My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-56 Senjata Yang Tertidur


__ADS_3

“Apa penjelasan Bapak bisa dipercaya ?”


“Angel, please !”


Pak Angga kembali melanjutkan kisahnya. 3 hari setelah kejadian di Hotel Angkasa, Windy mengirimkan foto melalui aplikasi chat. Foto itu sama seperti yang dilihat olehku. Nampak dirinya yang telah bertelanjang dada dengan Windy yang berada disamping sedang memeluk dirinya.


Pak Angga kemudian menelepon Windy untuk menanyakan perihal foto tersebut.


“Apa maksud foto itu ?”


“Angga kamu pasti tidak sadar apa yang telah kamu lakukan waktu itu sama aku.”


“Apa maksud Anda ? Saya tidak melakukan apa-apa sama Anda.”


“Kamu kan tidak sadarkan diri waktu itu sayang.”


Tut. .tut. .tut. .


Windy memutuskan panggilan tersebut. Padahal masih banyak yang perlu Pak Angga tanyakan. Waktu itu Pak Angga memang tidak sadarkan diri. Ia juga tidak tahu apa saja yang terjadi. Apakah mungkin apa yang dikatakan Windy adalah kebenaran ?


Kehadiran Rendy dapat mengalihkan perhatian Pak Angga sejenak. Ia melupakan perihal foto yang dikirim Windy.


Tidak berhenti sampai disitu, esoknya Windy mengirim kembali foto tersebut. Kali ini disertai dengan caption sedikit berisikan peringatan.


Jika kamu ingin tahu kisahnya. Temui aku di rumahku.


Itulah tulisan yang terdapat di bawah foto. Pak Angga tidak memperdulikannya. Ia hanya melihat, kemudian menaruh kembali ponselnya. Banyak projek yang deadline. Saat ini ia sama sekali tidak menganggap ada kehadiran Windy.


Seperti yang diketahui bahwa Windy dapat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keinginannya. Meskipun dia telah resmi bercerai dari Pak Angga. Tetapi usaha selalu dilakukannya untuk mendapatkan kembali Pak Angga. Seperti saat ini, ia kembali mengirim foto ranjang bersama Pak Angga. Kali ini bukan hanya peringatan, tetapi disertai dengan ancaman.


Jika kamu tidak datang. Jangan salahkan aku jika foto ini aku kirim kepada orang yang sangat kamu cintai. Yaitu Angel.


Melihat pesan yang Windy kirim, kesabaran Pak Angga telah habis. Ia tidak bisa diam saja. Bagaimana jika sampai aku melihat ? Sudah pasti akan salah paham. Pak Angga segera menuju kediaman Windy dengan menunggangi si merah.


Sejak keluar pintu kamar, muka Pak Angga telah dipenuhi dengan kemarahan. Sampai sekarang tiba di depan pintu sebuah rumah, amarahnya semakin memuncak. Pak Angga menggedor-gedor pintu dengan sangat tidak sabaran. Terdengar rusuh menyakitkan gendang telinga.


“Windy. . .”


“Windy keluar lo !”


“Windy !!!”


Terdengar samar-samar seseorang menjawab. Mungkin Windy sedang berada di ujung bangunan tersebut. Atau mungkin karena Pak Angga terlalu membuat suasana menjadi gaduh. Sehingga suaranya tidak terdengar nyaring.


“Iya sebentar.”


Pintu belum juga dibuka. Pak Angga kembali melancarkan aksinya. Kali ini pintu yang di ketuk lebih keras. Bahkan mungkin akan menimbulkan rasa sakit kepada tangannya. Tetapi Pak Angga tidak memperdulikan rasa sakit tersebut.

__ADS_1


“Iya Angga. Kamu tidak sabaran banget sih.”


Windy telah membuka pintu. Muka Pak Angga masih dipenuhi dendam. Ia enggan untuk berbicara ramah pada Windy. Padahal Windy telah menyambut kehadiran dirinya dengan sangat hangat. Pak Angga malah berbicara dengan nada yang tinggi.


“Mana handphone kamu ?”


“Buat apa sih, Ngga ?”


“Hapus foto itu sekarang juga !”


“Masuk dulu yuk, Ngga ! Aku buatkan minum agar kamu bisa tenang.”


“Gak usah. Gue cuma ingin foto itu dihapus.”


“Iya iya. Tapi masuk dulu yuk ! Hp aku di dalam.”


Dengan sangat terpaksa Pak Angga mengikuti langkah Windy. Ia tidak ingin terlalu lama disini. Setelah tujuannya selesai, maka Pak Angga akan segera pergi dari kediaman Windy.


“Duduk dulu, Ngga ! Kamu tunggu dulu. Aku akan ambil handphone.”


