My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-126 Malu ½ Mati


__ADS_3

3 EPISODE TERAKHIR !!!


Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Author ingin menyampaikan bahwa MTIM akan END hanya menyisakan 3 episode lagi.


Tetap saksikan terus kelanjutan kisah cinta Angel dan Pak Angga ya 🥰🥰


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terima kasih 🙏🙏🙏


**************************************************


Dinginnya angin malam sangat terasa menembus kulit. Apalagi saat ini aku tidak memakai baju tebal. Tidak mau terlalu lama terkena angin malam dan ditakutkan akan masuk angin, Pak Angga segera membawa aku memasuki rumahnya.


Tidak ada siapa-siapa selain aku dan Pak Angga di dalam sana. Rendy dan Bi Rani sudah pasti berada di Bandung. Terlihat laptop serta beberapa berkas yang berceceran di atas meja. Serta gelas yang telah kosong. Pak Angga segera merapikan meja tersebut agar tidak terlalu berantakan. Setelah kembali rapi, ia mempersilakan aku untuk duduk di sofa.


“Mau minum apa?”


“Tidak usah, Bee. Angel tidak haus kok.”


“Tunggu sebentar!”


Pak Angga berlalu meninggalkan aku seorang diri. Tak lama beliau kembali dengan membawa dua gelas berisi air putih di atas nampan. Aku segera membantunya untuk menaruh di atas meja. Kemudian Pak Angga mengambil posisi duduk di sampingku.


“Biar Angel bantu, Bee.”


Aku menawarkan diri untuk membantu Pak Angga membuka kotak makanan. Pertama aku menyimpan kotak berisi nasi, kemudian sayur asam di sebelahnya, serta ayam goreng dilengkapi dengan tahu dan tempe goreng di kotak yang berbeda.


Pak Angga menggunakan sendok untuk mengambil makanan yang akan dia nikmati. Sebelum mendarat ke mulutnya, Pak Angga mengeluarkan beberapa kata, “Kamu mau makan?”


“Enggak Bee, tadi Angel udah makan sebelum kesini.”


Pak Angga melanjutkan aktivitasnya. Aku hanya menyaksikan keasikan Pak Angga yang sedang mengunyah. Terbesit keinginan untuk melakukan suatu hal kepadanya. Tetapi aku malu untuk mengungkapkannya.


“Bee…”


“Heem.” Jawab Pak Angga dengan mulut yang telah penuh oleh makanan.


“Angel boleh gak membantu kamu makan?”


Pak Angga menghentikan aktivitasnya. Ia menaruh sendok dan memalingkan pandangan untuk menatap wajahku.

__ADS_1


“Maksud kamu apa? Kamu mau ikut makan? Ya udah ayo! Kan tadi udah aku tawarin. Katanya gak mau.”


“Bukan itu, Bee. Hmmm, apakah Angel boleh menyuapi kamu?”


Aku mengatakan hal tersebut dengan penuh rasa malu. Aku takut jika Pak Angga menolak tawaran tersebut atau berpikir aku yang terlalu agresif. Aku pun dapat melihat garis bibirnya yang melengkung. Mungkin apa yang aku katakan barusan terdengar lucu baginya.


“Boleh sayang. Sangat boleh. Aku akan senang jika disuapi sama kamu. Apalagi kamu yang menawarkan diri. Bukan aku yang meminta.”


Setelah mendapakan persetujuan dari Pak Angga, aku segera mengambil sendok beserta nasi dan lauk pauk yang lain. Dengan penuh kelembutan aku memberikan sendok yang telah terisi oleh makanan untuk Pak Angga nikmati. Sesekali kami saling bertatapan serta memberikan senyuman.


Setelah makanan di dalam kotak habis, aku segera meminta izin untuk pamit pulang karena jam sudah menunjukan larut malam. Tetapi itu semua tidak mudah. Pak Angga tidak mengizinkan begitu saja. Ia terus memaksa dan menahan aku agar tidak pulang.


“Jangan dulu pulang ya, please! Aku masih merindukan kamu.”


“Tidak bisa, Bee. Sudah larut malam. Nanti Papah bisa marah.”


“Sebentar saja!”


Pak Angga terus memohon dengan menampilkan muka menggemaskan. Bagaimana aku tidak goyah jika ekspresinya sangat lucu. Tetapi ketika mengingat hubungan kami baru membaik, aku tidak mau menghilangkan rasa kepercayaan Papah lagi kepada Pak Angga. Dengan sangat berat hati aku harus segera pulang ke rumah.


“Besok kan kita bisa ketemu lagi. Lagian kalau Angel tidak pulang, Angel mau tidur di mana? Pak Angga mau Papah kecewa lagi karena membiarkan Angel menginap di rumah Pak Angga? Bapak mau kehilangan rasa percaya dari Papah?”


“Baiklah, aku antar kamu.”


“Tidak usah, Bee. Kayaknya kamu lelah sekali. Biar Angel naik taksi online. Lagi pula Pak Angga harus istirahat agar besok bisa fokus menyetir.”


