My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-27 Bayangan Motor Merah


__ADS_3

“Sayang ini Mamah bawakan minuman dan cemilan.”


Pak Angga segera melepaskan aku dalam pelukannya. Aku juga segera menjauhkan diri sebelum Mamah melihat kami.


“Iya Mah. Angel ada di taman.”


Aku segera menemui Mamah yang sedang menyimpan beberapa makanan di meja. Di ikuti dengan langkah Pak Angga dari arah belakang.


“Ini dimakan dulu. Kamu ada tamu masa di anggurin sih.”


“Iya Mah. Tadinya Angel baru mau turun tapi udah di ambilin sama Mamah.”


“Tidak apa-apa, Bu. Tidak perlu merepotkan.”


“Ah enggak kok, Pak. Tidak repot sama sekali. Ya sudah kalian lanjut ngobrolnya ya. Mamah tinggal dulu.”


“Tidak usah, Bu. Saya juga akan langsung pulang.”


“Lho kok cuma sebentar. Emang udah selesai ?”


“Iya ih Bapak. Masa cuma sebentar sih ?”


Jelas aku tidak rela jika Pak Angga pergi begitu saja. Setelah sekian lama tidak jumpa, dan giliran diberi waktu untuk bertemu, hanya sebentar. Tapi mungkin aku salah mengungkapkannya, bisa jadi dengan perkataanku barusan Mamah bisa menganggap aku terlau agresif kepada Pak Angga. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berbicara seperti itu. Mungkin itu refleks datangnya dari hati.


“Untuk hari ini cukup sampai disini. Nanti akan saya kasih petuah buat kamu dilain waktu.”


Begitulah Pak Angga. Selain terkenal dengan sikap dinginnya, ia juga sosok yang keras kepala. Jika dia mengatakan tidak maka tidak, begitupun sebaliknya. Apapun yang akan dilakukannya harus berasal dari keinginannya sendiri, tidak ada paksaan atau dorongan dari orang lain.


Sama halnya untuk saat ini. Walaupun sekeras usahaku untuk membuat dia menetap, ia akan tetap pergi.


***


Hari demi hari telah aku lalui. Berganti minggu, dan bulan. Aku telah berhasil menyelesaikan masa kurungan selama satu bulan. Tibalah hari dimana aku akan menginjakan kaki di kota yang telah menjadi impianku sejak kecil. Rasanya tidak sabar. Aku ingin segera memulai kehidupan yang baru. Mencari suasana baru. Pengalaman baru. Dan bertemu dengan orang-orang baru.


Selama satu minggu terakhir aku disibukkan dengan mengumpulkan barang-barang dan memilah-milah baju yang akan dibawa. Ternyata packing itu tidak mudah. Aku rasa semuanya perlu aku bawa. Tapi Papah melarang, karena katanya ini bukanlah pindah rumah. Jadi barang yang dibawa cukup seperlunya saja.


Satu koper telah terisi penuh oleh pakaian. Satu koper kecil dikhususkan untuk perlengkapan mandi dan alat-alat kecantikan. Sedangkan untuk alat-alat lain di packing dalam karton berukuran besar.

__ADS_1


“Angel ayo cepat ! Papah harus buru-buru ada meeting.”


“Iya Pah sebentar.”


Aku berkali-kali mengecek ponsel. Aku harap akan ada balasan dari pesan yang aku kirim. Semalam aku telah mengirimkan pesan berupa kabar kepergianku hari ini. Namun sampai detik terakhir aku pergi, sama sekali tidak ada respon darinya. Padahal aku sangat ingin melihatnya untuk terakhir kali sebelum aku meninggalkan kota ini.


“Sayang ayo cepat !”


“Iya Mah. Angel keluar sekarang.”


Aku rasa percuma. Dia sama sekali tidak peduli dengan perasaanku. Dia tidak mengerti bagaimana beratnya menahan rasa ingin jumpa. Terakhir kami berjumpa hanya sekilas beberapa menit. Sampai sekarang kami tidak lagi bertatap muka. Bahkan bertukar komunikasi melalui smartphone saja dapat dihitung. Tidak sampai satu kali dalam sehari.


Apa dia sama sekali tidak pernah merindukan diriku ? Apa mungkin dia tidak merasakan seperti apa yang aku rasakan ? Kejam sekali. Kenapa harus aku yang tersika sendiri menahan rindu ? Ini curang.


Dengan berat hati aku memasuki pintu mobil dan duduk dibangku belakang. Papah mengingatkan agar aku memakai seat belt.


“Sudah siap, Nak ?”


“Sebentar Pah ?”


“Masih ada yang tertinggal ?”


“Tidak ada, Pah. Ayo berangkat.”


