My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-09 Rahasia Yang Terungkap


__ADS_3

Sorak-sorak gembira terdengar begitu rusuh. Setelah perjuangan kerja keras untuk melawan ujikom, akhirnya semua bisa mentuntaskannya. Begitupun dengan kami, dua orang yang bersahabat sangat dekat. Yaaa, itu adalah aku dan Alessyia.


Sungguh senang bukan main, bahkan kami berdua melompat-lompat tanpa disadari untuk meluapkan kebahagiaan kami.


“Waahhhhh akhirnya ya, Cha. Setelah sebelumnya percobaan yang pertama gagal, namun yang kedua ini kita berhasil. Sumpah gue senang banget. Ini buah dari perjuangan gue selama ini.”


“Iya Ngel. Gue juga senang banget. Lo tahu gak, kemarin-kemarin gue frustasi gara-gara mikirin ujikom ini ?”


“Apalagi gue Cha. Gue bener-bener down saat itu. Saat gue gagal dalam ujikom yang pertama. Rasanya harapan gue patah, dan gue gak mampu lagi buat melangkah.”


“Selamat ya !”


Tiba-tiba terdengar ucapan selamat dari orang yang muncul dari arah belakang disertai dengan tepuk tangan.


“Ehh ada Pak Angga. Makasih ya Pak. Semua ini juga berkat bantuan Bapak. Pembelajaran yang Bapak berikan sungguh bermanfaat bagi kami. Khususnya bagi Angel. Iya gak, Ngel ?”


Alessyia menyikut tanganku yang membuat aku sedikit tekejut. Sebenarnya aku bingung harus bicara apa sama Pak Angga. Seharusnya aku menyiapkan dulu kata demi kata yang akan aku persembahkan buat Pak Angga. Kalau begini, jadi kelihatan kalau aku gugup banget.


“Iy-iya.”


“Ya udah gue tinggal dulu ya Ngel. Barangkali ada yang mau lo sampaikan kepada Pak Angga.”


“Cha please jangan tinggalin gue. Gue gak tahu harus ngomong apaan ini ?”


“Ih Cha lo mau kemana ? Udah disini aja.”


Tidak ada jawaban dari Alessyia. Ia hanya melambaikan tangannya sambil membalikkan badannya. Perlahan langkah Alessyia semakin menjauh. Dan kini hanya menyisakan aku dan Pak Angga.


Aku memang menceritakan setiap apa yang terjadi antara aku dengan Pak Angga. Alessyia yang berpikir bahwa aku sebenarnya menyukai Pak Angga namun, aku masih ragu dan belum menyadari perasaan itu.


Jujur aku juga tidak mengerti, mungkin ini hanyalah perasaan kagum kepada sosok Pak Angga. Tapi untuk cinta, rasanya tidak mungkin, itu terlalu jauh. Karena Pak Angga adalah guru aku, apalagi perbedaan usia yang terpaut cukup jauh, kurang lebih berkisar 10 tahun. Ditambah masih ada hal yang mengganggu pikiranku. Status Pak Angga. Apakah dia sudah menikah, masih single, atau bahkan seorang duda.


Sifatnya yang tertutup jika menyangkut kehidupan pribadinya, membuat Pak Angga menjadi sosok yang misterius. Ia hanya berbicara mengenai materi pembelajaran. Jika ada pertanyaan di luar itu, sudah dipastikan ia tidak akan menjawabnya.


Apalagi masalah percintaannya, mungkin rekan gurunya juga tidak mengetahui tentang kehidupan Pak Angga secara detail.


“Selamat ya. Akhirnya kamu bisa menyelesaikannya !”


“Em . . ma-makasih ya Pak. Alessyia benar, semua ini juga atas bantuan Bapak. Kalau Bapak tidak berbaik hati menawarkan jasa sebagai guru private Angel, mungkin Angel akan ikut remedial untuk yang kedua kalinya. Sekali lagi Angel mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena Bapak telah berhasil memastikan Angel lulus.”


“Tapi jangan senang dulu. Masih ada step terakhir. Minggu depan UN ! Kamu tidak lupa kan ?”


“Engga dong. Angel gak bakal lupa.”

__ADS_1


Dengan senyum yang menampakkan lesung pipit semakin menambah kecantikan diriku. Sebenarnya aku ragu untuk menanyakan hal ini. Dan juga rasanya sedikit canggung. Tapi aku akan terus penasaran jika belum mendapatkan penjelasan darinya.


“Emm . . Oh iya Pak. Ada hal yang mau Angel tanyakan.”


“Apa ?”


“Emm ituu Pak . . anu . . .”


“Ada apa Angel tanyakan saja !”


“Hmm gimana ya. Angel bingung harus nanya gimana.”


“Lho katanya mau nanya, tapi kok bingung. Udah tanyakan saja apa yang ada dipikiran kamu. Jangan dipendam !”


“Tapi apakah Bapak akan menjawabnya ?”


“Tergantung pertanyaannya.”


“Ya udah gak jadi.”


“Kenapa ?”


