
Sebelum lanjut jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰
Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍
Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇
Terimakasih 🙏🙏🙏
**************************************************
Mungkin kita bisa membohongi orang-orang yang ada di sekitar kita dengan berkata baik-baik saja. Tetapi ingat! Kita tidak pernah bisa membohongi perasaan diri kita sendiri. Yang orang lain tahu hanyalah kebahagiaan yang kita rasakan, tapi tidak dengan dukanya.
Walapun senyuman tak pernah padam, tetapi hati masih menjerit histeris. Tetapi karena situasi dan kondisi yang memaksa kita harus terlihat tegar, padahal kenyataannya rapuh. Siapa yang tidak sakit ditinggalkan kekasih?
Apalagi melihatnya langsung dengan mata kepalaku sendiri. Dia sedang tertawa tapi bukan denganku. Bahkan dia menerima suapan yang diberikan kepadanya, tapi bukan dariku. Aku yang dulu selalu begelayutan di lengan kekar miliknya. Aku yang selalu memecahkan fokusnya ketika sedang mengerjakan suatu pojek dengan menyuapi makanan tanpa seizin darinya. Dan aku yang selalu menikmati paras tampannya.
Kini semua itu telah berubah. Bahkan yang lebih menyakitkan dia telah bersanding dengan orang lain. Wanita yang mengambil alih tugasku.
“Angel lo yakin mau pulang ke kost?”
“Yakin, Cha.”
“Lo pulang ke rumah gue aja, ya! Atau gue temenin deh!”
“Enggak usah, Cha. Gue bisa sendiri kok.”
Lagi lagi aku memperlihatkan lesung pipit yang menambah kesan cantik pada diriku. Dan ketika tubuhku telah berbalik dari Alessyia dan Kak Aldo, aku segera menunjukan ekspresi yang sesuai dengan perasaanku saat ini.
Beruntunglah tidak ada orang lain yang berpapasan denganku, sehingga aku tidak perlu berpura-pura tersenyum lagi hanya sekadar untuk bertegur sapa. Jujur aku lelah selalu terlihat kuat, padahal jauh di lubuk hati yang terdalam aku adalah seorang wanita yang lemah.
Klek!
Ketika tubuhku telah memasuki tempat tinggal selama aku di kota Kembang, pintu kembali ditutup dan dikunci dengan sangat rapat. Saat ini aku benar-benar sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun. Bahkan handphoneku sedang berada dalam mode silent, mengabaikan semua panggilan dan pesan yang masuk.
__ADS_1
Kakiku melangkah menuju pintu yang mengarah ke balkon. Seketika memoriku dibawa kembali ketika menemukan sosok Pak Angga sedang terlelap dengan menggunakan mantel hitam sampai menutupi seluruh mukanya. Dan aku tersenyum ketika membayangkan bahwa aku sempat berpikir pria itu adalah Frans. Ternyata pikiran itu salah. Bukannya si Psycho, melainkan dia adalah pria yang sangat aku cintai.
Balkon kamar memang dipenuhi oleh kenangan-kenangan yang tidak terduga. Disinilah selalu menjadi saksi bisu setiap peristiwa yang terjadi. Balkon juga menjadi pendengar di antara obrolan yang tercipta antara aku dan Pak Angga.
“Argh. Tidak! Tidak!”
Aku menggelengkan kepala. Kali ini aku tidak lagi menatap kursi yang selalu aku tempati bersama Pak Angga. Pandanganku mengelilingi birunya langit tanpa ada awan putih yang menghalangi. Andai saja ada burung yang berlalu lalang, maka lengkap sudah hiasan langit sore itu.
Hfffttt.
Fyuuu.
Aku berusaha mengatur nafas dengan menarik oksigen secara hati-hati lalu dihempaskan ke udara. Aktivitas itu aku lakukan berulang-ulang.
Aku memang selalu suka udara kota ini. Tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Bagiku, inilah yang dinamakan kota impian.
Meskipun aku telah susah payah untuk menghapuskan memori tentang Pak Angga, tetapi tetap saja aku tidak bisa melakukannya. Semakin kuat keinginanku untuk melupakan, semakin kuat juga ingatan itu kembali menghantui.
“Hiks…”
Tidak ada lagi senyuman yang terlukis. Tidak ada lagi ketenangan yang terasa. Yang ada hanya amarah, emosi serta cemburu yang menjadi satu. Tidak lagi mempedulikan akan ada orang yang melihat, karena saat ini aku sedang mengunci diri di dalam suatu ruangan untuk mengasingkan diri.
“Hiks..hikss…”
“Dia datang membawa cinta, lalu pergi meninggalkan seribu luka. Dan dengan mudahnya dia melupakan. Kenapa sangat mudah baginya untuk jatuh cinta? Apakah cinta yang dulu ia berikan kepadaku juga hanya cinta semusim? Apakah sudah tidak ada lagi sedikit rasa cinta yang tersisa di hatinya untukku?”
