Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Ini cinta??


__ADS_3

23:55.


Seorang penghuni di kediaman Charlotte masih terjaga, di bawah selimut ungu bermotif polkadot dia sedang sibuk menarikan jempolnya dia atas layar ponsel.


Sudah berjam-jam dia mengotak-atik akun instagram dan fokus pada satu akun, yang membuatnya mengukir senyuman. Ya!! Nari sedang berselancar jari pada laman akun si pemuda pembeli bunga mawar itu.


"Hihi, kiyowoooo!!''gumamnya dari balik selimut. Jemarinya scroll ke bawah, terus menikmati ekspresi lucu dan wajah tampan milik seorang pria dengan akun Instagram, Khairil ubadah.



Tak lupa Nari meninggakan jejak like pada foto yang di post Kai beberapa jam yang lalu, dengan caption"Sepeda saja, biar lebih sehat."


Tring! sebuah pesan masuk di tengah malam pada aplikasi gelembung hijau milik Nari.


📩:" Belum tidur??." Untuk pertama kalinya Nari merasakan hati yang bergetar karena lawan jenis. Gadis ini bahkan sampai berguling-guling, klepek-klepek seperti ikan kekurangan air hanya karena mendapat pesan dari Kai, orang yang baru di kenalnya dua hari yang lalu di toko bunga.


✉:"Ini sudah mau tidur," balasnya di iringan irama jantung bertalu-talu.


📩:"Selamat tidur Naria, semoga mimpi indah."


Beruntung jantung gadis ini terletak di dalam dada, kebahagiaan tengah melanda samg hati hingga porak-poranda di guncang manisnya cinta.


"Astagadragon!!!, jadi begini rasanya suka sama cowok?," pekiknya dengan menutup mulut.


✉:"Selamat tidur, Kai," balasnya kemudian.


Dia meletakan ponsel di samping bantal. Rasa ini sangat berbeda ketika berbalas pesan dengan Alex atau pun Aron. Meskipun hatinya juga bergetar saat berbalas pesan dengan Aron, namun kali ini berbeda. Suara notifikasi di ponselnya terdengar syahdu, akh!! Nari sedang jatuh cinta saat ini!.


Bahkan kali ini Nari lho yang lebih dulu meminta nomor ponsel Kai. Lesung pipi Kai membuat Nari gemas ingin meraup wajah pemuda ini, ck! untuk sekarang dia harus menahan diri.


"Aisshh!, baru sekarang aku sangat terbayang-bayang dengan senyuman cowok," gumam Nari lagi. Matanya sudah sangat mengantuk namun pikirannya masih berkelana memikirkan Kai.


Sebenarnya, bukan hanya Nari yang merasakan lonjakan kebahagiaan di tengah malam itu.


"Hupffhh!! Nari memberikan like pada postingan ku," gumam hati kai di kediamannya. Demi menetralkan perasa di dalam dada, berkali-kali pemuda ini menghela napas.


Seraya tiduran di atas ranjang, tanpa di sadari kedua kakinya bermain-main karena terlonjak girang"Gimana kalau besok aku ajak dia jalan?."


Jika beberapa detik lalu rasa percaya diri itu masih begitu tinggi, detik ini juga Kai merasa insecure. Pasalnya,Nari begitu cantik, berkenankah gadis itu menghabiskan waktu dengannya? pantaskah?.


"Apa aku terlalu gegabah kalau besok mengajaknya ketemuan??."


"Apa aku harus sedikit bersabar lagi? kami kan baru kenalan dua hari?."


Kai menatap mawar merah yang di belinya 2 hari yang lalu"Ngasih bunga aja aku nggak sanggup, gimana caranya ngajak dia jalan ya??."


Kembali ke kediaman Charlotte. Di sudut lain dari rumah besar dan mewah itu, si kecil Bae tertidur dengan pulas di samping sang mamah. Hentakan kakinya ketika berbalik tidur menghantam lengan Joen.


"Akh!!," pekik Joen. Tumit putranya terasa begitu keras menghantam tulang lengan kirinya, hingga membuat kedua matanya memelotot.


"Aigoo," Joen terbangun dan mengelus lengannya. Di lihatnya wajah bulat sang pelaku, dengan pipi seperti bakpau Baby Bae terus tertidur pulas.


