My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-29 Peresmian Status


__ADS_3

“Sekarang Bapak ceritakan kenapa bisa ada disini ?”


“Saya merindukan kamu. Apakah tidak boleh jika saya merindukan kamu ?”


“Tentu boleh. Justru Angel senang jika Bapak merasakan hal yang sama seperti Angel. Tetapi maksud Angel bagaimana Bapak bisa sampai disini ?”


“Naik motor.”


Sungguh kesal bukan main aku mendengar penjelasan dari Pak Angga. Aku tidak tahu ekspresi seperti apa yang aku tunjukan kali ini. Dan yang pasti kali ini juga Pak Angga menertawakan aku sepuasnya.


“Iya iya ini saya jawab.”


“Apa ?”


“Saya sengaja mengikuti mobil kamu dari belakang. Tentunya dengan jarak yang tidak dapat kalian pantau. Mungkin kamu tidak tahu kalau saya sudah menunggu di depan rumah kamu jauh sebelum kalian melajukan mobil.”


“Kenapa Bapak tidak bilang sebelumnya ? Angel tahu itu Bapak ketika Papah sudah membawa kami menjauh. Tetapi Angel tidak bisa memohon kepada Papah.”


“Oleh sebab itu saya tidak beri kabar terlebih dahulu. Saya sengaja tidak membalas pesan darimu. Dan saya sengaja tidak bilang kalau saya ada di depan rumah kamu.”


“Tapi kenapa ? Angel sangat mengharapkan kehadiran Bapak. Angel takut tidak bisa berjumpa dengan Bapak untuk jangka waktu yang lama.”


“Kalau kita bertemu di rumah kamu sebelum berangkat kesini, itu mungkin hanya akan menghabiskan waktu 5 sampai 10 menit. Apakah kamu mau pertemuan singkat seperti itu ?”


“Tidak.”


“Itulah alasan saya berada disini saat ini. Masih banyak hal yang ingin saya ceritakan sama kamu. Saya tidak mau berjumpa cuma sebentar.”


Untuk sementara waktu kami menghentikan pembicaraan seiring dengan pelayan membawakan makanan yang sebelumnya telah kami pesan. Sejenak tidak ada percakapan. Kami berdua fokus melahap makanan yang telah tersaji di meja makan. Wajar saja ini sudah waktunya makan malam sehingga perut kami telah membunyikan alarmnya. Sesekali kami saling berpandangan dan membalas senyuman.


“Sudah ?”


“Heem.”


“Ayo ikut saya !”


“Ih mau kemana lagi ? Ini udah malam.”

__ADS_1


“Cuma sebentar. Saya bilang bahwa banyak hal yang harus saya ceritakan kepada kamu.”


Sebenarnya apa yang akan Pak Angga ceritakan, aku semakin penasaran dibuatnya. Apa yang tidak aku ketahui selama beberapa hari terakhir ini ?


Aku tidak tahu lagi Pak Angga akan membawaku kemana. Aku hanya bisa menikmati dinginnya kota Bandung. Suhu disini memang sedikit berbeda dengan suhu di kota aku sebelumnya. Disini terasa lebih dingin. Wajar saja karena disini termasuk daerah pegunungan.


Pak Angga menghentikan laju motornya ketika telah sampai di suatu tempat. Tempat yang berada pada suatu ketinggian. Ketika memalingkan pandangan ke arah bawah, akan disajikan dengan hamparan daratan yang sangat luas. Kilau lampu kerlap-kerlip yang berasal dari bangunan-bangunan kota memancarkan keindahan. Dan jika menengadahkan ke atas, akan disajikan hamparan langit yang terbentang tanpa batas.


“Waaahhh indahnya.”


“Suka ?”


“Tentu. Karena di kota Angel tidak ada tempat yang seperti ini.”


“Sini duduk !”


Pak Angga membawa aku untuk duduk di atas rumput yang sebelumnya telah dipastikan bahwa tempat tersebut aman untuk aku singgahi. Seketika aku teringat mengenai hal apa yang akan Pak Angga ceritakan kepadaku.


“Oh iya, apa yang akan Bapak ceritakan pada Angel ?”


“Serius ? Bagaimana ceritanya ?”


Pak Angga menceritakan perjuangannya untuk mendapatkan hak asuh Rendy dan merebutnya dari Windy. Dimulai dengan mengajukan banding, serta mengumpulkan berbagai bukti. Cukup lama untuk meyakinkan pihak pengadilan bahwa Windy berselingkuh. Pak Angga tidak mempunyai bukti apapun. Ketika ia memergoki Windy tinggal bersama pria, sama sekali tidak teringat untuk mengabadikannya. Emosi yang tak tertahankan hanya membuatnya marah-marah meluapkan semua kata-kata yang ada dalam pikirannya. Sekarang ia sadar bahwa ia memerlukan bukti, bukan hanya opini dari dirinya sendiri. Bagaimana Hakim akan percaya jika berdasarkan pendapat tanpa disertai bukti ?


