
...~~Jika itu kamu. . ....
...Maka kan kuhabiskan sisa hidupku bersamamu~~...
...๐๐๐๐...
Di sela kesibukan antara kuliah dan kerja paruh waktu, Kai menyempatkan diri menjemput Nari di sekolah. Mendapati sang kekasih tengah menunggu di depan gerbang sekolah, mood Nari seketika melambung naik.
Dia mempercepat langkah menuju Kai"Hey!!" sentaknya mengejutkan lamunan Kai.
"Buset!!!, aduh jangan ngagetin Nar!" hardiknya spontan memegangi letak jantung. Wajah tersenyum Nari yang manis nggak bisa menutupi kegelisahan pada dirinya. Kai dapat merasakan bahwa masalah kali ini benar-benar membuat Nari nya terpuruk, meski nggak sendirian. Begitu banyak tempat Nari bersandar namun pastilah pundak Kai tempat ternyamannya saat ini.
Jemari Kai memegangi pipi tembem Nari"Kamu baik-baik aja?."
"Hu-um" sahut Nari tersenyum lebar.
"Beneran??" selidik Kai.
"Iyalah, apalagi sekarang kamu ada di sini. Masalah seberat apapun bisa aku pikul" tandasnya begitu yakin.
"Ya udah, pikul deh motor butut aku" canda Kai berdiri dari motor bututnya.
"Heheheh" Nari tertawa canggung"Nggak gitu juga, Sayang!" tukasnya menggenggam jemari Kai yang kini telah turun sejajar.
Pemandangan Nari dan Kai yang tengah bercengkrama di depan gerbang sekolah, jelas menyita perhatian murid-murid lainnya.
Hadirlah bisik-bisik tetangga yang mungkin saja bisa memekakkan telinga Kai.
"Dih...katanya tunangan Rivan, malah mesra-mesraan sama kang ojek."
"Ada gitu kang ojek cakep begitu?."
"Nasib Nari bagus bener yak, order kang ojek aja datengnya cakep begitu."
"Dia terlahir dengan sendok emas, jangan ngiri kamu!."
"Eh tumben dia pulang pake ojek!."
"Dari kemaren udah kaga di antar jemput ama supir dia, tadi pagi aja dia nebeng Febby kan."
Begitulah bermacam bisik bisik tetangga para netizen maha benar.
"Cih..." Nari berbalik hendak menghalau para pemilik mulut tak berakhlak.
"Udah Nar, diemin aja. Ntar capek sendiri kok."
"Tapi kamu di bilang kang ojek!!!" desis Nari kesal. Meskipun ada embel-embel cakep nya tetap aja Nari nggak terima, kekasih hati nya di bilang kang ojek. Lagian motor Kai nggak butut-butut amat kok.
"Udah sayang, kalau di ladenin nggak ada habisnya" Kai menahan lengan Nari agar nggak melanjutkan langkahnya.
"Sayang----" kedua mata bulat Nari nampak berbinar.
"Iya----Sayang" sambung Kai malu-malu.
"Lagi dong" pinta Nari mengayun-ayunkan tangan mereka yang saling berpegangan.
"Sayang!" ucap Kai cepat.
Melihat wajah bersemu Kai yang bahkan menjalar hingga ke daun telinga, mampu meredam amarah Nari pada para netizen dan malah beralih menggoda Kai.
Tangannya kini menggelayut manja di lengan Kai"Pelan-pelan dong panggil sayangnyaaaaa" rengeknya manja.
"Nar...di liatin orang. Kamu nggak malu"Bisik Kai pelan. Buset dah, si Nari kalau masalah nemplok di lengan Kai memang paling jago.
"Dih manggil Nari lagi, panggil Sayang dong kayak barusan" soda Nari lagi. Ahahaha tampang malu-malu Kai gemesin banget.
"Hupfh--- Nari sayang, aku anterin pulang yok" ucap Kai akhirnya.
"Fufufuufufu.....baiklah Sayangku, Cintaku, Negeriku, Bangsaku, Tanah airku" sahut Nari begitu ceria.
__ADS_1
"Astaga Nariiiiii, Kai pasti malu banget tuh!!" ucar Febby pada Arin yang juga menyaksikan ke uwu-an dua sejoli itu.