Papah menekan tombol start dan menginjakkan pedal gas secara perlahan. Mobil silver telah keluar dari garasi dan gerbang yang menguncinya cukup lama. Perlahan tapi pasti si silver melaju meninggalkan rumah yang telah menemani kehidupanku kurang lebih 12 tahun lamanya.


Dari kaca spion dalam mobil aku melihat bayangan seseorang dengan motor gede berwarna merah sedang terparkir. Aku tidak dapat melihatnya secara jelas. Mukanya ditutupi oleh helm dengan kaca hitamnya. Untuk memastikannya aku memutar agar pandanganku tertuju langsung kepada seseorang yang memakai celana jeans hitam dengan kaos berwarna hitam dilengkapi dengan kemeja kotak-kotak yang membiarkan kancingnya terbuka.


“Pak Angga ?” Kataku lirih.


“Apa, Nak ?”


“Ada apa sayang ?”


“Hah ? Tidak. Tidak apa-apa.”


Aku yakin itu Pak Angga. Walaupun aku tidak bisa melihat mukanya, tapi aku sangat yakin kalau itu Pak Angga. Aku telah mengenalnya dalam waktu yang cukup lama. Aku hafal betul bagaimana cara dia mengenakan pakaian. Dan motor itu, jelas itu motor yang selalu Pak Angga gunakan kemanapun dia pergi. Plat nomornya ? Aku lupa tidak menghafal nomor polisinya. Tapi feelingku berbisik bahwa dia adalah Pak Angga.

__ADS_1


Tapi semuanya sudah terlambat. Aku tidak mungkin meminta Papah untuk memberhentikan laju mobilnya. Apa kata Papah jika aku meminta untuk menemui Pak Angga walau hanya sebentar ?


Dua mobil melaju beriringan memasuki kota Kembang. Dengan mobil yang ditumpangi oleh keluarga Alessyia menjadi pemimpin di depan. Akhirnya aku benar-benar telah berada di kota Bandung. Aku memang sering berkunjung kemari. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ada sedikit getaran dalam hati. Ada sedikit kobaran yang membuat aku semangat untuk berjuang. Berjuang menaklukan dunia, sebelum dunia mengalahkan masa depanku.


Mobil yang kami kendarai telah tiba di depan bangunan bertingkat. Di dalamnya hanya dihuni oleh para wanita. Bahkan aturan ketat diberlakukan, bahwa tidak boleh ada pria yang masuk melebihi pukul 21.00 WIB. Kecuali keluarga kandung. Dan itu juga harus dibuktikan dengan menunjukkan Kartu Keluarga.


Aku lebih memilih untuk tinggal di kost-kostan. Sebenarnya Alessyia telah mengajak aku untuk tinggal bersamanya. Papi dan Mami Alessyia juga telah membujuk aku. Tetapi aku menolaknya. Aku tidak mau menjadi beban dan merepotkan mereka. Aku ingin belajar mandiri. Mengurus segala keperluanku sendiri.


Tapi Papah dan Mamah tidak terlalu khawatir. Karena letak kamar kost-an aku tidak terlalu jauh dengan kediaman Alessyia. Hanya membutuhkan waktu 5 menit bila ditempuh dengan jalan kaki. Sebenarnya itu juga atas keinginan Alessyia. Dia bilang bahwa kami tidak boleh tinggal berjauhan agar dapat saling mengawasi. Mungkin bukan itu tujuan awalnya, tetapi untuk memudahkan dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah.


Mamah dan Papah tidak bisa tinggal terlalu lama. Papah harus segera kembali ke Ibu Kota menjalankan pekerjaannya. Mamah juga ikut bersama Papah. Karena Mamah sudah cukup lama tidak menengok tempat tinggal Papah, sudah dapat dipastikan bahwa kini telah sangat berantakan. Karena Papah tinggal sendiri tanpa asisten, maka tidak ada yang membantunya mengurusi dan membereskan barang-barang.


“Aaahhh akhirnya beres juga.”


Aku merebahkan badan di kasur setelah cukup lama membereskan dan menata barang-barang bawaanku. Beruntunglah aku dibantu Mamah. Jika tidak ada yang membantu, aku tidak tahu kapan akan selesai.


Dred. .dred. .


Getar ponsel membangunkan aku. Tanpa aku lihat nama siapa yang tertera di atas layar, aku langsung menerima panggilan tersebut.


“Hallo.”


“Saya ada di depan gerbang. Kamu bisa keluar ?”


“Tidak bisa. Angel tidak ada di rumah.”


“Bukan gerbang depan rumah. Tapi gerbang kost-an kamu.”


Saat kesadaranku telah pulih seutuhnya, baru sadar kalau panggilan ini berasal dari Pak Angga.


Apa benar Pak Angga sekarang ada di sini ? Bagaimana bisa ia menyusul aku ke Bandung ?


*Bersambung*


.


.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, & vote😉


Terimakasih 🥰🥰


__ADS_2