
Entah dorongan dari mana yang membuat hati aku berani untuk mengambil keputusan yang sangat sulit. Bukan hal yang mudah meskipun hanya sekedar memberikan jawaban. Mungkin ada yang berpikir terlalu lebay bagi kebanyakan orang yang tidak mengerti dengan perasaan aku. Dan ada juga yang berpendapat bahwa aku munafik, karena berpura-pura tidak mau padahal sebenarnya suka.
Aku sadar bahwa aku menyukainya. Dan aku mengakui, bahwa aku jatuh cinta terhadap dia. Sama dengan dia, aku tidak tahu kapan dan bagaimana perasaan ini tercipta. Entah itu karena telah lama kita saling mengenal, atau waktu yang kita habiskan bersama beberapa hari terakhir.
Dengan jantung yang berdegup kencang, tangan yang gemetar memegang smartphone, akhirnya aku telah berani untuk maju selangkah.
‘Ada hal yang perlu Angel bicarakan. Biasakah kita bertemu ? Angel tunggu jam 18.30 di kafe Carita.’
Tidak ada jawaban darinya. Aku sempat ragu untuk menuju kafe Carita. Aku tidak yakin dia akan datang. Karena pesan singkat yang aku kirimkan kepadanya saja sama sekali tidak ada respon. Atau mungkin dia tidak membacanya sama sekali.
Lagi lagi tekadku berkata untuk datang. Perihal dia tidak hadir, itu justru akan meyakinkan aku bahwa dia tidak sungguh-sungguh mencintaiku. Tetapi, bagaimana jika dia tidak membaca pesannya ? Aku yakin walaupun hanya 30 detik dia akan memeriksa smartphonenya.
5 menit . . .
10 menit . . .
15 menit . . .
20 menit . . .
"5 menit lagi. Aku tungu 5 menit lagi. Jikalau tidak datang aku akan pulang."
5 menit kemudian tapi sosok yang ditunggu sedari tadi belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Aku janji 5 menit lagi. Jika dia masih tidak datang. Aku berjanji tidak akan pernah menemuinya lagi."
Hanya tinggal 60 detik lagi, maka kesempatan yang diberikan olehku akan habis.
“Maaf ! Tadi saya terjebak macet di jalan. Ada kecelakaan.”
Beruntunglah aku belum balik kanan meninggalkan kafe Carita, sosok yang ditunggu akhirnya datang juga. Tentu saja aku tidak langsung to the point, setidaknya ada kalimat basa-basi sebagai pembuka.
“Kecelakaan ? Kecelakaan apa ?”
“Kecelakaan lalu lintas, tabrakan antara dua pengendara motor.”
“Bapak tidak apa-apa kan ?”
“Tentu tidak. Sekali lagi saya minta maaf telah membuat kamu menunggu lama !”
“Syukurlah kalau Bapak tidak apa-apa.”
“Katanya ada yang mau kamu bicarakan, tentang apakah itu ?”
“Angel akan memberikan jawaban. Jawaban perihal pengakuan perasaan Bapak kepada Angel.”
__ADS_1
“Jadi, jawaban apa yang akan kamu beri ?”
“Angel mau. Angel mau menerima Bapak.”
“Serius ?”
“Dengan satu syarat !”
“Apa itu ?”
“Setelah Bapak resmi bercerai dari istri Bapak. Angel bersedia menjadi kekasih Bapak.”
“Apakah untuk saat ini kita tidak bisa dekat ?”
“Boleh. Asalkan tidak terlalu sering. Angel tidak mau menjadi bahan gunjingan orang-orang.”
Sebenarnya aku berani mengambil keputusan itu tidaklah sepenuh hati. Masih ada keraguan yang menghantui pikiranku. Bagaimana jika orang tuaku mengetahui aku berhubungan dengan pria yang telah menikah, dalam artian lain menyandang status duda.
Papah dan Mamah memang menyukai Pak Angga, tapi itu sebelum mereka mengetahui status pernikahan Pak Angga. Suatu saat nanti setelah mereka mengetahui yang sesungguhnya, apakah mereka akan masih menyukainya ? Atau justru mereka akan membenci Pak Angga ?
Aku akan menyelesaikan permasalahanku satu per satu. Pertama aku telah memberitahu kepada Pak Angga kejujuran hatiku. Kedua aku akan mengurus perihal masuk Universitas. Dan selanjutnya aku akan mengatakan kejujuran kepada Papah dan Mamah tentang apa yang tidak mereka ketahui tentang Pak Angga.
Melalui jaringan internet aku dan Mamah melakukan panggilan video dengan Papah. Bukan untuk sekedar melepas kerinduan, melainkan untuk mengambil suatu keputusan yang akan berpengaruh pada karir aku di masa yang akan mendatang.
