My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-69 Hanya Bayangankah?


__ADS_3

Waktu yang dihabiskan bersama seseorang yang kita cintai akan terasa singkat. Meskipun tidak siap dengan perpisahan. Tetapi situasi dan kondisi memaksa kita menerima keadaan bahwa kita harus kembali berpisah.


Aku dan Pak Angga kembali ke ruang tamu. Disana masih nampak Papah dan Mamah sedang berbincang. Pak Angga berjalan lebih dulu sedangkan aku menyimpan kembali kotak P3K kepada tempat semula.


“Pak, Bu, saya permisi mau pulang.”


“Sudah selesai di obatinya, Pak ?”


“Sudah, Bu. Maaf sudah merepotkan.”


“Tidak merepotkan sama sekali, Pak. Justru kita sangat bersyukur Pak Angga telah menolong Angel.”


Pak Angga melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Tetapi langkahnya terhenti ketika Papah meminta Pak Angga untuk duduk dulu. Aku segera menghampiri mereka. Aku takut Papah akan kembali mengomel pada Pak Angga.


“Pak Angga, duduk dulu !”


Pak Angga hanya menurut saja setiap kata yang Papah perintahkan kepadanya. Seperti saat ini, dia mengurungkan langkakhnya dan kembali menduduki sofa dengan tatapan yang masih menunduk.


“Terimakasih.”


“Terimakasih telah menyelamatkan Angel.”


Papah kembali mengulangi perkataannya. Aku menatap Papah dengan mulut menganga dan pandangan melongo. Seperti tidak menyangka apa yang barusan Papah katakan. Pak Angga juga kini berani menatap Papah. Sama denganku, dengan tatapan yang tidak percaya.


“Tidak apa, Pak. Sudah kewajiban saya menolong sesama. Apalagi Angel pernah menjadi murid saya.”


Setelah saling mengucapkan rasa syukur, Pak Angga meninggalkan rumah. Aku senang karena Papah dan Mamah mengantar Pak Angga sampai depan. Aku harap Papah akan bisa bersikap baik kepada Pak Angga.


“Angel. . .”


“Iya, Pah. . .”


Ketika aku menaiki tangga hendak menuju kamarku, Papah memanggil namaku dan menghentikan langkah kakiku.


“Kamu harus lebih hati-hati, ya ! Apalagi sama Frans.”


“Iya Pah. Angel akan lebih waspada.”


“Kamu juga jangan dekat lagi dengan Pak Angga ! Kalau bisa jangan pernah ketemu lagi.”


“Tapi, Pah. . .”


“Papah bersikap baik kepada dia karena rasa hutang budi telah menolong kamu. bukan berarti Papah mengijinkan kalian bisa dekat. Apalagi kalau sampai bersama atau menjalin suatu hubungan, sudah pasti Papah akan mencoret nama kamu dari ahli waris.”


“Pah, jangan terlalu kejam gitu sama Angel !” Ujar Mamah mencoba meyakinkan Papah.


“Sampai kapanpun Papah tidak akan menyukai Pak Angga.”

__ADS_1


Aku kira semuanya telah berubah. Dan setelah kejadian tadi akan membuat Papah menyukai Pak Angga. Ternyata tidak. Sekali Papah tidak suka kepada sesuatu, maka selamanya Papah tidak akan menyukainya.


Aku hanya bisa berpasrah. Mamah saja tidak bsia merubah keputusan Papah. Apalagi aku yang hanya anak kecil di mata Papah. Tidak ada lagi perdebatan antara aku dan Papah ataupun Papah dan Mamah. Aku segera berjalan dengan loyo menaiki anak tangga meninggalkan orang tuaku.


***


“Angel berangkat dulu ya, Pah.”


“Iya Nak, hati-hati.”


Aku menurunkan kaki kanan dan kiri bergantian dari mobil yang telah mengantarku. Tetapi Papah menahannya sebelum aku melintasi gerbang.


“Ehh Angel ini tasnya ketinggalan.”


Terpaksa aku harus kembali untuk mengambil tas yang berisi perlengkapan kuliah. Untung saja Papah menemukannya. Jika tidak, maka percuma saja aku datang ke kampus jika tidak membawa apa-apa.


Hari Senin. Aku harus kembali ke kampus untuk melanjutkan study. Papah yang hendak berangkat menuju perusahaannya mengajak aku untuk berangkat bersama. Padahal kami berangkat sangat pagi, tetap saja aku hampir kesiangan. Tinggal 10 ment lagi maka gerbang kampus akan ditutup.


Aku memasuki ruang kelas. Rupanya perjalanan dari gerbang menuju kelas menghabiskan cukup banyak waktu. Sehingga semua mahasiswa telah menempati kursinya masing-masing. Bahkan dosen telah duduk di kursi yang telah disiapkan. Terpaksa aku masuk dengan muka memerah menahan malu


“Maaf Pak, Angel kesiangan.”


“Kenapa ? Kok bisa kesiangan ?”