"Kamu mimpi lagi karatean apa gimana sih Nak?," gumam Joen sambil membetulkan posisi tidur Bae yang tengkurap.


Masih dengan mata sedikit terpejam dia mencoba mengambil air putih di nakas.


Ghina juga nampak tertidur pulas, aktivitas Joen terhenti ketika gerakan mendadak Bae yang berguling dua kali menjauhi Ghina.


Kepalanya menggeleng menyaksikan atraksi Bae"Ya elah Nak, gimana jadinya kalo papah sama Mamah nggak ngejagain kamu tidur di sisi kiri dan kanan," bisik hati Joen.


Lambat laun gerakan si gembul juga membuat mamah nya terjaga"Yang....," tegurnya pada Joen dengan suara garau.


"Ng?," sahut Joen yang sedang melanjutkan minumnya.


Ghina mengatur dua guling di ujung ranjang agar Bae nggak loncat indah ke ubin.


"Belum tidur?," Ghina kembali merebahkan diri di tempat semula.


"Noh, si Bae nampol lengan aku pake betisnya. Udah kaya talas bogor aja tu betis," kini Joen dan Bae bertukar posisi.


"Tidurnya juga, kaya orang main sirkus. Ckckckckc."


"Jangan gitu dong, berarti kan dia tumbuh dengan sehat," Ghina membelai wajah suaminya, meneluk pelan pipi Joen"Baru liat sekarang kamu?, tiap malam meemang begitu gaya tidurnya. Makanya aku minta kamu nge-blok dia di sebelah sana."


Ternyata ini yang menyebabkan Ghina sering kelelahan di siang hari, ternyata masih sering bergadang. Di pandanginya wajah sayu sang istri, namun Joen gagal fokus dengan piyama Ghina yang kehilangan dua kancing paling atas.


"Ini kancingnya kemana?," spontan tangannya menjulur dan mencoba memperbaiki.

__ADS_1


Kancing bajunya sudah hilang, mungkin telah loncat indah entah kemana. Dalam posisi sedekat ini dengan Ghina yang memiliki aroma manis bagi Joen...tiba-tiba dia menelan ludah"Duh! manis banget sih."


"Apanya yang manis??aku?," Ghina menggoda Joen.


"Ini lho yang manis," Joen mendekati ceruk leher Ghina dengan nafasnya perlahan memberat.


Bersyukurlah atas jumpalitannya Baby Bae ke ujung sana malam ini. Joen jadi tergoda dengan tubuh mungil istrinya yang begitu manis dan molek. Dia pun mereguk candunya yang merah bak buah delima itu, sungguh menggoda. Di tambah Ghina yang mulai menyeimbangkan diri dengan belitan lidah sang suami.


Tak perlu waktu lama piyama yang mereka kenakan kini tlah teronggok berhamburan baik di ranjang atau pun di lantai kamar. Sepasang suami istri itu memadu kasih dalam malam yang panjang.


...💖💖💖💖...


Kedua mata Ghina mengerjap ketika semilir angin begitu dingin menusuk ke tulang. Gemerutuk tulangnya terdengar krispi ketika dia mencoba untuk bangun dari tidurnya.


"Ups!! itu tulang apa ayam geprek? renyah banget suaranya," ejekan suami tak tau malunya ini membuat Ghina melenguh kesal. Bukan kesal karena marah, dia kesal karena harus menerima kekalahan atas pertandingan panas mereka tadi malam.


"Bangun dong sayang, panggil Joen manja.


"Iya, ini juga mau bangun."


"Mandi bareng yuk," tatapan manja Joen begitu meggoda.


"Oh Tuhan, kamu kok jadi ganjen begini sih Joen. Manjamu ini ngalahin habis malam pertama," Ghina membuka jendela. Membiarkan udara sejuk pagi ini masuk ke dalam kamar mereka.


"Hmm, sejuknya," sambil meregangkan pingang dan lehernya Ghina melangkah menuju balkon. Entah saking capeknya atau memang Ghina belum sadar dari tidurnya, pagi itu dia baru menyadari hilangnya Baby Bae!!.


