
Seperti biasa, kantin menjadi camp bagi aku dan 3 orang lainnya. Saat aku kembali menemui Alessyia, tetapi tidak ada dia disana. Tak lama ponselku bergetar menandakan pesan masuk.
Alessyia pengirim dari pesan tersebut. Katanya, dia telah menunggu aku di kantin. Maka segera aku melangkah menuju kantin kampus.
Rupanya kantin telah dipadati penghuni. Semua meja telah terisi. Tatapanku mengarah kepada tempat yang biasa aku singgahi. Tetapi kali ini berbeda. Bukan Alessyia yang duduk disana. Entah siapa, akupun tidak mengenalinya.
Tidak mau seperti anak ayam yang kehilangan induknya yang hilang arah, aku segera menghubungi Alessyia.
“Cha, lo dimana ?”
“Gue di kantin. Cepat lo kesini !”
“Ini gue juga udah di kantin. Tapi gak ada lo. Tempat yang biasa juga ditempati orang lain.”
“Lo dimana sekarang ?”
“Di depan stand bakmie.”
“Oke, lo dari situ lihat ke arah timur, terus melangkah ke kanan. Lihat yang paling pojok sekali.”
Aku menuruti kata Alessyia. Setelah aku melihat Alessyia, panggilan telepon segera ku akhiri. Sepertinya aku lupa tidak memesan makanan. Aku hendak kembali, tetapi Alessyia menahannya. Dia menunjukkan aku makanan dan minuman. Alessyia emang peka. Padahal aku tidak menyuruhnya. Tetapi dengan inisiatifnya sendiri, Alessyia memesankan aku makanan beserta minumannya.
“Angel, kamu dari mana ?”
Kedatanganku langsung disambut oleh Kak Aldo. Apa aku harus menceritakan kepada mereka, bahwa barusan aku telah mengejar seseorang yang mirip Kak Reza. Mungkin saja Kak Beni dan Kak Aldo mengetahui sesuatu tentang Kak Reza.
“Kak, barusan Angel melihat Kak Reza. Angel kejar tapi gak ada.”
“Kamu salah lihat kali, Ngel. Reza gak mungkin ada disini. Dia sudah pernah bilang kan tidak akan kembali.”
“Tapi mirip banget sama Kak Reza, kak.”
“Orang yang mirip itu banyak, Angel. Lagian kenapa sih kamu nyariin Kak Reza ?”
Kak Aldo dan Kak Beni bergantian meyakinkan bahwa penglihatanku telah keliru. Aku tidak bisa berdebat lagi dengan mereka. Sudah sangat jelas mereka tidak tahu apa-apa tentang Kak Reza. Padahal jika aku dipertemukan sebentar saja dengan Kak Reza, aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku padanya.
“Oh iya Ngel, gimana rencana kita ? Lancar gak ?”
“Lancar dong, Cha. Akhirnya gue bisa bebas dari Frans.”
“Aaaaaa.”
Alessyia mengalihkan pembicaraan tentang Kak Reza. Mendengar aku terbebas dari belenggu Frans, Alessyia segera memelukku. Mungkin karena pelukannya terlalu kuat, sehingga aku merasa pengap.
Uhuk . .uhuk. .
“Cha udah, pengap nih !”
Alessyia segera menjauhkan dirinya sebelum aku kehabisan nafas.
“Hehe, maaf. Gue senang banget akhirnya lo bisa bebas dari Frans Psycho.”
__ADS_1
“Selamat ya Angel. Kamu mau hadiah apa dari Kak Aldo ?”
“Makasih Kak Aldo. Angel gak mau apa-apa, Kak.”
“Kalau dari Kak Ben ?”
“Ya ampun Ini bukan perayaan yang besar, Kak. Terbebas dari Frans, itulah kado spesial bagi Angel.”
“Terus gimana reaksi bokap lo ?”
“Dia kecewa. Sangat kecewa.”
Aku menceritakan kepada mereka tentang kejadian yang berhasil membuat mata hati Papah tersadar. Sesekali kami tertawa di sela-sela pembicaraan. Aku juga bercerita perihal Frans yang hampir saja melecehkan aku. Hal tersebut membuat Kak Aldo dan Kak Beni geram.
“Ben, kayaknya kita harus kasih pelajaran tuh anak.”
“Gue setuju. Cowok kurang ajar kaya dia gak bsia di diemin terus-menerus.”
“Jangan jangan !”
“Tapi Ngel, dia tuh udah keterlaluan.”
“Iya Angel paham. Tapi Angel tidak mau membahayakan karir Papah. Ayahnya Frans adalah pemilik saham di perusahaan yang di kelola Papah.”
Mendengar hal itu, Kak Beni dan Kak Aldo mengurungkan niatnya dan kembali terduduk. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain dengan menjaga diriku. Seperti saat ini, mereka mengantarku pulang menuju kost-an.
“Kak Reza. . .”
“Itu Kak Reza. . .”
