Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Ancaman Tuan Charlotte


__ADS_3

Entah kenapa beberapa hari ini hujan masih sangat setia menyapa bumi.


"Sekolah?."


"Nggak sekolah?."


"Sekolah...?."


"Nggak sekolah?."


"Eishhh! apa minta izin aja, ya? udaranya dingin banget! enakan rebahan di bawah selimut hangat," Naria, sangat malas untuk beranjak dari tempat tidur, apalagi segera mandi dan berangkat ke sekolah. Akhir-akhir ini cuaca dingin di pagi hari kerap menggigit tulang, rasanya nyaman sekali saat sedang di peluk sang selimut tebal.


"Nyong, lihat kunci mobil ku nggak."


Nggak ada jawaban, hanya lenguhan yang terdengar.


"Nek, lihat kunci mobil aku nggak?," tanya Jung lagi di depan daun pintu.


"Aku punya nama, ya!."


"Sok kecantikan!. Mamah khilaf kasih kamu nama Nari, watak kamu nggak sebaik nona-nona kerajaan jaman dahulu." Ocehan Jung nggak di respon Nari lagi, sudah di pastikan mereka akan berperang jika Nari meladeni ocehan sang abang pertama.


"Kemana lagi tu kunci?," Jung nampak sibuk membolak balik bantal kursi di ruang keluarga.


"NARIAAAA, KUNCI MOBIL KU MANA???," hoel! kenapa harus Nari yang di tanyain? sedangkan Nari nggak tahu menahu dengan kunci itu?. Jung memang jago memancing api pertikaian, lihat saja apa yang bakal Nari lakukan, sebab gadis itu sudah menyibak selimut hangatnya.


"Tunggu ya bang!! aku mandi Koboy, dandan balapan, terus jurus jambakan sakti akan kamu dapatkan!," gerutu Nari gegas ke kamar mandi. Dalam benak Nari, jika setelah dirinya usai bersiap ke sekolah si abang masih mengomel dan menuduhnya, maka peperangan memang nggak bisa di hindari pagi ini.


"NARIA!! KUNCI MOBILNYA KAMU CEMILIN YA??!," Nasib sungguh nasib, bahkan setelah Nari siap dengan seragam sekolahnya, mulut Jung masih mengoceh mengata-ngatai dirinya, sebab kunci mobil belum juga di temukan. Dan, nggak perlu waktu lama, langkah menghentak gadis itu terdengar nyaring saat menuruni tangga, berjalan ke ruang keluarga dan..."BUK!!," Nari melempar bantal tepat di kepala Jung.


"Kamvret!! jangan ngajak berantem ya, Kepalaku sudah mumet dari tadi nih, jangan di tambahin mumet pake bantal terbang!," si dosen yang duluan memancing masalah malah berlagak menjadi korban ke bar-baran Nari. Jelas-jelas dia yang ngata-ngatain Nari segala nenek sihir.


"Nggak tau diri!."


"Jangan melotot ya bang!. Nari jadiin pentol bakso tuh mata, mau?," ancam Nari.


"Ya kali kang bakso, hahahah," Jung tertawa lantang"Dasar cewek nggak berakhlak, mulut lemes seperti ban sepeda bocor."


Telinga Nari merah meradang"Mulut abang tuh yang pagi-pagi sudah ngajak berantem. Sini aku kasih tonjokan dikit!!," serang Nari menarik kerah baju Jung. Tubuh tinggi Jung terhuyung ke depan, sebab cengkeraman tangan kecil Nari sangat kuat. Kalau urusan adu jotos, Nari memang nggak tanggung mengerahkan kekuatan.


"Aw...aw...aw??!. Mamah!! help!," pekiknya .


Andrea bersama Nyonya Sook di ruang makan, mempersiapkan sarapan mereka bersama pagi ini .


"Kenapa lagi suami kamu, Ndre?, buruan di jinakin."


"Mamah deh yang maju, pasti berantem sama Nari," Andrea sudah lelah, hampir setiap pagi Nari selalu ribut sebelum sarapan, Kalau nggak sama Joen ya sama Jung. Sebenarnya bukan hanya Nari yang bertingkat, tapi dua Tuan muda itu pun sama, usia hanyalah angka untuk mereka, sedangkan kedewasaan sepertinya hampir nggak ada.


"JUNG!!!."


"NARIA...!."


Bentakan Tuan Charllote bergema di seluruh ruangan.


"Drama di mulai," gumam Joen yang sudah menuruni tangga di susul Ghina bersama Bae.


"Apa lagi masalahnya?," sentak Tuan Charllote mengepalkan tangan. Untung nggak melayang tu bogem mentah.


