
Aku memang tidak bisa marah. Jelas ! Bagaimana aku bisa marah terhadap orang yang sangat aku sayang di dunia ini. Aku ikhlas, jika pada akhirnya aku harus masuk Universitas pilihan Papah. Alessyia benar, setiap orang tua selalu tahu apa yang terbaik buat anaknya.
Begitu pula dengan Mamah dan Papah. Aku percaya, pilihan mereka jauh lebih baik dari hanya sekedar keinginanku. Dan aku yakin, mereka tidak mungkin membuat anaknya jatuh terpuruk.
Malam telah berlalu. Dingin yang sebelumnya menyelimuti, kini perlahan mulai menghilang seiring dengan kemunculan sang surya.
“Sayang, ayo sarapan dulu !"
“Iya, Mah.”
“Mau pakai selai apa ?”
“Selai kacang aja, Mah.”
Mamah mengolesi roti tawar dengan selai kacang persis seperti pesananku. Kemudian memberikannya kepadaku agar aku bisa segera memakannya.
“Maafin Mamah sama Papah ya, Nak !”
“Maaf buat apa, Mah ?”
“Mungkin sikap kami semalam keterlaluan sama kamu.”
“Tidak apa, Mah. Angel paham kok.”
“Tante . . . Angel . . .”
Pasti sudah dapat ditebak siapa yang datang. Pagi-pagi, cempreng, teriak-teriak. Alessyia. Itu pasti dia !
“Echa kalau masuk rumah salam dulu jangan langsung ngagetin !”
“Hehe. Iya maaf tante, lupa.”
“Dia bebal orangnya, Mah. Udah dikasih tahu berulang kali juga, lupa terus.”
“Kamu mau sarapan ?”
“Tidak usah tan. Tadi sudah di jalan. Oh iya tante. Ada hal yang mau Echa bicarakan sama tante.”
“Oh ya ? Ada apa, Cha ?”
“Tapi cuma kita berdua ya, tante.”
“Maksud lo ngusir gue ?”
Sebenarnya dari awal aku sudah tahu maksud dan tujuan Alessyia datang ke rumahku. Cuma kali ini aku sedang memainkan peran. Agar Mamah tidak curiga, kalau sebenarnya aku yang nyuruh Alessyia buat bantu bicara sama Mamah.
Terdiam aku dengan tangan yang masih memegang roti bersandar pada dinding yang menjadi pembatas antar ruangan. Telah bersusah payah usahaku agar dapat menguping apa yang mereka bicarakan, namun sama sekali tidak terdengar suara dari keduanya. Entahlah mungkin dindingnya yang terlalu tebal atau nada suara mereka yang terlalu rendah.
“Lho Mah, Alessyia mana ? Kok gak ada ?”
“Udah pulang barusan. Katanya dia buru-buru jadi gak bisa pamit sama kamu dulu.”
__ADS_1
“Iiihh nyebelin.”
Kok Alessyia langsung pulang gitu aja sih. Padahal aku ingin tahu reaksi Mamah seperti apa. Tidak mungkin kan aku nanya sama Mamah. Nanti yang ada Mamah tahu kalau aku yang nyuruh Alessyia.
“Sini duduk, Nak.”
Aku menghampiri Mamah dan duduk disampingnya.
“Kamu mau kuliah dimana sayang ?”
“Angel terserah Papah sama Mamah aja.”
“Apa yang membuat kamu suka sama Bandung ?”
“Bandung itu suhunya tidak terlalu panas, Mah. Angel tidak kuat jika harus tinggal dengan suhu yang tinggi. Bandung juga tidak terlalu padat. Yaa meskipun sama saja ramai jika di pusat kotanya. Angel telah jatuh hati sama keindahan alam Bandung. Tetapi jika pilihan Papah dan Mamah itu jatuh pada Ibu Kota, maka Angel akan berlapang dada menerimanya.”
“Maafkan Mamah, sayang.”
Mamah langsung memelukku erat. Aku tidak mengerti kenapa bisa begini ? Apa yang membuat Mamah meminta maaf sampai harus mengeluarkan air mata ?
“Mamah tidak menyangka kamu sudah dewasa. Tidak seharusnya kamu selalu dikekang. Kamu punya hak untuk menentukan jalan hidup yang kamu inginkan. Selagi itu membuat kamu bahagia, pasti akan Mamah berikan. Jika kamu sudah yakin, maka pilihlah dia ! Dia yang sangat kamu impikan.”
“Maksud Mamah ?”
“Bandung. Wujudkan mimpimu disana, Nak !”
“Mamah serius ? Tapi bagaimaba dengan Papah ?”
Sungguh menyenangan jika telah mendapat restu dari orang tua. Karena restu Tuhan terdapat pada restu orang tua, khususnya Ibu. Sekali lagi aku berterimakasih kepada Tuhan telah menghadiahkan orang tua yang selalu mensupport keinginanku.
Aku juga tidak lupa terhadap Alessyia. Jika buka perantara darinya, mungkin mata hati Mamah tidak akan terbuka.
“Cha, akhirnya Mamah restuin gue kuliah di Bandung. Aaahhhhh seneng banget gue.”
“Cieee. Congrats nih !”
