My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-100 Restu Seperti Apakah?


__ADS_3

Sebelum lanjut author ingin menyapa para pembaca setia MTIM. Bagaimana kabarnya? Semoga baik selalu. Aamiin🥰😇


Huwaaa tidak terasa MTIM sudah sampai 100 episode 😍😍 Author ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada readders yang sudah setia menemani sampai sejauh ini 🙏🙏


Author tidak bosan-bosan selalu mengingatkan untuk selalu meninggalkan jejak berupa like, komen, rate 5 & vote seikhlasnya 🥰


Semuanya itu gratis kok. Tapi sangat berarti untuk author. Karena itulah penyemangat author😍😍


Salam sejahtera untuk kita semua 😇😇


Terimakasih 🙏🙏🙏


**************************************************


Hal yang paling bodoh yaitu jatuh pada lubang yang sama untuk kesekian kalinya. Orang yang paling rugi adalah orang yang menyia-nyiakan kesempatan kedua yang datang kepadanya. Dan orang yang paling kecewa adalah orang yang dikhianati oleh seseorang yang telah sangat dipercaya.


Padahal aku tahu Papah sangat membenci kebohongan, dan aku juga sudah berjanji tidak akan berbohong lagi kepada Papah. Dan bodohnya aku mengulang kesalahan itu kembali. Aku benar-benar orang yang rugi.


Jika aku diberi kesempatan untuk bisa kembali ke masa lalu, maka aku akan memperbaiki waktu dimana aku pertama berbohong kepada kedua orang tuaku. Aku akan kembali ke masa lalu untuk mengatakan kejujurannya.


“Hiks..hiks…”


“Pah udah cukup! Kita bicarakan ini lagi di rumah. Disini rumah sakit, Pah. Akan malu jika di dengar oleh orang banyak.”


“Biarkan saja. Papah sudah terlanjur malu karena mempunyai anak yang pandai berbohong.”


Tangisanku semakin pecah. Bahkan aku sampai tersedak untuk menahan suara isakan. Beruntunglah Mamah tidak ikut marah kepadaku. Ia menghampiri dan memeluk diriku. Meskipun aku tahu, jauh dalam lubuk hati Mamah yang terdalam, pasti beliau juga kecewa kepadaku. Tetapi pintu maaf Mamah masih terbuka lebar untuk anaknya.


“Mah maafkan Angel. Hiks…”


“Pulang sekarang!”


“Cup! Jangan nangis ya! Mamah akan selalu ada di samping kamu. Sekarang kita pulang yuk!”


“Angel takut, Mah.”


“Ada Mamah sayang, kamu tidak perlu takut!”


Mamah menggandeng tanganku untuk berjalan keluar dari rumah sakit. Sedangkan Papah jauh di depan karena sudah berjalan lebih dulu. Sampai aku telah berada di dalam mobil, tatapanku masih menunduk. Aku tidak mau menatap ke arah depan dan tidak sengaja melihat sorot mata Papah yang sangat tajam.


Selama perjalanan tidak ada yang berani membuka suara. Papah hanya fokus mengemudi dan menatap jalanan. Mamah juga terdiam menikmati ramainya lalu lintas. Sedangkan aku masih menatap sepatu yang sudah mulai kusam.


“Keluar!”


Setibanya di halaman parkir bangunan indekost, Papah membuka pintu penumpang dan memerintah dengan sangat dingin. Bukannya aku mengikuti instruksi tersebut, aku malah berdiam diri karena tubuhku yang masih gemetar.


“Keluar sekarang juga!”


“Pah, udah. Biar Mamah yang bantu Angel.”

__ADS_1


“Ayo sayang kita keluar!”


Mamah menyerobot dan membuat Papah menepi sedikit menjauh dari penglihatanku. Aku menerima uluran tangan dari Mamah. Kemudian kami berjalan bergandengan. Sedangkan Papah memimpin jalanan dengan langkahnya yang cepat. Dan Papah juga membuka pintu kamar yang masih dikunci.


“Papah tidak mengerti harus mendidik kamu dengan cara apa lagi. Apakah donor darah itu juga buat Pak Angga?”


“…”


“JAWAB!!!”


“Iy-iiya Pah.”


“Packing semua barang-barang kamu sekarang juga! Kita pergi dari kota ini.”


“Tapi Pah…”


“Tidak ada lagi penolakan. Mah, tolong cepat lakukan!”


Mamah berusaha untuk mencegah keinginan keras Papah. Tetapi tidak berhasil. Dari dulu memang seperti itu. Apapun keinginannya harus dilaksankan tanpa ada perdebatan terlebih dahulu. Dengan sangat terpaksa Mamah mengeluarkan isi lemari dan di masukan ke dalam koper.


“Pah, tapi Angel masih harus kuliah. Bagaimana nasib kuliahnya Angel, Pah? Padahal sebentar lagi Angel akan memasuki semester yang baru.”


“Kamu kuliah di kota yang sama dengan Papah!”


“Tapi Angel tidak suka disana. Angel lebih nyaman berada disini. Dan juga bagaimana nasib teman-teman Angel jika Angel pergi? Alessyia, pasti dia sangat sedih Pah.”


“Tidak. Kamu harus ikut Papah sekarang!”