"Bang Jung mulutnya terlalu nista, pah. Selalu ngata-ngatain nama Nari," adu si bontot.


Memijat pelipisnya"Berapa kali papah harus mengingatkan, kalian sudah besar.Sudah pada menikah!. Nari juga sudah mau kuliah!! akh!," pekik Tuan Charllote frustasi.


"Dia ngumpetin Kunci mobil Jung, pah!."

__ADS_1


"Fitnah kamu bang!. Nggak guna juga tu kunci buat Nari, bawa mobil aja belum di bolehin," Naria membela diri.


"Eleh!! Kamu memang belum di bolehin bawa mobil, tapi kan lagi ganjen-ganjen nya belajar nyetir. Ngaku deh! iya kan? benar kan? hilih! pasti mau ngeles! dasar kang bajay!," Jung menyerang Nari berkali-kali, sungguh menguji kesabaran sang Nona muda.


PLETOK!!"Penjarain mulut kamu, Bang!. Kalau nggak sekolahin, nggak sopan ngomong sembarangan," serang Nari lagi.


"Aghhhh!!," pekik Tuan Charllote"Aku sarapan di dapur aja mah. Ayo bawa ke dapur saja makanan nya," Tuan Charllote sudah terlalu lelah untuk melerai mereka, dia harus bergegas ke kantor sebab pagi ini mereka harus meeting.


"Tolong Ndre, di kandangin dulu suami kamu. Liar banget!." Andrea tertawa dengan ucapan papah mertua. Nampaknya dia sudah sangat bosan dengan drama yang di bintangi Nari setiap pagi. Dan kali ini lawan mainnya adalah si dosen yang nggak pernah dewasa di mata sang papah.


"Joen, kamu sarapan sama papah. Kita harus buru-buru ke kantor," Joen yang cengir-cengir menjadi penonton merasa rugi melewatkan adegan drmatis dua saudaranya, sebab kedua tangan Nari sudah melekat erat di kepala Jung.


"Hahahah, tarik Nar!! rontokin aja rambutnya!," serunya memberikan semangat pada Nari, untuk terus menyiksa Jung.


"Ayah~~~, kunci...."


Perkelahian terjeda.


Jung menatap Bae yang sedang menenteng Kunci mobil"Dapat dari mana sayang?."


"Di kamal Ayah," ujar Bae dengan senyuman.


Nari sang tertuduh, membanting tas sekolahnya, melepaskan Headphone yang menggantung di lehernya dan---"PLAK!!!."


Kening si dosen mendapat tepukan keras. Bukan dari tangan Nari tapi dari buku pelajaran Nari yang dia gulung.


"Oiii GILA!," sergah Jung.


"Iya Nari memang Gila. Gara-gara abang yang gila, Nari jadi ikutan gila," teriak si bontot lantang.


Jung Menarik kemeja Nari" Sini, aku balas duluuuu!!."


"OGAHHH!!!," pekik si Nona Muda.


"PAH??!," Joen melirik Tuan Charllote. Ekspresi Tuan Charlotte langsung berubah masam, mau sarapan saja harus terganggu karena ulah dua bersaudara itu. Meletakan peralatan makan, mengusap wajahnya kasar.


Buku yang di gulung itu di ambil paksa Tuan Charlotte, di pukulkan ke kening Nari kemudian ke kening Jung" B E R H E N T I I I I I !!!!!!."


Burung-burung berterbangan terkejut dengan teriakan Tuan charllote .


"Hosh!!hosh!! hosh!!." Napas kepala keluarga ceria itu beradu naik turun menahan emosi.


Dua pemeran utama terdiam. Bae di larikan Ghina ke taman belakang. Bakal ada kekerasan pagi ini, dan Bae nggak boleh menyaksikan hal itu.


Plak!!! Buku Nari di lempar ke meja. Dia mengambil ponselnya dan"Tat tit tut!," menekan nomor seseorang kemudian berbicara.


"Selamat pagi Wiliam, tolong terima Andrea dan Jung untuk tinggal di kediaman kamu, untuk sementara saja. Aku bisa gila karena pertengkaran anak-anak ku."


"Setiap pagi aku harus menjadi wasit pertempuran anak-anak ku yang gila ini. Demi kesehatan pikiran Andrea, lebih baik mereka tinggal bersamamu saja.Dia bisa lupa ingatan lagi kalau harus menghadapi kekacauan di rumah ini setiap hari. Dan bla bla bla bla!!," curahan hati Tuan Charllote begitu panjang pada sang sahabat sekaligus besan.


"Kapok lho, di usir papah!!," bisik Joen.


"Diam!!," akibat nyinyiran Joen mendapat tepukan tepat di mulutnya dari sang mamah.


