My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-114 Fatamorgana


__ADS_3

Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


“Jadi begitulah ceritanya. Sekali lagi saya minta maaf! Suatu kesalahan terbesar yang pernah saya lakukan yaitu tidak percaya terhadap ucapan kalian. Jikalau dari awal saya mendengarkan perkataan kalian, maka peristiwa ini tidak akan terjadi.”


“Kak Ben, sudahlah! Jangan menyesali sesuatu yang sudah terjadi! Biarkan itu menjadi pelajaran agar Kakak tidak mengulanginya di masa mendatang.”


Setiap orang punya masa lalu. Tidak ada manusia yang hidup tanpa kisah masa lalu. Baik itu masa lalu yang membahagiakan atau justru menabur luka. Masa lalu dan masa kini tidak dapat dipisahkan. Semuanya telah menjadi satu kesatuan yang saling bersangkutan.


Masa lalu yang buruk bukan untuk dijadikan bahan membuat diri semakin down. Justru melalui luka yang tercipta di masa lalu, membuat diri menjadi lebih baik melalui proses belajar agar tidak jatuh di lubang yang sama.


Masa lalu yang indah juga tidak selamanya akan baik jika kita tidak mengolahnya dengan baik. Justru keindahan yang membuat kita terlena dan lupa akan kesusahan. Sehingga di masa yang akan mendatang akan berakibat buruk bagi psikologi. Disaat sedang mengalami kesusahan, belum tentu bisa menerimanya dengan lapang dada karena biasanya selalu mendapatkan keindahan.


Di balik semua masalah yang tercipta di masa lalu, aku dapat mengambil hikmahnya. Saat ini aku tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Jika bukan karena-Nya mungkin kita tidak bisa merasakan kebersamaan yang hangat lagi. Seperti sekarang kita kembali jalan-jalan hanya untuk sekadar menunggu waktu malam tiba.


Terletak pada salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota Kembang, kami berjalan menyelusuri sudut jalanan tanpa arah tujuan. Hanya mengikuti angan dan keinginan. Alessyia berjalan memimpin dengan tangan yang digandeng Kak Aldo. Sedangkan aku berada dibelakangnya dengan Kak Beni yang menemani.


Entah kenapa akhir-akhir ini aku merasa bahwa Kak Aldo semakin dekat dengan Alessyia. Bahkan mereka sampai bergandengan tangan di khalayak umum. Memang kami sangat dekat. Tetapi jika untuk bergandengan tangan itu terlalu berlebihan. Karena terlihat seperti layaknya sepasang kekasih, bukan sahabat.


Entahlah, aku tidak tahu apa yang terjadi di antara mereka. Karena baik Alessyia maupun Kak Aldo tidak membicarakan sesuatu yang menjurus pada terciptanya suatu hubungan.


“Cha, makan yuk! Gue lapar.”


“Yaah Angel. Ini tanggung gue lagi milih baju dulu.”


“Lo gak bosan apa setiap pergi ke mall beli baju terus?”


“Ya habisan ini lucu banget.”


“Ya udah deh biar Echa sendiri. Yuk kita makan! Kak Aldo juga lapar.”


“Eit gak bisa! Kak Aldo harus menemani Echa! Nanti kalau Kak Aldo pergi yang membantu Echa membawa belanjaannya siapa?”


“Haha nasib lo tuh, Do. Ya udah Angel sama Kak Beni aja ya makannya. Kakak juga lapar.”


Sepertinya Kak Aldo juga sudah sangat mematuhi perintah Alessyia. Ia dengan sangat setianya menemani Alessyia memilah dan memilih pakaian yang sesuai dengan seleranya. Sedangkan aku melenggang bersama Kak Beni menuju foodcurt untuk memesan beberapa makanan dan minuman.

__ADS_1


“Angel, kamu mau makan apa?”


“Emmm Angel lagi mau yang pedas-pedas nih, Kak. Kayaknya ramyoun enak ya, Kak?”


“Jadi mau ramyoun aja?”


“Heem.”


“Sebentar, Kak Ben pesan dulu! Oh iya, minumannya apa?”


“Terserah. Samain aja sama Kak Ben. Asal jangan yang bersoda!”


Sebelum Kak Beni menjauhiku, ia mengacungkan jempol dan mengedipkan sebelah matanya sebagai pertanda setuju. Akhirnya aku bisa merasakan sosok Kak Beni yang seperti dulu lagi. Layaknya seorang Kakak yang selalu mengayomi adiknya. Seperti yang saat ini di lakukan, ia memesan makanan dan minuman untuk kami nikmati. Sedangkan aku hanya menunggunya sambil memainkan gadget.


“Maaf lama ya?”


“Emm lumayan sih. Tapi gak papa.”


“Tadi habis dari toilet dulu. Udah gak tahan berasa di ujung. Hahaha.”


“Ihhh Kak Ben pakai di jelasin segala. Jorok tahu.”


“Hahaha, enggak becanda. Lagian kamu serius banget sih mukanya. Tadi Kakak habis cuci muka. gak enak berminyak banget.”


