
“Saya minta maaf atas perkataan Windy ! Tolong jangan kamu ambil hati, ya !”
“Angel tidak apa. Justru Angel mengkhawatirkan Bapak. Angel tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Walaupun Angel belum punya anak, tapi Angel bisa merasakan kesedihan Bapak saat ini.”
“Saya sangat menyayangi Rendy. Semenjak Windy pergi, saya sendiri yang mengurus Rendy dengan dibantu Bi Rani. Saya tidak bisa membayangkan bagaiman hidup saya tanpa Rendy.”
“Tapi Pak, maaf sebelumnya bukannya Angel mau menggurui, tetapi apa yang dikatakan Windy juga benar. Dia ibunya Rendy, dan dia punya hak atas Rendy.”
“Iya saya tahu. Saya hanya takut Rendy tidak akan kembali lagi sama saya.”
“Itu tidak mungkin. Rendy sangat menyayangi Bapak. Ia tidak mungkin meninggalkan Bapak. Untuk saat ini, Rendy hanya ingin menghabiskan hari bersama Windy. Rendy merindukan kasih sayang seorang ibu, Pak.”
Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Aku harus segera pulang. Bibi akan khawatir jika aku tidak segera pulang.
Aku sudah menolak permintaan Pak Angga untuk mengantar pulang, karena takutnya pikiran Pak Angga masih berantakan, dan akan berbahaya jika berkendara. Tetapi ia bersikeras untuk tetap memastikan aku selamat sampai pulang ke rumah.
Kali ini Pak Angga menurunkan aku di depan gerbang masuk. Sebelumnya aku telah bercerita kalau Mamah sedang menyusul Papah ke Ibu Kota. Jadi untuk saat ini tak apa jika mengantarnya tepat di depan rumah. Tetapi tidak untuk masuk. Karena Bi Dara akan curiga. Dari awal aku pamit untuk menghadiri acara kelas bersama Alessyia. Jikalau tahu aku di antar oleh pria, akan menimbulkan berbagai pertanyaan nantinya.
Klek . .
“Sayang baru pulang ?”
“Lho Mamah ? Papah ?”
“Kenapa kok kaget gitu ?”
“E-enggak. Katanya Mamah nyusul Papah. Kok udah pulang ?”
“Iya acaranya sudah selesai, sayang. Jadi Papah sama Mamah pulang.”
“Angel sini duduk !”
"Duuhh gawat ini. Muka Papah ditekuk gitu. Atau jangan-jangan mereka tahu kalau aku jalan sama Pak Angga. Gimana dong ?"
“I-iya Pah.”
“Kamu darimana ?”
“Tadi . . tadi Angel keluar, Pah. E-eu ada acara kelas.”
“Kamu satu kelas sama Alessyia kan ?”
“Iy-ya Pah.”
“Kenapa dia gak ikut ?”
“Dia. . dia ikut kok, Pah.”
“Kenapa kamu bohong ? Apa Papah pernah mengajarkan kamu berbohong ?”
__ADS_1
*Flashback on beberapa jam yang lalu*
Event yang diadakan oleh perusahaan Papah ternyata dapat selesai lebih cepat dari prediksi sebelumnya. Jadwal Papah yang akan mengantar Mamah pulang esok hari menjadi berubah. Sore itu, tepat setelah acara berakhir, Papah dan Mamah segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi keluar dari Ibu Kota.
Setelah sampai di rumah, Mamah tidak melihat keberadaan aku. Hanya Bi Dara yang menyambut kepulangan Mamah dan Papah.
“Bi, Angel kemana ?”
“Tadi Non Angel keluar, Bu. Katanya ada acara kelas. Oh iya sama Non Alessyia juga katanya.”
Mamah memang sengaja tidak memberitahukan kabar kepulangannya. Awalnya mereka ingin memberikan aku surprise. Ternyata malah mereka yang di kejutkan dengan menghilangnya aku.
“Pah nomor Alessyia gak aktif.”
“Ya udah langsung aja telepon ke nomornya Angel, Mah !”
“Tidak bisa. Nanti surprisenya gak jadi dong. Mamah Cuma mau memastikan keberadaannya Angel aja.”
Mamah berusaha menghubungi Alessyia. Entah mungkin hp nya mati atau jaringannya sedang gangguan, tetapi nomor Alessyia tidak bisa dihubungi. Akhirnya Mamah menemukan cara lain, yaitu menelpon Mami Alessyia.
“Lho enggak kok, Jeng. Alessyia lagi ke luar kota ikut sama Papi nya.”
“Tapi kata Angel ada acara kelas bareng Alessyia.”
“Alessyia yang lain mungkinkah, Jeng ? Soalnya Alessyia sudah tiga hari tidak disini.”
“Tidak mungkin kok. Alessyia setahu saya cuma satu. Ya sudah ya, Jeng. Maaf mengganggu. Terimakasih !”
“Jawab Angel ! Darimana kamu ?”