Sesampainya di rumah aku langsung di sambut oleh Papah dan Mamah. Aku pikir mereka sudah tidur atau ada di dalam. Ternyata mereka menanti sudah cukup lama kehadiranku di teras depan rumah.


“Angel gimana, makanannya di makan gak sama Pak Angga?”


“Dimakan, Mah.”


“Tuh kan berarti dia belum makan kan?”


“Katanya lagi mengerjakan projek deadline, Mah.”


“Coba aja kalau kamu gak kesana, mungkin Pak Angga tidak makan sampai pagi. Iya kan Mah?”


“Heem betul, Pah.”


Seteleh mengeluarkan beberapa percakapan, kami segera memasuki rumah. Tujuan langkah kakiku langsung menuju anak tangga yang akan membawaku ke lantai dua. Sebelumnya aku telah berpamitan kepada Papah dan Mamah untuk langsung tidur, karena mataku sudah sangat mengantuk. Papah dan Mamah juga mengerti. Mereka segera memberikan izin.


“Angel, ayo bangun Nak! Pak Angga udah ada di depan?”


“…”

__ADS_1


“Angel…”


Tok..tok..tok…


Telingaku samar-samar mendengar ketukan pintu serta suara seseorang yang memanggil namaku. Perlahan aku membuka mata walaupun masih terasa berat. Silaunya cahaya matahari yang menembus melalui gorden putih membuat mataku menyipit. Dan teriakan tersebut semakin jelas terdengar.


“Iya Mah, Angel udah bangun.”


Aku hanya mendengar Mamah memerintah aku untuk segera bangun. Setelah meninggalkan ranjang, aku segera melangkah keluar kamar dan menuruni anak tangga tanpa mencuci muka terlebih dahulu.


Kaki kanan dan kiri terus berjalan untuk sampai di meja makan. Mataku masih sulit untuk terbuka. Tetapi aku sudah tahu jika Mamah membangunkan aku sudah pasti untuk makan. Dengan tangan yang masih mengucek mata, aku telah tiba di tempat tujuan. Sebelumnya aku mendengar suara orang sedang berbicara. Tetapi ketika aku tiba, suara tersebut telah menghilang.


Perlahan aku membuka mata agar dapat melihat dengan jelas keadaan sekitar. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat peserta sarapan pagi hari ini. Tidak hanya ada Papah dan Mamah, melainkan ada Pak Angga yang sudah duduk di sana.


“Whoaaa.”


Aku segera membalikan badan dan berjongkok. Malu sekali rasanya Pak Angga menyaksikan aku dengan keadaan kucel baru bangun tidur seperti ini. Dengan muka yang tidak teratur serta kotoran yang masih menempel di muka. Bodohnya aku lupa tidak mencuci muka terlebih dahulu.


“Angel, kamu kenapa?” Tanya Papah


“Mamah kenapa gak bilang kalau ada Pak Angga disini?”


“Sayang, tadi Mamah sudah mengatakan bahwa ada Pak Angga menunggu. Mungkin kamu tidak mendengarnya.”


Aku semakin menenggelamkan kepalaku pada lutut untuk bersembunyi di sana. Aku juga memukul pelan bagian depan kepalaku. Pikiranku berputar ketika Mamah membangunkan aku. Mungkin benar bahwa tidurku terlalu nyenyak sehingga aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Mamah ucapkan.


“Angel, sampai kapan kamu mau berjongkok di sana? Bukankah kamu harus segera kembali ke Bandung? Ayo sini makan! Habis itu kamu mandi dan bersiap-siap! Kasihan Pak Angga terlalu lama menunggu kamu.”


“Tidak. Angel gak mau makan. Angel mau mandi dulu.”


Aku segera berdiri tanpa membalikan pandangan. Dengan segera aku mengambil langkah seribu meninggalkan orang-orang yang sedang duduk di meja makan. Papah dan Mamah yang menyaksikan seperti terheran. Sedangkan Pak Angga hanya tersenyum seakan tahu permasalahan apa yang menimpa diriku.


“Angel kok aneh banget, padahal biasanya juga tidak apa kalau makan dulu baru mandi.”


“Iya Pah, kok sekarang disuruh makan dulu Angel tidak mau ya.”


“Hmm, mungkin Angel tidak nyaman atas kehadiran saya Pak, Bu.”


“Ya ampun Pak Angga, maafkan Angel ya Pak, jika sikap Angel menyinggung perasaan Bapak!” Ucap Papah.


“Iya Pak, saya juga sebagai Mamahnya Angel ingin mengucapkan permohonan maaf atas sikap Angel barusan!”


“Tidak apa Pak, Bu.”


Pak Angga tersenyum mengingat kejadian suatu pagi di kediamannya yang di Bandung. Ketika aku baru bangun tidur dan sudah ada Pak Angga di sana. Dengan segera aku menutupi muka dengan alasan malu. Kejadiannya sama dengan sekarang.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2