My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-73 Sebatang Asap Rokok


__ADS_3

Mataku terpejam. Hidungku dapat menghirup aroma maskulin yang menjadi ciri khas parfum dari seseorang yang sangat aku cintai. Aku telah sangat mengenal aromanya. Jika saja tidak sengaja ada yang memakai aroma yang serupa, secara otomatis pikiranku akan langsung tertuju kepada dia.


Kali ini aku tidak bisa menikmati sepenuhnya parfum itu. Keresahan membuyarkan pikiranku. Apalagi aku semakin merasakan hidung mancung miliknya menempel di pipiku. Deburan nafasnya terasa panas mengenai kulit. Detak jantungku semakin bekerja sangat cepat. Kini aku merasakan hembusan nafas itu berada di telinga.


“Bereskan dulu baju kamu ! Aku tunggu di balkon. Nanti kita mengobrol.”


Tidak lagi kurasakan panasnya hembusan nafasnya. Perlahan aku memberanikan diri membuka mata. Tidak ada dia dihadapanku. Aku melihatnya melangkahkan kaki menuju pintu arah balkon. Sebelum dia berubah pikiran dan kembali lagi, lebih baik aku segera membenarkan bajuku yang terbalik.


Di depan cermin yang tingginya melebihi tinggi badanku, aku dapat melihat mukaku yang telah memerah. Ku letakan kedua lenganku di pipi dan menepuknya. Terasa sangat panas. Entah itu efek rasa malu, khawatir, atau nervous. Semuanya bercampur menjadi satu.


“Hooaaaaa malu. Gue malu. Pokoknya ini hal paling memalukan dalam sejarah gue hidup. Gue gak mau peristiwa seperti ini terjadi lagi. Apalagi di hadapan Pak Angga. Bodoh banget sih Angel. Hooaaaaa.”


Jika aku sedang berada di ruang terbuka dan tidak ada siapapun selain diriku, maka aku sudah berteriak sekencang-kencangnya untuk membuang semua pikiranku yang sangat kacau. Terpaksa aku berteriak pelan dengan mulut tertutup tangan. Meskipun tidak lepas, tapi cukup untuk membuat perasaanku lebih baik.


Aku menarik nafas dalam-dalam dari hidung dan di keluarkan dari mulut secara perlahan. Setelah merasa tenang dan tidak terlalu gugup, aku keluar dari persembunyian. Di balkon luar masih terlihat Pak Angga sedang berdiri menatap angkasa. Dengan sebatang rokok di tangan kanannya.


“Sudah ?”


“Heem.”


“Nah gitu kan cantik.”


Pak Angga menghirup batang rokok itu dan melepaskan asapnya di angkasa. Aku tidak tahu kalau Pak Angga juga seorang penikmat batang rokok. Ini pertama kali aku melihat pemandangan seperti ini.


“Bee, merokok ?”


“Iya. Jarang-jarang sih.”


Uhuk. . .uhuk. . .


“Kamu tidak suka pria yang merokok ?”


“Angel gak biasa aja sama asap rokok, Bee. Di rumah Angel tidak ada yang merokok. Termasuk Papah.”


Pak Angga segera mematikan api yang melahap benda berbahan hampir mirip dengan kertas itu. Kemudian benda itu ia simpan sangat jauh dari posisi kami berdua. Pak Angga mengajak aku untuk duduk di sebelahnya. Kursi disini cuma ada satu. Untungnya ukurannya lumayan panjang. Jadi jika di duduki oleh dua orang dengan berat badan kecil, masih menyisakan ruang kosong.


“Maafkan aku ! Aku membuat kamu susah bernafas, ya ?”


“Enggak, Bee. Cuma sesak sedikit saat Angel menghirup asap rokoknya.”


“Aku janji tidak aku merokok lagi di dekat kamu.”


Pak Angga berdiri dan berjalan memasuki ruang. Tidak lama ia kembali dengan membawa segelas air putih untuk diberikan kepadaku. Dengan senang hati aku menerimanya.


“Bee, Angel boleh minta sesuatu ?”

__ADS_1


“Tentu saja. Apa yang kamu inginkan ?”


“Angel ingin Pak Angga berhenti merokok ! Bukan cuma tidak merokok ketika bersama Angel. Tapi Angel ingin Pak Angga lepas sepenuhnya dari benda kecil yang membahayakan itu.”


“Iya. Aku janji akan berhenti merokok. Semuanya aku lakukan demi kebahagiaan kamu.”


“Bee, bukan cuma demi Angel. Merokok itu tidak baik bagi kesehatan. Angel gak mau kamu sakit. Itu membuat Angel sedih.”


“Iya sayang, aku paham maksud kamu. Maafkan aku, ya ! Aku akan berubah.”


Aku menatap Pak Angga. Tatapan matanya seperti biasa, sangat tulus. Dan entah mengapa aku selalu luluh ketika menatap bola mata indahnya. Perasaan yang mulanya dipenuhi dengan emosi, telah hilang tergantikan dengan pancaran yang keluar dari manik matanya.


