My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-99 Mulai Terbongkar


__ADS_3

Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


Dari kejauhan aku dapat melihat raut muka serius di antara tiga orang yang sedang melakukan percakapan. Hatiku semakin gusar. Aku belum siap jika harus mendapatkan amukan dari Papah. Dan juga, sudah pasti mereka akan mencabut fasilitas yang selama ini diberikan kepadaku. Termasuk fasilitas kuliah. Mau jadi apa aku jika tidak menyelesaikan kuliah.


Entah keputusanku untuk menghampiri mereka benar atau salah. Yang aku pikirkan saat ini yaitu mengetahui apa yang menjadi topik pembicaraan mereka.


“Pah...Mah...”


“Eh kalian udah kembali?”


“Heem.”


“Kalian membicarakan apa?”


“Oh itu, sini deh duduk di samping Papah, Nak!”


Kalau melihat ekspresi raut wajah mereka tidak nampak ketegangan. Tetapi Papah memintaku untuk duduk di dekatnya. Apa Papah akan memarahiku secara pelan-pelan? Dengan sangat hati-hati aku mengambil posisi duduk dekat Papah dengan Rendy yang masih ada dalam pelukanku.


“Hallo Rendy?”


“Hai om!”


“Rendy mau gak ikut sama om?”


“Kemana om?”


“Beli sesuatu yang Rendy suka.”


“Mau om. Rendy mau.”


“Pah, mau kemana?”


“Ke depan dulu sebentar.”


Sebelum aku mengucapkan kata-kata, Papah sudah mengambil Rendy dari pelukanku. Aku merasa heran dengan sikap Papah. Kenapa Papah menjadi baik? Apakah semua ini trik untuk menjauhkan aku dari Pak Angga? Ataukah Papah akan membalas Pak Angga dengan cara menyakiti Rendy?


Sebenarnya aku telah berusaha untuk berpikir positif. Tetapi, tetap saja ada pikiran buruk yang melintas. Karena pada nyatanya, tidak ada yang bisa menduga hati seseorang. Dalamnya laut masih bisa di tebak. Tetapi tidak ada yang bisa menebak isi hati orang lain.


“Sayang…”


“Iya, Mah.”


“Bi Rani udah cerita semuanya.”


Aku terpejam mendengar Mamah bicara seperti itu. Sudah pasti Bi Rani berbicara sesuai dengan apa yang dia lihat. Jika tahu akan seperti ini, mungkin aku akan bernegosiasi dengan Bi Rani untuk merahasiakan hubungan ini. Tetapi semuanya sudah terlambat. Tidak mampu lagi kembali kepada hari lalu.


“Ce..cerita ap..pa Mah?”


“Itu lho perihal Rendy.”

__ADS_1


“Argh, akhirnya yang gue takutkan terjadi.” Gumamku lirih dalam hati.


“Mak..sudnya apa Mah?”


“Kasihan ya Rendy, dari kecil tidak pernah di urus sama ibunya. Ia tinggal berdua dengan Ayahnya. Dan hanya Bibi inilah yang menjadi teman masa kecil Rendy. Bahkan dia jarang ketemu Ayahnya karena pekerjaan yang menyita waktu Ayahnya.”


Aku hanya mendengarkan Mamah bercerita panjang kali lebar.


“Ibunya jahat banget sih. Emangnya dia gak sayang sama Rendy? Padahal Rendy anak yang cerdas dan juga tampan. Sayang sekali di usianya yang masih kecil, terpaksa Rendy harus tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tuanya.”


Untunglah apa yang aku takutkan tidak terjadi. Sepertinya Bi Rani tidak menceritakan tentang siapa Ayah Rendy dan bagaimana hubungan aku dengannya. Tanpa tersadar aku bernafas lega.


Hfftt.


“Sayang kamu kenapa menghela nafas sangat dalam begitu?”


“Engga kok Mah. Angel juga kasihan sama Rendy. Tapi mungkin inilah yang terbaik baginya. Daripada harus dibesarkan oleh Ibu yang tidak tulus mencintainya.”


Aku kembali melanjutkan pembicaraan, “Rendy hanya akan menyaksikan pertengkaran antara Ayah dan Bundanya. Hal tersebut bisa menimbulkan trauma dalam hidup Rendy, Mah. Bisa saja ia berpikir tidak mau menikah karena pernikahan yang di contohkan oleh orang tuanya bukanlah pernikahan yang harmonis.”


“Iya, kamu betul sayang. Mamah tidak menyangka kamu bisa berpikir ke arah sana.”


“Iya dong. Kan Angel juga belajar dari Mamah.”


“Hehehe.”


Mamah sedang berbicara dengan Bi Rani. Sedangkan aku memeriksa ponsel yang sudah beberapa jam tidak aku sentuh. Terdapat banyak chat yang masuk. Entah itu dari personal maupun grup.


