
Bukan aku yang memberi tahu kepada Papah dan Mamah. Aku tidak tahu siapa yang melaporkan kepada mereka. Dari awal aku sudah berniat tidak ingin membuat mereka khawatir. Tetapi aku lupa tidak bekerja sama dengan Alessyia. Sudah pasti Alessyia yang bilang kepada kedua orang tuaku.
“Kamu kenapa gak bilang sama Papah kalau kamu masuk rumah sakit ?”
“Iya sayang kamu kenapa gak bilang ?”
“Pah, Mah, yang terpenting sekarang Angel udah baikan. Kalian sebenarnya gak perlu jauh-jauh kesini.”
“Tapi kami khawatir sayang.”
Sudah aku duga, Papah dan Mamah akan terbebani mengetahui aku di rawat di rumah sakit. Jika Papah tidak terikat oleh kontrak kerja, mungkin akan menemani aku sampai kembali sehat. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh Mamah saat ini. Sejak aku di rawat sampai sekarang dua minggu telah berlalu, Mamah masih berada di Bandung. Padahal aku sudah meyakinkan bahwa aku baik-baik saja. Tetapi Mamah masih enggan meninggalkan aku seorang diri.
“Mamah pasti jenuh ya disini terus ? Tidak bisa kemana-mana ?”
“Enggak kok sayang. Mamah senang bisa menemani kamu.”
“Mamah pulang aja ! Angel udah sembuh, Mah. Mamah gak usah khawatir ya !”
“Enggak sayang. Mamah disini sampai kondisi kamu benar-benar normal.”
Mamah sangat keras kepala. Padahal aku tidak tega melihat Mamah seperti terkurung di ruang kamar sempit. Apalagi kalau siang aku kuliah, dan Mamah hanya seorang diri. Tetapi keinginan Mamah tidak dapat berubah dengan mudah.
Keberadaan Mamah disini membuat aku tidak bisa berkomunikasi dengan Pak Angga. Terkadang kami hanya bertukar kabar melalui pesan singkat. Aku sangat merindukan Pak Angga. Aku sangat ingin menatap wajahnya. Tetapi aku tidak bisa melakukan video call jika ada Mamah di sampingku.
“Mah, Angel berangkat dulu ya !”
“Iya sayang. Hati-hati ya !”
“Kalau Mamah bosan, Mamah jalan-jalan aja.”
“Iya. Udah kamu tenang aja. Mamah gak bosan kok.”
Sejak peristiwa terkurungnya aku dengan Alessyia di sebuah gudang, Kak Reza selalu berada di samping kami. Ia menjemput aku dan Alessyia, dan mengantarkan kami setelah pulang kuliah. Kak Reza tidak mau hal buruk terjadi lagi karena perbuatan Mozea. Bahkan ketika berada di lingkungan kampus, Kak Reza beserta rekannya selalu mengawasi aku dan Alessyia.
Awalnya aku merasa tidak nyaman karena selalu diawasi. Tetapi aku sadar ini semua demi kebaikan diriku sendiri. Lama-lama aku terbiasa dengan kehadiran Aldo dan Beni, rekan Kak Reza yang selalu bersama.
Sore itu aku, Alessyia, Kak Reza beserta dua rekannya yang tak pernah ketinggalan sedang menikmati ramainya kota di sore hari. Berada pada sebuah kafe yang terletak di depan kampus. Alessyia meminta ijin untuk pulang lebih dulu karena harus ke mini market untuk belanja keperluan bulanan. Tentu saja Kak Reza tidak akan membiarkan Alessyia pergi sendiri.
“Angel kamu ikut aja, yuk !”
“Tidak usah, Kak. Angel langsung pulang aja. Kasihan Mamah nunggu sendirian.”
__ADS_1
“Ya udah Kakak antar kamu dulu.”
“Enggak usah, Kak. Udah Kakak gak usah khwatir ya. Lagian udah dekat kok dari sini.”
“Atau kamu di antar sama Aldo dan Beni aja, Ya.”
“Siap, Za. Udah tenang aja. Angel biar gue yang antar sama Beni.”
“Gak usah, Kak. Serius deh. Kayanya juga gak mungkin Mozea ganggu Angel lagi.”
Aku tidak mau merepotkan orang terus. Kebaikan mereka telah sangat banyak kepada aku. Tetapi aku belum tentu bisa membalas kebaikan mereka. Aku tidak mau malah ketergantungan untuk terus meminta pertolongan dari orang lain.
Alessyia dan Kak Reza telah berlalu meninggalkan kami. Tidak lama kami juga segera menyelesaikan minuman yang masih tersisa. Aku berjalan berbeda arah dengan Kak Aldo dan Kak Beni. Sebenarnya aku masih sedikit takut jika pergi sendiri. Trauma jika suatu hal buruk akan menimpa lagi kepadaku. Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Tenang Angel. Tidak akan terjadi apa-apa.”