Dred. .dred. .dred. .


Getar ponsel menghentikan pembicaraan aku dan Pak Angga. Setelah melihat layar ponselnya, Pak Angga meminta ijin untuk menjawab panggilan tersebut. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, karena Pak Angga berlalu menuju ruang meninggalkan aku sendiri di balkon luar ditemani dinginnya angin yang berhembus.


“Angel. . .”


“Hem ?”


“Aku pulang sekarang, ya !”


“Sekarang, Bee ?”


“Iya. Masih ada projek yang harus di selesaikan.”


“Jangan sedih gitu dong. Aku janji akan kesini lagi. Sekarang ada tugas yang sangat penting dan harus segera di bereskan.”


“Ya udah. Hati-hati di jalan, Bee.”


“Senyumnya mana ?”


“Hiiii.”


Aku memperlihatkan senyuman dengan barisan gigi putih yang tertata rapih. Pak Angga mengacak-acak rambutku sambil tertawa. Ia juga memberikan semangat dan kata-kata motivasi.


“Kamu langsung tidur, ya ! Jangan tidur terlalu malam ! Besok kamu kuliah. Dan juga, semangat kuliahnya sayang !!!”


Setelah itu, Pak Angga segera melangkah meninggalkan diriku seorang diri. Sebenarnya aku tidak rela melepasnya. Aku masih menginginkan waktu bersama dia. Tetapi aku tidak bisa memaksanya untuk tetap tinggal. Apalagi alasan yang ia berikan bahwa sedang ada projek yang deadline. Untuk kesekian kalinya aku hanya bisa menyaksikan langkah kaki Pak Angga yang semakin menjauhiku dengan tatapan sendu.


***


“Hfftttt.”


“Angel, lo kenapa ?”

__ADS_1


“Capek gue, Cha. Tugasnya banyak banget. Semua mata kuliah pasti ada tugas. Yang satu belum kelar, udah datang lagi yang baru.”


“Tumben banget lo ngeluh gitu.”


“Karena sekarang bukan cuma kuliah yang gue urus, Cha. Gue mesti urus keperluan gue yang lainnya sendiri.”


“Udah santai aja. Kita kerjakan bareng-bareng, ya ! Sekarang makan dulu yuk ! Gue lapar.”


Tiada hari tanpa tugas yang diberikan oleh Dosen. Tumpukan tugas telah menggunung. Belum ada yang terselesaikan. Terkadang aku juga sering merasa lelah. Aku bukanlah orang yang tangguh dalam segala hal. Tetapi aku tidak akan menyerah, sebelum impianku terlaksana. Menjadi sarjana adalah salah satu dari tujuan hidupku.


Seperti biasa, setelah Dosen keluar kelas, aku dan Alessyia segera menuju basecamp. Kami tidak lagi menempati posisi awal. Disana telah ada yang menghuni. Sekarang kami memilih di pojokan, sehingga tidak menjadi pusat perhatian khalayak umum.


“Angel, dimakan dong ! Jangan cuma dilihatin.”


Selera makanku menghilang. Biasanya aku menghabiskan satu porsi bakmie dengan waktu yang sangat cepat. Tetapi kali ini aku hanya mengaduk-aduknya. Padahal semua bumbu telah tercampur rata. Alessyia telah menegurku. Tetapi tidak aku dengarkan. Kak Aldo dan Kak Beni yang menyaksikan juga ikut bertanya-tanya.


“Kebakaran. . .kebakaran. . .kebakaran. . .”


“Kebakaran ? Kebakaran mana kebakaran ?”


Teriakan Kak Beni dengan mengatakan ada kebakaran berhasil membuat aku tersadar. Aku yang panik langsung berdiri, justru di tertawakan oleh Alessyia, Kak Aldo dan Kak Beni.


“Kak Ben. . .apaan sih gak lucu.”


“Lagian kamu kenapa bengong terus ? Itu bakmienya udah pada demo mau cepat-cepat di makan.”


Aku tidak menjawab pertanyaan Kak Beni. Tentu aku masih kesal dibuatnya. Ia menghancurkan lamunanku dan membangunkan aku secara paksa. Tetapi mereka juga tidak mau menyerah. Mereka terus menggoda aku untuk berbicara.


“Oh jadi kamu galau gara-gara tugas ?”


“Iya, Kak. Angel bingung harus menyelesaikan yang mana dulu ?”


“Tenang aja. Nanti kita bantu. Iya gak, Do?”


“Heem. Udah kalian tenang gak usah khawatir ! Nanti kita bantu tugas kalian.”


Meskipun belum terselesaikan, tetapi setidaknya berhasil membuat perasaanku lebih tenang. Meskipun masih menyimpan beban, tetapi aku bisa menampilkan sedikit senyuman.


*Bersambung*


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 n fav💙🥰🥰


Terimakasih 🙏


__ADS_2