Hanya menyisakan aku dan Pak Angga di dalam sebuah kamar rawat inap. Awalnya kami merasa kikuk berada dalam ruangan yang sama tanpa ada orang lain. Padahal ini bukan pertama kalinya bagi aku dan Pak Angga. Mungkin karena sudah cukup lama kami tidak bertemu, jadi masih terasa canggung.
“Emm Angel…”
“Iy-ya Bee…”
“Cepat sembuh ya! Aku kangen becanda sama kamu. Biasanya kan kamu gak bisa diam. Terus sekarang aku melihat kamu terbaring lemah tak berdaya, itu membuat hatiku sakit. Dan aku mohon tolong jangan pernah masuk rumah sakit lagi. Jadikan ini yang terakhir. Oke?”
“Siap Pak Guru.”
__ADS_1
“Bibir kamu juga sangat pucat.”
“Jelek ya, Bee? Udah gak cantik lagi? Udah kayak zombie ya?”
“Enggak kok.”
Pak Angga membelai rambutku, “Masih terlihat cantik. Dan bibir kamu juga masih menggoda.”
“Ih Pak Angga…”
Aku segera menghempaskan lengan Pak Angga dan mencubitnya pelan. bukannya meringis kesakitan, Pak Angga malah terkekeh geli. Mungkin tenagaku tidak cukup kuat untuk menimbulkan rasa sakit ketika mencubitnya.
Mendengar ucapan Pak Angga barusan, pikiranku kembali pada kejadian waktu lalu ketika meninggalkan kami berdua di dalam kamar indekost, serta ucapan Alessyia kembali terngiang-ngiang di telingaku. Apalagi sekarang kami juga sedang berdua.
“Argh tidak! Tidak!” Sontak aku memukul-mukul kepalaku.
“Eh kamu kenapa? Jangan dipukul-pukul nanti sakit lho!” Pak Angga tidak diam saja melihat tingkahku. Ia berusaha menahan laju tanganku.
Seakan mengerti apa yang ada di dalam pikiranku Pak Angga berkata, “Kan udah aku bilang jangan memikirkan ucapan Alessyia. Setannya udah aku bawa waktu itu. Lagian aku ini sayang sama kamu. Benar-benar sayang dan tulus mencintai kamu. Walaupun aku bukanlah pria yang sholeh, tetapi aku masih tahu batasan. Jika aku ingin melakukannya bersama kamu, maka aku akan menikahi kamu terlebih dahulu.”
“Maka aku akan terus menunggu sampai kamu bersedia menjadi istriku. Lagian aku jatuh cinta sama kamu bukan karena ingin menikmati tubuhmu saja. Kalau aku mencari perempuan yang bisa aku tiduri itu gampang. Tinggal bawa uang bisa langsung dapat wanita yang akan memuaskan nafsu.”
Pak Angga menarik tanganku dan menciumnya. Ia terus berbicara dengan tangan yang masih menggenggam erat tanganku.
“Aku memilih kamu karena aku tahu kamu berbeda. Kamu bisa menerima status aku yang sudah pernah menikah sebelumnya. Bahkan kamu mau menerima Rendy meskipun dia bukan anak kandung kamu. Sulit sekali mencari perempuan yang bisa dijadikan istri. Kalau wanita yang hanya untuk main-main juga banyak di luaran sana. Tetapi wanita dengan kepribadian seperti kamu itu sangat langka.”
Aku masih belum merespon apa-apa ucapan Pak Angga. Hanya menatapnya dengan sangat lekat.
“Mulai sekarang jangan pernah takut aku akan melakukan suatu perbuatan bejat. Hilangkan perasaan buruk kamu tentang ucapan Alessyia perihal orang ketiga di antara sepasang kekasih yang sedang berduaan!”
“Terimakasih ya, Bee.”
***
__ADS_1
Hari ini aku harap tidak akan kecewa lagi. Semoga apa yang aku inginkan bisa terwujud. Dan apa yang dokter katakan hari kemarin bukan hanya harapan palsu.
“Dok bagaimana kondisi anak saya?” Tanya Papah dengan penuh harap-harap cemas.
“Kondisinya sudah mendekati tahap normal, Pak. Sekitar 89% menuju sehat sepenuhnya. Angel sudah diperbolehkan pulang. Tetapi saya ingatkan agar tidak depresi dan berhenti memikirkan sesuatu yang berat. Jangan lupa untuk selalu mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi serta lebih banyak minum air putih!"
“Baik. Terimakasih Dok.”
Setelah mendapatkan persetujuan dari dokter untuk pulang, semua alat bantu yang menempel di tubuhku perlahan mulai dilepas. Mamah membereskan barang-barang yang dibawa dari rumah selama aku dirawat di rumah sakit. Sedangkan Papah melunasi biaya tagihan rumah sakit. Dan Pak Angga masih setia menanti bahkan sesekali membantu Mamah mengemas barang-barang ke dalam tas.
Tidak lama setelah urusannya selesai, Papah segera kembali ke kamar inap. Ia langsung membantu aku untuk berjalan keluar menuju mobil yang sudah disiapkan. Aku dan Papah berjalan di depan diikuti dengan langkah kaki Mamah dan Pak Angga yang menenteng tas.
Setelah berdiri di depan mobil silver, Papah membuka pintu agar aku bisa masuk. Sebelumnya Papah memasukan tas ke dalam bagasi mobil.
“Euu Pak Angga, terimakasih ya sudah menjaga Angel.”
“Iya Pak, dengan senang hati.”
“Habis ini Pak Angga kembali ke Bandung kan? Bapak bawa mobil? Kalau enggak biar saya bantu.”
“Tidak usah Pak. Saya bawa mobil kok.”
“Pak Angga ikut dulu aja ke rumah kita! Nanti saya masakan makanan khusus untuk Pak Angga sebagai tanda terimakasih karena sudah menemani Angel selama di rumah sakit.”
“Mah tidak usah. Pak Angga pasti sibuk. Ia harus segera kembali ke Bandung. Dia kan seorang guru. Pasti banyak tugas. Iya kan Pak Angga?”
Tadinya aku berpikir Papah bersikap ramah kepada Pak Angga karena tulus dari dasar hatinya. Ternyata Papah melakukan seperti itu sebagai bentuk pengusiran secara halus. Aku tidak bisa memberontak, daripada nantinya Pak Angga akan mendapatkan omelan lagi dari Papah. Meskipun sebenarnya aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Pak Angga, tetapi jika Papah sudah berkata seperti itu musnah sudah harapanku.
“Iya betul, Bu. Saya harus segera kembali. Lagian kasihan Rendy sudah terlalu lama ditinggalkan.”
“Sebentar aja, Pak! Saya janji tidak akan lama. Setidaknya sampai selesai makan siang. Saya melihat bahwa Angel sangat senang berada di dekat Pak Angga. Terbukti semenjak kehadiran Pak Angga, pemulihan Angel berjalan sangat cepat. Angel juga terlihat bahagia ketika ada Pak Angga yang menemani. Saya mohon Pak! Mungkin dengan kehadiran Pak Angga bisa menghilangkan semua beban pikiran yang membuat Angel depresi serta bisa mengembalikan nafsu makan Angel.”
Beruntunglah Papah tidak lagi menghalangi keinginan Mamah yang menahan Pak Angga untuk tidak pergi. Papah melajukan si silver dengan kecepatan sedang diikuti dengan mobil hitam dari belakang.
__ADS_1
*Bersambung*