My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-36 Trauma Dimulai


__ADS_3

Setelah usaha dilakukan dan doa dipanjatkan, maka langkah terakhir adalah serahkanlah hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Jika tidak ada kesempatan lagi yang tersisa untukku, aku hanya ingin menyampaikan permohonan maaf kepada orang-orang yang telah menyayangiku. Maaf jika aku melukai perasaan kalian ! Maaf jika kehadiranku menjadi beban di kehidupan kalian !


“Satu. .Dua. .Tiga. ."


Brak. . .


“Tidak berhasil.”


“Kita coba lagi !”


“Satu. .Dua. .Tiga. .”


Braakkk !!!


“Angel. . .”


Jika benar ada keajaiban, maka aku rasa inilah keajaiban yang Tuhan kirimkan. Jika saja tidak ada orang yang menemukan keberadaanku, mungkin aku telah membusuk di dalam ruang itu.


Uhuk. . .


Aku tidak bisa melihat siapa yang mendobrak pintu. Jangankan untuk membuka mata, menarik nafas saja terasa berat.


“Angel kamu bertahan.”


Seseorang menggenggam erat jemariku yang telah terkulai lemah. Pucat pasi menghiasi seluruh tubuhku. Dingin bak mayat hidup. Serta keringat yang bercucuran membasahi seluruh pakaian.


“Kakak mohon tolong bertahanlah.”


Dengan segera tubuhku dibawa dalam pangkuannya. Ia segera mengeluarkan aku dari ruangan yang telah menyiksaku. Sekali lagi aku sangat berterimakasih telah menghadirkan seseorang yang tepat di waktu yang tepat pula.


Aku berusaha untuk membuka mata. Berat sekali. Kepalaku sakit seperti tertimpa benda berat. Aku tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhku. Lemas sekali. Aku hanya bisa mengedarkan pandangan sedikit demi sedikit untuk mengenali ruang apa ini. Brankar dengan infusan berada disamping yang mengalir ke tanganku. Serta oksigen yang menempel untuk membantu melancarkan pernafasanku.


Rumah sakit. Saat ini aku sedang berada di rumah sakit. Tetapi rumah sakit mana aku tidak tahu.


Aku dapat melihat seseorang sedang tertidur di sofa yang terletak disamping tempat aku tertidur sekarang. Dia segera bangun ketika melihat aku telah sadar dari pingsan yang cukup lama. Dia berlari ke arahku dan menatapku penuh iba.


“Angel kamu udah sadar ?”


“Masih terasa sakit ?”


“Dibagian mana yang sakit ?”


Aku sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan darinya. Sama sekali tidak ada energi bahkan untuk membuka mulut. Aku hanya menjawabnya melalui kedipan mata. Aku harap dia mengerti. Dalam hatiku berbisik lirih, “Terimakasih, Kak. Terimakasih telah menolong Angel.”


“Kalian pulang aja ! Biar gue yang jaga Angel.”


“Lo yakin, Za.”


“Iya. Thanks ya udah bantuin.”


“Udah santai aja.”


“GWS ya Angel ! Tenang ada Reza yang menemani.”


Dua orang berlalu meninggalkan ruangan. Reza Mahardika, lagi lagi dialah yang menjadi penolongku. Aku tidak mengatakan posisi terakhirku waktu itu, tetapi dengan instingnya dia berhasil menemukan keberadaanku.


Aku masih tidak berdaya. Mungkin dengan aku beristirahat dapat memulihkan tenagaku. Orang yang menjagaku hanya bisa memandangi wajahku yang putih pucat. Perlahan aku mulai berada di alam bawah sadar.

__ADS_1


“Kak. . .”


“Kak. . .”


Aku berusaha membangunkan Kak Reza yang tertidur disamping ranjang dengan tangan yang menggenggam tanganku. Sebenarnya aku tidak tega untuk mengganggunya. Mungkin Kak Reza lelah terjaga sepanjang malam. Sehingga ketika menjelang matahari terbit, ia tertidur sangat pulas.


“Angel kamu udah bangun ?”


“Kakak pasti lelah ya ? Maafkan Angel ya, Kak !”


“Ssstttt ! Kamu jangan terlalu banyak bicara. Sebentar Kakak panggilkan dokter.”


Pagi ini lebih baik dari semalam. Perlahan tenagaku memulih. Aku bisa menggerakan anggota tubuhku, meskipun belum leluasa. Aku juga bisa membuka mulut untuk mengucapkan sepatah dua patah kata. Tanganku masih terasa ngilu. Rupanya cairan infus masih mengalir disana.


Dokter memeriksa kondisi vitalku. Beliau melepaskan alat bantu pernafasan yang menempel ditubuhku.


“Dok apakah Angel bisa pulang sekarang ?”


“Untuk sekarang kamu masih harus dirawat. Kondisi kamu masih sangat lemah. Beruntunglah kamu segera dibawa kesini. Jika tidak, kemungkinan kamu tidak bisa terselamatkan karena kekurangan oksigen.”


“Sekarang kondisinya gimana, Dok ?”