Itu bukan hanya mirip atau pikiranku yang berimajinasi, tetapi itu benar-benar Kak Reza. Aku melihatnya keluar dari ruang Dekan. Aku berusaha untuk mengejarnya. Kemudian disusul dengan langkah seribu Kak Aldo.
Kak Aldo paling jago jika mengenai olahraga lari. Telah menjadi hobi dan rutinitas setiap hari untuk melatih otot-otot betisnya dengan berlari. Entah itu dengan lari-lari santai atau cepat. Dengan jarak yang jauh atau dekat. Untuk mengejar Kak Reza, mudah untuk di lakukan. Kak Aldo menarik bahunya dan membuat langkah Kak Reza terhenti.
Aku dan Alessyia segera berlari ke arah mereka. Sedangkan Kak Beni yang tidak jauh dari posisi mereka mempercepat langkahnya.
“Za, kenapa lo kesini gak kasih kabar ke kita ?”
“Kenapa lo gak pernah mengirimkan pesan apapun ?”
“Kenapa Kak Reza menghilang dari sini ?”
Kak Aldo, Kak Beni dan Alessyia melontarkan pertanyaan kepada Kak Reza. Mungkin pertanyaan itulah yang selalu ada dalam pikiran mereka. Sedangkan aku hanya terdiam. Banyak sekali yang ingin aku sampaikan kepada Kak Reza. Kami semua membutuhkan penjelasan darinya.
“Maaf, tapi gue buru-buru. Sebentar lagi pesawat gue akan lepas landas.”
“Pesawat ?”
“Sekali lagi gue minta maaf ! Tapi gue benar-benar harus pergi.”
Kak Reza berlalu hendak meninggalkan kami dengan sejuta pertanyaan. Tidak ada satupun dari rasa penasaran kami yang terobati. Aku menahan dengan menghalangi langkah kaki Kak Reza.
__ADS_1
“Angel, saya buru-buru. Kalau tidak saya bisa terlambat.”
“Sebentar saja ! Angel mohon sebentar saja !”
“Baiklah. Saya kasih waktu 5 menit.”
Aku menarik nafas dalam. Aku melirik ke arah Alessyia dan yang lainnya. Mereka mengangguk bersamaan.
“Angel minta maaf ! Jika kepergian Kakak itu karena Angel. Kakak boleh marah, kecewa sama Angel. Kakak juga boleh tidak mau berteman lagi dengan Angel. Tapi Angel mohon jangan memutuskan persahabatan dengan Kak Aldo, Kak Beni dan Alessyia. Setiap hari mereka sangat mengharapkan kabar dari Kakak.”
Aku menghentikan sejenak pembicaraanku. Suaraku tersedak, karena menahan air mata yang hendak keluar.
“Angel juga minta maaf ! Karena Angel tidak bisa menerima perasaan Kakak. Kak Reza telah sangat baik kepada Angel. Angel telah menganggap Kakak seperti kakak kandung Angel sendiri.”
“Tidak ada yang bisa disalahkan dari rasa yang muncul pada diri seseorang. Cinta itu tidak bisa dipaksa. Cinta juga tidak bisa menghilang dengan mudah. Hanya waktu yang bisa menjawab itu semua.”
Aku menatap Kak Reza. Ia berbicara dengan senyuman yang tergambar di mukanya. Kemudian kak Reza melanjutkan pembicaraannya.
“Angel harus janji bahwa kamu akan bahagia !”
Kak Reza mengacungkan jari kelingkingnya. Aku masih belum meresponnya. Sehingga Kak Reza harus mengulangi perkataannya.
“Janji ?”
“Iya Angel janji.”
“Karena kamu udah berjanji, jadi setelah ini tidak boleh lagi ada kesedihan.
“Sudah 5 menit. Saya harus pergi.”
Kak reza melihat jam tangan yang terpasang di lengan kirinya. Kemudian ia segera berlalu dari pandanganku. Sejenak Kak Reza berhenti sebelum langkahnya terlalu jauh.
“Saya kesini mengurus surat pindah. Saya akan melanjutkan kuliah di Amsterdam. Mungkin tidak akan kembali sebelum wisuda. Setelah selesai study, saya juga belum tahu apakah akan kembali kesini atau tidak.”
Ia kembali melangkah. Kali ini benar-benar telah sangat jauh. Tidak nampak lagi di penglihatan kami. Tidak ada yang bisa kami lakukan. Kami tidak bisa menahan kepergiannya. Itulah jalan hidup yang telah dpilih Kak Reza.
“Udah. Ayo kita pulang !”
Alessyia menghampiriku dan merangkul bahuku. Disusul dengan Kak Aldo dan Kak Beni. Aku dapat merasakan kehilangan yang dirasakan oleh mereka. Ditinggalkan oleh sahabat yang telah lama bersama. Menjalani lika-liku kehidupan. Dan bagi Alessyia ditinggalkan oleh seseorang yang sangat kita cintai. Sangat sakit.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 n fav💙🥰🥰
Terimakasih 🙏
__ADS_1