
“Apakah itu artinya kamu memaafkan aku ?”
“Iya. Karena Angel percaya kamu bisa berubah. Seperti pepatah yang diberikan Pak Angga kepada Angel waktu lalu. Bahwa batu saja yang sangat keras bisa berlubang karena terus menerus ditetesi air. Apalagi dengan hati manusia.”
“Terimakasih.”
Berdamai dengan keadaan itu memang indah. Bisa menghilangkan penyakit hati. Salah satunya yaitu memaafkan kesalahan yang telah diperbuat orang lain. Selama kesalahannya belum terlalu parah. Dan selagi orang itu masih berani untuk meminta maaf. Apalagi sampai membuktikan ucapannya melalui tindakan, pintu maaf akan selalu terbuka.
“Bee, mau minum apa ?”
“Tidak usah. Aku buru-buru.”
“Lho, emangnya ada apa ?”
“Kamu ikut sama aku !”
“Angel ?”
Aku menunjuk menggunakan jari telunjuk ke arah diriku sendiri. Pak Angga hanya menjawabnya dengan bahasa isyarat mengangguk. Kemudian ia menarik tanganku untuk segera pergi dari sini.
“Eh bentar . . .”
“Ada apa ?”
“Angel mau ganti baju dulu. Yang ini bau keringat.”
“Kalau gitu aku tunggu di parkiran, ya !”
“Heem.”
Baju mana yang harus aku pilih ? Aku tidak tahu Pak Angga akan membawaku kemana. Aku juga lupa tidak bertanya sebelumnya.
“Duuh baju yang mana ini ?”
“Yang ini ?” Aku mengambil dress berwarna putih yang digantung di dalam lemari. “Kayak mau ke kondangan.”
“Atau yang ini ?” Kali ini dress berwarna merah berada di tangan kiriku. “Argh terlalu formal.”
“Hmm, apa yang ini ?” Setelah menyimpan dress putih dan merah, aku mengambil satu setelan pakaian. “Ini terlalu santai. Kalau Pak Angga membawaku ke tempat ramai, akan terlihat memalukan.”
Aku frustasi sampai mengacak-acak rambutku. “Aarrghh, gue pakai baju apa ?”
Aku menatap isi lemari. Aku perhatikan dari atas ke bawah. Dan penglihatanku terhenti ketika berada di tengah-tengah lemari. Gaun berwarna abu-abu, dengan ikat yang menyerupai tambang di pinggang, serta panjang dibawah lutut berhasil menarik perhatianku.
Setelah persiapan selesai. Dengan polesan make up tipis, dan rambut dibiarkan tergerai. Aku segera menjumpai pria yang sudah menunggu kehadiran diriku. Dan ia masih setia pada ucapannya. Menunggu di parkiran samping mobil hitam miliknya.
“Bee. . .”
“Sudah siap ?”
Pak Angga menoleh setelah aku memanggil namanya.
“Cantik.”
Seketika ia tidak mau berkedip. Aku segera menyadarkan dirinya. Pak Angga segera membuka pintu penumpang agar aku dapat masuk ke dalamnya. Kemudian ia berlari menuju kursi kemudi. Pedal gas dipijaknya. Perlahan tapi pasti, si hitam tengah menerobos ramainya jalanan kota Kembang.
__ADS_1
“Ayo masuk !”
Pak Angga mengulurkan tangannya mengajak aku melangkah bersama. Aku tidak tahu apakah aku salah kostum atau tidak. Tapi paling tidak apa yang aku pakai sekarang tidak terlalu memalukan untuk memasuki pusat perbelanjaan yang cukup besar.
Selama perjalanan menyusuri mall, Pak Angga menawari diriku untuk memilih apapun yang aku suka. Tetapi aku menolaknya. Bukan karena aku tidak membawa uang. Tetapi aku memang tidak membutuhkan barang-barang tersebut. Salah satu prinsip hidupku yaitu, membeli karena butuh. Bukan membeli karena ingin.
“Kakak. . .”
“Rendy. . .”
Langkah kaki aku dan Pak Angga terhenti di depan sebuah pusat permainan. Anak kecil yang sedang menaiki perosotan segera menghentikan aksinya untuk berlari menyambut kehadiranku. Dengan semangatnya yang menggelora ia segera memelukku. Aku pun membalas pelukannya lebih erat dari anak kecil itu.
“Rendy kangen sama Kak Angel.”
“Iya sayang. Kak Angel juga kangen sama Rendy.”
Aku kembali melanjutkan perkataanku, “Oh iya, karena sekarang Rendy tinggalnya dekat sama Kakak, Rendy harus sering main ke rumah Kakak ya !”
Anak kecil itu berpaling untuk menatap Ayahnya, “Yah, bolehkah Rendy bermain ke rumah Kak Angel ?”
“Boleh sayang. Biar Papah antar Rendy kalau mau ketemu Kak Angel, ya.”
“Yeeaayyy !!!”