Pak Angga teringat rekannya yang memberi kabar keberadaan Windy. Dia memotret ketika Windy keluar dari kelab malam dengan tangan yang digandeng oleh seorang pria. Namun karena ia tidak mau menyimpan foto yang menyakitkan hatinya, Pak Angga segera menghapusnya.


Hampir saja Pak Angga putus asa. Seperti tidak ada harapan untuk membawa Rendy pulang ke dalam pelukannya. Apalagi ketika ia menghubungi kembali temannya untuk menanyakan perihal foto yang ia potret, tidak ada kepastian yang ia berikan.


“Saya lupa, Ngga. Saya usahakan buat mencarinya. Nanti saya kabari lagi padamu.”


Tetapi syukurlah keberuntungan memihak padanya. Foto Windy bersama seorang pria masih tersimpan di memory card rekan Pak Angga. Sehingga bisa menjadi bukti pada sidang pengadilan yang akan datang.


Kali ini Windy tidak bisa lagi mengelak. Semua bukti telah mengarah kepadanya. Mau tidak mau ia harus merelakan hak asuh Rendy yang jatuh ke tangan Pak Angga.


“Waahh selamat. Angel sangat senang mendengarnya. Tapi kenapa Bapak tidak cerita tentang persidangan itu ?”


“Saya tahu kamu sedang mengurus pindahan kamu kesini. Saya tidak mau menambah beban pikiran kamu.”

__ADS_1


“Apakah itu alasan Bapak tidak menghubungi Angel ?”


"Iya. Saya minta maaf tidak bisa berkomunikasi dengan kamu. Bahkan untuk bertanya kabar saja saya tidak meluangkan waktu. Kamu boleh marah sama saya.”


“Kenapa Angel harus marah ?”


“Karena perhatian saya kepada kamu kurang.”


“Tidak. Bapak telah memperlakukan Angel dengan sangat baik. Angel sama sekali tidak marah. Karena Bapak mempunyai alasan yang kuat. Rendy salah satu aset terpenting yang Bapak miliki. Bapak harus menjadikan Rendy prioritas di atas segalanya. Karena di usia Rendy masih sangat membutuhkan kasih sayang. Angel tidak mau Rendy menjadi anak yang broken home. Bapak harus buktikan bahwa orang tua yang bercerai tidak akan berdampak buruk terhadap anak.”


“Saya tidak tahu kenapa kamu mempunyai pikiran seperti itu.”


“Apakah yang Angel ucapkan salah ? Angel minta maaf ! Angel minta maaf jika ada perkataan Angel yang menyinggung perasaan Bapak.”


“Saya tidak menyangka di usia kamu yang baru 19 tahun telah memiliki pemikiran yang sangat bijak. Tadinya saya berpikir kamu akan marah karena saya kurang memperhatikan kamu. Ternyata saya salah. Kamu berpikir dewasa di usia kamu yang masih remaja.”


“Karena Angel menyayangi Bapak. Angel harus menerima semua kekurangan dan kelebihan yang Bapak miliki.”


“Oh ya, masih ada satu hal yang ingin saya bicarakan sama kamu.”


“Apa itu ?”


“Kamu telah berjanji untuk memberikan jawaban atas pengakuan cinta saya, setelah saya dan Windy resmi bercerai. Apakah kamu telah memikirkan jawabannya ?”


Aku kira Pak Angga tidak ingat atas janji yang aku ucapkan waktu itu. Ternyata Pak Angga masih mengingatnya, dan kini menagih janji itu. Kali ini aku tidak bisa mengelak lagi. Aku harus menjawabnya. Karena aku telah berjanji, tidak mungkin aku ingkari.


“Angel rasa tidak perlu mengatakannya lagi.”


“Kenapa ?”


“Apakah Bapak masih tidak tahu perasaan Angel terhadap Bapak ? Setelah waktu yang kita lalui bersama ? Setelah beberapa peristiwa yang kita lewati ?”


“Apa itu artinya . . .”


Aku mengangguk pertanda iya. Dapat aku lihat sorot mata berbinar penuh kebahagiaan yang terpancar dari bola mata milik Pak Angga. Aku tidak menyangka respon yang aku berikan sangat berarti bagi dia. Pak Angga mengungkapkan perasaan bahagianya dengan bersorak-sorak tidak jelas sambil melompat dan berputar. Melihat tingkahnya yang seperti itu membuat aku lupa bahwa Pak Angga adalah sosok yang dingin.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2