My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-18 Kecupan Pertama


__ADS_3

“Hallo, Ngel. Lo darimana aja ? Tadi nyokap lo telepon gue. Nanya lo ada dimana. Katanya lo bilang jalan sama gue.”


“Lo bisa datang ke rumah gue sekarang gak, Cha ?”


“Lo kenapa, Ngel ? Lo nangis, ya ? Nangis kenapa ? Jangan bikin gue khawair Ngel !”


“Gue tunggu lo di rumah, ya !”


Sepertinya aku melupakan sesuatu. Sebelum aku berbohong sama Mamah untuk bilang pergi bersama Alessyia, seharusnya aku kongkalikong terlebih dahulu dengannya. Sekarang, Mamah pasti tahu kalau aku tidak pergi dengan Alessyia.


“Angel kamu udah pulang ? Sebenarnya kamu darimana sayang ? Kata Alessyia, dia tidak keluar ketemu kamu hari ini.”


“Mah, ceritanya nanti aja ya. Angel mau mandi dulu. Badan Angel gak enak, lengket.”


Sebelum memasuki rumah, air mata yang membasahi pipiku telah terhapus. Sehingga tidak menimbulkan jejak disana. Aku tidak mau menampakkan kesedihanku di depan Mamah.


“Tante . . . Aaahhhhh Echa kangen sama tante.”


“Iya Cha. Tante juga kangen sama kamu. Kamu jarang kesini sih.”


“Hehe maafin Echa tante.”


“Oh iya, kamu yakin tadi gak jalan bareng Angel ?”


“Tidak kok tante. Maksud Echa, tadi Angel ke rumah Echa tapi sesudah tante nelpon baru dia tiba. Katanya perjalanannya agak lama, soalnya pesan ojol gak ada yang nyangkut-nyangkut. Gitu tante.”


“Jadi tadi kalian jalan bareng ?”


“Iya dong tante.”


Entah kenapa Alessyia selalu mengerti apa yang aku pikirkan. Dia selalu tahu apa yang menjadi kebutuhanku. Tanpa diminta, ia akan melakukannya. Seakan kami berdua saling bertukar pikiran.


“Angel, ya ampun lo kenapa lagi ?”


“Ssstttt ! Tolong tutup pintunya, gue gak mau ada orang lain dengar.”


Alessyia segera menutup pintu kemudian memutar kuncinya. Ia menghampiri aku dan memindahkan boneka minions berukuran sedang yang sedari tadi aku peluk untuk menutupi mukaku.


“Lo dimarahin nyokap lo gara-gara bohong ? Iya ?”

__ADS_1


“. . .”


“Maafin gue, Ngel. Gue gak tahu. Dan gue gak ngeh. Gara-gara gue bilang lo gak ke rumah gue, lo jadi dimarahin, ya ?”


“Enggak, Cha. Bukan itu.”


“Apa dong ? Lo cerita sama gue ya ! Biar gue bisa bantu lo.”


“Emang dari awal gue yang salah, Cha.”


“Salah apa ?”


“Semua ini terjadi gara-gara gue. . .”


“Apa Ngel ? Gue gak ngerti. Apa salah lo ?”


“Kalau saja gue tidak pernah mencintai Pak Angga. Perceraian itu tidak akan terjadi. Dan tidak akan ada wanita lain yang tersakiti.”


“Tapi Ngel. Lo gak salah.”


“Enggak Cha. Gue salah. Gue seorang pelakor kan, Cha ? Gue gak punya harga diri. Gue jahat ! Gue merebut kebahagiaan orang lain.”


“Tapi tetap aja gue salah. Seandainya gue gak merespon Pak Angga. Semua ini tidak akan terjadi, Cha.”


Usaha Alessyia untuk menenangkan aku rupanya tidak berhasil. Aku tidak akan berhenti untuk menyalahkan diriku sendiri. Mungkin keputusan yang tepat adalah aku menghindar dari Pak Angga. Aku ingin mententramkan hati dan mendinginkan kepala terlebih dahulu. Mungkin jika tidak bertemu dengan Pak Angga akan mengurangi sedikit rasa bersalahku atas kehadiran diriku di dalam rumah tangganya bersama Windy.


“Lho ada Pak Angga ? Ada keperluan apa kesini, Pak ?”


“Saya ingin bertemu dengan Angel, Bu. Perihal kelengkapan berkas pendaftaran masuk Universitas.”


Setelah kurang lebih 2 minggu aku menjaga jarak dengan Pak Angga. Memutuskan segala bentuk komunikasi. Sekarang dia nekat menemuiku terang-terangan di rumah. Untung saja dia mempunyai alasan, sehingga Mamah tidak curiga atas kunjungannya.


