My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-11 Pengakuan Pak Angga


__ADS_3

“Nak, Papah berangkat sekarang ya !”


“Sekarang Pah ? Gak bisa besok aja, ya ?”


“Tidak bisa, sayang. Nanti Papah bisa kena SP.”


“Yaaahhhh. Padahal Angel kan masih kangen.”


“Iya sayang. Papah juga kangen sama kamu.”


Berbicara kangen tiba-tiba saja bayangan Pak Angga melintas dipikiranku.


“Oh iya, Pah. Hari ini Angel mau ke sekolah ada sertifikat yang harus diambil.”


“Ya udah kita bareng aja berangkatnya !”


Aku berjalan menuju taman yang terletak di depan rumah. Menemui seseorang yang sedang asyik menyiram bunga-bunga yang sedang bermekaran, untuk meminta ijin darinya.


“Mah, Angel ke sekolah dulu sebentar ya !”


Bersamaan dengan Papah yang berpamitan untuk kembali ke Ibu Kota. Mamah mencium tangannya, dan Papah memberikan kecupan yang mendarat di kening.


“Papah pamit dulu ya, Mah. Papah titip Angel. Tolong jaga dia dengan baik !”


“Iya, Pah. Papah hati-hati, ya !”


Kurang lebih seperti itu percakapan di antara keduanya. Kemudian Papah membukakan pintu agar aku dapat masuk ke dalamnya. Tombol start ditekan, dan gas di injak dengan hati-hati. Kini mobil silver telah berhasil keluar dari garasi yang telah mengurungnya.


“Setelah urusannya selesai langsung pulang ya, Nak.”


“Siap komandan.”


“Papah berangkat dulu. Kamu jaga diri baik-baik. Harus nurut sama Mamah !”


“Siap 86. Heheheh.”


Papah ikut tertawa geli melihat tingkah aku yang menggemaskan kala aku memberi hormat selayaknya ajudan kepada atasannya.


“Kamu ini ada-ada aja. Oh iya kapan-kapan kenalin Pak Angga sama Papah !”


“Iiihhh Papah kok jadi ngomongin Pak Angga.”


“Kayanya Papah juga menyukai Pak Angga.”


“Suka gimana maksud Papah ?”


“Jangan salah paham dong. Maksudnya suka kalau dia jadi menantu Papah. Haahaaa.”

__ADS_1


“Iihhh Papah. Apaan sih ? Ngaco deh. Kok Papah sama sih kaya Mamah, belum lihat tapi udah bilang suka.”


“Eiittsss kamu lupa ya, kalau kita itu pasangan paling kompak ?”


“Hahahah.”


Kami tertawa bersamaan seiring dengan kecupan perpisahan yang Papah berikan di kening. Berpisah, menyaksikan kepergiannya bukanlah hal yang pertama. Namun setiap kali peristiwa itu terjadi, batinku menjerit. Ingin aku berkata ‘Jangan pergi ! Tetaplah disini !’ tetapi jika seperti itu, aku sangatlah egois bukan ? Kepergian Papah hanya sementara. Untuk menafkahi aku dan Mamah. Memberikan kami kehidupan yang layak. Dengan berat hati aku harus rela menyaksikan mobil silver yang melaju membawa Papah menjauhiku.


Setelah selembar kertas berada digenggamanku, aku tidak melupakan pesan papah untuk langsung pulang. Oh iya, di dalam kertas itu berisikan nilai-nilai yang aku peroleh dari ikut sebagai peserta ujikom. Iyaa, itulah sertifikat ujikom.


Sebelumnya aku sempat khawatir dan ragu untuk melangkahkan kaki ke ruangan itu. Biasanya di ruangan itu terdapat Pak Angga. Karena itu adalah ruang guru produktif khusus jurusan yang aku ambil.


Entah dimana dan kemana, aku sama sekali tidak melihat bayangan Pak Angga. Keberuntungan memihak padaku. Karena jika sampai aku bertemu, rasanya masih kikuk. Aku segera berlalu meninggalkan ruangan tersebut, dan benar-benar berharap dia tidak ada disekitar sini.


Ketika aku membuka pintu, nampak seseorang dari arah berlawanan hendak memasuki ruang tersebut. Ternyata keberuntungan tidak selamanya memihak kepadaku.


“Angel . . .”


“Eh Pak Angga.”


“Habis membawa sertifikat ?”


“Iy-iya Pak.”


“Saya bisa bicara sama kamu ?”


“Tentu. Silahkan saja !”


Aku tidak tahu Pak Angga akan membawaku kemana. Ia sama sekali tidak memberitahuku. Ia hanya memberikan instruksi untuk mengikuti langkahnya. Aku berjalan dengan langkah yang sedikit berjarak agar tidak terlalu tampak mencurigakan dipandangan orang.


Tibalah pada satu ruangan yang hanya dipenuhi oleh komputer namun tidak ada berpenghuni. Pak Angga menutup pintu, kemudian memutar kunci.


“Kenapa dikunci ?”


Aku takut jikalau Pak Angga akan melakukan hal-hal yang mengerikan terhadapku. Apalagi diruangan yang hanya ada kami berdua dengan pintu yang terkunci. Entahlah, pikiran negatifku semakin menjadi-jadi.