Aku pernah dimarahi Papah sebelumnya, tapi kali ini Papah benar-benar menakutkan. Bahkan nada yang keluar terdengar sangat nyaring. Aku takut. Kakiku gemetar. Jika sudah tidak tahan lagi, mungkin air mata ini akan pecah.
“Papah kecewa sama kamu. Papah mendidik kamu untuk menjadi anak yang jujur. Ternyata Papah telah gagal mendidik kamu. Kamu sampai berani berbohong pada orang tua kamu sendiri. Sekarang kamu masuk kamar ! Kamu tidak boleh keluar selama satu bulan ! MASUK !!!”
Aku bukanlah anak yang baik. Anak macam apa yang berbohong kepada kedua orang tua yang telah mengurus dan merawat sampai sebesar ini ? Wajar saja Papah kecewa. Papah telah mempercayaiku, tetapi aku malah berkhianat. Aku juga akan melakukan hal yang sama kepada seseorang yang mengingkari janjinya terhadapku.
Aku tidak bisa berkata apapun. Hanya air mata yang mewakilinya ketika mulut tak mampu lagi menjelaskan. Padahal tadi kulihat, langit masih cerah. Bulan masih bersinar ditemani dengan ribuan bintang yang menambah keindahan malam ini. Tetapi sekarang, tidak lagi kulihat sinar sang rembulan. Bintang juga ikut bersembunyi dibalik hitamnya kabut tebal.
Air langit mulai berjatuhan. Membuat dahan dan daun bergoyang. Kemudian mendarat dengan sempurna di tanah. Tanah yang sebelumnya kering kerontang, menyebarkan semerbak aroma khas nya. Iya, itulah hujan pertama setelah musim kemarau.
Kulihat dibalik jendela gemercik air berjatuhan dari genting, terasa menenangkan. Mungkin alam tidak tega menyaksikan duka ku malam ini. Ia sengaja menurunkan air hujan agar aku tidak menangis sendirian. Sesekali kulihat kilat sinar yang bergerak sangat cepat, disertai dengan gemuruh guntur yang membuat aku semakin merinding.
Atau mungkin ini adalah sebuah teguran untukku ?
Malam telah berlalu. Hujan telah berhenti. Hanya menyisakan bekas tanah yang basah. Aku juga harus mengakhiri kesedihan ini. Bagaimana caranya agar aku dapat dimaafkan oleh Papah dan Mamah ? Aku tidak tahu. Tetapi aku akan melakukan berbagai cara. Bahkan jika hukumannya ditambah, aku rela, aku akan melakukannya.
“Pah, Mah.”
Tidak ada jawaban dari mereka. Sungguh itu membuatku sakit. Belum pernah aku diperlakukan seperti ini oleh mereka.
__ADS_1
“Pah Angel minta maaf !”
“. . .”
“Mah Angel minta maaf !”
“. . .”
“Pah, Mah Angel tahu Angel salah. Angel tidak akan mengulanginya. Angel mohon jangan cuekin Angel. Angel rela jika kalian menambah hukuman Angel. Tapi Angel mohon jangan perlakukan Angel seperti ini. Hiks . .hiks. .”
“Kamu tahu kesalahan kamu sangatlah fatal ?”
“Iya Pah. Maafkan Angel ! Angel janji tidak akan berbohong lagi !”
“Apa alasan kamu sampai berani berbohong ?”
“. . .”
“Kamu tidak akan mendapatkan maaf dari Papah dan Mamah jika tidak bercerita kejujurannya.”
“Angel takut. . .”
“Apa yang kamu takutkan ?”
“Angel takut jika bercerita, kalian akan memarahi Angel.”
“Pah udah cukup jangan marahin Angel terus. Kasihan dia.”
“Papah tidak akan marah jika kamu jujur. Maka katakanlah !”
“Mmm. . . Sebenarnya Angel punya pacar, Mah.”
“Hahaha.” Seketika Papah dan Mamah tertawa terbahak-bahak mendengar ucapanku barusan.
“Apa yang membuat kamu takut ? Kamu sudah besar Angel. Papah tidak akan melarang kamu berpacaran. Asalkan masih dalam lingkaran yang normal.”
“Iya sayang. Malahan Mamah senang jika kamu punya pacar. Jadi kamu semalam jalan sama pacar kamu ?”
“Iy-iya, Mah.”
“Kamu harus membawa pacar kamu kesini ! Kenalin sama Papah dan Mamah. Oke ?”
“Hah? Iy-ya Pah. Angel usahakan.”
“Andai saja pacar kamu Pak Angga, pasti kita senang. Iya kan Pah ?”
“Iya Mah. Terus Pak Angga kemanakan, Nak ?”
“Ihh Papah Mamah. Udah ah Angel mau mandi dulu.”
__ADS_1
Saat ini, Papah sama Mamah masih bisa menyukai Pak Angga. Mereka memberikan restu jika aku bersama Pak Angga. Tapi bagaimana jika kebenarannya terungkap ? Akankah mereka bersikap sama seperti saat ini ?
*Bersambung*