My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-67 Peristiwa di Rumah Kosong


__ADS_3

Tiada cinta yang tulus di luar sana melebihi cinta orang tua. Tiada hal yang lebih hangat selain dekapan orang tua. Tiada kenyamanan selain berada di rumah sendiri.


“Maafkan Papah, Nak !”


Papah segera berpaling untuk menatapku. Aku dapat melihat matanya yang sendu. Kemudian ia berjalan untuk memelukku. Dekapannya sangat erat. Sangat membuatku tenang. Berulang-ulang Papah mengucapkan permohonan maaf.


“Maafkan Papah !”


“Papah tidak salah. Angel mohon jangan meminta maaf terus-menerus !”


“Jika saja Papah tidak terlalu percaya kepada Frans. Maka Papah tidak akan mengijinkan Frans untuk menjadi kekasih kamu. Papah tidak tahu kesulitan apa yang kamu hadapi. Papah menyesal telah lebih percaya kepada Frans daripada anak Papah sendiri.”


Mamah melangkah mendekati aku dan Papah. Mamah mengusap punggungku dan menjabat lengan Papah yang sedang memelukku erat.


“Yang lalu biarlah berlalu. Kita tidak mungkin bisa untuk mengulang peristiwa yang sudah terjadi. Tidak baik terlalu menyesal atas jalan yang telah Tuhan berikan. Jadikanlah ini sebagai pembelajaran hidup, agar tidak melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang.”


Aku senang. Akhirnya Papah sudah mengetahui sifat asli Frans. Aku tidak mau Papah terus dimanfaatkan demi mewujudkan keinginan Frans. Aku bisa menebak bagaimana kekecewaan Papah kepada Frans. Dan benar saja, Papah sangat marah kepada Frans. Tetapi yang membuat aku sedih yaitu, Papah terus menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa yang terjadi.


Beruntunglah ada Mamah yang menjadi penengah dari setiap masalah. Kata demi kata yang Mamah ucapkan perlahan mampu membuat Papah menjadi lebih tenang dan berhenti menyalahkan diri sendiri. Mamah laksana air di tengah kobaran api membara yang melahap habis suatu bangunan.


Dari awal Mamah sudah tahu keburukan Frans. Mamah tidak mengijinkan Frans menjadi pacar aku. Tetapi Mamah tidak bisa menolak keputusan yang telah dibuat Papah. Sekarang setelah semuanya terbongkar, Mamah ikut merasa lega.


***


Suasana pagi di kampung halaman sendiri jauh berbeda dari suasana di kost-an aku yang dekat kampus. Mungkin karena disini masih banyak pepohonan, sehingga membuat udara yang terhirup menjadi menyegarkan. Aku manfaatkan pagi ini dengan berjalan-jalan menyusuri jalanan gang sempit sebelum bayangan matahari sejajar dengan posisi aku berdiri.


Dengan memakai hoddie berwarna kuning beserta celana olahraga dengan warna yang sama. Tak lupa sepatu olahraga berwarna putih susu. Aku mengambil headset dari saku depan, kemudian diletakan kepada tempatnya. Aku membuka kunci ponsel untuk mencari musik yang ingin aku putar. Aku terus berjalan dengan volume yang cukup keras sehingga orang yang berbicara juga tidak terlalu jelas.


Karena ini hari weekend, lapangan telah penuh oleh orang-orang yang menjalankan aktifitasnya masing-masing. Ada yang berlari mengelilingi lapang. Ada juga yang melakukan sit up dan push up. Dan masih banyak lagi gerakan-gerakan untuk membugarkan badan. Aku berjalan hendak menuju lapang tersebut untuk ikut bergabung dengan mereka.


“Aaaaa.”


Lenganku ditarik. Badanku dilempar ke tembok suatu bangunan. Aku yang sedang asik mendengarkan musik sama sekali tidak menyadari bahwa ada dia yang mengikuti langkahku. Dengan segera aku melepas headset yang terpasang di kedua telingaku agar bisa berkomunikasi dengan dia.


“Ngapain lo ? Gak punya malu muncul lagi di hadapan gue ?”


“Angel, kenapa kamu lakukan ini semua sama aku ?”


“Harusnya gue yang tanya begitu sama lo.”


“Aku cinta. Sangat mencintai kamu Angel.”

__ADS_1


“Cinta. Haha itu yang dinamakan cinta ? Kalau lo cinta sama gue, lo gak mungkin berkhianat dengan Clarissa.”


“Tapi aku tidak cinta sama dia. Aku hanya mencintai dan menyayangi kamu Angel.”


“Udah ya Frans. Gue gak mau bicara lagi sama lo. Semua ucapan lo itu basi.”


