
Aku tidak ingat bagaimana kelanjutannya. Terakhir aku hanya mengingat sedang jalan-jalan bersama Kak Reza dan duduk santai di taman. Sekarang aku membuka mata sudah berada di ruang kamar rumah sakit. Kepalaku terasa berdenyut. Penglihatanku masih buram. Pendengaranku juga masih samar-samar.
Aku membelalakan sepasang manik mata milikku. Kulihat Kak Reza sedang berbicara dengan Dokter yang menjadi penanggung jawab aku selama dirawat disini. Apa yang mereka bicarakan aku tidak tahu. Frekuensi suara mereka terlalu rendah untuk aku jangkau. Setelah menyelesaikan perbincangan, Dokter kembali ke tempat asalnya dan Kak Reza menghampiriku.
“Kak, Angel kenapa ?”
“Tadi kamu pingsan di taman. Tapi kata dokter tidak apa kok, tidak ada yang serius. Kamu masih shock aja.”
“Kapan Angel bisa pulang, Kak.”
“Kata dokter nanti sore kamu boleh pulang, setelah botol infusannya habis.”
“Serius Kak ?”
“Iya. Kamu senang ?”
“Senang banget. Angel sangat senang.”
Menunggu waktu sore tibapun terasa melelahkan. Waktu berjalan sangat lambat. Aku tidak sabar ingin terbebas dari kurungan ini.
Dari awal sampai sekarang Kak Reza yang bertanggung jawab atas peristiwa yang menimpaku. Ia menjaga aku siang dan malam. Ia melunasi biaya tagihan rumah sakit. Ia juga mengantarkan aku pulang ke rumah. Lebih tepatnya ke kamar kost.
“Awas hati-hati.”
Tidak pernah sedetikpun Kak Reza melepaskan genggamannya. Aku masih merasa lemas. Bahkan untuk menaiki beberapa anak buah tangga saja nafasku sudah kehabisan. Sehingga untuk menempuh kamarku yang terletak di lantai 2 memerlukan waktu lebih dari 10 menit. Biasanya dapat ditempuh sekitar 3-4 menit.
“Kak Reza. . .”
“Hmm ?”
“Makasih ya.”
“Buat apa ?”
“Buat semua kebaikan Kakak. Angel gak tahu apa jadinya jika tidak ada Kakak.”
“Iya sama-sama. Kakak senang bisa bantu kamu.”
“Dan juga maaf !”
“Maaf buat ?”
“Maaf Angel sudah merepotkan Kakak.”
“Kamu sama sekali tidak merepotkan Angel.”
Sebenarnya bukan maaf buat itu. Ada maaf yang jauh lebih besar. Tetapi aku bingung bagaimana mengatakannya kepada Kak Reza. Aku takut menyinggung perasaanya. Tetapi jika aku tidak melakukannya, maka masalah akan selalu menimpaku. Mungkin aku bisa selamat sekarang. Tapi aku tidak menjamin akan lolos di lain waktu.
“Kak, Angel minta tolong jangan pernah temui Angel lagi.”
“Tapi kenapa ? Apa salah Kakak sama kamu ?”
__ADS_1
“Tidak, Kak. Kakak tidak salah sama sekali. Ini bukan salah Kakak. Angel tidak mau merepotkan Kakak terus. Angel tidak mau menjadi benalu bagi Kakak. Kakak orang yang baik, popular di kampus, tidak seharusnya berurusan dengan Angel.”
“Apa kamu tidak nyaman karena terlalu banyak orang yang mengenali Kakak ?”
“Tidak Kak. Ini demi kebaikan kita semua.”
“Ada apa sebenarnya ? Kakak tidak mengerti atas ucapan kamu.”
“Suatu hari pasti Kakak akan mengerti.”
“Kakak sungguh tidak mengerti, Angel.”
“Angel tidak bisa menjelaskannya. Sekali lagi Angel minta maaf ! Dan Angel minta tolong supaya Kakak tidak menemui Angel lagi ! Jadikanlah pertemuan ini yang terakhir bagi kita !”
Mungkin aku telah melukai perasaan Kak Reza. Dia telah sangat berbaik hati menolong dan membantu aku, tetapi aku malah menyuruh dia untuk pergi. Tetapi semua keputusan yang aku ambil demi kebaikan bersama. Aku tidak mau Kak Reza terlanjur mempunyai perasaan kepadaku. Aku juga gak mau persahabatan aku dengan Alessyia retak. Dan aku juga tidak mau lagi berurusan dengan Mozea, mereka terlalu berbahaya untukku.
Sudah 2 hari aku tidak memeriksa ponsel. Benar saja banyak pesan dan panggilan masuk. Papah, Mamah, dan juga Pak Angga. Aku tidak mau membuat mereka khawatir. Aku harus segera menghubungi mereka untuk memberi kabar. Pertama aku melakukan video call secara bersamaan dengan Papah dan Mamah.
