Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Mendekati hari H


__ADS_3

Trik nyonya Sook membuahkan hasil, di bantu Ghina dan Nari yang bersedia menjadi satpam ketika Jung akan di rias besok, akhirnya si pak Dosen mengalah juga.


"Ingat ya, kalo bohong Jung mending pake baju sendiri aja!," Jung sedang terpojok di sudut kamar Nari. Dirinya baru mengerjapkan kedua mata dari tidur sore, tiba-tiba di hadang sang mamah yang sedang duduk manis di sampingnya, membuatnya terkejut bukan kepalang.


"Memang bisa sih pake baju sendiri, tapi wajahnya perlu di dandanin dikit mas bro!," Nari seperti paham sekali sama persiapan calon pengantin lelaki, mungkin teringat saat Joen sama Ghina menikah dahulu.


"Oke, oke!!, aku juga capek ngumpet terus. Sudah akh, mau laporan dulu sama calon bini, kalian semua menjebakku hari ini," melenggang meninggalkan kamar Nari dengan mulut mengoceh.


"Heh onta! bilang apa sama yang punya kamar?."


"Gomawooo!!," sambil terus berjalan, dia melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang.


Sang mamah menatap Nari dengan bersandar di muara pintu" Kalau urusan seperti ini kalian bisa akur ya."


"Nari di paksa ,mah. Mulut Nari di bekap, seperti orang di culik," cicit Nari, menyadari api amarah mulai berkobar dalam diri sang mamah.


"Hmmm, benarkah??," nada sahutan nyonya Sook terdengar menusuk hati, pelan namun penuh makna. Di tambah tatapan tajam mengintimidasi, seolah menelanjangi bahkan menguliti gadis itu"Awas kalau kamu bohong sama mamah?."


Dengan tegas Nari menolak tuduhan sang mamah"Enggak mamah, enggak!. Demi neptunus mulut Nari di bekap, tahu kan badan bang Jung tuh gede, Nari juga di pelintir ma."


"Oh ya??, kalau di pelintir kenapa nggak keriting badan kamu?."


"Anu---Ghina izin balik ke kamar ya, mah..., Nar," si menantu mengundurkan diri dari perdebatan itu, menyusul Joen yang sudah kabur duluan dari hadapan mereka.


"Eh kamu telpon Andrea, tanya kapan ke sininya. Nanti dia tidur sama Nari aja, biar nggak tergesa-gesa besok pagi," titah sang mertua sebelum Ghina benar-benar pergi dari hadapannya.


"Siap, mah!," sahut Ghina.


Jung merebahkan diri di kamarnya sambil memeriksa sang gawai"Hoel, banyak banget panggilan nya." Mendapatkan berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari Andrea dan Nyonya Sook.


"Sayang, sudah kangen ya?," ujarnya melakukan panggilan video pada Andrea.


"Nongol juga akhirnya, sembunyi di mana kamu??pasti udah tertangkap kan sama tante."


"Kamu kangen nggak?," Jung nggak menggubris pertanyaan Andrea. Dia justru menuntut ucapan rindu dari kekasihnya.


"Nggak! besok kan kita udah sah, ngapain kangen-kangenan."


Jung menggigit bibir, menatap lekat-lekat wajah Gadis yang sebentar lagi menjadi istrinya"Sayang...."


"Hemm!," sahut Andrea. Gadis itu sibuk memasukan barang-barangnya ke sebuah tas kecil. Sepertinya Andrea sedang berkemas perlengkapan make up, sebab akan segera meluncurkan ke kediaman Charllote.

__ADS_1


"Kok di cuekin."


"Di cuekin gimana? aku lagi sibuk masukin make up, kemas-kemas mau nginap di rumah kamu."


"Belum sah! ngapain nginap di sini!," Jung sangat terkejut. Andrea memang suka terburu-buru, tapi dia nggak yakin Andrea mendapatkan ijinkan secepat ini, dan langsung tinggal sekamar dengannya.


"Heleh, kamu mikirnya apa sih, sayang?. Aku tidur di kamar Nari, bukan di kamar kamu."


"Oh gitu, kirain mau tidur di kamar aku. Ngebet banget sih."


"Hei, kamu yang mikirnya aneh-aneh, kamu tuh yang ngebet. Eh ngomong-ngomong tadi ngumpet di mana sayang?," ujarnya mengulangi pertanyaan kepada Jung. Suer! Andrea penasaran, lumayan lama lho Jung melarikan diri. Nyonya Sook sempat menelponnya, siapa tahu Jung akan kabur ke tempatnya.


"Di kamar Nenek sihir," jawab Jung.


