My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-25 Menjalani Hukuman


__ADS_3

“Tante . . .”


“Angel . . .”


“Alessyia.”


“Eh ada Om ? Om apa kabar ? Kapan pulang, om ?”


“Kamu tuh ya, kalau nanya satu-satu. Om jadi bingung harus jawab yang mana dulu.”


“Hehehe. Angel nya ada Om ?”


“Ada di kamarnya. Kamu langsung ke atas aja.”


“Makasih om.”


"Oh iya kamu kapan pulang ? Katanya ikut sama Papi keluar kota ?"


"Ini baru sampai langsung kesini, om."


Siapa lagi kalau bukan Alessyia yang bertamu teriak-teriak, bukannya mengucapkan salam. Main buka pintu kamar orang sembarangan lagi, tanpa permisi. Untung saja yang punya sedang dalam keadaan berpakaian lengkap. Coba kalau tidak, dasar Alessyia ngeselin.


“Chaa kalau masuk ketuk pintu dulu dong !”


“Sorry ! Gue tuh kangen sama lo Angel.”


“Ihh lepasin. Pengap tahu.”


“Kok lho masih bau sih. Lho belum mandi, ya ?”


“Hehehe.”


Aku menarik baju lengan dan menciumnya. Ternyata benar, masih bau apek. Tapi bukan salah aku dong, kan Alessyia yang meluk aku duluan. Udah tahu aku aja masih tidur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhku saat Alessyia pertama membuka pintu, dia malah nyerobot aja meluk aku.


“Iiihhh jorok banget sih, lo. Udah cepetan mandi sana !"


“Males ah, Cha. Lagian gak bakal kemana-mana juga.”


“Lo lupa ya kita harus segera melengkapi berkas pendaftaran masuk Universitas.”


“Oh iya, Cha. Gue lupa.”


“Ayo cepat mandi !!!”


“Yaah gak bisa lain hari aja ya, Cha ?”


“Waktunya mepet Angel. Apalagi Ibu BK akan keluar kota untuk beberapa hari.”


“Tapi gue gak bisa keluar, Cha. Gue lagi dapat hukuman dari Papah.”


“What ? Serius lo ? Kenapa ?”


Aku menceritakan secara detail perjalanan hidup yang aku lalui beberapa hari terakhir ini. Dimulai ketika kedatangan Pak Angga di pagi buta yang menantang aku lari, dilanjutkan dengan menceritakan pertemuan yang terjadi antara aku dengan Rendy, dan di akhiri dengan kemarahan Papah dan Mamah yang mengakibatkan aku harus menjalani hukuman.


“Jadi maksud lo, semua ini gara-gara gue gitu ?”


“Iya dong. Coba aja lo jawab panggilan nyokap gue waktu itu. Pasti semuanya tidak akan seperti ini.”


“Hp gue rusak Angel. Nyebur di bathub. Kalau gak mati juga pasti gue angkat.”

__ADS_1


“Pokoknya semua ini salah lo.”


“Kok jadi lo yang marah sih ? Harusnya gue dong karena lo bohong bawa-bawa nama gue.”


“Ih enggak Cha. Gue gak marah sama lo. Gue tadi cuma becanda kok. Maafin gue ya ! Please, jangan marah ! Gue traktir lo sepuasnya deh.”


Dari awal aku yang salah. Alessyia sama sekali tidak tahu apa-apa perihal masalah yang terjadi antara aku dan Papah. Seandainya dari awal aku tidak berbohong, Papah dan Mamah tidak akan memberi hukuman kepadaku. Memang benar jika sekali berbohong, maka akan keterusan berbohong. Maka dari itu aku setuju terhadap opini yang mengatakan, ‘Tidak dapat dibenarkan kebohongan apapun, meskipun dengan alasan demi kebaikan.’


Papah salah satu orang yang menjunjung tinggi kejujuran. Bagi Papah, kejujuran adalah nomor satu. Apapun harus dikatakan. Bahkan jika kejujuran itu menyakitkan, itu lebih baik daripada berbohong. ‘Sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Dan sepandai-pandai menyembuyikan bangkai, pasti akan tercium juga.’ Pepatah itu yang selalu Papah ingatkan kepadaku.


Untuk menebus kesalahanku karena telah marah-marah kepada Alessyia, terpaksa aku harus menuruti kemauannya. Aku segera menuju kamar mandi, walau sebenarnya kakiku terasa berat untuk melangkah.


“Cha udah lah gak usah. Lo duluan aja ! Gue lain kali. Percuma lo gak bakal bisa ngebujuk orang tua gue.”


“Kan belum dicoba Angel.”


“Lho Alesyia, Angel kalian mau kemana ?”


“Om, tante aku mau ajak Angel ke sekolah untuk melengkapi berkas pendaftaran masuk perguruan tinggi, bolehkan om ?”


“Bukan Angel yang maksa kok, Pah. Tadi Angel udah nolak. Angel lain kali aja.”


