
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Dulu aku selalu percaya akan ada pelangi setelah hujan. Sekarang aku sudah tidak mempercayainya. Bagaimana pelangi bisa tercipta, jika orang yang selalu membuat pelangi di hidupku telah memutuskan untuk pergi.
Setiap insan mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikan masalahnya. Salah satunya yaitu untuk mengendalikan emosinya yang sedang memuncak. Sebagian dari mereka lebih memilih shopping atau hanya sekadar jalan-jalan. Dan sebagian dari mereka memilih mengurung diri di dalam sebuah ruangan.
Dan aku lebih memilih tipe yang kedua. Ketika hati sedang tidak sehat, maka aku enggan untuk berjumpa dengan orang banyak. Aku lebih memilih berdiam diri dengan pintu yang dikunci, ditemani derai air mata serta pikiran yang memutar kembali kenangan yang pernah ada.
Tetapi jika terus sendirian, itu akan memperparah kondisi. Ada baiknya berbagi masalah dan uneg-uneg yang ada di kepala kepada orang yang dapat dipercaya. Orang yang telah mengenal keburukan kita, namun tidak memutuskan untuk pergi. Ketika perlahan beban dikeluarkan melalui percakapan, maka rasanya sedikit melegakan. Meskipun masalahnya belum teratasi.
“Udah lo jangan nangis!”
“Hiks…”
“Dengar, jika Pak Angga memang ditakdirkan untuk lo, maka dia akan kembali lagi. Setinggi apapun benteng pemisah, sedalam apapun jurang, dia akan menemukan cara untuk bertemu dengan cinta sejatinya.”
“Tapi itu semua tidak mungkin, Cha. Sampai kapanpun bokap gue gak akan menyukai Pak Angga. Apalagi jika sampai merestui hubungan kami.”
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, Angel. Mungkin bagi lo itu mustahil. Tapi kembalikan lagi semuanya kepada yang Maha Pencipta! Bukankah dia yang mengendalikan hati manusia? Bagi-Nya sangat mudah untuk membolak-balikan hati dan perasaan manusia.”
Alessyia masih menjadi tempat aku berkeluh kesah. Untunglah dia sangat setia untuk mendengarkan perjalanan hidup yang aku lalui. Dan benar saja, aku bisa sedikit bernafas lega setelah berbagi kesusahan dengan orang lain. Memang tidak baik memperlihatkan kesedihan kepada orang lain. Tetapi ada kalanya kita membutuhkan hal semacam itu untuk merilekskan pikiran.
***
Waktu masih terus berjalan. Meskipun kita meminta untuk berhenti sedetik saja, ia tidak akan mempedulikannya. Meskipun kita telah memohon-mohon untuk mengulang masa lalu, tetap tidak akan digubris olehnya. Kita hanya perlu hidup mengikuti waktu.
Akan selalu ada cerita yang berbeda setiap hari yang kita lalui. Entah itu tawa, ceria, gembira, duka, sedih atau pilu. Setiap orang pernah merasakan hal tersebut. Karena hidup itu berputar. Tidak selamanya berada di bawah. Dan juga tidak selamanya berada di atas.
__ADS_1
Aku masih terus berjalan meskipun tanpa adanya cinta. Aku juga tidak pernah melupakan betapa besarnya cinta dan kasih yang diberikan oleh Papah dan Mamah. Dan aku sadar, tidak ada cinta yang tulus selain cinta dari orang tua.
Sudah dua minggu berlalu sejak terakhir aku tidak sengaja melihat Pak Angga bersama seorang gadis di pusat perbelanjaan. Sejak saat itu juga aku semakin keras untuk melupakannya. Ketika mengingat dia menerima suapan dari wanita lain, hatiku sangat marah. Tetapi ketika mengingat kenangan indah yang sempat tercipta, hatiku sakit. Mungkinkah saat ini aku sedang merasakan benci tapi cinta?
“Bolehkah saya duduk disini?”
“Kak Beni…”
“Ben…”
Kehadiran seseorang yang langsung disambut hangat oleh Alessyia dan Kak Aldo berhasil menarik aku ke alam normal setelah sebelumnya aku terbuai dalam lamunan. Sungguh aku tidak menyangka dia berdiri tepat dihadapan kami. Setelah beberapa bulan terakhir ini dia memutuskan untuk menjaga jarak dari kami.
“Kak Ben…”
“Boleh saya ikut gabung sama kalian?”
“Tentu. Silakan duduk!” Ucap aku, Alessyia dan Kak Aldo secara kompak.
Kami bertiga memberikan tempat yang kosong untuk disinggahi oleh Kak Beni. Tepatnya berada di samping aku dan di hadapan Alessyia beserta Kak Aldo.
