
Sebuah lahan kosong yang beralaskan rumput-rumput hijau. Dikelilingi pohon-pohon yang tidak terlalu tinggi. Serta dilengkapi dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran dengan warna yang berbeda. Di tengah-tengah lahan tersebut terdapat kursi yang sengaja disiapkan bagi pengunjung yang datang. Beruntunglah tidak ada pengunjung yang lain selain aku dan Pak Angga, sehingga kursi tersebut dapat kami singgahi.
“Apa Bapak mulai ragu ?”
“Kenapa saya harus ragu ?”
“Apa Bapak mulai goyah ?”
“Saya pernah bilang sama kamu, bahwa jangan pernah ragu atas apa yang telah kamu yakini. Hal sebesar apakah yang mampu membuat saya goyah ?”
“Apakah sekarang Bapak ragu untuk menceraikan Windy, setelah mediasi yang kalian lakukan ?”
“Sama sekali tidak.”
“Lantas kenapa kalian berpelukan ?”
“Saya bisa jelaskan semuanya. Saya mohon kamu dengarkan ! Setelah itu, saya serahkan semuanya padamu. Apakah kamu akan tetap percaya, atau mulai ragu atas kesungguhan cinta saya.”
*Flashback on*
*POV Windy*
Gue tidak bisa kalah begitu saja dari anak kecil yang masih bau kencur. Jelas gue jauh lebih baik dan jauh lebih berpengalaman daripada gadis itu. Tidak bisa gue menerima kekalahan dengan menyerahkan Angga padanya. Gue akan berusaha berbagai cara agar Angga kembali lagi dalam pelukan gue. Apalagi jelas gue jauh lebih cantik dan sexy daripada dia. Mana mungkin Angga tidak luluh bila gue goda.
“Angga, saya ingin bicara sama kamu.”
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.”
“Sebentar. Saya janji hanya sebentar. 10 menit ?”
“Tidak.”
“5 menit ?”
Angga ngapain sih kenapa minta ijin dulu sama si pelakor itu ? Mau jadi suami takut istri dia. Apalagi kalian juga belum resmi menikah. Atau bahkan belum ada status yang jelas dari hubungan kalian berdua, hah ? Pokoknya gue akan buktikan bahwa pelakor itu tidak ada apa-apanya dibandingkan gue.
“Apa yang mau lo bicarakan ?”
“Bukan disini, ayo ikut gue ! Disini terlalu ramai. Gak enak kalau di dengar orang. Ini urusan rumah tangga kita.”
Gue sengaja mengajak Angga untuk berjalan sedikit menjauhi Angel. Janji gue apa tadi ? 5 menit ? Tidak akan cukup. Gue akan membuat Angel ragu terhadap Angga dan mencampakkan Angga begitu saja.
“Angga, apa sudah gak ada rasa cinta kamu buat saya ?”
“Saya dulu bertanya-tanya seperti itu pada diri saya sendiri. Apakah tidak ada rasa cinta kamu ke saya sedikit saja ? Kenapa kamu tega mengingkari janji suci pernikahan yang telah kita buat ?”
“Saya khilaf, Ngga. Saya tergoda oleh lelaki yang lebih kaya dari kamu. Tapi sekarang saya sadar, dia tidak tulus. Dia hanya memanfaatkan saya untuk memuaskan nafsunya. Saya ingin kembali kepada kamu, Ngga.”
__ADS_1
“Apa kamu gila ? Apa kamu pikir saya akan menerima kamu kembali ?”
“Saya janji akan berubah. Saya tidak akan meninggalkan kamu lagi.”
“Sekarang kamu sadar bahwa pria yang kamu pilih bukanlah pria baik setelah kamu korbankan anak dan suamimu ?”
“Iya, Ngga. Saya menyesal.”
“Sama halnya dengan saya. Saya sadar bahwa kamu bukanlah perempuan baik. Dan saya menyesal telah mengenal kamu. Tapi tenang saja, saya tidak akan pernah menyesal telah menikah dengan kamu. Karena pernikahan kita telah dianugerahi seorang putra kecil yang tampan juga pintar.”
“Jika seperti itu, bisakah kita kembali demi anak kita ?”
“Saya tidak mau Rendy dibesarkan oleh sosok ibu seperti kamu. Saya memang tidak menyesali pernikahan yang telah terjadi. Tapi bukan berarti saya akan kembali padamu. Saya telah menemukan sosok wanita yang jauh lebih sempurna dari kamu.”
"Bukankah itu Angel ? Sepertinya dia mencari Angga. Sekarang waktu yang tepat gue melancarkan aksi. Gue harus membuat Angel cemburu pada Angga."
“Apa yang kamu lakukan ? Lepaskan ! Kamu tidak berhak meluk saya ?”
“Sebentar. Hanya sebentar.”
“Lepaskan ! Saya gak mau kalau Angel melihat dan salah paham.”
“Itu bukannya Angel ?”
“Windy apa yang kamu lakukan ? Lepaskan !”
