Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Kebakaran!


__ADS_3

Jarang bertemu menambah kerinduan, kerap bertemu memupuk rasa ingin berdekatan. Sejak perjodohan itu terungkap, Arin selalu di minta untuk mengurusi Fay. Meski nggak sepenuhnya, tapi gadis ini selalu di minta untuk perhatian terhadap Fay.


"Coba di pandang! Fay itu cakep pake banget!!" Hanggini, sang Ibu yang lemah dan lembut nampak berapi-api kali ini. Sepertinya dia lelah bermain halus terhadap sang putri, yang kerap mengomel kalau di minta memberikan perhatian terhadap calon suaminya.


"Cakep nggak harus suka!. Semua teman-teman Arin cakep kali Bu" beginilah Arin, nggak mudah di bujuk.


Mendengar perdebatan itu, Carlos mengambil sesuatu dari dalam lemari. Benda dalam kotak berwarna merah itu di berikan kepada Arin.


"Ini titipan Papah Prana. Fay nggak sempat memberikannya langsung padamu. Katanya kamu sulit di dekati sekarang, kayak kodok beracun, salah langkah Fay bisa kamu gigit." Yakin deh, ocehan ini telah di bumbui Carlos, sebab Prana nggak mengatakan perihal kodok beracun itu.


Melirik sang Ayah"Kodok??. Kenapa Arin jadi kodok?."


"Kalau di dekati Fay, kamu pasti menjauh kan?."


"Iya sih, tapi nggak di samain sama kodok juga, Ayah!."


"Memang ada ya kodok yang diam aja kalau di deketin??."


"Nggak ada. Dia pasti langsung meloncat."


"Nah, itulah kamu."


"Ayah!!" hardik Arin.


Hanggini menutup mulut, hatinya merasa geli melihat sang suami menggoda sang putri.

__ADS_1


Membuka kotak cincin itu, kemudian mengangkatnya sejajar wajah sang putri"Lihat deh, cantik kan cincinnya. Ini pilihan Fay lho. Ayo dong cantik, jangan bikin mendiang kakek kecewa."


Bawa-bawa Kakek, Arin semakin cemberut. Orang tuanya sangat tau bagaimana dekatnya dirinya dengan mendiang sang Kakek. Dia bahkan rela tidur di kediaman sang Kakek meski Ayah dan Ibunda nggak ikut ke sana.


Sama seperti Arin, Fay juga di bujuk atas nama sang Kakek.


Rebahan di ranjang empuk, dengan membolak-balik badan seperti ikan di jemur, Fay memandangi jari manisnya.


"Harus di pake ya?. Harus banget?." Kepada siapa Fay bertanya, sedang hanya ada dia seorang di sana.


Bayangan saat Arin mendengus padanya, akh! kenapa mengingat hal itu membuat sudut bibirnya melengkung naik.


Masa-masa SMA akan segera berakhir. Zaid mulai lelah dalam kesendirian ini. Haruskah dia mencari pasangan di penghujung masa SMA?. Sedangkan gadis yang menghuni hatinya hanyalah Nari, gadis yang telah terikat benang merah dengan pemuda lain.


Tring!! suara notifikasi di ponsel memecah lamunan.


Fay:"Cowok-cowok doang?."


Ikbal:"Maunya?."


Udin:"Ikut!."


Kevin:"Jemput!!."


Rivan:"Lagi kerja, demi sebongkah berlian."

__ADS_1


Zaid_Rivan"Kerja apaan?. Bukannya kamu udah berhenti kerja di bengkel aku?."


Rivan_Zaid"Kerjaku melamun doang, sambil bayangin masa depan sama Yayang Niki 😍."


Ikbal:🤮


Udin:🥴


Kevin:🤜😍


Febby:"Guys tolongin. Rumah aku kebakaran!!."


Weehh!!!. Semua yang hadir di grup chat itu langsung menuju kediaman Febby. Hendro yang diam memperhatikan obrolan gegas menyabet kunci mobil, juga menyusul ke sana.


Nari:"Feb!! udah telepon bomber belum?!!!."


Nggak ada jawaban dari Febby lagi. Rasa khawatir semakin menjadi. Saat itu Nari sedang syuting iklan kosmetik wanita, yang di produksi oleh perusahaan sang Papah. Meninggalkan para staf, Nari gegas meminta Jung mengantar ke kediaman Febby.


"Perasaan Manager nggak harus jadi supir deh."


"Abang!. Rumah Febby kebakaran" Nari akhirnya menjelaskan. Sedari tadi dia hanya menyeret sang Abang menuju mobil.


Kebakaran?!. Ini nggak bisa di biarkan"Pegang!!" seru Jung mempercepat laju kendaraan.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2