“Sedang dalam masa pemulihan, Mas. Tunggu saja sampai kondisinya kembali normal.”


“Tapi Angel mau pulang, Dok. Disini membosankan.”


“Kamu sabar ya. Ini demi kesehatan kamu. Oh iya jika kamu bosan, kamu bisa keliling rumah sakit menggunakan kursi roda.”


“Terimakasih, Dok.”


Berada disini seperti terkurung dalam penjara. Aku tidak bisa menghirup udara segar. Aku hanya menghirup obat-obatan berbahan kimia yang menyengat indra penciumanku.


“Iya Kak. Angel mau pulang.”


“Kakak kantar kamu jalan-jalan mau ?”


“Mau mau. Angel mau Kak.”


“Sebentar ya !”


Kak Reza segera meninggalkan kamar inap aku saat ini. Kemudian ia kembali dengan membawa kursi roda yang sedang didorong. Kak Reza membantu aku turun dari brangkar. Ia menggandeng sedangkan aku memegang tiang infusan. Kak Reza segera membantu aku untuk dapat duduk di kursi roda. Sekarang Kak Reza telah membawaku keluar ruangan.


“Kakak capek ya ?”


“Enggak kok. Kamu mau kemana lagi ?”


“Kita duduk disana aja yuk, Kak !”


Aku menunjuk ke arah kursi yang terletak di taman belakang rumah sakit. Disana juga banyak pasien-pasien yang sedang menghirup udara segar. Dikelilingi bunga-bunga merah, kuning, serta putih. Pemandangan yang dapat merefresh mata.


Aku dan Kak Reza terdiam tanpa suara. Kami sedang asik menyaksikan balita kembar lelaki sedang bermain bola. Seorang di antara mereka melemparkan bola menuju arah kami. Aku segera mengambil bola yang berhenti tepat di kakiku.


“Haii ! Ini bola punya siapa ?”


“Punya Rendy.”


“Uuuwww lucu sekali. Nama kamu Rendy ?”

__ADS_1


“Iya. Kakak juga cantik sekali. Bolehkah Rendy mengambil bola itu ?”


“Makasih. Kamu pandai juga merayu. Ini bolanya Kakak kasihkan ke kamu.”


Dia sedang sakit. Tetapi tidak menampilkan kesedihan. Mereka berlari dan tertawa sangat aktif. Sama sekali tidak ada perbedaan dengan anak-anak lain yang tidak mempunyai penyakit. Namanya mengingatkanku kepada Pak Angga. Bagaimana kabar dia dengan Rendy ? Aku merindukannya.


“Mereka lucu ya, Kak.” Saat aku memalingkan pandangan ke arah Kak Reza, ia tengah tersenyum menatapku.


“Iya, lucu.”


Aku tidak mengerti kenapa Kak Reza terus menatapku dengan sangat lekat. Sama sekali enggan untuk berpaling. Aku melambai-lambaikan tangan untuk membantu dia tersadar.


“Eh iya kenapa ?”


“Kak Reza melamun apa ?”


“Eu-eu enggak. Kamu tadi bicara apa ?”


“Mereka lucu ya, Kak ? Anak kembar itu ?”


“Oh itu. Iya lucu. Sangat lucu."


“Hmmm.”


Aku kembali mengamati anak kembar yang sedang berlari kesana-kemari untuk mengambil bola yang menggelinding.


“Kakak boleh bertanya sama kamu ?”


“Boleh. Mau tanya apa ?”


“Sebenarnya Kakak ingin menanyakan ini dari kemarin. Tetapi melihat kondisi kamu yang masih shock, Kakak mengurungkan niat tersebut.”


“Ada apa, Kak. Angel tidak apa kok ?”


“Bagaimana kronologis sampai kamu bisa terkurung di dalam gudang ? Kalau kamu belum siap untuk menceritakannya, kamu tidak usah menjawabnya.”


Aku menarik nafas dalam-dalam. Mengingat kejadian kemarin memunculkan kembali rasa takut. Aku juga ragu untuk menceritakan kepada Kak Reza perihal Mozea yang telah mengurung aku disana .


“Kakak yakin kamu tidak mungkin sengaja masuk kesana, apalagi pintunya dalam keadaan terkunci dari luar. Siapakah yang telah mengurung kamu disana ?”


“Ti-tid-tidak.”


“Apakah ada yang mengancam kamu.”


Bayangan Mozea menarik dan membawa aku ke dalam gudang kembali muncul dalam ingatan. Ucapan demi ucapan yang Zea lontarkan terhadapku menyelimuti seluruh pendengaranku. Sarang laba-laba yang menempel. Tumpukkan barang-barang yang telah usang. Debu-debu yang memenuhi penjuru ruangan. Semuanya tergambar sangat jelas.


Kepalaku sakit. Telingaku berdengung. Penglihatanku seolah berputar-putar. Aku tidak bisa mengendalikan kesadaranku.


Brak. . .


*Bersambung*


.


.


.

__ADS_1


Author sangat berharap untuk selalu mendukung karya-karya author dengan memberikan like, komen, rate & vote 🥰🥰


Terimakasih 🙏


__ADS_2