My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-23 Jumpa Pertama Dengan Calon Buah Hati


__ADS_3

Pekan ini Mamah sedang berada di Ibu Kota. Sebelumnya Papah meminta Mamah untuk datang menemani Papah dalam sebuah event. Kata Papah semua rekannya di dampingi oleh istri-istri mereka. Papah juga ingin Mamah mendampingi Papah.


Aku tidak masalah, lagian di rumah ada Bi Dara yang menemani. Aku juga kasihan jika Papah hanya seorang diri menyaksikan rekannya bersama pasangannya. Hal itu juga sedikit menguntungkan bagiku, karena aku tidak perlu susah-susah mencari alasan untuk berbohong sama Mamah.


“Bi, Angel keluar sebentar.”


“Non mau kemana ? Nanti kalau Ibu sama Bapak nanyain Non gimana ?”


“Bibi kasih tahu aja kalau Angel ada acara kelas. Sama Alessyia juga.”


Lagi-lagi maafin gue, Cha ! Nama lo gue pinjam untuk membantu gue lolos. Semoga lo dapat memahaminya.


“Sudah siap ?”


“Emm, kayaknya Angel naik taksi online aja ya, Pak.”


“Kenapa ? Kamu gak mau bareng sama saya ?”


“Bukan itu. Tapi Angel pake dress. Kayanya kalau naik motor sedikit susah.”


“Baiklah. Saya akan mengikuti dari belakang.”


Sebelumnya memang belum pernah aku mengenakkan dress ketika pergi bersama Pak Angga. Biasanya hanya mengenakan outfit santai dengan celana jeans disertai kaos atau kemeja. Tetapi untuk pertama kalinya, aku mau tampil berbeda, khusus untuk berjumpa dengan Rendy.


“Pak tolong antarkan ke Gang Situba, No.2, Cilekong !”


Mobil hitam telah melaju dengan diikuti motor merah dari arah belakang, setelah sebelumnya Pak Angga membuka pintu kursi penumpang, dan meminta drivernya untuk mengantarkan ke alamat yang telah disebutkan.


“Ini Pak bayarannya !”


“Ih gak usah biar Angel aja !”


“Udah gak papa. Ayo turun.”


“Ih tunggu-tunggu. Makasih ya, Pak.”


“Iya Neng, sama-sama.”


“Kamu gemetar.”


“Haah ? Ti-tidak.”


“Tidak tapi bicaranya gugup seperti itu.”


Sudah tahu aku tidaklah pandai berbohong. Kenapa pula harus berbohong ? Jelas Pak Angga akan mengetahui kalau sebenarnya saat ini aku benar-benar gugup. Rasanya kurang lebih sama sewaktu sekolah diadakan ulangan dadakan. Padahal kali ini aku telah diberitahu sebelumnya, seharusnya sudah ada persiapan. Tetapi masih saja tidak dapat mengendalikan rasa nerveous ini.


“Tenanglah. Tidak usah takut ! Ada aku disampingmu.”


Pak Angga menyelimuti kedua lenganku yang sedari tadi berpagutan untuk menghilangkan rasa dingin. Suhu udara tidak terlalu rendah malam itu, tetapi karena kecemasanku membuat badanku terasa panas dingin. Tetapi sedikit mulai menghangat karena perkataan yang diucapkan oleh Pak Angga. Apalagi menyebut dirinya ‘Aku’ entah mengapa aku begitu senang mendengarnya. Hal tersebut seakan mengikis jarak di antara kami.


“Ayah . . .”


“Hallo sayang."


Aku tersenyum kala anak kecil bermata indah, persis seperti mata milik Pak Angga berlari menghampirinya. Pak Angga segera membuka lebar-lebar kedua lengannya untuk menyambut anak kecil tersebut dalam pelukannya.


“Kangen gak sama Ayah ?”

__ADS_1


“Kangen. Rendy kangen banget sama Ayah.”


“Rendy sayang gak sama Ayah ?”


“Sayang banget.”


“Kalau gitu bilang apa ?”


“I love you, Dady.”


Aku tidak menyangka Pak Angga bisa sebegitu hangat dengan Rendy. Aku kira Pak Angga adalah orang yang dingin. Tetapi setelah aku semakin mengenalnya, aku tahu bahwa Pak Angga adalah sosok pria yang penuh perhatian.


“Hallo Rendy ? Bisakah kita berkenalan ?”


“Kalau ada orang baru, Rendy harus gimana, Nak ?”


“Hallo Kakak. Nama aku Rendy. Siapakah nama Kakak ?”


“Nama Kakak Angel. Maukah Rendy menjadi teman Kak Angel ?”


“Tentu. Rendy senang mempunyai banyak teman. Kata Papah harus berteman dengan semua orang. Rendy juga tidak boleh nakal, harus menjadi anak baik, biar banyak orang yang menyayangi Rendy.”


“Anak pintar. Bisakah Kakak memeluk Rendy.”


Rupanya sebelum aku memulai, Rendy telah berlari ke arahku dan memeluk erat. Benar kata Pak Angga, Rendy anak yang welcome. Dia juga anak yang pintar, semua nasehat Ayahnya ia laksanakan dengan baik. Aku merasa senang dapat memeluk malaikat kecil seperti Rendy.


Dari arah pintu aku melihat sosok wanita paruh baya. “Itu Nenek Rendy ?”