“Tenang. . .”
“Tenang. . .”
Aku berusaha untuk mengontrol emosi agar oksigen yang masuk berjalan lancar. Ternyata ketakutan semakin nyata kala tanganku ditarik dari arah belakang. Aku tidak tahu siapa itu. Aku tidak kuat untuk melihat orang dibelakangku.
Ketika aku membuka mata, tidak ada seseorang disana. Hanya bayangan yang terlihat dari kaca spion. Kemudian pintu dibuka, dan seseorang masuk.
“Pak Angga ?”
“Benarkah ini Pak Angga ?”
Aku berusaha meyakinkan bahwa penglihatanku tidak salah. Mataku di kucek. Namun yang aku lihat masih sama. Aku mencubit sosok yang saat ini berada di depanku. Ia tidak mengeluarkan suara apapun.
“Enggak. Ini bukan Pak Angga. Angel harus segera keluar.”
Pintu mobil telah terkunci. Aku tidak bisa melarikan diri. Aku benar-benar takut. Siapa dia sebenarnya ? Wajahnya mirip Pak Angga, tetapi tidak ada respon apapun darinya. Pak Angga tidak mungkin membawaku seperti sedang menculik. Mungkinkah seseorang yang menyerupai Pak Angga yang berniat jahat kepadaku ?
“Hahahaha.”
“Kamu kenapa panik banget sayang ?”
“Ini aku Angga Sutantyo. Kamu pikir saya hantu atau apa ?”
Benar-benar kesal aku dibuatnya. Aku sedang ketakutan, kemudian tiba-tiba dia datang dengan gaya seorang penculik. Bagaimana aku tidak panik ? Aku segera melampiaskan kekesalanku dengan memukul-mukul Pak Angga.
__ADS_1
“Aww . . aww sakit.”
“Ih kesal. Sebal.”
“Aaawww gemas. Lucu banget sih.”
Pak Angga mencubit kedua pipiku secara bergantian. Kemudian ia menahan pergerakan tanganku yang masih meluapkan dendam kepadanya.
“Bapak kenapa sih pakai cara seperti tadi ? Enggak lucu tahu.”
“Iya maaf. Itu mulutnya ya ampun kaya bebek monyong gitu. Hahaha.”
Aku segera mencubit kembali Pak Angga. Aku tidak peduli Pak Angga mengaduh kesakitan. Setelah dendam ku terbalaskan, mungkin aku baru bisa berhenti. Pak Angga tidak membalas cubitanku. Ia malah membawa aku ke dalam pelukannya.
“Aku kangen sama kamu. Maafkan aku. Aku telah berjanji untuk selalu menemani kamu, tapi nyatanya aku malah membiarkan kamu kesakitan sendiri. Bahkan aku tidak berada di samping kamu ketika kamu kesusahan.”
Entah mengapa tiba-tiba air mataku menetes. Aku membalas pelukan Pak Angga dengan lebih erat. Aku ingin meluapkan kesedihanku kepada seseorang yang sangat aku rindukan. Banyak cerita yang ingin aku utarakan. Tentang waktu, dan tentang hari yang tidak Pak Angga ketahui.
“Maafkan aku karena aku tidak menyediakan bahu untuk kamu bersandar. Aku tidak bisa mendengarkan semua keluh kesah yang kamu rasakan. Menangislah. Jangan takut untuk terlihat cengeng. Menangis bukan berarti lemah. Karena Tuhan menciptakan air mata agar membuat hati seseorang menjadi lebih tenang.”
“Angel tidak mengerti kenapa jalan hidup terasa berliku. Angel selalu mendapati jalan yang berlubang. Semua tidak berjalan mulus seperti harapan.”
“Kenapa kesulitan selalu menimpa Angel ? Dan kenapa ujian tiada henti-hentinya menghampiri Angel ? Angel sakit. Angel tidak kuat terus menerus berdiri pada duri tajam.”
“Percayalah ! Tuhan memberikan ujian tidak akan melebihi batas mampu dan sanggup hamba-Nya. Jika kamu merasa cobaan hidup kamu berat, itu karena Tuhan menyayangimu. Karena Dia ingin mengangkat derajat kamu.”
“Sebenarnya kamu telah berhasil melewatinya. Kamu mampu berjalan di atas seutas tali. Dan kamu mampu berdiri di atas duri tajam. Masalah yang datang kepadamu, itu akan mendewasakan kamu !”
*Bersambung*
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak melalui like, komen, rate & vote🥰🥰
Terimakasih 🙏🙏
__ADS_1