
Aku masih belum mengerti alasan apa yang membuat Kak Aldo dan Kak Beni sampai bertengkar hebat. Tapi aku sudah dapat memprediksinya. Ini semua pasti ada kaitannya dengan Clarissa. Karena dialah sumber masalah yang membuat hubungan kita menjadi renggang.
“Oh iya Kak, kenapa kalian sampai berkelahi seperti tadi?”
“Jadi gini ceritanya Ngel, Cha, tadi kita habis latihan basket. Semua orang sudah meninggalkan lapangan. Dan hanya tersisa kami berdua. Terus Kakak menghentikan langkah Kak Beni.”
“Heem.”
Kak Aldo menarik nafas berat kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Kakak bilang kalau kemarin Kakak lihat Clarissa keluar dari club malam bersama seorang pria.”
“Echa sekarang mengerti. Pasti Kak Beni tidak percaya dan malah menyerang Kak Aldo, iya kan?”
“Ya begitulah. Beni tidak terima dengan perkataan Kakak yang mengatakan bahwa Clarissa bukan perempuan baik-baik. Tapi Kakak benar melihat Clarissa dengan siapa itu mantan yang ngejar-ngejar kamu, Ngel?”
“Frans..”
“Nah iya itu. Malah Clarissa jalannya sempoyongan gitu. Yaa terus digandeng gitulah sama si Frans.”
“Angel sih percaya. Sudah tidak aneh lagi. Toh mereka bisa nekat melakukan hal gila lebih dari itu. Tapi tunggu, kok Kakak bisa di club? Jangan-jangan...”
“Enggak. Kakak gak masuk club kok. Kebetulan lagi berhenti di dekat situ. Dan kebetulan juga mereka pas keluar.”
Dred...dred...dred...
“Angel angkat telepon dulu, ya.”
Aku melangkah sedikit menjauhi mereka untuk menjawab panggilan yang masuk ke dalam handphoneku. Melihat nama yang tertera di atas layar, tidak mungkin aku menjawabnya di dekat mereka. Bisa jadi mereka malah mengejekku.
“Iya Bee...”
“Kak Angel, ini Rendy.”
“Oh Rendy, Kakak kira tadi Ayah Rendy. Ada apa sayang?”
“Ayah Kak...”
“Heem, Ayah apa sayang?”
“Ayah sakit, Kak.”
“Sakit? Sakit apa?”
“Rendy gak tahu. Kakak bisa kesini gak?”
“Oke Kakak akan segera kesana. Rendy tenang ya! Rendy temani Ayah jangan pergi kemana-mana!”
Mendengar kabar Pak Angga sakit membuat pikiranku kacau. Bahkan aku hampir lupa tidak berpamitan kepada dua orang yang sedang berbincang sambil menunggu aku menjawab telepon.
“Cha, Kak, Angel harus pergi sekarang. Nanti kita bicarakan lagi cara untuk menyelamatkan Kak Beni dari wanita berbulu domba itu.”
“Lo mau kemana?”
“Awas hati-hati jangan buru-buru!”
Tidak ada respon lagi. Setelah berpamitan aku langsung balik kanan dan mengambil langkah seribu. Selama jalan kaki menuju gerbang mataku berpusat pada layar gadget untuk memesan ojek online. Beruntunglah drivernya cepat tanggap. Sehingga aku tidak perlu menunggunya terlalu lama.
“Terimakasih ya, Pak.”
“Iya Neng. Sama-sama.”
Setelah tiba aku segera memberikan bayaran kepada Abang drivernya. Kemudian berlari memasuki rumah Pak Angga.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
“Non...akhirnya datang juga.”
“Bagaimana kondisinya Pak Angga, Bii?”
“Belum sadarkan diri, Non.”
Tidak perlu terlalu lama aku mengetuk pintu, Bi Rani segera membukanya. Kami berdua bergegas menuju kamar Pak Angga dengan langkah yang semakin dipercepat.
“Kak Angel...Hiks.”
“Cup cup cup, Rendy jangan nangis ya! Ayah tidak apa-apa kok. Ayah pasti sehat lagi.”
“Rendy takut Ayah kenapa-kenapa, Kak.”
“Rendy tahu kan Ayah itu orangnya kuat? Ayah pasti bisa melawan sakitnya.”
Rendy masih menangis dalam pelukanku. Aku berusaha untuk menenangkan Rendy dengan memeluknya sangat erat dan mengelus halus belakang kepalanya. Mataku masih tertuju kepada seseorang yang terbaring lemah di atas ranjang. Pucat pasi menghiasi seluruh mukanya.
Bi Rani membantu aku untuk membuat Rendy berhenti menangis. Ia menggendong Rendy. Dan aku menghampiri Pak Angga. Aku menatapnya sangat lekat pria yang sedang memejamkan mata dengan bibir tipisnya yang tidak berwarna.
Melihat kondisi Pak Angga yang seperti ini membuat air mataku menetes tanpa diminta. Belum pernah aku melihat Pak Angga terbaring tak berdaya. Biasanya ia selalu memberikan ocehan-ocehan petuahnya kepadaku.
“Bee, kenapa bisa seperti ini? Bee ayo bangun. Angel rindu nasihat dari kamu.”
Tok...tok..tok...
Bi Rani membawa serta Rendy menuju pintu depan untuk menemui tamu yang baru datang. Tak lama mereka kembali dengan membawa seseorang.
“Non, ini dokter yang sudah Bibi panggil.”
“Oh iya, silakan Dok!”
Aku beranjak dari ranjang dan memberikan waktu kepada dokter untuk memeriksa Pak Angga. Rendy beralih ke dalam pangkuanku.
“Saya mendiagnosa terdapat penurunan haemoglobin pada pasien yang disebabkan oleh kegagalan sistem tubuh dalam memproduksi sel darah merah.”
