
Hari ini tidak seperti kemarin. Mungkin benar kalau kemarin otot-ototku masih tegang, jadi ketika digerakkan akan merasa kaget, sehingga aku merasa lelah sekali. Aku yakin semakin lama melakukan suatu hal, maka akan terbiasa.
Aku mengambil ponsel yang aku taruh di meja yang terletak di samping tempat tidur dengan kepala yang masih tertutup oleh handuk. Karena rambutku masih basah setelah keramas, aku memilih mengeringkannya dengan menggunakan handuk. Kali ini aku malas untuk menggunakan hair dryer. Biar saja mengering dengan sendirinya.
“Kok Pak Angga gak ada hubungi aku sih ?”
“Angel. . .”
Tiba-tiba seseorang mengagetkan aku dengan membuka pintu dan menerobos tanpa meminta ijin disertai dengan teriakan yang sangat histeris.
“Aaaaa. Cha lo apaan sih ? Kebiasaan kalau masuk gak ketuk pintu dulu. Untung aja gue udah beres pakai bajunya.”
“Aaaahhh gue senang banget Angel. . .”
“Apa ? Kenapa ? Hah ?”
“Makasih berkat bantuan lo gue bisa dekat sama Kak Reza. Kita bahkan udah tukeran nomor handphone. Uuwww makasih Angel sahabatku.”
“Cha lepasin. Pengap nih gue gak bisa nafas.”
Alessyia segera melepaskan pelukannya dariku, “Hehehe maafin !”
“Gue ikut senang kalau lo senang, Cha.”
“Uuuwww maacii my bestie.”
Alessyia mengungkapkannya dengan suara yang dibuat-buat, kemudian ia kembali memeluk aku sangat erat. Lebih erat dari sebelumnya.
“Tunggu. . .katanya lo senang, kok mukanya ditekuk gitu sih ?”
“Enggak kok. Ini nih senyum.”
“Angel gue tahu itu senyum palsu. Semua orang juga tahu kalau muka lo kusut banget.”
“Masa sih, Cha ? Padahal gue baru mandi.”
“Bukan kusut itu. Lo kenapa sih ? Ada masalah ?”
“Enggak Cha. Gapapa.”
“Oh jadi gitu. Gak akan cerita lagi sama gue ? Mau main rahasia-rahasiaan ?”
“Iya iya gue cerita. Pak Angga kok gak ngabarin gue ya, Cha ?”
“Ya ampun Angel, jadi lo galau karena itu ? Gue kira ada masalah apa.”
“. . .”
“Gini ya dengerin gue !”
“Iya ini gue dengerin.”
“Jangan ngegas gitu dong. Lo tenang dulu. Oke ?”
“Heem.”
“Pak Angga gak ngabarin lo pasti ada alasannya Angel. Lo tahu dia seorang guru kan ? Dan lo juga tahu dia punya anak ? Dua hal tersebut udah cukup buat jadi alasannya kan ?”
__ADS_1
Alessyia benar. Tidak seharusnya aku berpikir negatif kepada Pak Angga. Jika aku memilih dia, seharusnya aku dapat menerima konsekuensinya. Aku juga bukan anak kecil lagi. Tahun ini aku berusia 20 tahun. Aku harus lebih bersikap dewasa.
***
Brakk . .
“Yah ponsel gue.”
“Ya ampun, maaf maaf ! Angel gak sengaja.”
Aku tidak tahu apa yang salah dengan langkah kakiku. Tetapi bukan hal pertama aku menabrak seseorang seperti saat ini. Dulu mungkin orang yang ditabrak olehku masih bisa memaafkan. Tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi sekarang.
“Angel akan tanggung jawab. Sekali lagi maaf Angel gak sengaja !”
“Haii ! Kita ketemu lagi.”
“Kak Reza ? Maaf ya, Kak ! Angel akan tanggung semua kerugiannya.”
“Gapapa. Masih bisa dipakai kok.”
“Tapi Angel gak enak. Kita cek aja yuk, Kak. Takutnya ada yang gak berfungsi.”
“Kalau kamu mau tanggung jawab, kamu ikut Kakak sekarang !”
Salah satu sikap dewasa adalah mengakui kesalahan, dan tidak malu untuk meminta maaf. Tidak lupa untuk selalu bertanggung jawab terhadap sesuatu yang terjadi karena kesalahan yang telah dibuat. Sama seperti saat ini, aku harus bertanggung jawab atas kelalaian yang aku lakukan.
Aku tidak tahu kemana Kak Reza membawaku. Aku hanya mengikutinya dari arah belakang. Berulang kali ia meminta untuk berjalan berdampingan, tetapi aku menolaknya. Rasanya tidak sopan ketika harus berjalan berdampingan bersama senior. Apalagi sorot mata tajam yang mengarah kepada kami berdua selama perjalanan. Khususnya para wanita yang menatapku dengan sangat sinis.