Aku sedang asyik terdiam di balkon lantai atas, menatap langit yang begitu cerah berwarna biru, sama sekali tidak ada awan putih yang menyelimuti.


“Hmmm.”


Sungguh bukan main terkejut mendengar suara deheman yang sebelumnya tidak ada orang selain diriku. Apalagi saat itu aku hanya mengenakan kaos putih lengan pendek bercorak kartun anak kecil, dilengkapi dengan hotpant merah marun di atas lutut.


“Pak Angga. Kenapa Bapak bisa ada disini ? Terus Mamah gimana ?”

__ADS_1


“Gak papa. Saya bisa mengatasinya.”


“Kita duduk di dalam saja. Disini panas.”


Aku mengambil beberapa botol minuman dingin beserta beberapa bungkus snack.


“Kenapa kamu menghindari saya ?”


“Angel hanya butuh waktu.”


“Kamu ingat perkataan saya, kamu bukanlah orang ketiga dalam rumah tangga saya. Karena dari awal saya yang memilih kamu. Saya yang pertama jatuh cinta sama kamu. Bukan kamu yang memulai duluan.”


Dapat aku lihat kesungguhan hatinya melalui tatapan matanya. Ia memang benar tulus mencintaiku. Dan jika diingat kembali, Pak Angga juga korban. Korban dari perselingkuhan Windy. Sebenarnya keretakan rumah tangganya itu karena istrinya yang berkhianat. Apalagi kehadiran diriku jauh setelah mereka lama tidak tinggal bersama. Apakah aku masih merasa bersalah ? Atau masihkah aku disalahkan ?


“Saya minta maaf atas nama Windy. Saya janji peristiwa itu tidak akan pernah terjadi di masa yang akan mendatang. Saya akan pasang badan terdepan jika ada yang berani menyakiti kamu, bahkan sampai membuat kamu meneteskan air mata.”


Sampai saat ini aku hanya menjadi pendengar, tidak ada jawaban yang terlontar dari mulutku. Bukannya tidak ingin merespon, tetapi aku bingung harus merangkai kata seperti apa.


Pak Angga semakin mendekatkan posisi duduknya denganku, aku yang berusaha menghindar tetapi gagal. Mentok dengan tangan-tangan kursi yang menghalangi. Ia semakin menatapku tajam.


Tatapannya sungguh mematikan. Aku tidak bisa kabur dari pandangannya. Ia menarik kedua tanganku dan menggenggamnya erat, seolah takut kehilangan. Matanya semakin lekat menatap wajahku intens. Aku yang tidak bisa menghindar hanya bisa membalas dengan memandangi wajah tampan yang disertai dengan kumis tipis.


Pak Angga semakin mendekatkan wajahnya. Nafasnya yang memburu terasa panas saat tehempas mengenai hidungku. Sepertinya jantungnya berdegup kencang. Dapat aku rasakan melalui sentuhan tangannya yang gemetar. Kini genggaman tangannya beralih ke muka, lebih tepatnya mengapit mukaku dengan tangan besarnya tepat dipipi.


Kini tiada jarak lagi bagi wajah kami. Ternyata getaran Pak Angga mengalir kedalam darahku. Bak sengatan listrik, kini jantungku juga ikut berdetak tak beraturan.


"Apa yang akan Pak Angga lakukan ? Apa dia akan melakukannya sekarang ? Tidak mungkin. Aku belum siap. Apa yang harus aku lakukan ? Aku harus segera menutup mata."


Cup . .


Kemudian lengan kekar Pak Angga bergerak menurun. Ia melingkarkannya di pinggang aku. Aku hanya mematung, tidak membalasnya sama sekali. Aku masih terdiam merasakan kehangatan yang Pak Angga berikan di kening.


Itu ciuman pertama yang aku dapatkan dari seorang pria selain dari Papah. Kecupan singkat di kening yang penuh makna. Masih dalam pelukanku, Pak Angga berkata lirih, “I love you. Aku sangat mencintaimu Angel. Aku mohon jangan pernah menghindar dariku lagi ! Dan aku mohon jangan pernah pergi !”


Itu pertama kali Pak Angga berbicara denganku tanpa memanggi dirinya ‘Saya’. Entah mengapa aku merasa senang mendengarnya. Itu membuat aku merasa semakin dekat dengan dirinya. Sekarang aku mulai merasa tenang, aku membalas pelukan yang Pak Angga berikan. Aku melingkarkan kedua lenganku di pinggang Pak Angga.


“Angel juga cinta. Menyayangi Bapak. Angel tidak akan pergi. Angel tidak peduli orang akan berbicara negatif tentang Angel. Angel akan tetap berada disamping Bapak. Dan akan Angel pastikan tidak akan ada lagi pengkhianatan yang Bapak rasakan.”


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2