
Awalnya aku berpikir bahwa kedewasaan seiring dengan bertambahnya usia. Ternyata aku salah. Dewasa beriringan dengan datangnya masalah. Usia tidak menjamin seseorang bisa bersikap dewasa. Tetapi, kisahlah yang mendewasakan kita melalui luka.
Dred. .dred. .
“Hallo.”
“Sayang kamu dimana ? Belum pulang ?”
“Angel lagi bersama Pak Angga, Mah.”
“Lho gimana ceritanya kok bisa bareng Pak Angga ?”
“Nanti aja ceritanya ya, Mah. Angel tidak akan lama kok.”
Aku sudah berjanji tidak akan berbohong lagi. Keledai juga tidak jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Begitu juga dengan diriku, aku tidak mungkin melakukan kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya.
Pak Angga melajukan mobilnya membelah jalanan kota Bandung. Aku telah melontarkan beberapa pertanyaan kepadanya, namun tak ada satupun yang mendapatkan balasan. Ia hanya melirik ke arahku sembari menunjukkan senyuman termanis yang dimiliki olehnya. Tadinya aku kesal dan ingin marah, tetapi melihat senyumannya amarahku kembali meredam.
Tibalah di suatu tempat. Tidak terlalu ramai, tetapi tidak terlalu sepi juga. Aku tahu Pak Angga tidak menyukai tempat-tempat bising yang terlalu padat. Disana terdapat beberapa pohon besar yang sudah lumayan tua. Dilengkapi dengan pohon-pohon hias kecil, dan juga beberapa jenis tanaman bunga. Sayangnya mereka masih belum bermekaran.
“Siapa pria yang tadi bersama kamu ?”
“Pria ? Pria yang mana ?”
“Yang tadi di kafe.”
“Oohhh mereka Kak Aldo sama Kak Beni. Mereka yang menjaga Angel dari Geng Mozea. Tapi bagaimana Bapak bisa tahu ?”
“Aku telah menunggu kamu sebelum kamu keluar dari kampus. Aku kira kamu akan langsung pulang. Ternyata malah nongkrong dulu.”
“Ih kan Angel juga sama Alessyia, Pak. Lagian kita tuh dekat udah kaya adik-kakak.”
“Siapa pria yang jalan sama Alessyia.”
“Oh itu Kak Reza. Dia pacarnya Alessyia.”
“Kamu yakin dia pacarnya Alessyia ?”
“Iya, Pak. Mereka pacaran.”
“Sepertinya dia menyukai kamu.”
“Hahaha tidak mungkin dong, Pak.”
“Angel dengarkan ! Aku ini seorang pria. Aku bisa tahu jika dia menyukai kamu. Tatapan matanya sangat dalam kepada kamu, Angel.”
Aku sama sekali tidak menggubris perkataan Pak Angga. Tidak mungkin Kak Reza menyukai aku. Dia adalah pacar Alessyia. Aku harap apa yang dikatakan Pak Angga tidaklah benar.
Sepertinya aku melupakan sesuatu. Aku belum memikirkan bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada Mamah. Apa yang akan aku katakan perihal aku bisa ketemu sama Pak Angga.
__ADS_1
“Tujuan Bapak kesini untuk apa ?”
“Untuk menjenguk pacar. Emangnya gak boleh ?”
“Iihh bukan seperti itu. Tapi bagaimana caranya menjelaskan sama Mamah ?”
“Udah gak usah dipikirin. Oh iya, maaf aku datang terlambat.”
“Bapak jangan minta maaf terus. Bapak tuh gak salah apa-apa.”
“Alessyia mengabari bahwa kamu masuk rumah sakit. Tapi aku tidak bisa datang karena jadwal ulangan tengah semester.”
“Iya Angel ngerti. Tapi sekarang Angel senang karena Bapak ada disini.”
Aku tidak mau menjadi orang yang terus lupa waktu. Sekarang waktunya aku untuk pulang ke kost-an. Aku tidak mau Mamah menunggu terlalu lama seorang diri. Meskipun sebenarnya aku masih merindukan Pak Angga. Tetapi aku tidak mau membuat Mamah khawatir.
Sebentar, sepertinya ada yang berbeda dari penampilan Pak Angga. Tapi apakah itu ? Gaya rambutnya masih sama. Fashionnya masih sama. Kumis tipisnya masih ada. Tetapi aku merasa ada yang berbeda dari biasanya.
“Oh iya Angel baru ingat.”
“Kenapa ? Kamu bikin kaget aja.”
“Motor merah Bapak kemana ?”
“Ya ampun Angel kirain ada apa.”
“Kemana ? Ayo jawab Angel ! Jangan-jangan Bapak jual, ya ?”
“Iya udah dijual.”
“Ihh kenapa ?”