“Pokoknya kamu harus kuliah disini ! Biar Papah bisa mengawasi.”
“Tapi sayang, Papah benar. Kalau kamu tidak sama Papah, siapa yang akan mengawasi kamu ?”
“Pah, Mah Angel udah besar. Angel bisa jaga diri sendiri.”
“Tidak bisa. Kamu harus ikut Papah ! Biar Papah masukkan kamu di Universitas Negeri ternama.”
“Ya sudah iya. Terserah Mamah sama Papah aja. Angel akan ikutin apa kemauan kalian.”
Ternyata tidak semua keinginanku dapat terwujud. Sepertinya aku lupa kalau Mamah sama Papah mempunyai sifat over protektif terhadapku. Mengijinkan aku tinggal jauh dari mereka, tanpa ada seseorang yang mengawasi, sepertinya itu tidak akan pernah terjadi.
Menjadi anak semata wayang memang selalu kelihatan enak, apapun akan dituruti. Tetapi tidak sepenuhnya menyenangkan, aku selalu merasa terkekang. Setiap keinginanku tidak bisa aku putuskan sendiri, harus selalu mengikut sertakan Mamah dan Papah untuk mengambil hasil akhir.
Tetapi aku sadar, mereka bersikap seperti itu karena rasa sayangnya besar kepadaku. Mereka takut jika sesuatu hal buruk menimpa padaku. Dan aku tidak bisa menyalahkan mereka. Mungkin suatu hari nanti jika aku telah menjadi orang tua akan berlaku sama seperti mereka kepada anakku.
“Cha . . Hiks . .”
“Angel lo nangis ? Ada apa ?”
“Gue sedih, Cha . . hiks . .hiks . .”
__ADS_1
“Lo kenapa ? Pak Angga nyakitin lo ? Iya ?”
“Hiks . .hiks . .”
“Cerita sama gue ! Biar gue kasih pelajaran tuh orang.”
“Bukan itu, Cha.”
“Iya terus kenapa ? Lo tenang dulu !”
“Gue gak bisa kuliah ditempat keinginan gue.”
“Lho kenapa ?”
“Orang tua gue gak ngijinin, Cha. Mereka nyuruh gue kuliah di Ibu Kota. Terus gimana dong Cha ? Kita akan berpisah. Kita gak bisa bersama lagi. Hiks . . .hiks . . .”
“Tapi mereka tahu yang terbaik buat anaknya, Ngel.”
“Iya Cha gue tahu. Tapi gue gak mau pisah sama lo. . .”
“Gue juga gak mau pisah sama lo, Ngel.”
“Please bantuin gue supaya bisa kuliah bareng lo !”
“Ya udah lo tenang dulu ! Gue akan usahain supaya lo bisa kuliah bareng gue.”
“Gimana caranya, Cha ? Lo tahu keputusan mereka tidak bisa diganggu gugat kan ? Apalagi Papah, gak ada yang bisa ngebantah kemauannya.”
“Gue akan coba bicara sama bokap dan nyokap lo dan ngeyakinin mereka. Udah lo jangan nangis lagi, ya ! Pokoknya bagaimanapun caranya kita akan sama-sama terus.”
“Makasih ya, Cha. Sumpah lo emang sahabat terbaik gue. Gue gak bisa ngebayangin kalau kita berpisah, Cha.”
“Jangan ngomong gitu dong, Ngel. Gue jadi sedih.”
“Gue takut suatu hari nanti lo bertemu seseorang yang lebih baik dari gue, mengerti dan perhatian sama lo melebihi gue. Dan lo perlahan melupakan gue, Cha. Gue gak mau.”
“Angel lo gak boleh ngomong gitu. Gue gak akan pernah ninggalin lo, apalagi ngelupain lo. Dan apa kata lo barusan ? Orang yang lebih baik dari lo?”
“Iya, Cha.”
“Bagi gue, lo sahabat terbaik gue. Gue gak yakin ada yang lebih baik dari lo. Mungkin ada yang kata lo itu baik, tapi gue tidak yakin dia akan nerima segala kekurangan gue. Gue dengan suara cempreng gue. Dan gue yang selalu membuat orang lain kaget. Cuma lo yang sabar ngadepin sikap aneh gue.”
Mungkin karena aku tidak mempunyai adik atau kakak, jadi aku telah menganggap Alessyia saudara kandungku sendiri. Aku takut akan kehilangan dia. Sama seperti aku kehilangan orang yang sangat aku sayangi. Tetapi ini berbeda, bukan cinta kepada pria.
Mungkin bagi yang berada di posisiku, akan mengerti bagaimana rasanya. Atau bagi yang tidak merasakan seperti aku, bisa bayangkan bagaimana sakitnya kehilangan ?
__ADS_1
Hal yang paling menyedihkan adalah menjadi yang ditinggalkan, bukan ?
*Bersambung*