My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-86 Baku Hantam


__ADS_3

Weekend dua hari, yaitu sabtu dan minggu. Tetapi bagiku belum cukup. Dua hari tidak cukup untuk merefresh otak dari penatnya tugas-tugas kuliah. Tapi apalah daya diri ini, hanya bisa mengikuti waktu yang terus berjalan tanpa bisa menghentikannya, walaupun hanya sedetik.


Senin pagi aku sambut dengan senyuman yang menyimpan beberapa keluhan. Tempat tinggal yang selalu berantakan. Serta tugas kuliah yang selalu muncul tanpa henti.


“Cha, kemarin gue lihat Kak Beni jalan sama Clarissa.”


“Serius lo ? Dimana ?”


“Gue gak tahu mereka kemana. Gue cuma lihat mereka di jalan di dalam mobil.”


“Kak Beni semakin dekat aja sama Clarissa. Kalau udah seperti itu akan susah menceritakan yang sesungguhnya kepada Kak Beni.”


“Cerita ? Cerita apa sih ?”


Seketika aku dan Alessyia menghentikan obrolan kami pagi ini. Kami tidak menyadari jika ada orang lain yang sedang menguping omongan kami. Kak Aldo muncul dari belakang dan langsung bertanya hal apa yang sedang aku dan Alessyia bincangkan.


Tentu aku bingung harus bercerita kepada Kak Aldo atau tidak. Alessyia juga langsung diam seribu bahasa. Bagaimanapun, Kak Aldo sangat dekat dengan Kak Beni. Bagaimana jika Kak Aldo juga tidak mempercayai ucapanku dan tetap memihak kepada Clarissa. Kak Aldo akan marah kepada aku dan Alessyia.


“Cha, cerita apa ? Kok bawa nama-nama Beni ?”


“....”


“Angel, ada cerita apa ?”


“...”


“Ini ada apa sih ? Kok kalian pada diam ?”


Beruntunglah bel pertanda akan dimulai jam pelajaran pertama telah berbunyi. Sehingga kali ini aku bisa menghindari pertanyaan dari Kak Aldo.


“Kak udah masuk. Kita ke kelas dulu ya !”


“Ehh tunggu...tunggu !”


Aku menggandeng Alessyia dengan langkah yang sangat cepat. Permintaan Kak Aldo untuk menghentikan langkah kami tidak di dengar sama sekali.


“Pagi anak-anak !”


“Pagi Pak...”


“Kalian curang nih. Kan Bapak nyapanya lengkap dengan bentuk jamak, yaitu anak-anak.”


“Kan kita juga lengkap Pak. Pagi Pak...” Debat salah satu mahasiswa yang dipercaya menjadi pemimpin di kelas kami.


“Bukan seperti itu.”


“Lantas, apakah kita harus menjawabnya dengan Pagi Pak-Pak...”


“Hahaha.”


Guyonan sang ketua kelas membuat semua penghuni ruangan tertawa renyah.


“Bukan seperti itu juga. Kalian harus lengkap memanggil dengan nama.”


“Oh seperti itu.”


“Iya. Ayo coba gimana ?”


“Pagi Pak Jaka...” Ucap kompak semua mahasiswa.

__ADS_1


“Nah begitu kan bagus.”


“Hahaha.”


Aku bersyukur Pak Jaka yang menjadi pembuka pembelajaran di setiap Senin pagi. Aku berpikir kalau hari Senin adalah awal dari hari-hari yang lain. Bagaimana kia menjalani hari dalam seminggu itu tergantung pada hari Senin.


Jika pada hari Senin lancar tanpa halangan, gembira bahagia. Maka ada harapan di hari berikutnya juga akan seperti itu. Tetapi jika di hari Senin sudah kurang semangat, maka menjalani hari ke depannya juga akan kurang semangat.


Meskipun tidak semua hari berjalan sama. Ada kalanya pada hari pertama gembira, hari esok berduka. Dan ada kalanya hari pertama berduka, hari esok bahagia. Begitulah hidup. Kita hanya perlu menjalani peran dan mengikuti alur yang telah Tuhan berikan.


“Oke anak-anak, cukup sekian pertemuan kita hari ini. Semoga kalian bahagia selalu.”


“Aamiin. Terimakasih Pak.”


Entah apa yang sedang merasuki Pak Jaka, dengan sangat baik hati ia meninggalkan kelas tanpa memberikan oleh-oleh untuk minggu depan. Biasanya tiada pertemuan tanpa tugas. Tetapi sekarang ia keluar begitu saja.


“Cha, kok tumben Pak Jaka gak ngasih tugas ?”


“Yeay. Harusnya senang dong gak ada tugas.”


“Ya gue senang. Pakai banget malah. Tapi ya gue heran aja.”


“Mungkin moodnya lagi baik. Atau dapat jatah kali dari istrinya.”


“Cha, Pak Jaka kan single.”


“Oh iya, Hahaha gue lupa.”


