Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Tum-bal


__ADS_3

Denting gelas beradu dengan sendok, memecah kesunyian di malam itu. Mengambil duduk di meja makan, Nyonya Victoria nama wanita ini. Sedang menikmati minuman yang di percayai mampu menjaga keremajaan kulitnya.


Ya, meski sudah berusia senja namun rupa seorang Victoria masih terbilang cantik. Tentu karena dirinya pandai menjaga dan merawat diri. Sejak belia wanita ini memang selalu memperhatikan diri dan penampilan. Memiliki kecantikan di atas rata-rata, dengan bentuk tubuh yang aduhai, mengapa sang lelaki pujaan tak pernah sekalipun menoleh padanya?. Malah lelaki yang di sukainya itu begitu mencintai wanita berpenampilan sederhana, yang datang dari keluarga tak terlalu kaya raya seperti dirinya.


Ck!, mengingat hal itu membuat Victoria membuang napas kasar. Segala cara halus telah dia lakukan untuk menarik perhatian Hanan, namun usaha itu tak membuahkan hasil. Di tengah kegundahan atas cinta yang tak bersambutan, Victoria terjatuh dalam jerat asmara sang pria penjaja cinta. Yah! kesal karena gagal mendapat perhatian dari Hanan, Victoria menjadikan seorang teman lelaki yang terlihat menyukainya sebagai pelampiasan. Memadu kasih dengannya ternyata cukup memuaskan, hingga akhirnya membuahkan janin di rahimnya.


Mengandung di saat dirinya belum menikah, hal ini membuatnya di kucilkan dari keluarga. Meski begitu kehidupannya selalu di hujani dengan uang, uang dan uang. Setidaknya saat itu dirinya memiliki segalanya, namun tidak dengan cinta Hanan.


"Kalau dengan cara halus aku gagal mendapatkan dirimu, maka cara kejam itu harus ku coba" begitulah suara hati Victoria saat itu.


Sungguh, di saat dewi Amor menolak untuk menancapkan panah cinta padanya dan Hanan, semesta memberikan ruang dan waktu untuk mereka bersama. Belum terpikir cara apa yang akan di lakukan untuk menjerat Hanan kabar kecelakaan yang menimpanya membuat harapan itu siaran. Berbekal hati yang lara Victoria memilik meninggalkan kota itu, namun kedatangan ke sebuah perkampungan kecil menjadi awal keberuntungan baginya.


Menata hidup sebagai pengusaha perkebunan, begitulah cara Victoria bertahan hidup dari pengasingan keluarganya. Perutnya sudah mulai membesar, bersama pengawal perempuannya Victoria berniat memeriksakan kandungan ke rumah sakit, dan saat memasuki area rumah sakit tua di perkampungan itu, Hanan terlihat termenung di taman, dengan kepala terbungkus perban.


"Sangat lama aku mencarimu, akhirnya Tuhan mempertemukan kita." Gumam hati kecil Victoria saat mengakui diri sebagai istri dari Hanan.


"Mamah, kenapa melamun dalam temaran?!" suara anak gadisnya menarik Victoria dari kenangan di masa lalu.


"Ah, Mamah hanya merindukan bibi pengasuh mu. Kemarin Mamah mendapatkan kabar bahwa dia sedang sakit."


"Begitu ya?, gimana kalau hari minggu kita ke rumah perkebunan?. Aku sudah merindukan tempat itu, tempat kita tinggal dahulu."


"Butuh waktu lama untuk sampai ke sana, waktu liburmu akan habis di perjalanan."


"Nggak apa-apa kok Mah, ayo dong. Kita juga akan mengajak Papah, ku lihat dia selalu termenung. Mungkin Papah nggak suka dengan suasana di sini, sepi dan jauh dari tetangga. Sedangkan di perkampungan suasananya asri, banyak pekerja yang bisa jadi teman ngobrol Papah." Gadis ini berceloteh panjang lebar, membuat Victoria tersenyum. Sungguh, meski nggak memiliki hubungan darah, rasa sayangnya terhadap Hanan sangat mendalam. Tentu kenyataan bahwa Hanan bukan Papah kandungan nggak di ketahui gadis ini, sebab saat lahir Hanan telah hadir dalam kehidupannya.


"Hemmm, Mamah akan membicarakan hal ini dengan Papah dulu ya."


"Papah pasti setuju. Oh ya, di mana dia?, sejak pulang sekolah aku nggak melihat nya."


"Mungkin di ruang baca, selain taman hanya ruang baca tempat ternyaman nya." Sahut Victoria.


Sangatlah mencintai dan perhatian terhadap Hanan, sikap lelaki itu sangat biasa saja terhadapnya, dalam tolak ukur sebagai pasangan suami istri. Hanan bahkan menyeka pipi nya setiap kali Victoria mendaratkan ciuman. Dan yang lebih parah lagi, Hanan nggak pernah menyentuhnya, dengan alasan kelumpuhan yang dia derita. Kecelakaan itu merenggut kebebasan untuk bergerak, untuk menggerakkan bokong pun Hanan nggak mampu. Itulah salah satu alasan kuat mengapa dirinya selalu di temani sang perawat pria. Selain untuk membantu mandi dan tugas membersihkan diri lainnya, perawat pria itu juga harus mampu mengangkat tubuhnya yang lumpuh parah itu.