“Makasih ya, Cha. Makasih banget. Gue gak tahu cara lo ngebujuk Mamah gue. Gue gak tahu apa yang lo bicarakan dengan Mamah gue. Tapi yang pasti, berkat bantuan lo, Mamah gue mulai luluh.”
“Bukan Alessyia namanya jika gagal. Hahaha.”
“Yeeey sombongnya keluar deh.”
“Btw Ngel, Papah lo gimana ?”
“Gue belum tahu, Cha. Gue baru mendapat restu dari Mamah. Gue lupa bahwa yang paling berpengaruh adalah Papah. Gak jadi deh gue senangnya.”
Tiba-tiba kesenangan berubah menjadi kemurungan, aku ragu Papah akan menyetujui.
“Jangan pesimis gitu dong. Pasti bisa ! Ayo bangkit !!!”
Alessyia benar, aku tidak boleh pesimis. Jika Alessyia saja berhasil meluluhkan hati Mamah, aku juga harus berusaha untuk mendapatkan hati Papah. Sekarang giliran aku yang harus berjuang untuk mendapatkan hak aku.
__ADS_1
Tetapi jika nanti aku tetap kalah, maka tidak ada jalan lain lagi selain mengikuti perintahnya. Bukannya aku ingin menjadi anak durhaka dengan melawan orang tua, tapi aku ingin berjuang untuk mendapatkan apa yang aku impikan. Sedari dulu aku ingin tumbuh besar di kota Kembang. Dan aku ingin Bandung menjadi saksi jatuh bangunnya aku untuk menjadi orang sukses.
“Tidak bisa. Angel harus tetap kuliah disini ! Keputusan ini tidak dapat diganggu gugat lagi.”
“Tapi Pah, Angel tidak menginginkan disana. Menurut Papah akankah dia fokus dan berhasil jika hatinya tidak bahagia ?”
“Tapi Angel itu anak perempuan, Papah. Anak satu-satunya Papah. Angel berlian keluarga kita. Papah takut tidak bisa menjaga berlian itu jika tidak terlihat oleh pelupuk mata.”
Terdengar gaduh dua orang yang sedang debat melalui panggilan video. Karena fitur loudspeaker di aktifkan sehingga membuat aku yang sedang berada di ruang berbeda jelas mendengar percakapan mereka. Aku tidak tahan mendengarnya. Aku tidak ingin Papah dan Mamah ribut gara-gara aku. Karena mempermasalahkan perihal dimana aku kuliah.
“Sudah Pah, Mah. Sudah cukup ! Angel mohon kalian jangan bertengkar !”
Pecah sudah air mataku berjatuhan dengan sangat deras.
“Apapun keputusan Papah sama Mamah akan Angel terima. Tapi Angel mohon kalian jangan ribut ! Angel sedih. Angel tidak mau melihat kalian berdebat seperti ini.”
Mamah segera menarik aku dalam dekapannya sembari berkata, “Maafkan Mamah, sayang.”
Dan Papah yang berada diseberang sana mengatakan, “Maafkan Papah, Nak. Papah janji tidak akan berdebat lagi dengan Mamah. Maafkan Papah ya, Mah.”
“Iya Papah. Maafkan Mamah juga, Pah.”
“Sekarang kalian janji sama Angel tidak akan bertengkar lagi !”
“Kami berjanji tidak akan berdebat dan bertengkar lagi !”
Ucap Papah dan Mamah bersamaaan. Rupanya mereka masih menempati posisi teratas sebagai pasangan terkompak.
“Papah sama Mamah sudah berjanji dihadapan Angel ! Kalian tidak boleh mengingkarinya !”
Dibalik suatu masalah pasti ada hikmah yang tersembunyi. Tuhan tidak akan menguji makhluk-Nya diluar batas sanggup dan mampu umat-Nya.
Kesabaran, tidak dapat dikatakan sabar jika masih mempunyai batas.
“Papah akan merestui dimanapun kamu akan melanjutkan study. Mamah kamu benar, Papah tidak ingin melihat kamu tersiksa dengan memaksa sesuatu yang tidak kamu inginkan.”
“Tapi Pah, Angel sungguh tidak apa kuliah disana.”
“Kejarlah impianmu, Nak. Butikan pada dunia bahwa kamu mampu. Dan tunjukkan pada Papah bahwa pilihan kamu tidak salah.”
“Kalau Angel gagal gimana ?”
“Ssttt gak boleh bicara seperti itu ! Kamu belum berperang sudah mau menyerah ?”
“Tidak. Angel tidak akan menyerah. Angel akan buktikan pada dunia bahwa Angel ini ada.” Jawabku tegas.
“Semangat seperti itu yang Mamah dan Papah inginkan, sayang.”
“Jikalau kamu gagal, kembalilah sejenak ke dalam pelukan Papah sama Mamah. Tapi itu bukan pertanda kamu kalah. Kamu hanya perlu beristirahat. Kamu harus ingat ini, mau kamu senang ataupun dalam keadaan terpuruk sekalipun, kamu adalah anak Papah sama Mamah. Selamanya kamu akan menjadi anak kesayangan kita. Walaupun kamu anak perempuan, tapi Papah yakin kamu akan tumbuh menjadi wanita yang tangguh, berani, serta pantang menyerah. Love you sayang !
“Love you more Pah, Mah !!!”
__ADS_1
*Bersambung*