"Omo!!Bae nggak ada Yang!!" Pekik Ghina.


"Sudah di bawa bang Jung." Jawaban Joen melegakan hati wanita itu.


"Hampir saja aku jantungan," ujarnya bernafas lega.


"Makanya, mumpung Bae ada yang jagain yuk kita mandi bareng," lengan Joen menjulur meminta Ghina memeluknya.


"Sayang, kamu Joen apa bukan?," Ghina mencoba memastikan dengan mendekatkan pandangannya kepada Joen, yang masih duduk malas di kursi rotan itu.


"Heiii! ini aku Joen Charlotte. Babang tamvan kamu," mengelus lembut pada rambut hitam sang istri.


"Habisnya, kamu seperti berubah gitu," ujarnya mengejar tatap mata Joen.


"Penyebabnya ada pada diri kamu lho, sayang," peluk Joen erat pada tubuh mungil Ghina. Kini sang istri duduk memiring di pangkuanya.


Ujung mata Ghina mengerling kepada Joen, yang seakan puas menggodanya pagi ini.


"Kamu, nonton yang jorok ya tadi malam?," tatapnya penuh curiga.


"Dih, aku nggak doyan nonton begituan. Enak yang real di depan mata begini kok," sentilnya pada dagu Ghina, ck! sikapnya semakin manja saja.


"Oh, jadi memang kamunya aja yang makin centil ya," lirik Ghina nakal.


Joen terkekeh, cubitan manja Ghina beberapa kali mendarat di perutnya. Ghina nggak tau sih selama ini Joen mengalah banyak dengan Bae. Terkadang seperti tadi malam, dia terbangun karena gaya tidur si kecil yang seperti pemain sirkus. Saat tengah malam begitu dia mendekati Ghina, dan ingin mengajaknya bercinta. Namun tidurnya yang lelap membuat Joen nggak tega mengusiknya.


"Sorry, lain kali langsung aja sayang. Meskipun akunya lagi tidur juga nggak pa-pa," ucapnya polos.


"Nggak ada gregetnya dong, lagian aku mana tega meminta jatah seperti itu sayang," Joen gemes menarik kedua pipi Ghina.


Ghina merasa malu sendiri dengan obrolan mereka pagi ini. Rasanya terdengar terasa sedikit aneh, meskipun di bicarakan berdua dengan sang suami sendiri.


Perlahan waktu telah banyak berlalu. Demi mempersingkat waktu mereka pun mandi bersama. Biar pahalanya semakin banyak, kata Joen pada Ghina.


...----------------...


Dikamar depan, Nona Nari bersenandung ceria sembari menyiapkan perlengkapan sekolahnya"Kita bertemuuuu dan jatuh cintaaaa~~~~," senandungnya dengan nada yang ngalur-ngidul.


Nari sedikit bergoyang dengan senandung cerianya"Dududduu~~~," dan senandungnya bergema di seluruh pelosok kediaman Charlotte.


"Sepertinya Nari sedang bahagia," tegur sang papah


"Akhir-akhir ini memang lagi ceria banget dia pah," sahut Nyonya Sook.


Namun baru juga berapa detik kedua orang tua mereka berbincang ,senandung Nari berganti menjadi teriakan penuh amarah"BANG JOOEEEENNNN!!!."


"Haddduuuhhh!!," Tuan Charlotte mulai mencium tanda-tanda pertempuran dari atas sana.


"PAPAAAHH!!," jerit Nari lagi.


"Papah udah selesai mah, berangkat ya," kecupan di kening sang istri menjadi tanda kepergiannya berangkat bekerja.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan pah," seru Nyonya Sook.


Suara gaduh terus terdengar dari dunia atas sana.


Jung turun bersama Bae.


"Bahaya tu mah, Joen di gebukin habis- habisan," nampaknya Jung melarikan diri dari amukan Nari.


"Kapan sih kalian akur? kalian bukan anak kecil lagi."


"Jung nggak ikutan mah! papahnya Bae nih, mulut nenek sihir di plesterin."


"Hah," pekik sang mamah.


"Memang Nari salah apa??." Jung menggeleng tanda nggak mengerti kenapa pertikaian itu terjadi.