“Kamu tahu Angel ada disana kan ? Kamu sengaja melakukan ini ?”
“Iya.”
“Jahat. Kamu wanita terjahat yang pernah saya temui.”
Tidak apa walaupun gue gagal merebut kembali Angga. Tapi gue berhasil membuat Angel terbakar api cemburu. Kita lihat setelah ini apakah mereka masih akur. Seharusnya sih enggak. Jadi gue punya celah untuk masuk kembali ke dalam hidup Angga.
*Flashback off*
*POV Angel*
“Seperti kata saya, semuanya kembali kepada keputusan kamu. Apakah kamu akan mempercayainya atau tidak ?”
Aku bisa tahu jika seseorang sedang mengatakan kebohongan. Saat ini, aku bisa yakin jika Pak Angga mengatakan berdasarkan fakta. Aku sadar telah salah. Aku berpikir Pak Angga mulai tergoda kembali oleh kecantikan Windy. Sekarang aku semakin yakin, bahwa rasa cinta Pak Angga bukanlah cinta sesaat. Melainkan cinta yang hadir dari lubuk hati yang terdalam. Tanpa aku sadari aku saat ini telah memeluk Pak Angga.
“Maafkan Angel, Pak ! Angel telah berpikir negatif terhadap Bapak. Angel juga sempat ragu. Padahal Angel sudah janji tidak akan pergi dan akan selalu berada disamping Bapak. Sekali lagi maafkan Angel !”
“Kamu tidak perlu minta maaf. Saya yang salah. Seharusnya saya tidak pernah mengikuti kemauan Windy. Saya minta maaf, Angel !”
“Tidak. Angel yang salah. Angel telah berprasangka buruk terhadap Bapak. Padahal Angel tidak tahu kebenarannya seperti apa.”
__ADS_1
“Apa sekarang kamu masih ragu ?”
“Tidak. Angel sama sekali tidak ragu.”
“Terimakasih.”
Seolah waktu berjalan cepat. Setiap hari yang ku habiskan bersama Pak Angga cepat sekali berakhir. Padahal aku masih ingin berada di dekatnya. Aku masih merindukan wangi parfum khas yang ia kenakan. Namun apalah daya, daripada Mamah curiga nantinya jikalau aku pulang larut malam.
"Maafkan Angel, Mah. Angel terus berbohong sama Mamah. Dan maafin gue Cha, karena gue nama lo jadi kebawa-bawa demi menutupi kebohongan gue. Angel hanya belum siap untuk mengatakan yang sesungguhnya perihal kedekatan Angel dengan Pak Angga yang bukan hanya sebatas murid dan guru. Angel takut Mamah tidak akan merestui dan melarang Angel bertemu dengan Pak Angga lagi. Tapi Angel janji, akan mengatakan semuanya pada Mamah suatu hari nanti. Setelah Pak Angga resmi bercerai dan hubungan kami semakin jelas."
Entah kenapa perasaan bersalah karena telah membohongi Mamah tidak bisa aku tutupi. Aku mencoba untuk menutupinya dengan lebih manja terhadap Mamah.
“Mau disuapin sama Mamah.”
“Sayang kamu ini sudah besar masa masih disuapin.”
“Pokoknya kalau gak disuapin. Angel gak akan makan.”
“Ya udah iya ini Mamah suapin. Aaaaaaa.”
Mamah sama sekali tidak risih atas sikap aku yang semakin manja. Mamah tidak bisa menolak permintaanku. Bagaimana jika aku tidak makan, lalu sakit ? Mamah tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Emmm Mah, kriteria calon mantu Mamah seperti apa sih ?”
“Maksud kamu calon suami kamu ?”
“Hmmm iya gitu, Mah.”
“Mamah sih gak muluk-muluk Sayang. Yang penting dia mencintai dan menyayangi kamu dengan tulus. Dia menerima dan memperlakukan kamu dengan baik.”
“Kalau pria itu jauh lebih tua dari Angel ?”
“Ya itu malah lebih bagus. Biasanya pria dewasa akan membimbing kamu. Pengalamannya juga lebih banyak dari kamu. Kamu bisa belajar lebih perihal kehidupan darinya.”
“Tetapi kalau pria itu pernah menikah sebelumnya ?”
“Maksud kamu duda ?”
“Heem.”
“Sayang kamu ini cantik, pintar. Masih banyak pria lajang yang mau bersama kamu.”
Mendengar penjelasan dari Mamah, aku semakin ragu untuk memberitahukan faktanya. Aku ragu Mamah dan Papah akan memberikan lampu hijau kepada Pak Angga. Tetapi aku tidak bisa meninggalkan Pak Angga. Aku telah mencintainya terlanjur dalam. Aku tidak yakin bisa jatuh cinta setelah ini selain kepada Pak Angga.
Apa aku egois ? Apakah setelah ini aku tidak pantas lagi menjadi anak dari Papah dan Mamah ?
*Bersambung*
__ADS_1