“Ya boleh dong, Nak. Kamu harus segera melengkapi. Takutnya nanti terlambat.”


”Jadi Angel boleh ikut Alessyia, Pah ?”


“Boleh sayang. Asal langsung pulang ya ! Papah mengijinkan kamu keluar karena ada urusan penting. Selain itu kamu masih harus menjalani hukuman !”


“Siap, Pah. Makasih Papah, Mamah. Angel sayang kalian.”


***


“Baik, Bu. Kalau begitu kami permisi dulu !”


Satu per satu beban yang aku pikul mulai terselesaikan. Pertama pengakuan cinta terhadap Pak Angga. Yang kedua sekarang yaitu persoalan kuliah. Tersisa satu lagi yang belum menemukan solusi perihal menceritakan hubungan aku dengan Pak Angga kepada Papah dan Mamah. Aku masih belum merancang kata yang tepat. Dan aku juga masih harus mengumpulkan sejuta keberanian.


Brraakk. . .


Entah mungkin penglihatan aku yang sedikit terganggu, atau orang yang aku tabrak kurang berhati-hati, sehingga buku-buku yang ia genggam berceceran di tanah. Saat aku membantu merapihkannya sedikit terlihat bekas noda di bagian jilid buku. Semalam memang telah turun hujan, sehingga tanah masih basah, dan tentunya meninggalkan bekas kepada apapun yang meginjak di dasarnya.


“Maaf maaf ! Ini bukunya.”


“Iya makasih."


"Lho Angel. . .”


“Pak Angga. .”


“Ekhm. Ciee cieee.”


“Cha . . .” Aku sedikit menepuk lengan Alessyia.


“Kalian habis darimana ?”


“Melengkapi berkas pendaftaran, Pak.”


“Oh hmm. Ada yang mau saya bicarakan. Bisakah ?”


“Maaf ya Pak, tapi Angel tidak bisa. Angel harus segera pulang.”

__ADS_1


“Sebentar saja.”


“Tapi Angel harus menuruti perintah Papah.”


“Oh iya Pak, Angel lagi dihukum tidak boleh keluar rumah selama satu bulan.”


“Kenapa ?”


“Sstttt, Cha. Lo apaan sih ?"


“Udah tenang aja. Nanti gue bantu jelasin sama bokap lo. Gue tunggu di depan ya !”


“Cha jangan tinggalin gue !”


“Enggak. Udah santai aja !”


Terkadang Alessyia menyebalkan. Aku enggan bercerita perihal hukuman yang sedang aku jalani. Namun aku terlambat. Mau tidak mau aku harus menjelaskannya kepada Pak Angga.


“Apa maksud dari ucapan Alessyia ?”


“Ucapan yang mana, Pak ?”


“Hukuman ? Hukuman apa ?”


“Salah Angel. Angel pantas mendapatkannya.”


“Apa ada kaitannya dengan saya ?”


“Tidak. Tidak ada sangkutannya sama sekali. Semua yang terjadi akibat dari perbuatan Angel sendiri.”


“Tolong kamu jelaskan apa yang terjadi ?”


“Papah sama Mamah telah mengetahui kalau sebenarnya selama ini Angel keluar bukan bersama Alessyia. Angel harus menerima konsekuensi dari kebohongan yang selama ini telah dilakukan.”


“Berarti semua ini terjadi ada sangkut pautnya dengan saya. Saya tidak mau kamu terus berada dalam masalah. Saya akan bilang kepada kedua orang tua kamu.”


“Tidak.”


“Kenapa ? Ini demi kebaikan kamu.”


“Tidak. Angel mohon tidak ! Tidak untuk saat ini. Angel tidak tahu respon apa yang akan diberikan oleh Papah dan Mamah. Tapi yang pasti Angel belum siap dengan perpisahan.”


“Saya mengerti jika orang tua kamu menolak kehadiran saya. Saya juga sadar, kalau saya bukan orang yang mereka harapkan.”


“Tolong jangan berkata seperti itu. Angel akan membuktikan kepada mereka kalau Pak Angga adalah orang yang tepat untuk menjadi pendamping Angel. Angel akan merubah keyakinan mereka. Tolong beri waktu ! Angel mohon.”


“Lebih baik kamu segera pulang. Saya tidak mau kamu mendapat masalah lagi.”


“Apa yang mau Bapak bicarakan sebelumnya ?”


“Tidak. Tidak ada. Cepatlah ! Alessyia telah menunggu.”


“Tapi Pak . .”


“Lain kali kita ketemu. Jika hukuman kamu telah usai.”


Aku yakin ada sesuatu yang Pak Angga sembunyikan. Jelas tadi ia mengajak aku beranjak untuk membicarakan suatu hal. Tetapi sekarang ia bersikeras menolak. Apa mungkin ada perkataanku yang menyinggug perasaan Pak Angga ?


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2