“Karena ini bukan masalah pelajaran. Bapak pasti tidak akan menjawabnya.”


“Kalau pertanyaannya berkualitas pasti akan saya jawab.”


“Tidak. Lebih tepatnya saya tidak ingat."


“. . .”


“Apa saya mendengkur ? Atau mengigau sambil berjalan ?”


“Tidak.”


“Lantas, hal memalukan apa yang saya lakukan semalam ?”


“Maaf ya Pak. . Tapi . . tapi semalam Bapak menarik tangan Angel dan memeluk Angel.”


“Ya ampun. Angel maafin saya. Itu benar-benar diluar kesadaran saya. Gak ada niat saya mencari kesempatan atau melecehkan kamu. Saya benar-benar tidak ingat.”


“Iya Angel tahu kok Pak. Karena saat Angel lihat, Bapak benar-benar tidak tersadar. Kalau boleh Angel tahu, apa ada masalah yang mengganggu pikiran Bapak ?”


“Eng . enggak kok. Gapapa. Suasana hati saya sedang kurang baik aja. Ditambah lagi dengan kecapekan.”

__ADS_1


“Maafin Angel ya Pak. Angel udah buat Bapak kelelahan.”


“Kamu gak perlu minta maaf. Itu bukan salah kamu. Usaha saya juga tidak sia-sia karena kamu berhasil membuktikannya pada saya. Selain itu, saya senang bisa bantuin kamu.”


Perkataannya benar-benar telah menusuk jantungku. Terpesona aku dibuatnya. Bahkan ketika ia berlalu dari hadapanku, mataku enggan untuk berkedip. Tak sedetikpun memalingkan pandanganku darinya.


“Apa benar bahwa aku menyukainya ? Aku benar-benar tidak mengerti dengan perasaan ini. Tapi ini salah. Bagaimana mungkin aku menyukai guruku ?”


Semakin aku berusaha untuk menutup mata dan telinga, justru semakin keras keinginanku untuk mengetahui mengenai kehidupan pribadi Pak Angga. Jelas aku tidak diam saja. Rekan sekelasku tidak ada satupun yang terlewat, semuanya sudah menjadi narasumber dari beberapa pertanyaan yang aku lontarkan. Namun belum menghasilkan apa-apa. Semuanya menjawab dengan perkataan yang kompak yaitu, ‘Tidak tahu’.


Benar saja, tidak mungkin Pak Angga menceritakan kepada murid. Lalu kemana lagi aku harus bertanya ? Ibu Ratna. Iyaa, beliau menjadi harapan terakhir bagiku. Mungkin saja Ibu Ratna sebagai rekan seprofesi mengetahui perihal Pak Angga. Tetapi bagaimana aku menanyakannya ? Jika langsung to the point apakah tidak terasa canggung ? Isshh, memalukan. Alasan apa yang nantinya akan aku berikan jika Bu Ratna bertanya untuk apa aku mencari tahu kehidupan percintaan Pak Angga ?


Tetapi jika terus begini, aku semakin tidak bisa tidur. Mau tidak mau harus aku tanyakan. Perihal itu memalukan atau tidak biar saja menjadi urusan belakangan.


Hari ini, sore ini, setelah siswa-siswa menyelesaikan jam terakhir, aku memutuskan untuk menjumpai Ibu Ratna. Syukurlah di ruangan itu tidak tercium aroma Pak Angga. Dan benar cuma ada Bu Ratna yang sedang menatap layar monitor terduduk di kursi.


“Permisi, Bu.”


“Angel. Ada apa ? Sini duduk !"


“Ada yang mau Angel tanyakan sama Ibu. Apakah Ibu punya waktu luang.”


“Oh iya silahkan. Dengan senang hati Ibu berusaha untuk menjawabnya.”


“Tetapi ini bukan materi pembelajaran, Bu. Apakah Ibu keberatan ?”


“Ada apa ? Tanyakan saja !”


“Emm. . . Angel mau tahu mengenai kehidupan pribadi Pak Angga, Bu.”


“Kenapa kok kamu ingin tahu ?”


Benar dugaanku. Ibu Ratna menanyakan alasan dari pertanyaanku itu.


“Bukan apa-apa, Bu. Hanya penasaran saja. Soalnya Pak Angga tidak pernah bercerita apa-apa jika di kelas.”


“Baiklah. Perihal apa itu ?”


“Apa kebetulan Ibu tahu status Pak Angga ? Menikah atau single ?”


“Setahu Ibu, Pak Angga sudah menikah. Dan kini telah memiliki seorang putra.”


Mendengar jawaban dari Bu Ratna, entah mengapa tiba-tiba saja hatiku sakit. Perasaan apa ini ? Aku tidak boleh menyukai Pak Angga ! Bukan hanya karena dia guruku. Tetapi dia adalah lelaki yang telah beristri. Apalagi telah dikaruniai buah hati hasil dari pernikahan mereka.

__ADS_1


Ini salah ! Sangat salah. Jangan sampai aku membiarkan perasaan ini terlalu lama bersemayam di dalam hatiku !


*Bersambung*


__ADS_2