Windy meminta Pak Angga untuk menunggu di sebuah ruangan. Ruangan yang tidak terlalu besar. Dilengkapi dengan 2 kursi berukuran panjang dan 1 kursi berukuran lebih pendek. Bunga plastik di sebuah vas menjadi penghias meja tersebut. Serta guci keramik dengan ornamen tua menjadi penghuni pojok ruangan.


Pak Angga melirik foto yang menggantung di dinding. Foto itu kecil, sehingga tidak terlihat jelas oleh mata Pak Angga. Apalagi penglihatannya sedikit minus. Dan kali ini ia lupa tidak memakai kacamata. Pak Angga mendekati foto itu untuk dapat mengetahui siapa saja yang terdapat dalam foto itu.


Foto itu membawa ingatannya kembali kepada masa lalu. Pada saat Rendy baru saja dilahirkan. Dengan bobot kurang lebih 3,5 kg membuat Rendy terlihat sangat bulat. Kulit putih sedikit memerah, rambut yang masih bisa dihitung jumlahnya, serta mata yang masih belum dapat terbuka dengan lebar.


“Angga, kamu ingat foto itu ? Itu foto pertama kita dengan Rendy. Setelah aku melahirkan Rendy satu jam yang lalu. Dan kamu berada disamping menemani aku.”


“Tidak bisakah kita bersama lagi ?”


Pembicaraan tersebut membuat kesadaran Pak Angga kembali kepada masa kini. Karena hanyut terbawa suasana, Pak Angga bahkan tidak menyadari bahwa Windy sedang memeluk dirinya dari belakang. Melihat itu, Pak Angga segera melepaskan tangan Windy yang dilingkarkan di perutnya.


“Windy lepaskan !”


“Aku kangen sama kamu, Ngga.”


“Di antara kita sudah tidak ada apa-apa. Saya mohon sama kamu tolong jangan ganggu kehidupan saya lagi. Termasuk kisah cinta saya. Jauhi Angel ! Jangan sekali-kali berani mengusik ketenangan dia !”


Windy hanya terdiam dengan tatapan menyedihkan. Entah itu benar-benar mewakili perasaannya. Atau dia hanya sedang bermain drama. Ia terlalu mahir memainkan peran. Sehingga susah untuk dibedakan.


“Hapus foto itu sekarang juga !”


“Windy saya mohon, hapus foto itu !”


“HAPUS !!!”


“Iya iya. Ini aku hapus.”

__ADS_1


Windy memperlihatkan proses penghapusan foto itu kepada Pak Angga. Setelah memastikan semua foto-foto itu menghilang dari memory card ponsel Windy, Pak Angga segera berlalu dari ruang tersebut tanpa permisi terhadap tuan rumah. Bahkan panggilan dari Windy tidak dihiraukan olehnya.


“Angga tunggu !”


“Angga !!!”


“Apa kamu tidak mau tahu apa yang terjadi di antara kita malam itu ?”


Pak Angga menghentikan langkahnya. Ia berbalik untuk menatap Windy dan memberikan argumen.


“Memangnya kamu pikir apa yang terjadi malam itu ?”


“Yaaah kamu tahu dong. Apa yang terjadi di antara pria dan wanita dewasa di dalam sebuah kamar.”


“Hahaha.”


Windy terheran dengan reaksi yang ditunjukkan Pak Angga. Ia tidak gentar sama sekali. Justru Pak Angga malah menertawakan ucapannya.


“Kamu pikir saya anak kecil yang mudah dibohongi ? Saya emang tidak sadarkan diri malam itu. Tetapi saya tahu akal busukmu itu. Saya curiga sejak saya bangun tidak berpakaian lengkap. Siang hari setelah saya pulang dari Hotel, saya langsung mendatangi rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa di dalam tubuh saya terdapat cairan obat tidur. Saya tahu kamu memberikan ramuan obat tidur melalui jus jeruk yang kamu berikan. Dan setelah itu saya tidak sadarkan diri sampai matahari terbit. Kamu pikir bisa melakukannya jika saya sedang tidur ? Bahkan senjataku saja ikut tertidur. Hahaha.”


Puas rasanya berhasil membuat Windy mati kutu. Pak Angga segera berlalu meninggalkan Windy yang saat ini dipenuhi dengan kekesalan. Niatnya ingin membuat Pak Angga merasa bersalah atas kejadian malam itu. Tetapi malah dirinya yang dipermalukan setengah mati oleh Pak Angga.


*Bersambung*


.


.


.


Terimakasih kepada para pembaca yang sudah meluangkan waktunya untuk mampir di karya author🥰


.


.


Jika ada saran dan kritik silahkan sampaikan pada kolom komentar dibawah 👇👇


Jangan lupa untuk selalu menggunakan kata-kata yang sopan ya😉


.


.


Author minta partisipasi dari para pembaca untuk mendukung karya author dengan memberikan like, komen, rate 5 n fav 🥰🥰


.

__ADS_1


Terimakasih 🙏🙏😇


Salam hangat 🤗🤗


__ADS_2