“Agar lebih mengetahui detail penyakit yang di derita pasien, alangkah baiknya pasien dibawa ke rumah sakit. Saya rekomendasikan untuk berada dalam pengawasan Dr. Agus Kuncoro, SpPD, KHOM. Beliau banyak berhasil menangani kasus kelainan darah."
“Baik, Dok.”
Berdasarkan saran dokter yang mengharuskan Pak Angga di rawat di rumah sakit dengan peralatan yang lebih lengkap, kami segera menuju rumah sakit yang telah di rujuk oleh dokter tersebut. Malangnya perjalanan kami tidak mulus. Aku lupa kalau aku tidak bisa menyetir. Maka kami harus kebingungan untuk mencari mobil beserta supirnya yang dapat dipakai detik ini juga.
“Jika kalian mengijinkan, saya bersedia untuk menjadi supir dan mengantarkan kalian menuju rumah sakit.”
“Serius Dok?”
“Iya. Kebetulan juga tadi saya datang kesini di antar sama supir.”
“Terimakasih Dok.”
Tanpa berbicara panjang lebar lagi, semua penumpang segera memasuki mobil Pak Angga. Beruntunglah dokternya sangat baik hati. Ia membopong Pak Angga dan membawanya masuk ke dalam kursi penumpang. Bahkan dia bersedia menjadi supir tanpa aku minta.
Rendy duduk di depan dalam pangkuan Bi Rani. Sedangkan aku menemani Pak Angga di barisan kedua. Aku menggenggam tangan Pak Angga dengan harapan dapat mengalirkan energi kepada dia. Badannya masih panas. Mukanya semakin pucat.
“Bee, Angel mohon lawan penyakit itu. Angel percaya kamu pasti kuat. Kasihan Rendy, Bee. Rendy masih sangat membutuhkan kamu. Kami semua merindukan kamu, Bee.” Ucapku lirih.
Setelah tiba di rumah sakit, perawat segera melayani Pak Angga. Ia membawa Pak Angga memasuki UGD.
Tidak berselang lama setelah Pak Angga tersadar , ia segera di pindahkan ke ruang perawatan.
Sore itu Dr. Agus melakukan kunjungan pemeriksaan pertama kali kepada Pak Angga. Dengan dibantu seorang perawat, beliau memeriksa dada, mata, perut dan bagian tubuh lainnya. Sambil berdiri di samping ranjang tempat Pak Angga terbaring, Dr. Agus membolak-balik berkas hasil pemeriksaan yang sudah di lakukan sejak Pak Angga masuk rumah sakit.
"Apakah Ibu keluarganya Bapak Angga?"
"Iya, Dok." Aku menatap dokter dengan penuh kecemasan.
__ADS_1
"Dari hasil seluruh pemeriksaan, saya menyimpulkan bahwa Bapak Angga mengalami penurunan kadar haemoglobin karena gangguan pada organ pembuat sel darah merah. Namun butuh saya pastikan pada pemeriksaan sumsum tulang belakang. Saat ini yang harus dilakukan adalah transfusi 5 kantong darah yang akan dijelaskan oleh perawat."
Dr. Agus kembali melanjutkan penjelasannya, "Ibu sama keluarga jangan terlalu panik. Karena jika darah sudah ada, maka proses transfusi akan segera dilakukan. Namun mohon maaf sebelumnya Bu, untuk stok darah saat ini rumah sakit sedang kekurangan. Apakah ada saudara atau teman yang berkenan untuk mendonorkan darah?"
"Saya bersedia mendonorkan darah, Dok."
"Saya juga."
Aku dan Bi Rani dengan senang hati menawarkan diri untuk menyumbangkan darah. Dengan segera kami mengikuti prosedur sebelum melakukan donor darah.
“Tunggu sebentar ya, Mbak! Hasilnya akan segera keluar.”
“Baik, Sus.”
Hfftttt.
Aku menarik nafas dalam. Kami masih menanti dengan harapan hasilnya sesuai dengan keinginan kami. Sedangkan Pak Angga masih berada di dalam ruangan seorang diri. Dokter bilang untuk memberikan waktu kepada Pak Angga beristirahat. Sehingga tidak diperbolehkan untuk menjenguk.
Suara yang diciptakan oleh perut Rendy memecahkan keheningan kami sore itu.
“Rendy lapar, Nak?”
“Iya Kak. Tapi Rendy gak mau makan.”
“Lho kenapa?”
“Rendy mau temani Ayah disini. Rendy gak mau pergi dari sini.”
“Tapi Rendy harus makan agar bisa melihat Ayah bangun. Nanti kalau Ayah bangun, tapi Rendy lemas gimana? Rendy gak bisa bermain lagi dengan Ayah dong.”
“Tapi Kak Angel...”
“Ya udah gini aja, Rendy tunggu disini, Kak Angel akan mencari makan buat Rendy. Tapi Rendy harus janji akan memakannya, ya! Kak Angel sudah capek lho mencarinya, masa gak di makan sih?”
Rendy mengangguk. Aku menitipkan Rendy kepada Bi Rani dan segera berlalu untuk mencari makanan yang kira-kira Rendy sukai.
Dred...dred...dred...
“Hallo.”
“Sayang kamu dimana?”
“Angel lagi di rumah sakit, Mah.”
“Siapa yang sakit?”
“Eu itu teman Angel, Mah.”
“Besok Mamah sama Papah kesana, ya.”
“Kesini Mah? Ada apa?”
“Ya buat menengok kabar kamu dong sayang. Emangnya gak boleh?”
“Hah? Eu boleh kok, Mah. Boleh. Hehe.”
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 😘🥰
__ADS_1
Terimakasih 🙏