Selesai berbicara dengan sahabat sekaligus besannya, Tuan Charllote duduk di meja makan. Dia mengurungkan niatnya makan di meja dapur .


"Kalian berdua....!, duduk!!," tunjuknya geram kepada Jung dan Nari. Nggak seorang pun yang berani angkat bicara. Dengan patuh Mereka berdua duduk di meja makan.


"Buruan makan, beberapa hari kedepan kalian nggak akan sarapan sama-sama lagi," wajah Tuan Charllote terlihat datar.


"Pah...," pegang Nyonya Sook di lengan suaminya.


"Andrea...," ucapnya kepada sang menantu.

__ADS_1


"Bukan maksud papah mengusir kamu dan Jung, tapi kamu lihat sendiri kan keadaan di sini setiap pagi. Drama ala-ala mamah kamu selalu terjadi."


Nyonya Sook tersipu, entah ini pujian atau sindiran bagi nya, yang jelas pertempuran tiga saudara ini nggak kalah seru dengan drama asal korea yang sedang naik daun sekarang ini.


"Jadi, sudah papah putuskan untuk sementara kalian tinggal bersama papah kamu aja ya. Dia juga pasti kesepian kan tinggal di sana sendirian. Lagipula suaranya terdengar sangat ceria pas papah meminta persetujuan nya," jelas Tuan Charllote panjang lebar.


"Bae~~~," lirih Andrea menatap magnae di keluarga Charllote itu. Kini si Bae juga sudah hadir di meja makan bersama Ghina.


"Mendadak banget, pah," kata Jung tanpa mengangkat pandangan. Kedua mata nya nampak sibuk menatap meja makan tanpa makna. Kali ini sikapnya benar benar membuat sang Papah marah.


"Mendadak gundul mu?," bentak sang papah.


"Hufph!!," Joen menahan tawa.


"Eh!!!, jangan senang dulu kamu. Pemeran drama di sini kan bukan hanya Nari dan Jung, kamu juga sering ngerecokin adek kamu kan?!."


"Joen juga sering jadi korban Nari, pah. Dia tuh wajah doang baby face..., tapi kelakuan bar-bar banget, pasti dia cewek jadi-jadian. kamu asli nya laki kan, Nar?," Joen terus berceloteh membela diri dengan lirikan penuh tanya pada Nari.


"Papah nggak akan kasih toleransi lagi kepada kalian, Jung segera minggat ke kediaman Wiliam.


"Mah~~~," rengek Jung.


"Mamah cuman bisa merelakan kamu untuk Andrea seutuhnya. Tolong jagain anak mamah ya sayang," timpal Nyonya Sook.


"Sampai kapan pah kami harus minggat."


"Sampai waktu yang nggak di tentukan," jawab Tuan Charllote melengus kesal. Membuat Andrea menelan saliva.


Andrea bingung mau tertawa atau bersedih. Di satu sisi dia bahagia kembali tinggal sama papah Wiliam. Di sisi lain dia sudah dekat banget sama si kecil Bae.


"Jangan lihat-lihat, bawa aja ni orang Ndre!!." hardiknya mendapati Jung yang curi pandang padanya.


"Kamu juga Joen, kalau pagi-pagi masih rese, kabur ke rumah Ghina sana!."


"Papah!!, Ghina masih trauma sama rumah itu," pekik Joen.


"Iya Ghin?," lirik sang papah mertua.


Ghina menggeleng"Udah enggak sih, pah. Kemarin sempat mampir kok sama mamah" meremas jemari sang Mamah mertua. Berkat dorongan dan dukungan darinya, kini Ghina nggak trauma lagi jika memasuki kediaman nya bersama mendiang ayah dan ibunya.


Joen mengangguk pasrah, posisi nya juga terancam sekarang.


Nari memasang tampang puas penuh kemenangan"Syuuu~syuuu~!!," yang sudah berkeluarga minggat sana!."


"Kamu juga!!," hardik Tuan Charlotte pula.


"Nari pah?, hahaha pan Nari belum punya suami, pah," sanggah nya senang.


"Papah bisa menikahkan kamu!."


Semua yang hadir terkesima dan terkejut.


"Papah mau ngusir kami?," tiga bersaudara itu sontak bersamaan memastikan ucapan sang papah.


"Iya, papah sudah muak dengan tingkah childkids kalian," sahut nya dengan nada santai.


"Ayo mah, kita makan. Biarkan mereka berpikir jernih." Dengan santai Tuan Charllote dan Nyonya Sook segera melahap sarapan nya. Sementara para anak-anak, membeku usai mengetahui niat sang papah.


To be continued...


~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like vote dan kemen ^,^


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2