My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-55 Peristiwa Hotel Angkasa


__ADS_3

“Tidak. Angel tidak bisa.”


“Kenapa tidak bisa ? Jika kamu memang tidak mencintaiku, tatap kedua bola mataku dan katakanlah !”


Aku memberanikan diri menatap bola mata indah Pak Angga. Hening sejenak. Dapat aku lihat kesedihan dibalik sinaran hitam manik matanya.


“Karena Angel mencintai Bapak. Sangat sangat cinta. Angel tidak bisa menatap Bapak dan mengatakan apa yang Pak Angga perintahkan.”


“Kalau begitu, kenapa kamu mengatakan omong kosong bahwa kamu tidak mencintai aku ?”


Air mata yang telah susah payah aku tahan agar tidak meledak, akhirnya tumpah juga. Pak Angga tidak membiarkan air mataku jatuh begitu saja. Ia mengusap tetesan yang mengalir di pipi sebelum mendarat ke tanah.


“Menangislah. Tenangkanlah pikiranmu.”


“Hiks. . .hiks. . .hiks.”


Mendengar Pak Angga mengatakan kata-kata menenangkan justru semakin membuat air mata yang keluar menjadi lebih deras. Perbedaan menangis saat kecil dengan sekarang yaitu, jika waktu kecil aku bebas menangis dengan suara sangat keras. Kalau sekarang aku tidak bisa lepas menangis bersuara. Hanya isak tangis yang terdengar.


Pak Angga menarik dan membawa aku ke dalam pelukannya. Aku menerimanya untuk 5 detik saja. Setelah itu aku segera melepaskan pelukan itu. Aku tidak bisa melupakan foto Pak Angga bersama Windy. Aku masih harus mendengarkan penjelasan darinya.


“Ada sesuatu yang ingin Angel tanyakan, Bee.”


“Apa ? Aku akan menjawabnya.”


“Bukan disini.”


Aku mengajak Pak Angga menuju lapang olahraga yang terletak tidak jauh dari rumah. Karena tidak mungkin aku berbicara panjang lebar dijalanan gang sempit tersebut. Apalagi itu terlalu dekat dengan rumah. Aku takut ada yang melihat kebersamaan kami dan melaporkannya kepada Papah.


Disana memang lapang olahraga. Tetapi tidak sepenuhnya hamparan tanah luas yang dipenuhi rumput-rumput hijau. Telah difasilitasi beberapa kursi yang disengaja untuk tempat peristirahatan.


“Apa Bapak masih berhubungan dengan Windy ?”


“Pertanyaan apa itu ? Tidak mungkin aku masih berhubungan dengan dia. Melihatnya saja aku tidak sudi.”


“Apa Bapak yakin ?”


“Angel, untuk apa aku berbohong ? Untuk apa aku berhubungan lagi dengan Windy ?”


“Angel memang jauh, Bee. Angel tidak tahu apa yang Bee lakukan di belakang Angel.”

__ADS_1


“Aku tidak mengerti kemana maksud dan arah tujuan pembicaraan kamu.”


Aku berhenti sejenak. Aku tatap kedua bola mata Pak Angga. Kemudian aku melanjutkan pembicaraan dengan masih memperlihatkan senyum tipis.


“Angel tidak tahu apakah foto itu hasil editing atau settingan. Dalam foto tersebut sangat jelas muka Pak Angga dan Windy. Dan kalian hanya memakai pakaian seadanya. Yang lebih mengejutkan lagi foto itu berlokasi di sebuah kamar. Apa Pak Angga bisa menjelaskannya ?”


“Angel dengarkan dulu, kamu jangan salah paham. Foto itu tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku dijebak sama Windy.”


Pak Angga menceritakan peristiwa sebelum foto tersebut diambil. Waktu itu Windy datang ke rumah Pak Angga hendak mengajak Rendy berlibur ke pantai. Awalnya Pak Angga menolak. Tetapi karena Rendy yang memohon agar bisa ikut bersama ibunya, Pak Angga tidak bisa menolaknya. Bagi Pak Angga kebahagiaan Rendy adalah nomor satu.


Weekend telah habis. Hari itu adalah Minggu sore. Tetapi Rendy belum juga di pulangkan oleh Windy. Pak Angga telah mencoba menghubungi Windy untuk menanyakan keberadaannya. Tetapi nomor Windy tidak bisa dihubungi. Hanya panggilan operator yang mengatakan bahwa nomor yang dituju sedang berada di luar jangkauan.


Hati Pak Angga semakin resah. Windy berjanji akan mengembalikan Rendy sebelum matahari hari Minggu terbenam. Tetapi nayatanya sampai sekarang belum nampak Windy maupun Rendy. Pak Angga khawatir jika Windy akan merebut lagi Rendy dari tangannya.