"Dih, nggak terimaksih banget. Nari tu cantik banget lho, kok di panggil Nenek sihir?," Andrea seakan nggak terima dengan gelar yang di berikan Jung kepada Nari.


"Itu gara-gara bibit aku banyak turun ke dia aja. Coba kalau bibit nya Joen, nggak bakal secantik itu deh, aku jamin!," dengan sombongnya Jung memuji ketampanan yang dia turunkan kepada Nari.


"Sombong! ngelunjak!," Andrea melengus mengejek calon suaminya.


...........


Joen merebahkan si kecil Bae di tempat tidur, sejenak dia terpikir akan membeli baby box untuk sang putra. Gaya tidur super aktifnya bisa membahayakan orang lain, tadi aja perut Nari jadi sasaran embuk kaki gembulnya.


"Lagian dia udah biasa tidur di peluk aku," lanjutnya lagi. Bukan hanya Bae, dia juga sudah kebiasaan tidur sambil memeluk si gembul Bae.


"Kalau sudah tidur nyenyak bisa di pindahin, sayang. Kamu juga tahu kan si Bae ini kalau udah tidur bisa berkelana di atas ranjang, guling-gulingan kesana kemari, semua area ranjang dia kuasai," kebiasaan Bae sudah sering di pergoki Joen di tengah malam.


Kemarin malam aja dia hampir berbalik melewati batas tempat tidur, untung saja Joen yang masih terjaga di meja kerjanya sempat menangkap pergerakan si kecil Bae. Bahaya kalau tu anak loncat indah ke lantai, Joen sama Ghina bisa di gebukin si nenek.


"Lagipula, aku juga mau tidur di peluk seperti Bae," cicit Joen bertingkah manja, merebahkan kepalanya di pangkuan Ghina yang sedang duduk di tepi ranjang.


"Hemm, ini akal-akalan si papah Bae aja."


Joen tertawa, dia meraih jemari kecil sang istri yang dengan lembut membelai rambutnya"Apa enaknya sih tidur memeluk Bae, kalau kamu peluk aku rasanya pasti hangat."


"Bae kan gembul, empuk badannya," jelas Ghina.


"Aku juga empuk, sayang," Joen menggiring tangan Ghina ke dada bidangnya"Nih, empuk kan?."


"Ini otot sayang, kalo Bae mah lemak," Ghina menekan dada Joen, yang keras karena terbentuknya otot seperti jejeran roti sobek.

__ADS_1


"Sudah sayang, kamu mandi dulu. Aku mau siapin makan malam untuk kamu."


"Iya sayang, tapi jadi ya beli baby box nya," Joen enggan beranjak dari panggkuan Ghina sebelum wanitanya itu setuju dengan keinginannya.


"Iya deh," sahut Ghina mengusap ujung hidung Joen.


"Yes!!," Joen mencium singkat kening sang istri, kemudian dengan segera papah muda itu beranjak ke kamar mandi.


"Sorry Bae, mamah kan punya papah, hihihi," bergumam tawa jahat di dalam mandi.


Namun perkataan Joen terdengar oleh Ghina. Dia hanya tersenyum kecil sembari menepuk punggung Bae"Mamah mau kamu cepat-cepat besar, tapi kadang mamah juga nggak mau kamu bertumbuh besar. Semoga kelak jadi anak yang berbakti pada orang tua ya, sayang," gumamnya mencium pelan pipi gembul Bae.


...****************...


Andrea terpana dengan suasana di kediaman Charlotte, sungguh sangat luar biasa. Bahkan Tuan Wiliam pun merasa takjub dengan apa yang sedang di lihatnya.


"Wow, Nona akan menjadi putri bunga besok," pekik hana.


"Berapa banyak bunga yang mereka habiskan untuk semua ini, Hana," pekik Imah lagi.


Andrea memboyong kedua pelayan pribadinya kali ini, dia nggak mau kehadirannya merepotkan para pelayan di kediaman Charlotte, mengingat pasti mereka akan sangat di sibukan dengan tugas masing-masing.


"Selamat datang William!," sambut Tuan Charlotte.


"Hhahaha, hari yang kita nantikan telah tiba, Charlotte!," sahut Tuan Wiliam.


"Ya, ini hari yang sudah lama kita impikan," Tuan Charlotte tertawa lebar.


Sementara para Tuan besar bercengkerama di ruang tamu, Andrea melangkah lebih masuk ke kediaman Charlotte.


"Uwww~~~calon Nona muda kita sudah tiba," goda Nari dari anak tangga.


"Sini sayang," panggil nyonya Sook.


"Wajahmu berseri sekali, akh!! aku nggak sabar dengan hari esok."


Andrea tersipu malu, penantian panjang akan segera berakhir. Tinggal menghitung jam, dirinya akan menjadi Nyonya Jung.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2