“Tenanglah. Saya tidak akan macam-macam sama kamu. Saya hanya akan melanjutkan pembicaraan yang waktu itu sempat tertunda.”


“Tapi kenapa pintunya harus dikunci ?”


“Agar tahu jika ada orang yang mau masuk. Dan orang tersebut tidak bisa sembarangan masuk. Kamu pikir apa yang mereka pikirkan jika melihat kita berdua diruang tertutup seperti ini ?”


“. . .”


“Saya boleh jujur sama kamu ?”


“Tentu.”

__ADS_1


“Saya gak tahu sejak kapan rasa ini hadir. Mungkin karena waktu yang kita lewati bersama, saya lama-lama tertarik sama kamu. Saya menyayangi kamu bukan hanya sekedar rasa sayang guru terhadap muridnya. Saya suka sama kamu. Saya cinta sama kamu Angel. Saya sadar tidak seharusnya saya menyukai kamu. Karena peraturan sekolah kita yang melarang guru dan murid berhubungan terlau jauh. Tapi kamu telah lulus dari sini. Jadi saya rasa itu tidak akan bermasalah lagi.”


“Tapi . .”


“Kamu boleh jujur sama saya. Kalaupun kamu tidak suka. Jawab saja seadanya. Saya tidak akan marah dengan jawaban yang kamu beri. Apa yang kamu rasakan terhadap saya?”


“. . .”


“Ya udah tidak usah dijawab, gak papa. Saya hanya menyampaikan perasaan saya kepada kamu. Saya hanya tidak mau memendamnya sendiri terlau lama.”


“Maaf, Pak. Tapi Angel tidak bisa ?”


“Tidak bisa yang mana ?”


“Angel tidak bisa menerima perasaan Bapak ?”


“Apa alasannya ?”


“Jujur Angel tidak habis pikir kenapa Bapak bisa menyukai orang lalin disaat Bapak telah memiliki keluarga ? Apalagi Bapak menyukai murid Bapak sendiri yang jelas usia kami terlalu jauh berbeda.”


“Apa maksud kamu dengan berkeluarga ?”


“Angel tahu kalau Bapak sudah menikah. Bahkan Bapak telah dikaruniai putra buah dari pernikahan kalian. Apa Bapak tidak terlalu kejam mencintai dua wanita dengan satu hati ?”


“Perihal itu saya bisa menjelaskannya.”


“Mohon maaf, Pak ! Bukannya Angel tidak sopan. Tapi Angel tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Sebaiknya Bapak hilangkan perasaan Bapak kepada Angel. Karena sampai kapanpun Angel tidak mau menjadi orang ketiga.”


Aku lupa bahwa pintu keluar dikunci. Sekuat dan sekeras apapun usahaku untuk membukanya, itu tidak akan berhasil. Dan sialnya, kuncinya berada pada genggaman Pak Angga. Usahaku gagal untuk melarikan diri dari Pak Angga.


“Apa kamu tahu alasan saya tidak pernah menceritakan kehidupan pribadi saya ? Apalagi perihal percintaan ?”


“. . .”


Tiba-tiba saja perkataan Pak Angga menghentikan usahaku untuk membuka pintu. Jujur aku penasaran dengan perjalanan hidup Pak Angga. Aku ingin mendengarnya langsung dari dirinya, bukan dari orang lain.


“Kamu benar. Saya memang sudah menikah. Usia pernikahan kami sudah 5 tahun. Dan kami di anugerahi seorang putra yang kini berusia 3 tahun. Tapi sejak setahun terakhir, tak ada kabar dari istri saya. Terakhir dia pamit merantau ke kota dengan alasan ingin membantu perekonomian keluarga. Saya telah berusaha menghubungi dan mencarinya. Saya juga meminta rekan saya untuk memberi kabar jika mereka menemukan sosok istri saya. Sampai akhirnya saya mendapatkan kabar bahwa dia berselingkuh, bahkan tinggal dalam satu atap bersama pria."


Pak Angga menarik nafas berat, kemudian dilepaskannya ke udara secara perlahan.


"Awalnya saya tidak percaya. Namun bukan hanya satu orang yang menyampaikan hal tersebut, melainkan lebih dari 5 orang yang mengenali saya dan istri menyampaikan hal yang sama kepada saya. Hingga saya nekat pergi ke kota ingin melihatnya secara langsung. Dan ternyata hal tersebut benar terjadi.”


“Tapi Pak, secara hukum dia masih menjadi istri sah bapak. Angel sama-sama perempuan Pak. Angel gak mau menyakiti hati perempuan lain. Angel bisa merasakan gimana sakitnya istri Bapak jika mengetahui Bapak menyukai wanita lain disaat masih bersamanya. Angel juga gak mau nantinya di cap menjadi pelakor.”


“Lantas bagaimana dengan saya ? Apa menurut kamu saya tidak sakit melihat istri saya berselingkuh ?”


“Apapun itu alasannya tolong jangan libatkan Angel. Angel tidak mau menjadi tempat pelarian Bapak.”

__ADS_1


“Saya bersungguh-sungguh mencintaimu, Angel. Kamu bukanlah tempat pelampiasan. Dan kamu perlu tahu, kamu bukanlah perusak hubungan orang, Karena saya yang memilihmu. Bukan kamu yang memillih saya !”


*Bersambung*


__ADS_2