Aku hendak meninggalkan Frans. Ketika kakiku baru selangkah, tanganku kembali ditarik. Kali ini dia melemparnya dengan kekuatan yang lumayan besar. Sehingga membuat badanku terpental dari tembok. Untung saja aku masih bisa menjaga keseimbangan. Jika tidak, maka aku sudah mendarat mencium tanah.


“Gue emang tidur sama Clarissa. Tapi gue gak cinta sama dia. Yang ada dalam pikiran gue itu cuma kamu, Angel Azzahra Caroline.”


“Frans lo gila. Gue gak ngerti sama pola pikir lo.”


“Gue lakukan itu karena gue tidak bisa melakukannya sama kamu.”


“Ya jelas gue gak mau. Pikiran lo tuh, aneh sumpah.”


“Makanya gue melakukannya juga bukan atas dasar cinta.”


“Terserah lo mau cinta sama Clarissa atau enggak, itu bukan urusan gue. Dan gue yakin lo udah tahu kalau gue gak cinta sama lo sedikit pun.”


Frans menyeret tanganku. Aku telah memberontak. Tetapi ikatannya sangat kuat. Bahkan kaki yang telah aku usahakan untuk tidak mengikuti langkahnya, terpaksa harus ikut dibelakang kaki Frans.


“Frans lepasin !”


“Frans lepasin gue !”


Frans tidak mendengarkan jeritanku. Ia masih terus membawa aku dengan menyeretnya sangat kuat. Frans membuka gerbang sebuah rumah. Yang aku tahu rumah tersebut telah lama tidak berpenghuni. Ia mendorongku untuk masuk ke dalamnya dan menutup kembali pintu gerbang.


“Kalau dengan cara gue melakukannya dengan lo itu bisa membuat gue mendapatkan lo. Maka gue akan melakukan itu bersama lo.”


“Frans lo gila. Gue gak mau.”


Frans mendorong badanku, hingga aku terjatuh di tanah yang dipenuhi rumput hijau. Ia melepaskan kancing bajunya berurutan dari atas hingga bawah. Aku masih terus berusaha untuk melarikan diri dengan isak tangis yang sudah pecah.


“Frans gue mohon jangan lakukan itu !”


“Bebaskan gue Frans. Hiks. . .hiks. .hiks. .”


“Ingat ya Angel sayang, gue akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan lo.”


“Enggak. . .enggak. .hiks. .”

__ADS_1


“Tolong . . .”


“Hiks. . .”


“To. . .long. .”


Aku terus berjalan mundur. Sedang Frans terus berusaha menggapai diriku. Ketakutan yang saat ini aku rasa. belum pernah ada yang menakutkan dari detik ini. Sepertinya aku tengah berdiri di jalan sempit yang kiri dan kanannya adalah jurang dengan kedalaman beberapa ratusan meter. Sudah tidak ada tempat lagi untuk menyelamatkan diri.


Buukk !!!


Brakkk !!!


Frans tersungkur ke tanah karena pukulan yang dilakukan oleh seseorang dari arah belakang. Aku tidak dapat melihat wajah yang menolongku karena terhalang sinar matahari. Ia kembali mendaratkan pukulannya tepat di wajah Frans. Dia juga mendapatkan beberapa pukulan karena Frans yang memberontak.


Aku tidak bisa memisahkan mereka. Amarah mereka telah sangat memuncak. Dan tenagaku perlahan mulai mengikis. Aku hanya bisa menyaksikan dua orang yang sedang bertarung dengan tangisan yang masih belum berhenti.


Frans terkapar lemah tak berdaya bersimbah darah yang terus mengalir menutupi paras tampannya. Sedangkan seseorang yang telah menyerangnya secara tiba-tiba segera membawa aku keluar dari sana.


“Kamu gak papa ?”


“Pak Angga. . .”


Aku memeluknya, “Angel takut hiks. . .”


“Maafkan aku datang terlambat.”


Dalam dekapannya tangisanku semakin meledak. Ia terus berusaha menenangkan aku.


“Sudah tak apa. Sekarang kamu sudah aman. Kita pulang sekarang. Aku antar kamu.”


“Tapi, bee . . .”


“Tak apa walaupun nantinya orang tua kamu marah kepadaku. Yang terpenting aku harus memastikan kamu selamat sampai masuk ke dalam rumah.”


Sebenarnya aku belum mau pulang. Karena jika aku pulang, maka harus berpisah dengan Pak Angga. Dan aku juga gak mau melihat Papah memarahi Pak Angga lagi. Tetapi aku salut atas keberanian Pak Angga. Ia sangat bersikukuh untuk mengantarkanku dan bertemu dengan Papah dan Mamah.


“Lho sayang, kamu kenapa nangis ?”


Aku segera berlari ke arah Mamah dan memeluknya. Papah yang segera keluar langsung berkata dengan nada yang tinggi.


“Pak Angga. Apa yang Anda lakukan sampai membuat anak saya menangis ?”

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2