“Terimakasih!” Ucap aku dan Kak Beni bersamaan ketika pelayan membawa dua mangkok ramyoun Tidak berselang lama datang lagi pelayan yang mengantarkan minuman. Untuk beberapa menit ke depan, tidak ada lagi pembahasan. Aku dan Kak Beni tengah sibuk menikmati pedas dan panasnya kuah ramyoun yang seperti membakar lidah.


“Whoaaa!”


Uhuk..uhuk…


Seperti biasa Alessyia selalu hadir tiba-tiba dengan suara cempreng yang langsung masuk ke telinga. Hal tersebut membuat kuah panas mengalir dengan deras ke tenggorokan menimbulkan rasa perih dan panas disana. Beruntunglah Kak Beni dengan sigap menyodorkan minuman untuk menetralkan kondisiku.


“Cha bisa gak sih datang secara baik-baik! Perih tahu tenggorokan gue.”


“Iya maaf Angel sayang. Lagian kalian makan kok gak ngajak-ngajak?”


“Echa sayang, kan kita udah ngajak lo dari tadi. Tapi lo bilangnya apa? Tanggung lagi milih baju. Iya kan?”


“Hehehe.”


“Kamu juga Cha, kasihan tahu Angel.”


“Kan gak sengaja Kak Aldo.”

__ADS_1


“Udah udah! Daripada berdebat, mending kalian ikut duduk bersama kami!”


Alessyia dan Kak Aldo segera menempati kursi yang masih kosong. Mereka duduk saling berhadapan. Setelah kondisiku mulai membaik, aku kembali melanjutkan untuk menghabiskan makanan yang masih tersisa. Sedangkan dua orang baru tiba masih menunggu pesanannya yang masih dalam proses pengerjaan.


“Cha, kok gue ngerasa ada yang aneh di antara lo sama Kak Aldo. Ada apa sih?”


“Hah? Maksud lo apa? Gue gak ngerti. Aneh apanya sih?”


“Gue lihat kalian semakin dekat. Lebih dekat dari biasanya. Atau jangan-jangan kalian berdua pacaran, ya?”


“Hahaha, enggak lah. Ngaco deh lo.”


“Kak Aldo, emang seriusan enggak?”


“Gak ada yang pacaran Angel."


Keduanya sangat kompak mengelak. Tetapi entah kenapa aku masih merasakan hal yang aneh. Dan ketika makanan telah tiba, Alessyia sesekali menyuapi Kak Aldo. Dari sorot mata keduanya juga terlihat penuh binar kebahagiaan. Aku bisa merasakannya ketika waktu itu bersama Pak Angga.


Tidak mau mengganggu aktivitas orang yang sedang menikmati makan, aku tidak lagi bertanya apa-apa. Sesekali aku membicarakan suatu hal bersama Kak Beni. Percakapan ringan yang tidak penting namun hanya sekadar untuk memecahkan suasana canggung yang ada.


“Oh iya, perkembangan hubungan kamu sama guru kamu itu, siapa ya namanya lupa Kakak? Emmm kalau gak salah Pak Angga. Iya bukan sih?”


Aku hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Kak Beni. Pertanyaan yang dilontarkan barusan menarik perhatian dua insan yang sedang fokus menyantap makanan, mereka kini beralih menatap aku dan Kak Beni. Tetapi lebih utama menatapku dengan penuh rasa iba.


“Baik-baik saja, Kak. Kami masih berteman. Tetapi tidak komunikasi aja.”


“Lho kenapa? Oh dia nya sibuk, ya? Wajar saja, seorang guru pasti banyak tugasnya.”


“Iya mungkin karena dia sibuk. Tetapi bukan itu alasannya.”


“Emmm Kak Ben, bisa tolong pesankan Echa minuman gak? Echa haus nih.”


“Itu kan udah ada, Cha.”


“Gak mau. Echa mau yang rasa cokelat.”


Aku tahu Alessyia melakukan hal itu untuk mengganti topik pembicaraan. Dia tidak mau ada seseorang yang membicarakan Pak Angga tepat di hadapanku. Karena Alessyia paham terhadap perasaanku. Jika aku mendengar nama Pak Angga, maka ingatanku kembali di bawa ke masa lalu ketika bersamanya. Hal tersebut semakin membuat aku susah melupakannya.


Entah mungkin telah lupa atau pura-pura lupa, tetapi Kak Beni tidak mempertanyakan lagi perihal jalinan asmaraku. Bahkan sampai kami melangkahkan kaki hendak meninggalkan mall tersebut.


Ketika melewati wahana permainan anak-anak, lagi lagi ingatanku kembali ketika menghabiskan waktu bersama Rendy disana. Menemaninya bermain perosotan, mandi bola bahkan ikut naik permainan jungkat-jungkit bersama Pak Angga.


Aku hanya bisa tersenyum. Entah mungkin karena rasa rindu yang telah hadir, aku seolah melihat anak kecil menyerupai Rendy sedang bermain disana.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2