“Ayo naik !”
Kak Reza membukakan pintu mobil depan dan memintaku untuk segera masuk. Aku sempat ragu untuk mengikuti perintahnya. Namun kembali lagi pada niat awal bahwa aku harus bertanggung jawab.
“Seat beltnya dipakai !”
Aku kembali membuka mata. Rupanya dia hanya membantuku memakaikan sabuk pengaman. Karena rasa cemas, aku jadi lupa tidak segera memakai seat belt.
“Kamu pikir saya akan ngapain kamu ?”
“Hah ? Tid-tidak, Kak.”
Kak Reza benar, memangnya apa yang aku pikirkan. Sekarang aku jadi sangat gugup. Mungkin orang yang berada disampingku mengetahuinya melalui perkataanku yang terbata-bata. Sebisa mungkin aku mengendalikan emosi agar tidak nampak gugup.
“Kita mau kemana Kak ?”
“Katanya kamu mau tanggung jawab.”
Aku mengerti. Mungkin Kak Reza akan membawa aku ke tempat service handphone untuk memperbaiki smartphone miliknya yang terjatuh karena ditabrak olehku. Beruntunglah Kak Reza pandai menghidupkan suasana, sehingga tidak terasa kikuk.
“Kamu sendirian ? Teman kamu kemana ?”
“Maksud Kakak, Alessyia ?”
“Nah iya itu. Kakak lupa namanya. Hehe.”
“Dia pulang duluan, Kak. Perutnya sakit.”
“Sakit kenapa ?”
__ADS_1
“Biasa lagi PMS.”
“Ooohhh itu. Kirain karena sakit yang lain.”
Mobil yang dikendarai Kak Reza telah berhenti di depan sebuah toko. Tetapi ada yang aneh. Kenapa kesini ? Katanya mau aku tangung jawab. Kenapa bukan ke tempat service ? Apa mungkin Kak Reza keliru ?
“Kak, kok kesini ? Katanya mau Angel tanggung jawab ?”
“Emangnya Kakak minta kamu tanggung jawab seperti apa ?”
“Karena Angel menjatuhkan ponsel kakak, Angel kira harus menggantinya.”
“Kakak minta kamu tanggung jawab dengan cara menemani Kakak memilih buku disini.”
Sebuah toko yang dipenuhi oleh buku-buku. Lebih tepatnya dibilang perpustakaan. Aku tidak mengerti kenapa Kak Reza meminta aku bertanggung jawab tetapi tidak untuk memperbaiki ponselnya. Aku tidak bisa bertanya lebih banyak lagi. Karena Kak Reza telah berjalan mendahului aku.
“Kamu suka jenis buku apa ?”
“Eeu-eu.”
“Oke gini aja. Buku apa yang kamu koleksi selain buku pelajaran ?”
“Novel.”
“Genre apa yang kamu suka ?”
“Romance, komedi, teen.”
“Kakak juga suka novel.”
“Serius ?”
“Heem. Emangnya kenapa ? Gak boleh ya kalau cowok suka novel ?”
“Bukan seperti itu. Hanya saja jarang pria yang suka membaca novel. Biasanya lebih tertarik terhadap komik. Karena katanya membaca novel itu menjenuhkan. Tidak seperti komik yang dipenuhi dengan gambar-gambar.”
“Yaa mungkin itu benar. Tapi bagi Kakak membaca novel itu seru. Kita bisa masuk ke dalam cerita tersebut dan ikut merasakan suasana yang ada di dalam ceritanya. Imajinasi kita jadi bermain. Itulah yang menantang. Terkadang ketika Kakak melihat sebuah film yang di angkat dari novel itu sedikit mengecewakan. Karena ternyata imajinasi Kakak lebih tinggi dari yang di filmkan. Hahah lucu ya ?”
“Sama. Angel juga kadang berpikir seperti itu. Mungkin karena harapan kita yang terlalu tinggi, jadi kita kecewa ?”
“Betul. Kakak setuju.”
“Genre novel apakah yang Kakak sukai ?”
“Horror.”
“Uwww.”
Ketika aku hendak mengambil sebuah buku yang berada di belakangnya, Kak Reza ikut melangkah maju untuk mengambil buku yang berada di belakangku. Hal tersebut membuat kami bertabrakan. Beruntunglah Kak Reza dengan sigap menompang tubuhku. Jika tidak, maka aku akan mendarat di lantai. Manik mata kami saling menatap. Aku dapat merasakan getaran jantungnya sangat keras. Tetapi bukan hanya detak jantung miliknya. Detak jantungku juga ikut berdetak sangat cepat.
*Bersambung*
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate & vote💙💙💙
Terimakasih 🙏🙏🥰🥰