My Teacher Is Mine

My Teacher Is Mine
MTIM-51 Es Krim Legend


__ADS_3

Otot telah dilatih untuk merangsang suatu gerakan. Ketika kita merasa dalam bahaya, maka refleks berusaha untuk menghindar atau melindungi diri sendiri. Seperti saat ini. Aku tidak bisa diam saja melihat perlakuan Frans terhadapku. Mungkin aku emang terkunci tidak bisa melarikan diri. Tetapi aku akan terus berusaha sampai kunci itu terbuka.


Plak !!!


Aku berhasil menampar pipi sebelah kiri Frans ketika dia sedang asik memejamkan mata. Tidak berselang lama aku segera memukul area terlarangnya menggunakan lutut.


Frans berputar mengaduh kesakitan dengan tangan menutupi area tersebut. Sebenarnya aku tidak tega memukul disana. Tetapi itulah jalan terakhir dan satu-satunya untuk menyelamatkan diri.


“Aaww aawww.”


“Angel tunggu !”


“Angel. . .”


Aku sama sekali tidak menggubris panggilan dari Frans. Aku segera berlari sekencang-kencangnya untuk bersembunyi darinya. Rupanya Frans pantang menyerah. Meskipun dengan keadaannya yang kesakitan, ia masih terus berlari mengejarku. Aku tidak mau kalah kali ini. Meskipun nafasku tersengal-sengal karena terus berlari tanpa henti, itu lebih baik daripada kembali bersama Frans.


Aku tidak kuat lagi untuk berlari. Beruntunglah aku melihat gundukan pohon rindang dengan daun hijau. Mungkin jika aku bersembunyi disana Frans tidak akan menemukanku.


“Angel. . .”


“Angel kamu dimana ?”


“Keluar dong sayang. . .”


“Aku tahu kamu sedang bersembunyi.”


Aku menutup mulutku sendiri. Aku takut tidak sengaja menciptakan bunyi yang akan membuat Frans mengetahui persembunyianku. Frans masih berada dekat di area aku. Ia terus berputar mengamati lingkungan untuk menemukan aku. Aku juga melakukan putaran agar tidak terlihat oleh penglihatan Frans.


Krak. . .


Sudah susah payah menyesuaikan diri dengan tempat persembunyian, karena kecerobohanku, aku menginjak ranting pohon yang telah mengering dan tergeletak di tanah. Sudah pasti Frans mendengarnya. Ia mendekat ke arah pohon yang dibelakangnya terdapat aku sedang menutup mulut.


“Akhirnya aku menemukanmu Angel. . .”


“Whaaa. . .”


“Lho kok gak ada. Angel kamu dimana ? Aku yakin tadi kamu ada disini.”


“Angel. . .”

__ADS_1


Beruntunglah aku berhasil melarikan diri sebelum Frans melihat kehadiran diriku. Kali ini aku tidak akan berhenti. Bahkan jika aku harus mengeluarkan beberapa liter keringat, itu tak masalah. Dibandingkan jika aku harus bertemu sama Frans, lebih baik aku pingsan di tengah jalan karena dehidrasi.


Aku menyusuri pasar yang dipenuhi pengunjung untuk berbelanja. Dengan ruas jalan yang kecil sehingga tidak mungkin kendaraan roda empat dapat melintas kesana. Untuk pengguna jalan kaki saja hanya bisa menampung 4-5 orang saja.


Ketika aku sedang fokus menatap jalanan sembari sesekali menengok ke arah belakang untuk memastikan jika Frans tidak mengikutiku. Tiba-tiba tanganku ditarik dan masuk ke dalam sebuah kafe.


“Aaaaa.”


Aku berteriak ketakutan. Aku kira Frans sudah tidak mengejarku lagi. Tetapi sekarang ia telah berada di depanku. Aku tidak mau menatap wajahnya. Aku masih bete, kesal dan sebal kepada dia.


“Angel kamu kenapa ?”


Sepertinya ini bukan suara Frans. Dan jika itu Frans, gak mungkin bertanya aku kenapa. Pasti dia sudah tahu kenapa aku berlari sehingga membuatku susah bernafas. Dan dia akan langsung membawaku pulang atau mengadukannya kepada Papah.


“Bee ?”


“Kamu kenapa ? Aku melihat kamu berlari dari kejauhan.”


“Ini benar, Bee ? Eu-eu maksud Angel Pak Angga. Angel tidak mimipi kan ?”