“Ini pesanannya. Silakan dinikmati !”


“Terimakasih, Bu.


Aku dan Alessyia sejenak melupakan gosip tentang Pak Jaka. Kami menikmati es teh manis yang membasahi tenggorokan. Sebelum kuah bakso terserap oleh mienya, kami segera menyantapnya dengan uap yang masih terlihat. Bahkan karena ketidak telitian diriku, kuah panas itu seperti membakar lidahku.


“Ini minum dulu ! Lo sih buru-buru banget makannya.”


Aku mengambil gelas berisi es teh yang telah disodorkan Alessyia. Dan dengan buru-buru ingin menghilangkan rasa panasnya, minuman tersebut tersedak di kerongkonganku.


Uhuk...uhuk...


“Kalau makan pelan-pelan ! Gak akan ada yang akan merebutnya dari kamu kok.”


Kak Aldo yang baru tiba langsung menepuk-nepuk pelan punggungku dan memberikan beberapa nasihat. Aku mendengar jelas ucapan Kak Aldo. Tetapi aku tidak bisa menjawabnya. Kuah bakso yang pedas membuat kerongkonganku terasa perih. Apalagi lidahku yang terbakar seperti mati rasa.


“Udah Kak. Makasih ya.”


“Udah baikan ?”


“Heem.”


Setelah aku merasa baikan, Kak Aldo segera menduduki kursi di samping Alessyia berhadapan denganku. Tak lama kemudian Ibu pelayan kantin membawa makanan pesanan Kak Aldo.


“Terimakasih, Bu.”


“Sama-sama Mas.”


Sama dengan aku, Kak Aldo juga menyantap makanannya dengan tergesa-gesa. Bedanya, ia lebih berhati-hati dan meniup terlebih dahulu sebelum makanan itu mendarat di lidahnya.


“Kakak sendirian ? Kak Beni mana ?”

__ADS_1


“Beni ada pertemuan singkat pemain basket.”


“Lho, kok Kakak gak ikut.”


“Iya tadi Kakak ijin sebentar buat makan. Soalnya lapar banget. Belum makan apa-apa dari pagi. Oh iya, tadi kalian ngomongin apa sih ? Kenapa nama Beni dibawa-bawa ?”


Aku menatap Alessyia dengan penuh tanda tanya dibalik tatapan itu. Sepertinya Alessyia juga seperti itu. Dia menyimpan sejuta keresahan dibalik sorot matanya.


“Kenapa kalian diam ? Ada apa sih ?”


“Eu-eu...”


“Tapi Kak Aldo janji ya jangan bilang dulu sama Kak Beni !”


“Iya. Emangnya ada apa sih ?”


“Kakak ingat kan wanita yang bersama Kak Beni di pesta topeng ?”


“Heem.”


“Dia Clarissa...”


“Yang model itu kan ?”


Alessyia menyerobot jawabanku. Ia menjelaskannya kepada Kak Aldo.


“Dia itu selingkuhannya Frans, Kak.”


“Frans ? Frans yang mantan kamu itu, Ngel ?”


Aku hanya mengangguk. Entah semangat atau mungkin rasa kesal yang membuat Alessyia sangat antusias menceritakan kehidupan Clarissa kepada Kak Aldo. Termasuk tentang peristiwa dengan Frans di villa keluarga Haritama.


“Kita harus kasih tahu Beni sekarang juga. Kakak gak mau Beni terjebak cinta wanita berbulu domba itu.”


“Kak, tidak semudah itu. Angel rasa Kak Beni telah jatuh cinta sama Clarissa. Angel melihat mereka jalan berdua kemarin.”


“Justru itu. Sebelum semuanya terlambat. Sebelum perasaan Beni lebih dalam sama wanita yang harga dirinya telah hilang itu.”


“Do, maksud lo apa bilang Clarissa gak ada harga drinya ?”


“Dia emang gak punya harga diri, Ben. Harga dirinya telah hilang.”


Bukk !!!


Kak Beni tiba-tiba datang dengan muka yang meradang. Sepertinya ia mendengar ucapan Kak Aldo yang berbicara buruk tentang Clarissa. Aku dan Alessyia telah berusaha untuk memisahkan mereka. Tetapi sudah terlambat. Kak Aldo telah jatuh tersungkur akibat pukulan yang mendarat di mukanya. Bahkan Kak Beni belum juga berhenti, ia masih menggenggam kerah baju Kak Aldo dan siap-siap melayangkan pukulan lagi.


“Kak Stop !”


“Angel mohon berhenti !”


Semua yang hadir di kantin menyaksikan dua pria yang terkenal sangat akrab sedang berselisih paham. Bahkan sampai harus baku hantam dan mengakibatkan salah seorang terluka. Kak Aldo berusaha untuk menyadarkan Kak Beni tanpa melakukan perlawanan. Begitupun aku dan Alessyia berusaha untuk memisahkan mereka berdua.


*Bersambung*


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🤭🥰


Terimakasih 🙏


__ADS_2