“Aaaaa Papah, Mamah. Angel kangen banget sama kalian.”
“Mamah juga kangen banget sama kamu sayang.”
“*Kamu kemana aja, Nak ? Kemarin Papah hubungi kamu tidak ada jawaban.”
“Iya sayang kamu kemana aja* ?”
“Maaf ya Pah, Mah ! Kemarin Angel banyak banget tugas. Jadi Angel tidak sempat buka handphone.”
Sekarang aku harus memberi kabar kepada Pak Angga. Tetapi jika aku menghubunginya dahulu, takut mengganggu aktifitasnya. Lebih baik aku menunggu saja Pak Angga yang menelpon duluan.
Dred. .dred. .
Aku segera terbangun untuk melihat panggilan dari siapa yang masuk. Ternyata aku ketiduran ketika menunggu Pak Angga. Dengan usahaku untuk membuka mata lebar-lebar dan mengumpulkan kembali kesadaran, aku menjawab telepon dari seseorang yang telah aku tunggu kehadirannya.
“Hallo.”
“Bapak Angel kangen.”
“Ya ampun Angel. Ini nih yang selalu membuat aku rindu sama kamu. Suara manja kamu, dan ekspresi lucu kamu.”
“Bapak gak kangen ya sama Angel ?”
“Kangen banget. Aku kangen sama kamu. Dari kemarin aku hubungi kamu tapi tidak ada balasan.”
Aku mengatakan alasan yang sama kepada Pak Angga. Aku tidak ingin membuat orang-orang yang menyayangiku merasa khawatir. Mungkin aku salah telah berbohong. Tapi kali ini saja tolong maafkan aku !
“Bapak kapan kesini ?”
“Tidak bisa dalam tempo dekat. Jadwalnya padat. Nanti aku cek schedule lagi ya.”
“Yaaahhh.”
__ADS_1
Padahal aku sangat membutuhkan kehadiran Pak Angga. Biasanya jika berada disampingnya aku akan merasa nyaman. Dan hanya dialah yang mampu membuat aku tenang. Tetapi aku tidak ingin mempunyai sifat egois. Pak Angga juga mempunyai kehidupan yang harus ia jalani.
“Emangnya kalau aku kesana kamu mau ngapain ?”
“Ih Bapak apaan sih ? Angel cuma kangen aja sama Bapak. Ingin berjumpa.”
“Yakin gak mau dibeliin sesuatu ?”
“Oohh itu. Angel kira apa. Hehehe.”
“Kamu mikirnya apa sayang ?
Pak Angga malah semakin asik menggoda aku. Padahal aku sudah sangat bingung untuk menjawab apa lagi. Tetapi Pak Angga malah ketawa mendengar aku gelagapan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang ia berikan.
***
Aku tidak bisa menahannya lagi. Semakin lama Alessyia seperti nyata tidak mengenaliku. Hanya dia satu-satunya keluarga yang aku punya disini. Jika Alssyia membenciku, aku tidak tahu harus kepada siapa lagi untuk berbagi cerita.
“Cha tungguin gue.”
“Cha . . ”
“Cha please tungguin gue !”
Aku berhasil menarik tangan Alessyia dan membuat dia menghentikan langkahnya. Aku membawa Alessyia untuk berbicara di taman belakang kampus agar tidak banyak orang mendengar.
“Lepasin ! Gue gak mau dipegang sama tangan pelakor.”
“Cha, gue mohon kali ini dengarkan penjelasan gue !”
“Gue gak mau kenal lagi sama lo. Lo itu munafik tahu gak sih ?”
“Cha ini cuma salah paham. Aku sama sekali tidak menyukai Kak Reza.”
“Kalau gak suka ngapain lo jalan bareng ?”
“Itu sebagai bentuk tanggung jawab gue karena telah merusak ponselnya.”
“. . .”
“Kenapa lo bisa berpikiran pendek gitu sama gue ?”
“. . .”
“Dari dulu lo tahu kalau orang yang gue cinta adalah Pak Angga. Dan lo juga tahu kisah yang telah gue lalui bersama Pak Angga. Lo ngeyakinin gue kalau gue bukan perusak hubungan orang. Kenapa lo sekarang bilang gue pelakor ? Gue sakit hati Cha. Sakit hati gue. Hiks. . hiks. .”
“Cuma lo satu-satunya sahabat yang gue miliki. Gue gak mau lo terus-menerus membenci gue. Sedangkan pada nyatanya gue sama sekali tidak suka terhadap orang yang lo cinta.”
“Gue hanya memiliki satu hati. Dan hati itu telah berpenghuni. Bagaimana bisa gue membiarkan hati gue dimiliki oleh dua orang sekaligus ? Gue gak akan jatuh cinta kepada orang lain. Jika gue jatuh cinta, orang itu adalah Pak Angga.”
*Bersambung*
__ADS_1