“Bukan Kak. Itu Bi Rani.” Rendy berlari ke arah wanita paruh baya yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik kami.


“Itu bukan Neneknya Rendy. Dia adalah Rani, baby sitter yang mengurus sejak Rendy masih berusia 2 bulan.”


“Mereka meninggal 2 tahun yang lalu dalam kecelakaan mobil. Saya anak pertama dari 3 bersaudara. Adik pertama saya lelaki, dan yang kedua perempuan. Mereka telah mempunyai keluarga masing-masing. Sekarang berada di Ibu Kota.”


“Maafkan Angel ! Angel tidak tahu.”


“Tidak apa. Ayo masuk !”


Aku melingkarkan lenganku di lengan kanan Pak Angga. Aku bisa merasakan kesedihan Pak Angga. Meskipun ia tidak memperlihatkannya secara langsung, tetapi aku bisa tahu melalui caranya berbicara, suaranya sedikit berat kala menceritakan kronologis kematian orang tuanya yang menjadi korban dalam kecelakaan mobil.


Ketakutan yang sebelumnya menghantuiku kini sirna. Kedekatan aku dengan Rendy ternyata mudah terjalin. Rendy juga sepertinya mulai merasa tenang berada di dekatku. Itu bisa terbukti dengan Rendy yang tertidur dalam bantal yang aku letakkan tepat berada disampingku.


“Rendy . .”


“Rendy . .”


“Rendy ini Mamah, Nak.”


Entah siapa yang bertamu malam-malam seperti ini. Dia memanggil nama Rendy, dan menyebut dirinya Mamah. Apa mungkin dia Windy ?


“Biar saya yang keluar. Kamu tolong jaga rendy !”


“Heem.”


Aku tidak bisa ikut bersama Pak Angga untuk melihat siapa yang telah berteriak-teriak tidak tahu waktu itu. Tangan kananku digenggam erat oleh Rendy. Jika aku bergerak, takutnya Rendy akan terbangun dari tidur pulasnya. Rupanya perbincangan mereka sangat keras, sehingga aku bisa mendengarnya dengan jelas. Bahkan Bi Rani yang semula dari dapur segera menghampiri aku dan Rendy.


“Ada apa Non diluar berisik sekali ?”

__ADS_1


“Angel juga tidak tahu, Bi.”


Untung saja Rendy sama sekali tidak terusik dengan kehadiran si pengganggu malam itu. Aku segera memeluk Rendy agar ia semakin merasa nyaman.


“Tidak bisa. Kamu tidak bisa ketemu sama Rendy.”


“Tapi saya ini ibunya, Angga. Saya mau ketemu sama anak saya.”


“Kamu yang meninggalkan Rendy. Kamu tidak pantas menjadi ibunya.”


“Mau bagaimanapun, akulah yang mengandung dan melahirkan Rendy. Dalam nadinya mengalir darahku. Aku mau ketemu sama Rendy.”


“Tidak bisa dia sedang tidur. Kamu tidak boleh mengganggunya !”


“Lepasin.”


Ternyata kekuatan Windy cukup besar. Ia berhasil mengalahkan tangan Pak Angga yang berusaha menghalangi agar tidak bisa masuk.


“Kamu ? Ngapain pelakor ini disini ? Bersama anak saya ? Lepasin tangan kamu dari Rendy. Saya tidak mau Rendy disentuh oleh tangan kotor seorang pelakor.”


“Windy cukup. Kamu tidak tahu sopan santun ? Datang malam-malam dan membuat keributan.”


“Saya tidak sudi Rendy disentuh oleh seorang pelakor.”


“Oke cukup ! Angel akan melepaskan Rendy. Tapi saya mohon jangan berisik ! Rendy sedang tidur. Kasihan dia.”


Mungkin kesabaran Rendy telah habis. Kegaduhan yang tercipta telah menembus gendang telinganya. Sehingga membangunkan dia dari mimpi indahnya.


“Mamah . .”


“Rendy sini, Nak.”


Rendy segera menghampiri dan memeluk Windy. Waktu ditinggalkan oleh Windy, Rendy masih berumur 2 tahun. Entah dia masih mengingatnya atau tidak. Tetapi ia tahu muka ibu yang telah melahirkannya berkat bantuan Bi Rani. Bi Rani selalu memperkenalkan sosok Windy kepada Rendy melalui selembar foto.


“Rendy, Mamah kangen sama kamu. Rendy tahu Mamah sayang sama Rendy kan ?”


“Heem. Rendy juga sayang sama Mamah.”


“Kalau Rendy sayang sama Mamah, bisakah Rendy ikut bersama Mamah ?”


“Tidak bisa. Kamu tidak bisa membawa Rendy dari saya !”


“Saya juga ibunya. Saya berhak untuk mengurus Rendy.”


“Ayah, Rendy boleh ikut Mamah kan ? Rendy mau sama Mamah.”


Jika sudah Rendy yang meminta, Pak Angga tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia hanya bisa merelakan Rendy yang dibawa paksa dari pelukannya oleh Windy.


Aku tidak tahu harus berbuat apa. Karena jujur ini baru pertama kali aku melihat Pak Angga sampai meneteskan air mata. Karena setahu aku, Pak Angga adalah sosok yang kuat. Jika ia sampai meneteskan air mata, itu berarti sangat menyakiti perasaannya.


*Bersambung*


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate & vote 🥰🥰


Terimakasih 🙏


__ADS_2