Entah kenapa aku merasa sedih mendengar si merah telah berpindah pemilik. Bagiku, si merah mempunyai banyak kenangan. Klakson si merah yang mengagetkan aku ketika duduk sendiri di gerbang sekolah. Aku dibonceng Pak Angga untuk pertama kalinya oleh si merah. Dan aku bisa mengenali Pak Angga meskipun sedang menyamar karena adanya si merah.
“Enggak sayang. Si merah gak dijual. Tapi ketika aku mau kesini si merah masuk bengkel. Mungkin udah lama juga tidak di service. Jadi terpaksa deh bawa si hitam ini.”
“Yaahh padahal Angel kangen sama si merah.”
“Oh gitu, jadi kangennya sama motornya, bukan sama orangnya.”
“Iya. Hahaha.”
Pak Angga berusaha mengejarku. Tetapi kali ini aku tidak akan kalah berlari. Karena jika aku kalah sudah pasti akan mendapatkan hukuman darinya. Berupa cubitan yang selalu mendarat di pipi.
“Sebentar Pak. Angel lupa. Kita harus pulang sekarang.”
“Ya udah ayo !”
“Tunggu.” Aku menarik tangan Pak Angga.
__ADS_1
“Ada apa lagi Angel ? Katanya kita harus segera pulang.”
“Tapi Bapak bantuin ya buat bicara sama Mamah.”
“Terserah itu urusan kamu.”
Pak Angga berlalu begitu saja. Aku terus memohon kepada dia agar membantu aku untuk menjelaskan pada Mamah. Namun lagi lagi ia menolak dan mengatakan bahwa itu bukan urusan dia. Padahal nantinya dia juga akan mendapatkan masalah. Bagaimana jika Mamah marah ? Pasti Mamah tidak akan mengijinkan aku untuk bertemu dengannya lagi. Apa Pak Angga mau kita gak bisa ketemu lagi ?
Sedan hitam telah tiba di depan gerbang sebuah bangunan bertingkat. Seseorang membuka pintu keluar. Tetapi aku ragu untuk melangkahkan kaki. Ia mengulurkan tangan. Aku menatapnya. Tatapan yang menenangkan. Aku menyambut uluran tangan darinya.
Ketika tiba di depan pintu, Pak Angga melepaskan tanganku dan mempersilahkan agar aku membuka pintunya. Tanganku gemetar. Aku masih ragu untuk membawa Pak Angga ketemu sama Mamah.
Tok. .tok. .tok. .
“Sayang udah pulang ?"
Pintu dibuka dan Mamah segera memeluk aku. Tentu aku membalas pelukan Mamah. Tetapi tidak ada kata yang terucap.
“Selamat malam, Bu.”
“Oh iya ada Pak Angga. Aduh maaf ya, Pak ! Hampir saja mengabaikan kehadiran Bapak.”
Mamah menyambut hangat kedatangan Pak Angga. Mamah membawa Pak Angga masuk dan menyiapkan minuman serta beberapa snack.
“Bagaimana ceritanya kalian bisa ketemu ?”
Hal yang aku takutkan terjadi. Apa yang harus aku katakan ? Aku belum sempat memikirkan rencana. Please tolong bantu aku !
“Kebetulan saya ada kunjungan industri di daerah Bandung. Terus tiba-tiba saya ingat kepada Angel dan Alessyia yang kuliah disini. Saya ingin tahu bagaimana perkembangan mereka selama masuk kuliah.”
“Oh begitu. Saya kira Pak Angga sengaja lho mengunjungi Angel."
“Mamah ih kok ngomongnya gitu.”
“Mamah senang aja sayang kalau kamu bisa dekat sama Pak Angga.”
“Mah please !”
“Hehehe.”
“Maaf ya, Pak ! Gak usah di dengar apa kata Mamah.”
Aku sengaja melontarkan kata seperti itu agar tidak menimbulkan kecurigaan Mamah. Aku masih tidak yakin Mamah akan tetap menyukai Pak Angga setelah mengetahui status Pak Angga yang sebenarnya.
Tetapi aku juga sadar bahwa hal tersebut lama-lama akan terbongkar. Bau bangkai akan tetap tercium meskipun telah berusaha untuk menutupinya. Aku harus berusaha mengumpulkan keberanian. Tetapi untuk sekarang aku belum siap. Aku belum siap untuk kemungkinan terburuknya.
Sudah aku katakan bahwa aku bukanlah orang yang mudah jatuh cinta. Mempercayai seseorang untuk menitipkan hati tidak semudah membalikan telapak tangan. Aku hanya mempercayai Pak Angga. Kepadanya aku yakin jika dia mampu menjaga hati. Pak Angga, dialah satu-satunya orang yang aku cinta saat ini, esok, dan selamanya.
*Bersambung*
__ADS_1