My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-08 Rindu dalam Mimpi


__ADS_3

“Pulang naik apa sayang ?”


“Em-mm tadi naik bus, Mah.”


“Emang masih ada bus jam segini ?”


Ketahuan kan, emang dasarnya gak bisa bohong sih. Pukul 20.00 WIB bus tidak mungkin ada. Terus kenapa jawabnya gitu. Haduuhhh, jadi bingung sendiri kan harus gimana lagi alasannya.


“Tadi Mang Dudung jemput ke sekolah, katanya kamu gak ada.”


“Istri Mang Dudung sudah sembuh Mah ?”


“Sudah. Udah deh gak usah mengalihkan pembicaraan. Pak Angga mana ?”


“Angel gak tahu. Kenapa Mamah nanya ke Angel sih ?”


“Kan udah Mamah bilang disuruh masuk dulu sayang !”


“Tadi udah Mah. Katanya next time aja. Oh iya Mah, ada yang mau Angel ceritakan jauh lebih penting daripada Pak Angga.”


Aku menceritakan bagaimana perjuangan hari ini. Tentang aku yang tidak bisa berhasil dalam menyelesaikan ujikom. Dan tentang aku yang harus mengikuti remedial.


Beruntunglah aku mempunyai ibu yang sangat pengertian seperti Mamah. Tidak sedikitpun nampak guratan kekecewaan diraut mukanya. Tidak pula ia merasa sedih. Justru Mamah tersenyum bangga melihat aku yang berani menceritakan kejujuran.


“Perihal hasil tidak ada yang bisa mengetahui, yang terpenting bagaimana usaha kita untuk menggapai sesuatu yang kita inginkan.” Begitulah kata Mamah.


Ada suatu pepatah mengatakan ’Hasil tidak akan mengkhianati proses’ aku rasa hal tersebut tidak sepenuhnya bisa dikatakan benar. Jika dalam proses kita telah bersungguh-sungguh dan hasilnya tidak sesuai yang kita harapkan, itu artinya Tuhan mempunyai rencana lain, maka tidak ada yang bisa mengubah garis tangan yang telah ditetapkan oleh-Nya.


Tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan. Apalagi meratapi kegagalan. Perjalanan masih panjang. Masih banyak cara untuk mewujudkan sesuatu yang diimpikan. Tetaplah berjalan, walau duri tajam menancap di kaki.


***


Kehadiran pak Angga selalu dinanti. Tak ada seharipun terlewati tanpa hadirnya sosok Angga Sutantyo. Dibalik sikapnya yang dingin sering kali ia tersenyum dengan sikap aku yang sedikit polos. Senyuman itu, benar-benar indah. Andai aku bisa menghentikan waktu, aku ingin saat itu berhenti sekejap saja. Aku ingin melihat senyumnya lebih lama lagi. Rasanya senyum dia menjadi candu yang selalu ingin kulihat setiap waktu.


“Sayang, Pak Angga kayanya kelelahan. Ia tertidur di sofa. Kamu jangan bangunin dia ya. Kasian !”


“Lho Mah tapi kalau orang lihat gimana ? Nanti bisa salah paham ?”

__ADS_1


“Nanti Mamah yang jelasin. Toh dia kan guru kamu. Gak ada apa-apa juga kan ?”


“Oke deh Mah. Lagian salah Angel juga yang belajarnya gak tahu waktu sampai larut malam begini.”


Deadline projek remedial hampir mendekati akhir. Terpaksa aku harus terus belajar sampai larut malam, bahkan tengah malam.


Panggilan dari alam tiba-tiba saja merusak mimpi indahku malam ini. Dengan mata yang sangat sulit untuk terbuka, terpaksa kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Setibanya di ruang tamu barulah mataku terbuka lebar kala melihat seseorang tertidur dengan pulasnya. Mungkin memang benar bahwa ia terlalu kelelahan. Tak tega rasanya melihatnya tertungkup menahan kedinginan.


Sepertinya aku melupakan tujuan awal aku bangun, yaitu untuk buang air besar. Aku kembali ke ruang kamar tidur dan mengambil selimut yang masih utuh di dalam lemari. Dengan perlahan aku jinjitkan kaki agar tidak membuat orang itu tersadar, dibukalah selimut itu lebar-lebar, segera ku tutupi tubuhnya yang nampak gemetar.


Saat hendak berbalik dan berlalu meninggalkannya, tiba-tiba saja langkahku tertahan melihat tanganku digenggam erat olehnya.


“Maaf ya Pak Angel udah mengganggu tidur Bapak !”


Tak ada balasan yang terucap dari mulutnya. Tiba-tiba ia menarik tanganku dan membawa tubuhku kedalam pelukannya. Dengan sekuat tenaga aku berusaha melepaskan dekapannya. Namun sayang, aku terlalu lemah untuk melawan kekuatannya.


