
Sungguh kewalahan. Itulah yang sedang di rasakan Ikbal saat ini. Di samping ada Zaid yang cerewetnya minta ampun, mewanti-wanti agar dapurnya nggak di buat berantakan. Para Nona muda begitu antusias melihatnya memasak. Ups! bukan hanya melihat sih, masing-masing dari mereka hendak ikut memasak.
Bersiap dengan sebilah pisau daging, Nari ingin ambil bagian dalam acara masak-memasak kali ini.
"Emang kamu bisa potong Ayam?."
"Tinggal potong doang kan?." Tanya Nari dengan wajah polosnya. Akh! Ikbal nggak yakin menyerahkan Ayam itu kepada Nona muda satu ini. Bisa-bisa bukan sup yang di makan Fay, malah Ayam cincang.
"Nggak usah deh. Aku aja ya" seperti membujuk seorang bocah, Ikbal meminta pisau itu secara baik-baik. Nari yang jarang mau menerima penolakan ini sangat sulit di hadapi, ketika sangat ingin melakukan sesuatu yang bahkan nggak dia tau.
Menghentakan kedua kaki, Ikbal menarik napas. Seperti itulah cara Nari menolak menyerahkan pisau daging tersebut.
"Naria, serahkan urusan ini sama Ikbal aja. Mending kita nonton film aja. Yuk" Zaid coba membujuk jua. Demi Neptunus, dia nggak mau pisau daging itu sampai lecet, karena salah di pergunakan. Meski nggak jago-jago amat dalam hal memasak, Zaid sangat menyayangi apa yang dia punya. Semua barang miliknya selalu terjaga kondisinya, sebab Zaid pria yang apik(penyayang).
"Nggak!." Seketika bibir Zaid terbungkam. Kalau sudah berkata seperti itu, Nari nggak akan bisa di bujuk lagi.
"Nanti kalau luka gimana?."
"Zaid!!, kok gitu. Kamu ngumpahin aku ya?!."
Menggoyangkan kedua tangan di dada"Enggak. Bukan gitu maksud aku Naria." Pemuda ini terlihat panik. Dia takut melukai harga diri sahabatnya.
Menggaruk keningnya, Ikbal pun bersuara"Ya udah. Zaid, kamu ajarin dia potong Ayamnya ya. Aku urus cewek sebiji ini" seraya menunjuk Arin.
"Sebiji?. Kamu pikir aku buah?, sayuran?" Arin nggak terima di sebut seperti itu.
Tertawa hingga kedua matanya menyipit"Gitu doang kok sewot. Aku gemes lihat cara kamu potong kentang. Nggak rapi banget."
"Jangan bawel deh. Ini demi Video aja. Kalau nggak di suruh Mamah di Video, aku nggak sudi bikinin si pembuat onar itu sup. Kan lebih gampang kalau kamu yang bikin sendiri."
Sementara Febby, kali ini memegang kamera saja. Dirinya cukup tau diri, ternyata terjun ke dapur itu nggak asik. Daftar bahan-bahan masakan saja sudah membuat kepalanya pusing, apalagi memasak. Meracik dan memasukan bahan ini dan itu secara bergiliran. Argghh!!! ribet!!.
"Sudah dong berantemnya. Buruan masak!. Keburu malam" hardik Febby.
Ucapan Febby ada benarnya. Sejurus kemudian Nari di pantau Zaid membersihkan daging Ayam. Memotongnya dengan hati-hati di bawah pengawasan dan panduan ketat dari Zaid. Sesekali dia bertanya dengan Ikbal, apakah sudah betul cara potongnya.
__ADS_1
Selain kentang, Arin juga memotong bahan lain. Seperti wortel, dan daun seledri. Setelah di kerjakan, sepertinya memasak nggak menyebalkan. Dirinya merasa seperti sedang bermain masak-masakan yang kerap dia lakukan dahulu, saat masih kecil.
Di saat yang lain sedang sibuk, Greta duduk manis di atas meja. Menikmati cemilan dan sekaleng minuman bersoda. Awalnya Nona muda yang satu ini juga ikut terjun ke dapur. Namun caranya menyalakan kompor yang membabi buta, membuat mereka terkejut. Api menyala begitu besar, nyaris menjilat habis dapur kesayangan Zaid.