"Kwkwkwk kayak nggak tau Nari aja."
"His...buruan balik deh. Ngapain nontonin pasangan lebay kayak begitu!" Fay mendesis pada Arin yang tengah tertawa.
Plak!!! jidat mulus Fay bersemu akibat geplakan tangan Arin.
"Awwwhhh!!" pekik Fay.
"Hadaahhh!!!, berantem lagi deh" lengus Febby.
"Apa salah dan dosaku Ariiiinnn!." kedua mata Fay memelotot.
"Ini!!"Arin hampir mencubit bibir Fay.
"Akh akh!!!, buset dah nanti lepas congor aku, Rin!!"Fay terpekik lagi.
"Makanya punya congor jangan mencibir temen sendiri!!."
"Lah mereka tuh bikin sakit mata, mesra-mesraan di depan umum. Hisss Nari nggak tau malu!!" sentak Fay menepis tangan Arin yang hendak melancarkan cubitan di bibirnya.
"Bilang aja ngiri, pake nistain Nari ama Kai pula. Mau aku geplak juga tu mulut!!" ancam Arin lagi.
"Njir..., mak lampir dengan tangan lucknatnya. kabur dah!!" seru Fay mengayuh sepedanya dan berlalu dari hadapan Febby dan Arin.
Nari dan Kai terlihat perlahan menghilang dari area sekolah, Keano nampak cemberut di sudut lain.
Seraya melempar puntung rokok dan menginjak nya"Cih...pake jemput segala" gerutunya kesal.
Berjarak nggak jauh dari Keano nampak mobil milik Zaid keluar dari area sekolah, tentu saja dengan Rivan sebagai supirnya.
"Oi!!, calon bini di bawa kang ojek, kamu malah jadi kang supir di mari."
Rivan melirik Keano dari atas sampai bawah."Kesambet setan julid ya, Nari sama aku udah nggak ada hubungan."
"Oh...pantesan si kang ojek udah berani jemput neng Nari, tau gitu aku yang bakal maju buat nakhlukin hati neng Nari."
"Apa sih!!" Keano beralih pada Zaid.
"Nari ama Kai udah gak bisa di ganggu gugat. Nyerah aja dah."
Ucapan Zaid terasa aneh di telinga Keano. Bukannya dia juga bucin nya Nari, kok sekarang nyerah gitu aja. Dia jadi penasaran dengan sosok Kai. Di lihat dari kendaraan aja udah kejawab kalau dia dari kalangan bawah. Apa istimewanya Kai?, wajah?, hey...Keano juga cakep kali.
"Malah bengong, beneran kesambet ni anak. Dah lah Van tinggalin aja. Takut nular kesambetnya" tukas Zaid.
"Siap boskuuuu!!" sahut Rivan.
Merasakan pergerakan pada mobil Zaid yang dia senderin, membuat Keano tersadar dari lamunan.
"Balik nih?? nebeng dong.$
"Nggak!!, entar jin julid dalam diri kamu nular ke kita-kita" Rivan memacu mobil meninggalkan Keano yang mengumpat kesal pada mereka.
"Kang supir aja begaya!!, akh Mamah jemput nggak sih" Keano meraih ponsel dan menghubungi sang Mamah.
...๐๐๐๐...
Memasuki komplek perumahan yang mewah, Kai menghentikan laju motornya di depan rumah megah dengan warna putih yang mendominan.
"Besok pagi berangkat sama siapa Nar??"
"Sama kamu boleh??" tanya Nari penuh harap sembari turun dari motor Kai.
"Kamu beneran nggak di antar jemput lagi nih??" Kai coba lebih memastikan.
"Iya, uang saku aja aku nggak di kasih" sahut Nari mengerucutkan bibirnya.
Lantas Kai merogoh saku celana yang dia kenakan. Ada tiga lembar uang berwarna merah yang dia keluarkan dari dompet"Aku ada uang segini doang, kamu ambil dua lembar ya. Selembar ini buat pegangan aku."
__ADS_1
"Nggak usah Kai, asal aku nggak jalan-jalan aja pasti nggak perlu uang jajan" tolak Nari.