Sebelum kedua kakiku memasuki mobil, sejenak aku berputar ke atas untuk melihat kamar yang sudah lama aku tempati. Batinku berkata, “Maafkan Angel ! Angel harus pergi sekarang.”


Tanpa tersadar tetes air mata berhasil lolos dari pelupuk mata kiri dan kananku. Pikiranku dibawa berputar kembali kepada masa ketika menghabiskan waktu bersama Alessyia waktu malam hari sampai harus dimarahi oleh tetangga kost.


Aku mengingat waktu yang dihabisakan bersama Kak Aldo dan Alessyia yang membuat Alessyia sampai harus menangis. Dan yang paling banyak yaitu kenangan bersama Pak Angga. Aku masih mengingat kedatangan pertama Pak Angga. Menghabiskan waktu bersama Rendy. Dan juga peristiwa waktu pakaianku terbalik. Semua kenangan itu masih menari-nari dalam ingatanku.


“Angel masuk!”


“Sayang ayo masuk!”


Mamah menarik pergelangan tanganku dengan segera setelah mendapatkan teguran dari Papah. Aku yang tersadar segera melangkah menaiki mobil. Setelah semua penumpang merasa siap, tombol power ditekan oleh Papah dan si silver menerobos ramainya kendaraan yang berlalu lalang.


Aku terbangun dan melihat jam tangan. Rupanya sudah 2 jam lebih 30 menit kami melaju meninggalkan kota Bandung. Tidak lama lagi mobil yang kami tumpangi telah tiba di tempat tujuan. Aku kembali memejamkan mata. Rasanya aku masih belum siap menerima kenyataan bahwa aku harus pergi meninggalkan orang-orang yang aku sayang.


“Angel bangun sayang!”


“Hemm.”


“Ayo bangun sudah sampai.”


Aku terjaga ketika ada tangan yang menepuk-nepuk pelan pipiku. Dan aku dapat mendengar suara seseorang yang memanggil namaku. Dan ketika aku membelalakan mata, aku dapat melihat wajah Mamah dengan jarak kurang lebih 200cm.

__ADS_1


“Iya Mah.”


“Ayo bangun sudah sampai!”


“…”


“Tenang aja! Mamah akan menenami sampai satu pekan ke depan.”


“…”


“Udah, ayo masuk sebelum Papah semakin geram.”


Aku mengikuti perintah Mamah. Benar juga, jika kami terlalu lama tidak menyusul langkah kaki Papah, mungkin aku akan dimarahi olehnya lagi untuk yang kesekian kalinya.


***


Matahari telah terbit dengan sangat terang. Cahayanya mampu menyinari seluruh penjuru dunia. Sejak semalam suasana rumah sangat beku. Padahal rumahnya tidak terlalu besar. Hanya berukuran setengah dari rumahku yang berdiri tegak di kota kelahiranku. Hanya saja tidak adanya suatu pembicaraan membuatnya terasa sangat sepi dan dingin.


Tok..tok..tok…


“Sayang, ayo makan dulu!”


“Ini Mamah masak makanan kesukaan kamu sayang. Kamu keluar dulu, ya! Ayo kita makan bersama.”


Pintu telah diketuk berulang kali. Aku mendengar suara Mamah yang masih berusaha membuat diriku agar membuka pintunya. Sedangkan aku tidak mau peduli apa-apa. Aku masih asik menyaksikan acara kartun secara online menggunakan gadget. Untunglah Papah tidak menyita handphoneku. Jadi aku masih bisa menghilangkan kejenuhan, salah satunya yaitu dengan cara bermain gadget.


Aku memutuskan untuk tidak mau keluar dari kamar. Beruntunglah ada kamar mandi di dalam kamar tidurku, sehingga aku tidak perlu keluar kamar hanya untuk buang air atau sekadar cuci muka. Bahkan sampai waktu kembali sore, aku masih belum membuka kunci. Sesekali aku tertidur setelah mata lelah menatap layar handphone.


“Pah, Angel tidak mau makan.”


“Ya sudah biarkan saja. Dia sudah besar, kalau lapar pasti juga makan.”


“Tapi Pah, bagaimana kalau Angel sakit?”


“Biarkan saja. Ini hukuman karena telah berani membohongi Papah dan mengkhianati kepercayaan yang telah Papah berikan.”


“Tapi Pah, Angel melakukan ini semua pasti ada alasannya.”


“Alasan? Alasan apa? Karena cinta, begitu maksud Mamah?”


“Pah, tolong jangan terlalu keras sama Angel! Dia sudah besar. Sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah.”


“Iya Papah tahu. Tapi untuk bersama dengan Pak Angga itu adalah kesalahan. Bagaimana bisa Angel menjalin hubungan dengan gurunya? Bukan itu alasan sesungguhnya. Tetapi kenapa Angel harus berhubungan dengan pria yang sudah beristri?”


“Tapi kata Angel Pak Angga sudah bercerai, Pah.”


“Tetap saja dia sudah mempunyai anak. Papah tidak bisa menerima Pak Angga sampai kapanpun.”


Sayang sekali rumah ini tidak di lengkapi dengan kedap suara, sehingga aku yang berada di dalam kamar bisa mendengar percakapan orang-orang yang berada di ruang keluarga.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2