“Perjalanan Angel cukup lama, Pak. Sehingga menghabiskan banyak waktu.”


“Sudah, Pak. Angel berangkat pagi sekali.”


Tidak seperti biasanya. Kenapa hari ini Pak Jaka sangat tidak ramah. Biasanya jika ada mahasiswa yang kesiangan, ia masih menunjukan keramahannya. Meskipun sebenarnya ia tidak menyukainya. Apa mungkin ada masalah lain yang mengganggu pikiran Pak Jaka ?


Peristiwa ini, mengingatkan aku kepada masa awal mula aku bisa dekat dengan Pak Angga. Semuanya berawal dari aku yang lupa tidak mengerjakan tugas, tidak ada toleransi apa-apa dari Pak Angga, sehingga membuatnya kesal dan menyuruh aku untuk keluar kelas.


“Semoga kali ini aku tidak di keluarkan !” Gumamku dalam hati.


“Kamu gak punya jam ?”


“Pu-punya, Pak.”


“Ya sudah duduk !”


“Hah ?”


Aku menjawab refleks tidak percaya mendengar Pak Jaka menyuruh aku untuk duduk. Aku pikir dia akan marah dan menghukumku.


“Kamu gak mau duduk ?”


“Mau mau.”

__ADS_1


“Silahkan !”


Aku masih tidak percaya. Aku mencoba menanyakan pertanyaan untuk meyakinkan bahwa yang aku dengar tidak salah.


“Ini belum tepat jam masuk. Kamu masih punya waktu 3 menit. Makanya saya membolehkan kamu duduk. Atau kamu mau dihukum aja ?”


“Enggak mau. Kalau gitu saya duduk ya, Pak. Terimakasih, Pak.”


Ternyata aku bebas lagi dari hukuman. Aku kira karena Pak Jaka telah berada di ruangan, maka jam pembelajaran telah dimulai. Ternyata dia datang lebih awal karena ada yang harus ia kerjakan. Selama kuliah disini aku akan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang membuat aku harus menjalani hukuman. Itu terasa memalukan bagiku.


Pak Jaka memulai mengawali pagi. Setelah mata kuliah selesai disampaikan, maka Pak Jaka bergegas meninggalkan kelas. Meskipun Pak Jaka terkenal dengan sebutan dosen baik, tetapi ia tidak pernah melupakan hari untuk memberikan tugas.


“Kak Reza. . .”


“Ada apa, Ngel ? Lo ngomong apa ?.”


“Itu Kak Reza, Cha. . .”


“Mana ?”


“Tunggu sebentar !”


Aku seperti melihat postur seseorang yang sangat mirip Kak Reza. Bukan hanya badannya, tetapi mukanya sangat mirip sekali. Aku berlari meninggalkan Alessyia dan tidak peduli meskipun Alessyia terus berteriak memanggil namaku. Aku ingin memastikan siapakah dia yang mirip Kak Reza. Aku harap dia benar-benar Kak Reza.


“Lho, kok gak ada. Aku yakin barusan dia disini.”


Setelah tiba di lokasi terakhir aku melihat sosok seperti Kak Reza, tetapi tidak ada siapa-siapa disana. Hanya ada aku dan bayangan yang selalu menemani. Aku tidak mau berhenti. Aku terus melangkah menyusuri koridor.


“Ini buntu. Terus dimana orang yang tadi aku lihat ? Apa mungkin bersembunyi di salah satu ruangan ?”


Aku menarik gagang pintu untuk membukanya. Tetapi percuma saja, pintu-pintu disana terkunci sangat rapat. Kaca-kacanya ditutupi oleh gorden biru tua. Dalam tulisan yang terletak di atas pintu, menandakan bahwa itu ruang laboratorium. Tetapi aku tidak bisa melihat isinya. Di dalam sangat gelap.


“Mungkin benar aku salah lihat.”


Aku segera kembali menuju tempat terakhir meninggalkan Alessyia. Ketika pandanganku mengarah lurus ke depan, aku melihat bayangan seseorang dari arah samping. Ia keluar dari semak-semak pohon kecil yang daunnya sangat rindang.


“Kak Reza. . .”


Tidak salah lagi. Dialah Kak Reza. Bukan hanya mirip. Tapi aku yakin itu Kak Reza. Apalagi ketika aku memanggil namanya, ia menoleh dan segera berlari sekencang-kencangnya meninggalkan aku seorang diri.


“Maaf ! Maaf !”


Telah lebih dari 4 orang menjadi korban lari aku yang terburu-buru. Salah satu diantaranya mengakibatkan buku yang ada dalam pangkuan orang yang aku tabrak berceceran di tanah. Aku menghentikan pelarianku untuk membantu membereskan buku-buku itu. Aku tidak mau menjadi orang yang lari dari masalah.


Aku berusaha untuk mengimbangi langkahnya. Barusan aku masih bisa melihat dia berlari tepat di hadapanku. Tetapi sekarang bayangannya saja tak ku temukan.


“Yaaah, kok gak ada. Apa mungkin aku cuma halu ?”

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2