Dred. .dred. .dred. .


Pak Angga telah bahagia ketika mendapati ponselnya bergetar. Ia berpikir bahwa itu telepon dari Windy yang akan menyampaikan kabar Rendy. Tetapi tatapannya berubah sendu kala melihat barisan angka tanpa nama yang memanggilnya sore itu. Dengan lesu ia menjawab.


“Hallo.”


“Apa benar ini dengan Bapak Angga ?”


“Iya. Saya sendiri.”


“Dimana mereka sekarang ? Kemana saya harus membawa anak saya ?”


“Bapak bisa langsung ke Hotel Angkasa lantai 8 nomor 1910, mereka masih belum sadarkan diri disana.”


Tanpa memikirkan apapun, Pak Angga bergegas menancapkan gas sedan hitamnya. Bahkan ia lupa tidak mengunci pintu rumahnya. Padahal di rumah tidak ada siapa-siapa. Bi Rani pengasuh Rendy mengambil libur karena Rendy sedang tidak di rumah.


Setelah kurang lebih menempuh perjalanan 2 jam lamanya. Tibalah di depan hotel yang dituju. Pak Angga tidak bertanya terlebih dulu. Karena ia sudah tahu kemana harus melangkah. Pak Angga menunggu lift terbuka untuk mengantarnya menuju lantai 8.


Setelah tiba di lantai 8, Pak Angga langsung mencari kamar nomor 1910. Manik matanya bekerja berputar untuk membaca nomor-nomor yang terdapat di pintu kamar. Pak Angga mengabsen nomor tersebut.


“19008.”


“19009.”


“Ini dia. 1910. Rendy tunggu ya, Nak. Papah datang menjemput kamu.”

__ADS_1


Pak Angga langsung membuka pintu kamar tersebut tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Karena dalam pikirnya percuma saja diketuk, karena penghuninya masih belum sadarkan diri. Dan pintunya tidak terkunci. Itu mungkin karena telah dibuka oleh petugas hotel disini.


“Rendy. . .”


“Rendy kamu dimana, Nak ?”


Pak Angga tidak melihat Rendy maupun Windy. Di ranjang sana nampak kosong. Hanya ada sepasang bantal dan sebuah guling dengan sprei berwarna putih. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.


“Windy.”


Pak Angga melihat Windy keluar dengan memakai piyama putih yang sedikit menerawang.


“Dimana Rendy ?”


“Angga kamu duduk dulu, ya ! Kamu pasti capek sudah perjalanan jauh.”


“Tidak usah berlama-lama. Dimana Rendy ?”


“Ini minum dulu !”


Windy menyodorkan jus jeruk berwarna orange menyala dan mendudukan Pak Angga di atas kasur. Pak Angga meneguknya karena memang ia telah sangat haus. Ia lupa kapan terakhir kali minum air. Sehingga segelas jus jeruk telah habis dalam satu kali tegukan.


“Dimana Rendy ?”


“Tenang dulu Angga. Rendy aman kok. Kamu gak usah khawatir ya !”


“Di. .dimana Ren. .”


Sebelum menyelesaikan pembicaraannya Pak Angga telah lebih dulu tidak sadarkan diri. Ia merasakan pusing dan semuanya seperti berputar-putar.


Sinar mentari pagi menerobos jendela yang dilapisi gorden putih tipis yang berhasil membuat mata Pak Angga menyipit. Kepalanya sudah tidak berdenyut lagi. Dan ia ingat tujuannya kesini untuk mencari Rendy. Ternyata Rendy masih tertidur pulas di sebelah Pak Angga.


Pak Angga tidak tahu caranya Rendy bisa berada disini. Seingatnya, kemarin hanya Windy yang ia temui. Setelah itu tidak tahu lagi kejadian selanjutnya. Entahlah yang terpenting sekarang Rendy telah kembali bersamanya.


Tapi tunggu dulu. Pak Angga merasakan ada yang janggal. Kenapa ia tidak memakai pakaian lengkap. Hanya menyisakan celana boxer putih. Apa mungkin Pak Angga melepasnya dalam keadaan tidak sadarkan diri ?


“Ayah. . .”


“Iya, Nak.”

__ADS_1


Suara Rendy membuyarkan lamunannya. Hari semakin siang. Apalagi sekarang hari Senin. Sudah pasti Pak Angga akan absen dalam upacara pagi. Pak Angga segera membangunkan Rendy dan membawanya meninggalkan Hotel Angkasa.


*Bersambung*


__ADS_2