“Iya ini aku. Aku merindukanmu. Sebenarnya dari kemarin aku di Bandung. Ada projek yang harus diselesaikan. Setiap kali aku ke kost-an kamu, aku tidak dapat melihat keberadaan kamu. Mungkin kamu sedang kuliah atau mengerjakan tugas di luar.”


“Maaf ! Seharusnya Angel tidak melakukan itu. Sekali lagi Angel minta maaf !"


“Kenapa kamu melepaskan pelukannya ?”


“Karena di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Mungkin sekarang Pak Angga sudah menemukan sosok pengganti yang lebih baik dari Angel.”


“Apa menurut kamu tidak ada lagi rasa di antara kita ? Apa kamu sudah melupakan aku ?”


“Tidak. Tidak pernah sedetikpun Angel melupakan Pak Angga. Sampai sekarang disini Angel berdiri, hanya Pak Angga yang bernaung dihati.”


“Aku tidak dapat menemukan sosok yang lebih baik dari kamu. Dan aku juga tidak yakin akan ada yang lebih baik melebihi kamu. Aku tidak berniat mencari pengganti dirimu. Karena sampai sekarang, esok dan masa yang akan datang, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai.”


“Tapi Bapak memutuskan pergi dari kehidupan Angel. Itu artinya Bapak menyerah atas cinta Angel.”


“Kamu ingat ucapan aku, bahwa kita akan berjuang bersama untuk mendapatkan restu dari orang tua kamu. Aku tidak akan menyerah sampai titik terakhir. Aku belum memulai perjuangan itu. Aku beranjak untuk menenangkan perasaan orang tua kamu. Sebagai orang tua, aku mengerti kenapa mereka kecewa.”


“Berarti kita belum putus kan ?"

__ADS_1


“Apa aku pernah mengatakan kata itu ? Atau pernahkah kamu mengatakan itu ?”


Aku menggelengkan kepala, “Kalau gitu, bolehkah Angel memanggil Bapak dengan sebutan yang waktu itu Angel berikan ?"


“Tentu. Aku sangat ingin mendengarnya."


“Bee ?”


Aku dapat melihat kembali senyuman manis milik Pak Angga yang sangat aku rindukan. Aku belum sempat memanggil Pak Angga dengan panggilan khusus, karena baru saja aku menemukan namanya, kami berdua telah terpisahkan.


Sepertinya aku lupa kalau saat ini aku berada di tempat umum. Beruntunglah pengunjung kafe tidak terlalu penuh, hanya beberapa orang. Segitu saja sudah membuatku malu. Mereka melihat adegan kami berdua. Mereka ikut tersenyum bahagia dan bertepuk tangan. Aku melirik Pak Angga. Ia juga masih memamerkan senyumannya.


Tidak mau lebih lama menjadi pusat perhatian, Pak Angga segera membawaku keluar dari sana. Sekarang kami berdua telah berada di ruang terbuka. Pak Angga membersihkan kursi yang akan aku duduki. Kemudian ia berpamitan untuk pergi sebentar dan memintaku untuk tetap menunggu disini.


Pak Angga menepati janjinya. Aku kira dia akan pergi lagi meninggalkanku sendiri. Ternyata dia kembali lagi menemuiku dengan membawa es krim dung dung di tangan kanan dan kirinya.


“Whoaaa es krim masa lalu.”


“Heem. Satu buat kamu dan satu lagi buat aku.”


“Makasih.” Aku menerima es krim dari Pak Angga.


“Bee, beli es krim ini dimana ? Angel kira sudah tidak ada lagi yang melestarikan jajanan ini.”


“Disana. Penjualnya bapak-bapak yang sudah tidak terlalu muda lagi.” Pak Angga menunjuk bapak-bapak paruh baya yang sedang mendorong gerobak.


“Hmm. Es krim ini legend banget iya gak, Bee ?”


“Betul. Es krim ini ada sejak dahulu. Bahkan sebelum aku lahir.”


“Iya. Waktu itu Angel masih kecil suka banget beli ini. Tetapi ketika Angel beranjak dewasa, penjual es dung dung ini susah untuk dicari. Sekarang Angel senang banget bisa merasakan lagi es krim ini.”


“Kamu senang ?”


“Heem. Makasih ya, Bee.”


Sudah aku katakan, kebahagiaan tidak melulu tentang barang-barang mewah dan mahal. Menikmati jajanan yang mengingatkan kepada masa lalu, itu termasuk ke dalam salah satu kriteria bahagiaku. Bukan cuma itu, aku lebih bahagia karena bisa duduk berdua menikmati es dung dung bersama Pak Angga. Orang yang selalu aku rindukan kehadirannya.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2