Air mata sudah sangat deras mengalir. Bahkan jika ada ember yang menampung dibawahnya, mungkin sudah terisi setengahnya. Jika saat ini aku sedang berada di ujung jurang yang dalam, jauh dari keramaian dan khalayak orang, maka aku akan berteriak sekuat tenaga untuk sejenak menghilangkan stress yang saat ini aku pikul.
“Kenapa Pak Angga dengan cepatnya menemukan pengganti diriku? Sedangkan aku masih berkutik dengan masa lalu. Dan kenapa pula wanita itu terlihat sama usianya denganku? Apakah Pak Angga mencari target gadis yang masih muda? Mereka dikencani, diberikan harapan palsu. Dan ketika merasa sudah bosan, maka gadis-gadis itu ia tinggalkan.”
Entahlah, aku sudah berusaha untuk berpikir positif. Tetap saja pikiran negatif selalu menghantui. Mungkin saat ini aku sedang di penuhi amarah, maka gejolak di dada antara pikiran positif dan negatif bercampur menjadi satu.
“Angel…”
__ADS_1
Tok..tok..tok…
“Buka pintunya!!!”
“Angel!!!”
Bukannya aku tidak mendengar suara pintu yang diketuk disertai dengan suara cempreng. Siapa lagi kalau bukan Alessyia dan Kak Aldo. Namun aku sama sekali tidak berniat untuk membuka pintu dan membiarkan mereka masuk. Saat ini aku tidak membutuhkan siapa-siapa. Aku hanya membutuhkan waktu seorang diri untuk menetralkan emosi.
Rupanya mereka tidak menyerah. Meskipun telah cukup lama mereka mengetuk pintu dan tidak ada jawaban dari sang pemiliknya, tetapi mereka masih terus berusaha agar aku bisa membukanya.
Brakkk!!!
“Angel…”
Ketika tekad yang kuat bersatu dengan nekat, maka tidak ada lagi sesuatu yang bisa menghalangi pergerakannya. Begitupun dengan Alessyia dan Kak Aldo. Ketika pintu tidak dibuka-buka dan tidak ada respon dari orang yang ada di dalamnya, maka jalan terakhirnya yaitu mendobrak pintu.
Sedangkan aku sama sekali tidak terusik oleh kegaduhan yang tercipta. Aku masih asik menikmati luasnya awan biru. Meskipun sebelum Alessyia berhasil mendobrak pintu aku telah lebih dulu mengusap air mata, tetapi masih meninggalkan bekas. Yaitu mata merah dan sembab.
“Angel lo gak papa?”
Alessyia berusaha untuk menggapai mukaku. Dan aku masih berusaha untuk menghidarinya. Tetapi percuma, Alessyia telah mengetahui mataku yang membengkak karena terlalu lama menangis. Dengan segera Alessyia memeluk diriku erat dari arah samping.
“Lo bodoh Angel! Sangat bodoh. Kenapa lo pura-pura kuat? Padahal gue tahu sebenarnya lo hancur. Sangat hancur. Gue ini sahabat lo Angel. Percayalah! Melihat lo terluka itu juga menyakiti perasaan gue. Menangislah! Tidak perlu berpura-pura untuk terlihat kuat padahal sebenarnya lo rapuh. Keluarkan semua beban yang ada di dalam pikiran lo! Keluarkan air mata yang selama ini lo pendam!”
“Huwaaa….”
Ucapan Alessyia telah memancing air mataku. Aku segera mengubah posisi dan memeluk Alessyia. Dan kini aku menangis dibalik pelukan seorang sahabat. Sedangkan Kak Aldo hanya bisa menengkan diriku dengan menepuk-nepuk pelan bahuku.
“Gue emang lemah, Cha. Gue gak bisa tegar seperti wanita lain. Dan gue bohong mengatakan semuanya baik-baik saja. Gue juga berbohong perihal perasaan gue yang mengatakan sudah tidak cinta, membenci dan sudah melupakannya. Karena pada nyatanya, jauh di lubuk hati gue hanya ada nama Pak Angga. Hiks…”
“Gue tidak bisa menyalahkan perasaan lo. Karena gue juga bisa merasakan bagaimana rasanya mencintai dengan sangat dalam. Mencintai seseorang yang hanya bertepuk sebelah tangan. Ditinggalkan oleh seseorang yang sangat gue cintai. Gue tahu rasanya. Itu sangat menyakitkan. Gua cuma minta sama lo jangan pernah lo bersandiwara di hadapan gue dengan berpura-pura baik-baik saja!”
“Hiks…hiks…”
__ADS_1
“Angel dengarkan gue! Orang yang kuat bukan dia yang tidak pernah meneteskan air mata. Orang yang kuat adalah dia yang mampu menghadapi terjalnya jalan kehidupan yang ia jalani. Ia terus berjalan di atas duri yang membuat kakinya berdarah penuh luka. Meskipun disertai dengan isak tangisan, tetapi dia berhasil melaluinya."
*Bersambung*