Bukan hanya itu, Greta menjatuhkan panci dan sutil saat hendak menggunakannya. Suara riuh itu membuat Zaid pusing. Sang ketua OSIS ini pun menyeret nya ke meja makan, menyajikan banyak cemilan.
"Nggak usah ikut-ikutan, aku khawatir dapurku jadi hancur gara-gara kamu."
"Jadi aku nggak usah bantuin??."
Mengangguk"Iya, nggak usah. Kamu di sini aja. Aku akan sangat berterimakasih kalau kamu nurut sama aku. Nggak kayak mereka yang ngotot mau ikut memasak juga. Oke?."
Baiklah. Sejujurnya Greta nggak begitu berniat ikut memasak. Karena titah Zaid ini dirinya justru tersenyum lega"Oke. Kamu yang nyuruh ya."
"Iya. Aku yang nyuruh kamu makan cemilan aja di sini."
Mengacungkan jempol, Zaid senang karena Greta dapat di kendalikan.
"Awww!!" Naria terpekik. Saat Zaid membujuk Greta untuk menjauh dari area memasak, dirinya begitu percaya diri melanjutkan memotong daging Ayam. Namun seperti apa yang Zaid katakan. Jari gadis ini terluka.
"Aku nggak nyumpahin kamu. Aku cuman kasih peringatan. Ya sudah, sini aku kasih plester dulu lukanya."
"Kasih plester doang??" Arin berkata.
"Ouwwhhh!!, jarinya terluka dan sudah terkontaminasi daging Ayam. Kamu yakin jarinya nggak akan kenapa-kenapa??" Febby ikut berkomentar.
Sungguh riweh. Luka segitu saja membuat suasana gaduh. Kalau Ikbal yang ngerjain, pasti sudah hampir selesai sup nya.
"Sabar Ikbal, sabar~~~" bisik hatinya mensugesti diri, agar nggak meledak emosinya menghadapi para cewek-cewek ini.
Ikbal menarik pelan Nari yang terisak.
"Sakit!" seru Nari saar air membasahi tangannya.
"Lukanya kecil kok" ucap Ikbal lembut.
__ADS_1
"Tapi tetap aja sakit" ucap Nari lirih menarik kembali tangannya.
"Aku cuci pelan-pelan ya" Ikbal menatap Nari dalam, meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
Mengusap jemari itu dengan lembut di bawah air yang mengalir. Setelah di rasa bersih, Ikbal menggiring Nari ke meja dengan Greta di sana.
Zaid segera membalut luka itu, juga dengan lembut. Kemudian memberikan plester imut bergambar kartun.
"Maaf kalau kata-kata aku jadi doa. Kamu sama Greta aja di sini. Yang harus masak kan cuman Arin, dengan Ikbal yang mengajari caranya."
Nari mengangguk pelan.
Mengusap lembut pucuk kepala Nari'Nah, coba deh nurut kayak gini dari tadi. Jari kamu nggak akan luka."
Greta memukul tangan Zaid"Heh, calon kakak ipar aku nih. Main usap kepalanya aja!. Aku laporin Abang aku ya!."
"Heran deh, kok Udin mau sih sama kamu!" balas Zaid mencibir Greta.
"Hilih! sirik aja nggak punya pasangan" nggak mau kalah, Greta juga mencibir kepada Zaid.
Nari mulai tersenyum. Zaid cukup lega karena nggak ada lagi air mata di wajah Nari.
"Uw, dasar perempuan!. Nggak sudi mengalah!" tukas Zaid melangkah ke area memasak. Sedangkan Greta dan Nari cekikikan mentertawakan Zaid. Dia nggak bisa melawan perkataan Greta, sebab dirinya memang nggak punya pasangan. Dirinya sempat iri karena Udin akhirnya menerima Greta. Dengan begitu teman jomblonya jadi berkurang. Ckckckckkc!!.
Di kediaman lain, Fay sedang menonton Video singkat yang telah di kirimkan Manda kepadanya. Terlihat Arin sedang sibuk dengan kentang dan wortel. Baru satu Video saja sudah membuatnya tersentuh.
"Demi aku dia rela belajar masak" gumam Fay senyum-senyum.
Tapi saat mengingat penolakan Arin terhadapnya, seketika Fay melempar ponsel tersebut"Hais!!. Dia ngelakuin itu pasti terpaksa. Lihat aja, mukanya cemberut gitu. Ini pasti paksaan dari Ibunya tuh!" dengus Fay kesal sendirian.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1