"JOEENN!!," teriak Nyonya Sook lagi. Namun bukan Joen yang muncul, tapi malah si Ghina yang nongol.


"Jinakin suami kamu,Ghin?? kalau nggak, mamah yang nabok nih," ancam Nyonya Sook mengepalkan tangan terangkat ke udara.


Dengan bergidik"Ghina nggak berani mah, Nari ganas banget." Ghina pasrah, nungguin sisa-sisa dari serpihan tubuh papahnya Bae aja," ujarnya lagi.


Nyonya Sook naik keatas, ceramah pagi pun di mulai di atas sana.


"Itu suami kamu, kok malah di ketawain?. Bantuin kek!."


Ghina tetap tertawa, dia nggak menggubris perkataan Jung"Ghina nggak ikutan bang," ujarnya.


"Bang Jung jung sarapan deh, Ghina ngajak main Bae aja dulu."


Selang beberapa saat dua orang yang membuat keributan itu kini telah duduk bersama dalam satu meja.


"Cih, suara fals maksa banget pengen nyanyi. Bakal tuli telinga aku. Bikin mood bagus ku pagi ini jadi ambyar," cibir Joen.


"Nari nyanyi buat diri sendiri, kalau nggak terima kenapa nggak di sumpel aja telinganya, bukannya mulut Nari yang di plesterin!!."


"Cukup!!, gara-gara kalian papah jadi berangkat lebih cepat ke kantornya. Mau sampai kapan kalian nggak bisa akur dan damai seperti ini?!," dengan alis menukik naik, sang mamah menyambung ceramah gratisnya lagi.


"Ih, malu-maluin. Ribut pagi buta gara-gara nyanyian si nenek sihir. Untung rumah kita ngggak dempetan sama tetangga,kalau nggak bisa jadi bahan gosip


netizen kan kita," cibir Jung menimpali.


"Kamu jangan jadi kompor. Mamah ledakin mau kamu? kalau memang nggak terlibat kamu diem di pojokan! jangan nambah- nambahin masalah," hardik Nyonya Sook pada si sulung.


"Buset! memangnya Jung granat," si sulung masih mengoceh.


"Diem!!," kamu bikin kepala mamah tambah pusing!. Heran deh," ujarnya lagi dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Bisa nggak satu minggu aja kalian memulai pagi dengan adem ayem?. Nih, otak mamah rasanya kusut seperti benang layangan karena ulah kalian!."


Nari yang merasa sebagai korban mendelik Joen sambil mengusap bibir manyunnya. Hatinya mengumpat dan mencaci makin Si abang gila.


Jung yang ikut-ikutan kena semprot diam di pojokan, seperti permintaan sang mamah. Kali ini dia memilih sedikit alim dan cukup jadi penonton saja.


"Joen, kok kamu tega mulut Nari kamu sumpal?."


"Cuman di plesterin sedikit mah. Ngecilin volume nya doang soalnya berisik sih!," sahut Joen santai.


"Lagian suara kek kucing kejepit gitu nyanyi nggak mikirin nasib orang lain. Pake naik- naikin nada lagi."


"Nari nyanyi di kamar kok mah, nggak gangguin bang Joen. Dia nih yang tiba-tiba masuk ke kamar Nari bawa selotip jumbo buat membungkam mulut Nari," kasihan sekali raut wajah Nari saat itu.


"Terus?? itu bang Joen kamu apain?."


"Nari tabok pake----," jawabannya terhenti.


"Bilang!!," sentak Joen.


"Salah sendiri!," Nari balas mendelik Joen"Pake tongsis, mah," jawabnya memasang raut wajah manis, coba mencari simpati sang mamah.


"Itu kan bahaya Nar!! bisa cidera Abang kamu. Sekarang mana tongsisnya?," tanya Nyonya Sook.


"Udah nggak berbentuk. Nari pukul ke pantatnya, mah," Nari ngotot nggak merasa bersalah. Orang memang Joen yang menyerang duluan.


Nyonya Sook menopang kepalanya, mendengar senjata Nari itu sampai tak berbentuk seperti semua lagi. Ckckck!! bar-bar sekali anak gadisnya ini.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗


Salam anak Borneo.


__ADS_2