"Aku mau ketemu Papah."


"Greta, jangan lupa bawakan obat untuknya." Ekor matanya mengarah pada piring kecil berisi beberapa butir obat dan segelas air putih di dalam baki. Greta segera membawanya dan bergegas menemui Hanan.

__ADS_1


Di belahan bumi yang lain.


"Gimana? kamu dapat izin nggak buat ngendorse?.


Pesan singkat dari Jung membuat bibir Nari mendecih. Entah meledek atau memang prihatin, kenapa harus ada emot ikon 😝 seperti ini di ujung pesannya?!.


"Lidah abang kaku? mau aku lemesin." Jawaban ini nggak ada hubungannya dengan pertanyaan Jung, namun pak dosen ini terkekeh, tau bahwa emosi sang adik mulai melonjak naik.


"Sudah ada Andrea yang me-lemaskan lidahku." Urat malunya seolah putus, mengungkap hal se-vulgar ini kepada Nari, seorang bocah di bawah umur.


Kini giliran Nari yang terkekeh, ibu jarinya menari lebih cepat di atas layar ponsel"Coba deh abang bayangkan, kalau pesan ini di baca Mamah?." Pesan kembali di kirim.


Aish! Jung sepertinya lupa sedang berhadapan dengan siapa, teman berbalas pesan nya sekarang adalah Naria sang nenek lampir, tentu mentalnya sekuat baja.


Menyematkan stiker kedua tangan menangkup, Jung meminta maaf. Berharap sang adik nggak membuat sang Mamah mengomel kepadanya. Meski kemungkinan hanya mengomel melalui panggilan suara, atau panggilan video, tetap saja telinganya akan panas.


"Maaf di terima kalau di orderkan seblak" seandainya dekat, mungkin kening si bontot sudah memar sekarang. Jung gemas sekali, ini namanya senjata makan tuan.


Baiklah, dengan patuh Jung memesankan seblak untuk sang adik tercinta. Tentu dirinya yang membayar. Ckckckck!!.


"Pedas nampol, kalau bisa cabenya di tambahin lagi. Masalah harga bisa di atur." Isi pesan singkat Jung kepada kang order makanan.


Sedang asik bermain ponsel di beranda, Joen melempar kulit kuaci ke arah Nari. Dirinya duduk di pagar balkon kamarnya sedangkan Nari bersandar di sana.


"Abang! tempat sampahnya ada kan!."


"Eh, ada orang ternyata" celetuk Joen.


Ekor mata Nari mendelik, minta di geplak keningnya si abang satu ini. Saat hendak melayangkan serangan, Joen lekas berucap.


"Kata abang kamu dapat tawaran endorse ya?."


Aha! kalau abang yang jauh di saja nggak mendukung, mungkin abang yang dekat di sini akan berpihak kepadanya. Yah, meski pun kecil kemungkinannya.


"Bayarannya besar lho bang" ikut duduk di balkon, dengan kaki menjuntai, nggak seperti kedua kaki Joen yang menapaki ubin balkon. Makhlum, Nari kan si cantik berbadan mini.


"Oh ya?, berapa emang?."

__ADS_1


Nari membuka pesan yang masuk di akun media sosialnya, memperlihatkan obrolannya dengan pihak yang menawarkan. Di sana juga terlihat bahwa pihak produk bersedia memberikan waktu untuk Nari meminta izin kepada kedua orang tuanya.


Joen memutar dua bola mata, setelah membaca pesan itu sang Abang mencoba mencari jalan keluar terbaik.


"Abang pengen ganti ponsel."


Sangat mengenal satu sama lain, Nari paham betul dengan kode yang di berikan Joen.


"Belum dapat izin, belum kerja, sudah minta jatah. Abang udah kerja, duitnya juga banyak, kok mengincar uang orang miskin kayak aku."


Joen tertawa"Kan bisa nanti, kalau kamu sudah dapat uangnya. Se-enggaknya bantuin bayar separuh harga dong. Entar kurangnya Abang bayar sendiri."


"Bang, nggak malu minta sama Nari?."


"Enggak!" jawab Joen langsung.


"Aku aja Abang yang kasih uang jajan."


"Itu kan sekarang, lagian itu bukan ngasih nggak ada imbalan. Entar kalau sudah jadi Selebgram tajir kamu harus balikin uang Abang, bunganya jangan lupa, 30%."


Lenguhan napas Nari, sungguh menggelitik perut Joen. Dia sangat menyukai tampang menderita sang adik, seperti sekarang ini.


"Gimana? mau di bantuin nggak?."


"Caranya?."


"Gampang, Abang punya cara jitu untuk mengantongi izin dari Papah dan Mamah. Masalah si onta, itu juga gampang. Kalau kamu setuju bayarin separuh dari harga ponsel baru Abang, si onta juga bakal kecipratan kerjaan kok. Tenang aja."


"Kecipratan kerajaan?" kening Nari berkerut.


"Ck! iya-in aja deh. Abang durjana nan jauh di sana nggak usah di pikirin, yang penting kamu dapat izin dulu."


Bujuk rayu Joen sungguh menggiurkan. Meski harus mengorbankan Abang pertamanya, Nari yakin dosen edan itu nggak akan tewas di tangan Papah dan Mamah mereka. Hahaha, Nari terkekeh, dan kesepakatan pun terjalin di antara mereka.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2