Dan yang paling banyak yaitu chat dari rekan-rekan yang dekat denganku di kampus. Tak lain isi dari pesan tersebut berupa bertanya kabar. Tetapi kali ini tidak ada Kak Beni yang bertanya kabar kepadaku. Kak Beni juga tidak ikut mengobrol di grup. Mungkin amarah Kak Beni telah sangat dalam kepada kami.


Dan benar saja mereka melakukan spam chat hampir 100 kali. Tidak mau membuat mereka bertanya-tanya lagi, akhirnya aku menjelaskan kronologis singkat tentang Pak Angga yang masuk rumah sakit sampai menjelaskan kejadian hari ini.


Angel, nanti kalau orang tua lo tahu gimana?


Bisa jadi perang ketiga tuh, Ngel.


Kurang lebih seperti itu balasan pesan dari Alessyia dan Kak Aldo. Mereka kompak membuat diriku cemas. Padahal baru saja aku bisa melupakannya. Tetapi sekarang sudah teringat lagi. Selama masih berada di rumah sakit, hatiku tidak akan bisa tenang.


“Kak Angel…”


“Eh, hai! Udah pulang nih?”


“Udah.”


“Beli apa dong? Beli cokelat, ya? Kok Kakak gak dibagi cokelatnya?”


“Enggak kok, Rendy beli ini!”


Rendy yang baru tiba bersama Papah, langsung memamerkan sesuatu hasil dari oleh-olehnya selama satu jam yang lalu berjalan-jalan. Kotak transparan berisi mobil sport berwarna merah dengan ukuran kecil ditunjukkan kepadaku.


“Waah bagus. Beli dari mana ini?”


“Dari depan sama om.”


“Kalau begitu, Rendy bilang apa sama om?”


“Terimakasih om.”

__ADS_1


“Sama-sama sayang.”


Rendy sangat bahagia mendapatkan hadiah dari Papah. Ia mengajak Papah untuk bermain. Dan dengan baik hati, Papah menuruti kemauan Rendy. Sedangkan aku, Mamah dan Bi Rani masih duduk di kursi sambil menyaksikan mereka bermain dengan mobil mainannya.


“Mbak Angel…”


“Iya, Sus.”


“Pasien atas nama Pak Angga sudah sadarkan diri. Sekarang dia sudah bisa di besuk, tetapi dengan jumlah yang dibatasi ya, Mbak. Tidak boleh lebih dari 3 orang.”


“Hmm baik, Sus.”


“Oh iya, Pak Angga juga berpesan agar Mbak Angel bisa menemaninya.”


“Ba..baik Sus.”


Mungkin ini benar-benar akhir bagi hidupku. Papah dan Mamah pasti akan curiga karena suster yang tiba-tiba datang menyebut-nyebut nama Pak Angga dan memberikan kabar kesehatan beliau.


Batinku lirih, “Argh, mati aku. Tamat sudah riwayatmu Angel.”


“Tunggu..tunggu !”


Dan benar saja, tidak membutuhkan waktu lama, Papah meninggalkan Rendy dan datang mendekatiku.


“Suster itu bilang Pak Angga. Iya kan, Mah?”


“Sepertinya begitu, Pah.”


“Tidak mungkin Pak Angga guru kamu waktu sekolah kan?”


“…”


“Angel jawab Papah!”


“Pah, Angel bisa jelasin.”


“Oke cukup! Mendengar jawaban kamu barusan Papah sudah tahu kalau dia orang yang sama."


“Pah…”


“Kamu lupa kalau Papah sudah melarang kamu untuk berhubungan lagi dengan Pak Angga? Dia itu sudah menikah dan punya anak Angel. Sadar dong! Kamu itu cantik, pintar, masih banyak pria yang se-usia dengan kamu yang cinta sama kamu.”


“Bi, tolong bawa Rendy pergi dari sini ya!”


Aku menatap Bi Rani dan berkata lirih. Aku tidak mau sampai Rendy menyaksikan perdebatan yang terjadi antara aku dan Papah saat ini.


“Jangan kamu bilang Rendy anaknya dia? Jawab Angel!”


Papah membalikan badan dan mengacak-acak rambutnya frustasi. Kemudian ia kembali lagi menatapku. Sedangkan aku masih menunduk. Aku tidak mau melihat raut muka Papah disaat sedang dipenuhi oleh amarah. Membayangkannya saja sudah seram. Apalagi harus menatapnya langsung.


“Angel, Papah kecewa sama kamu. Papah menyesal sudah membesarkan anak seperti kamu.”


Hiks..hiks…


Mendengar ucapan Papah barusan sangat melukai hatiku. Sekarang aku sadar, bahwa kebohongan yang ditutupi dengan alasan demi kebaikan juga akan berkahir menyakitkan.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2