Rendy memeluk aku dan Pak Angga bergantian. Kemudian ia kembali melanjutkan menaiki wahana yang sempat terhenti. Aku dan Pak Angga mengawasinya dari jauh. Kami duduk di kursi yang telah disediakan untuk para orang tua yang sedang menunggu anak-anaknya bermain.
“Bee. . .”
“Hem ?”
“Sepertinya Rendy sangat menyukai kamu. Setiap hari, Rendy selalu menanyakan kamu. Hari ini juga Rendy yang ingin kesini. Dan Rendy berpesan untuk membawa kamu berjumpa dengannya.”
Aku semakin tersenyum lebar mendengarkan penjelasan Pak Angga. Aku harap ini awal yang baik untuk hubungan kami berdua ke depannya.
“Rendy sendirian menunggu disini, Bee ?”
“Enggak. Sama Bi Rani. Itu dia !”
Pak Angga menunjuk ke arah wanita paruh baya yang menemani Rendy bermain. Aku berpamitan kepada Pak Angga untuk menghampiri wanita itu.
“Bii, biar Angel aja yang jaga Rendy.”
“Gak papa, Non. Biar Bibi aja. Ini kan tugas Bibi.”
“Untuk hari ini biarkan Angel yang menemani Rendy, ya Bii. Bibi cukup duduk di kursi sebelah Pak Angga.”
Bi Rani menengok ke arah Pak Angga. Melalui tatapannya seperti bertanya kepada Pak Angga, apakah boleh aku mengambil alih tugasnya. Pak Angga tersenyum sembari menganggukan kepala. Bi Rani segera berlalu menghampiri Pak Angga.
“Kak Angel. . .Kakak ada disini ?”
“Kakak mau menemani Rendy bermain. Boleh gak ?”
“Serius Kak ?”
“Heem. Itu juga kalau diijinkan sama Pangeran.”
__ADS_1
“Tentu Kak. Pangeran sangat senang bila ditemani Kak Angel.”
“Hahaha.”
Rendy mempunyai sikap persis dengan Pak Angga. Ia juga membalas gurauanku ketika memanggilnya dengan sebutan Pangeran. Bedanya dia mempunyai sikap yang lebih hangat. Tidak seperti ayahnya yang terkesan sangat dingin.
Aku menemani Rendy untuk naik beberapa permainan yang tersedia. Seperi mandi bola, ayunan, perosotan, dan masih banyak lagi. Tetapi ketika Rendy ingin menaiki jungkat-jungkit, aku bingung harus bagaimana. Karena jika Rendy melawan diriku, percuma. Tidak akan menjadi perminan jungkat-jungkit. Yang ada hanya diam membatu. Karena berat badanku tidak seimbang dengan Rendy.
“Biar Ayah bantu.”
“Serius Ayah ? Rendy bisa main jungkat-jungkit ?”
“Tentu.”
“Tapi Rendy maunya sama Kak Angel.”
“Kak Angel juga ikut, Nak.”
Pak Angga memerintahkan Rendy untuk naik di bagian depan. Kemudian ia menyuruhku untuk duduk di belakang Rendy. Setelah instruksinya berhasil, Pak Angga duduk berlawanan dengan kami berdua.
“Aaaaaa.”
“Hahaha.”
Rendy tertawa puas ketika jungkat-jungkit itu berhasil bergerak sesuai fungsinya. Aku yang mendengar tawanya juga ikut tertawa. Tawa Rendy sangat lepas tanpa beban apapun. Pak Angga juga ikut tertawa bahagia. Meskipun aku tahu lumayan susah untuk membuat tuas itu bergerak. Tetapi lelahnya terbayarkan dengan melihat Rendy bahagia.
Setelah cukup lama kami bermain, Rendy mungkin merasa lelah. Ia mengajak aku dan Pak Angga untuk istirahat di bangku yang masih kosong.
“Rendy tunggu disini, ya ! Ayah pergi dulu sebentar.”
Pak Angga melangkahkan kakinya menjauhi aku, Rendy dan Bi Rani. Ketika aku hendak bertanya akan kemana ia pergi, Pak Angga sudah semakin mempercepat langkahnya.
“Ta-daa.”
Tidak lama Pak Angga kembali dengan membawa 4 cup es krim dengan rasa yang berbeda. Ia membiarkan orang-orang untuk memilih es krim itu sesuai selera. Kami membiarkan Rendy untuk memilih es krim itu terlebih dulu. Rendy mengambil es krim dengan rasa cokelat.
“Ini buat Kakak !”
“Buat Kak Angel ?”
“Iya. Rendy ingin memberikannya kepada Kak Angel.”
“Uuuwww makasih sayang.”
Aku menerima pemberian itu dari Rendy. Sebagai ucapan terimakasih, aku mendaratkan ciuman di pipi kanan dan kirinya, serta di akhiri di keningnya.
*Bersambung*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu mendukung author dengan cara memberikan like, komen, rate 5 dan vote seikhlasnya 🥰
__ADS_1
Terimakasih 🙏🙏