Sudah hampir satu menit berlalu sejak ia mendiami kursi melingkari meja di hadapan kami, tetapi masih belum tercipta suatu percakapan. Semuanya masih menampilkan raut kecanggungan. Sesekali menengok pria itu dan tidak berselang lama segera memalingkan pandangannya.
“Emmm, Angel apa kabarnya?”
“Ba-baik Kak. Angel baik-baik aja.”
“Syukurlah. Waktu itu Kakak dengar kabar kamu masuk rumah sakit.”
“Sekarang sudah tidak apa-apa kok, Kak. Hehe.” Aku berusaha menampilkan lesung pipit walaupun terasa berat.
“Oh iya Cha, Do, luka yang waktu itu karena pukulan gue, sekarang gimana rasanya?”
“Gak papa. Gak parah juga kok. Sakitnya juga gak lama. Iya gak, Cha?”
“Hah? Emm iy-iya, Kak. Lagian itu udah lama banget Kak.”
__ADS_1
Aku pernah berpikir bahwa Kak Beni telah berubah seutuhnya. Dia tidak lagi peduli meskipun tahu kami terluka. Tetapi sekarang aku sadar bahwa pikiran itu salah. Dia masih menanyakan kesehatan kami yang telah lalu. Bahkan dia masih mengingat kronologis di lapang basket yang membuat Alessyia dan Kak Aldo terluka.
“Oh iya, Kak Ben sendiri bagaimana kabarnya?”
“Baik. Sehat-sehat aja. Emmm, sebenarnya niat saya bergabung bersama kalian untuk meminta maaf atas perbuatan saya selama ini. Tidak seharusnya saya menjauh dan meninggalkan kalian. Tidak seharusnya saya berbuat kasar kepada kalian, bahkan sampai membuat kalian terluka. Saya tahu sikap saya sudah sangat keterlaluan. Saya sadar jika saya tidak pantas untuk di maafkan. Dan saya juga tidak memaksa kalian menerima saya kembali. Karena saya sendiri juga merasa malu.”
Jika saat ini aku sedang bermimpi, maka biarkanlah aku untuk merasakan kebersamaan dan kekompakan kami yang telah menghilang cukup lama. Namun aku masih berharap bahwa ini adalah kenyataan. Tolong yakinkan aku kalau ini terjadi di dunia nyata!
“Tunggu tunggu! Angel gak salah dengar kan? Angel tidak lagi bermimpi bukan?”
“Angel lo apan-apaan sih? Jangan bicara gitu dong, nanti Kak Beni tersinggung!”
“Awww.”
Ini bukan mimpi. Cubitan mendarat di lengan atas yang diberikan oleh Alessyia nyata menyakitkan. Berarti apa yang aku dengar barusan benar-benar terjadi. Kak Beni meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Itu salah satu keajaiban. Karena setelah berbagai macam usaha dilakukan untuk menyadarkannya tidak berhasil, dan saat ini mata hatinya terbuka dengan sendirinya.
“Kalau begitu saya permisi! Tujuan saya disini sudah selesai."
“Eh Ben, tunggu!”
Kak Aldo berusaha menghentikan langkah Kak Beni yang hendak beranjak. Sedangkan aku dan Alessyia hanya terdiam. Kami masih bingung dengan keadaan yang ada. Bahkan kami tidak mampu untuk mengeluarkan kata-kata.
“Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Itu kodrat manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna. Kami telah memaafkan lo jauh sebelum lo meminta maaf. Yang terpenting sekarang lo udah tahu kebenarannya. Apa yang kita lakukan dulu hanya semata-mata untuk melindungi lo. Bukan untuk menjatuhkan. Kembaliah bersama kami!”
Kak Beni memutar langkahnya. Ia kembali terduduk melingkar bersama kami.
“Kak Ben, Angel merindukan sosok Kak Beni sebagai Kakak yang selalu melindungi meskipun sesekali selalu usil. Kembalilah bersama kami, Kak!”
“Sudah cukup kami kehilangan Kak Reza, tolong jangan pergi lagi dari kami! Apakah Kak Ben tidak kasihan sama Kak Aldo yang kesepian?”
“Apakah kalian mau menerima saya kembali?”
“Tentu. Kenapa tidak?”
Lagi lagi kami menjawabnya dengan kompak disertai dengan senyuman kebahagiaan. Begitupun dengan Kak Beni. Ia terlihat sangat gembira. Senyumnya merekah dengan lebar.
__ADS_1
Ketika nafsu amarah sedang menguasai, maka biarkan dia bersama amarahnya terlebih dahulu. Hingga pada suatu waktu ada hal yang membuatnya tersadar. Sebuah kenangan yang akan membawa dia kembali menemui seseorang untuk mengulang kembali kenangan tersebut.
*Bersambung*