“Biarkan seperti ini. Sebentar saja. Saya butuh perhatianmu !”


“Tapi . . Tapi pak . . .”


“Hanya sebentar. Saya janji hanya sebentar. Saya merindukan kehangatanmu.”


Segera aku menjauh dari sosoknya. Saat kembali aku menatapnya, rupanya matanya masih terpejam pulas.


“Aneh. Apakah tadi hanya mengiggau ? Ada apa dengan pak Angga ? Mukanya terlihat sangat sedih bahkan sampai meneteskan air mata. Seakan apa yang barusan ia katakan benar-benar terjadi. Dan rindu, siapakah orang yang dirindukannya ?”


Malam telah berlalu. Cahaya rembulan terkalahkan oleh terangnya sinar mentari. Aroma harum yang menyusup indra penciumanku membuat mataku semakin terbuka lebar. Membayangkannya saja sudah membuat perutku lapar. Aku tidak sabar untuk segera menyantap makanan kesukaanku. Apalagi jika Mamah yang memasaknya, sungguh resep yang sempurna. Rasanya ingin terus mengunyahnya tanpa berhenti.


Sejenak aku lupa bahwa saat ini yang berada di rumah ini bukan hanya aku dan Mamah. Iya, Pak Angga. Bukankah semalam ia menginap disini ? Dan tunggu, apa yang terjadi semalam ?


“Enggak. Itu gak mungkin. Itu pasti mimpi.”


“Kenapa sayang ? Ayo cepat duduk sini !”


Ingatanku kembali pada waktu semalam, aku masih tidak percaya dan berharap itu hanyalah mimpi. Namun itu bukanlah mimpi. Semuanya nyata terjadi. Pasti ada yang salah dengan Pak Angga. Aku harus tahu. Tapi apakah menanyakannya sekarang bukannya tidak sopan ? Di waktu pagi, saat sarapan ? Baiklah, aku akan menanyakan, tapi tidak sekarang. Kita tunggu waktu yang paling pas.


“Angel sini duduk !”

__ADS_1


“Iya sayang, kamu melamun apa sih ? Ini Pak Angga udah nunggu dari tadi lho.”


“Eh iy-iya, Mah.”


Benar saja, indra penciumanku tidak pernah salah. Semua makanan yang tersaji di meja makan adalah makanan kesukaanku. Ayam bakar dengan bumbu saus kacang, sayur asam, dilengkapi dengan tahu dan tempe goreng. Tidak lupa susu putih dan buah-buahan sebagai pelengkap sarapan kami.


Dred . . dred . . dred . .


“Maaf saya permisi dulu, ada panggilan masuk !”


“Oh iya, Pak silahkan.”


Getar ponsel menghentikan sementara aktifitas kami. Pak Angga segera menjawab panggilan teleponnya setelah sebelumnya meminta ijin keluar.


Terdengar samar-samar suara anak kecil diseberang sana memanggil sebutan Ayah. Dan Pak Angga sesekali menjawab disertai dengan kata ‘Nak’.


"Siapakah sebenarnya yang menelepon Pak Angga pagi-pagi seperti ini ? Apa mungkin itu anak Pak Angga ? Tunggu, apakah Pak Angga sudah menikah ?"


Emangnya apa hubungannya Pak Angga sudah menikah atau belum. Itu kan hidup beliau, kenapa aku repot-repot ngurusin hidup orang lain. Padahal hidup aku aja masih berantakan.


Pak Angga kembali ke tempat duduk yang sebelumnya ia tinggalkan. Ia meminta maaf karena dering ponselnya telah mengganggu sarapan pagi itu. Kemudian ia melanjutkan melahap makanan yang sempat tertunda.


“Kalau gitu saya pamit pulang, Bu. Terimakasih sarapan dan juga tumpangannya semalam. Saya jadi gak enak sudah merepotkan.p⁰”


“Tidak apa-apa, Pak. Justru saya yang seharusnya minta maaf, karena Bapak mengajar Angel sampai-sampai Bapak ketiduran di sofa.”


“Angel minta maaf ya, Pak. Lain kali Angel akan ingat waktu kalau belajar.”


“Tidak apa. Saya senang antusias belajar kamu sangat tinggi. Kalau melihat kamu seperti ini, saya tidak ragu kalau kamu akan lulus.”


“Terimakasih, Pak. Kalau gitu Angel antar sampai ke depan.”


“Tidak usah, saya bisa sendiri. Sampai ketemu di hari Senin dengan semangat yang baru.”


“Siap, Pak !”


Entah kenapa akhir-akhir ini Pak Angga pandai sekali melontarkan kata-kata motivasi yang dapat membangkitkan semangatku.

__ADS_1


Hari ini akhir pekan, tetapi untuk sementara tidak ada akhir pekan bagiku. Setiap waktu, tidak pernah ada hari yang terlewatkan untuk belajar. Aku tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya.


*Bersambung*


__ADS_2