Kai tau Nari doyan shoping dan jalan-jalan sambil keluar masuk restoran ataupun kedai. Uang segitu mungkin nggak berarti apa-apa baginya. Tapi Kai tulus memberikan uang itu kepada Nari.
"Masa kamu nggak jalan-jalan?? emang betah di rumah terus??" tanya Kainmenatap Nari yang tertunduk.
"Bukan gitu Kai, nggak mudah merubah kebiasaan shoping aku, tapi...."
"Hmm??"
"Tapi aku harus membiasakan diri, demi masa depan kita kelak."
Tweewwwww!!! Kai terperangah mendengar perkataan Nari.
"Ma---maksud kamu masa depan gimana Nar???"
"Yah...masa depan hubungan kita"jawabnya malu-malu. Kakinya bahkan bergerak manja di tanah dengan kedua tangan berpegang di belakangnya.
"Hah...Nar!!!, kamu yakin mau menghabiskan seluruh hidup sama aku?."
"Hu-um" aahutnya lagi.
"Tapi Nar, di saat begini aja aku nggak bisa ngasih kamu uang jajan lebih, yakin mau hidup susah sama aku?."
"Makanya aku berusaha melatih diri dari sekarang, Kai!."
"Hehehheheeh, Naria oh Naria" Kai menarik kedua pipi tembem itu lagi.
"Hihihi" tawa itu terasa menenangkan hati. Entah cinta jenis apa yang Nari miliki, yang jelas sekarang dapat terlihat bahwa dirinya sangat mencintai Kai yang bukan apa-apa sekarang ini.
"Ambil uang ini ya, kamu tabung deh buat modal nikah nanti" Kai nyaris terpingkal-pingkal mengucapkan kata-kata itu. Terserah Nari aja deh, dia nggak kuasa menolak keinginan Nari sekarang. Demi ketenangan hati Nari dia akan menuruti apapun keinginan nona Muda Charllote ini.
"Beneran buat modal nikah?" tanya Nari nggak percaya.
"Iya" sahut Kai lagi sembari mengacak pucuk kepala Nari.
Hah, biasanya Joen atau Jung yang gemar mengacak-acak rambutnya seperti sekarang ini, dan Nari pasti akan langsung men-sleding dua kakak somplaknya itu. Namun jika Kai yang melakukannya, ada rasa senang yang membuat hatinya hendak meloncat keluar, saking gembiranya.
"Oke deh, aku terima. Mulai sekarang aku akan belajar hidup irit, biar Papah tau rasa."
"Lho!! kok Papah kamu."
"Kelak kalau uang buat nikah kita udah cukup, aku bakal ninggalin Papah yang pelit itu dan hidup bahagia sama kamu" dasar Nari, kata-kata itu membuat Kai tertawa geli lagi. Dia tau Nari orangnya blak-blak an, tapi nggak begini juga kali.
"Hus...jangan mendendam. Papah kamu cuman mau kamu jadi gadis yang baik Nar, hukuman kamu mungkin nggak akan lama kok."
"Dih...orang dia bilang kemarin selamanya."
"Emosi doang paling, mana ada orang tua yang tega sama anak sendiri" jelas Kai lagi.
"Uluh-uluh, pengen aku karungin kamu Sayang. Atau sini deh masuk tas aku aja, biar bisa aku bawa kemana-mana" canda Nari menepuk tas ransel di punggung.
"Ngaco deh, emang aku kucing. Kamu masuk deh, istirahat. Belajar yang giat biar lulus dengan nilai tinggi---."
"Terus nikah sama kamu" tukas Nari memotong kata-kata Kai.
"Hehehhe, iya deh. Aku balik ya. Mau istirahat juga, entar sore ada jadwal kuliah."
"Bye-bye Kai, hati-hati di jalan."
"Siap Naria" balas Kai dengan dua jempolnya.
Senandung riang gembira mengiringi langkah Nari masuk ke kediamannya. Tanpa dia sadari ada seseorang yang sedang memantau gerak-geriknya bersama Kai di balik taman Nyonya Sook nan rimbun.
"Kai...., terus selidiki anak itu" perintahnya pada sang ajudan.
To be continued...
~~โกโกHappy reading. Jangan lupa like vote dan komen.
__ADS_1
Salam anak Boreno.