Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Geng-si!!


__ADS_3

"Kamu baru sembuh. Kok langsung latihan basket!!."


Mendongak, memandangi Arin yang sedang mengomelinya.


"Aku udah sembuh kok. Apa jangan-jangan sakit ku pindah ke kamu?."


"Maksudnya?." Kedua tangan yang semula ada di pinggang, kini beralih terlipat di dada.


"Otak kamu sakit?. Bukanya kamu menolak perjodohan kita, kok sekarang khawatir sama keadaan aku?."


Hei!!.. Perut Arin rasanya sedang di gelitik. Gadis ini sontak tertawa seraya menutupi mulutnya. Beruntung saat mengatakan hal itu hanya ada dirinya dan Fay di sudut lapangan ini, sedangkan yang lain berkelompok membentuk beberapa koloni dan berjarak lumayan jauh dari mereka.


Langsung berdiri, tawa Arin terasa seperti ejekan bagi Fay. Cowok dengan tinggi 1'77 ini sedikit menunduk, menatap Arin dengan tinggi 1'64 itu. Mengerutkan kedua alis, Arin membalas tatapan tajam Fay"Apa?. Mau marah?. Aku memang menolak perjodohan gila ini. Lagipula jadi cowok jangan ge-er duluan deh. Baru juga di masakin sup Ayam, kamu sudah besar kepala. Aku melakukan hal itu demi bertahan hidup aja. Sebab kalau menolak perjodohan ini aku bakal di hukum kayak Nari."


Bumi gonjang-ganjing, semilir angin bagai tamparan di wajah Fay. Wajah merah pada itu bukan sedang tersipu malu, tapi sedang menahan amarah. Pria pemilik gigi kelinci ini sampai menggertakkan gigi, menahan diri agar tak lepas kendali. Sumpah, kalau sudah urusan hati, masalah sepele bisa berdampak besar dalam kehidupan seseorang.


Alih-alih mengamuk, pecicilan, heboh seperti biasanya, Fay hanya pergi meninggalkan Arin tanpa sepatah kata pun. Arin di buat bingung dengan tingkah Fay"Hei raja kelinci!! kamu marah?." Teriak Arin coba mengejar langkah Fay. Sedikitpun Fay nggak menoleh kepadanya, membuat Arin ikut kesal. Menghentakan kaki, gadis ini pun berbalik meninggalkan lapangan.


Sempat menatap punggung sang gadis yang mulai menjauh"Kamvret!!. Mulutnya tajam banget. Awas aja, aku bikin bucin akut kalau kita memang berjodoh" gumam Fay menarik napas dalam, kemudian menghembuskan kasar. Hentakan kakinya menjadi tanda bahwa cowok ini sedang nggak baik-baik saja. Dan Rika, cewek yang mencari mangsa ini mencoba mendekati Fay.


"Ku dengar kamu kemarin sakit. Sekarang udah sembuh?."


"Hemm" sahut Fay malas.


"Kamu sudah makan belum?."


"Udah!. barusan makan hati!" tukas Fay mempercepat langkah, meninggalkan Rika yang memberengut. Akh!! nyari cowok kok susah banget sih, padahal dirinya nggak jelek-jelek amat. Fay sudah semakin jauh, atensi Rika kini tersita pada Udin, cowok yang kini telah menjadi kekasih mantan sahabatnya.

__ADS_1


Nggak ada angin, nggak ada hujan, Rika menyapa Udin. Pemuda yang baru selesai latihan basket ini mengerutkan sebelah alisnya, mendapat sapaan bernada ramah dari seorang Rika, ada apakah gerangan?.


"Nih, kamu minum aja. Kamu pasti kehausan kan habis latihan basket." Air mineral di tangannya di sodorkan pada Udin.


Kedua mata cowok ini berkedip-kedip, seperti sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat. Udin dengan tegas menolak minuman itu"Cewek aku udah bawain minum kok. Tuh" ujarnya menunjuk Greta, yang berlari kecil hendak menghampiri mereka.


Udin gegas meninggalkan Rika yang mematung, dia terciduk bersikap baik pada cowok yang selama ini selalu di hina dan di cacinya di hadapan Greta.


Memandang Rika dengan tatapan nggak suka, selama ini Greta diam saja saat di tinggalkan Rika, juga sahabat yang lain. Tapi kalau gadis itu berniat menjadi benalu dalam hubungan asmaranya bersama Udin, maka Greta yang arogan pun akan kembali, khusus untuk bersikap jahat kepada Rika.


Mengusap pucuk kepala Greta, kemudian menarik lengannya dengan lembut"Aku capek, kasih aku senyum dong."


Lagi, Udin yang dulu mengabaikannya bersikap manis. Emosi yang sempat memuncak seketika reda, hanya karena kata-kata manis itu.


"Hiiii" Greta tersenyum namun seolah terpaksa. Gadis ini lebih terlihat seperti mamamerkan barisan gigi alih-alih tersenyum. Kedua pipi gadis ini mendapat cubitan lembut sang kekasih. Sungguh interaksi manis yang membuat kaum jomblo meringis.


Di kejauhan, Kevin mencedih"Ck!. Dasar pasangan suka pamer. Baru latihan beberapa jam aja sudah pamer kemesraan, pake bawaian Udin minuman. Pake di elus-elus pula kepala si Greta. Padahal aku juga capek habis latihan, nasib punya gacoan beda kota. Hick hick" berjalan terseok-seok, Kevin meratapi nasibnya.


"Aku capek, latihan hari ini bikin badan aku lemas. Aku mau langsung pulang aja."


Dada gadis di hadapannya itu kembang kempis, menahan luapan api amarah agar nggak meledak"Ya udah, foto bareng dulu. Mamah mau lihat kita foto hari ini."


Wajah datar, seperti kerupuk minta di kerokin, begitulah wajah Fay saat ini.


"Senyum dong?. Mana gigi kelincinya!!."


Meski terpaksa, akhirnya Fay dan Arin mengambil foto bersama, dan akan di kirimkan ke grup keluarga yang isinya para orang tua mereka, dan mereka juga tentunya.

__ADS_1


Suara mesin mobil menjadi dalam perpisahan mereka. Arin memberengut, dia kesal. Untuk apa bawa mobil kalau nggak bisa mengantarkan nya untuk pulang. Kalau begitu kan lebih baik Fay ke sekolah naik sepeda aja seperti dulu.


"Apa dia mau jemput cewek lain pake mobil itu?" tiba-tiba pikiran gila itu melintas di benak. Segera tersadar, Arin menggeplak keningnya sendiri.


"Aish!!. Kalaupun itu benar, bukankah itu pertanda bagus. Harusnya aku bantuin dia dapetin cewek itu biar perjodohan kami gagal. Seharusnya aku kayak Nari yang mendukung hubungan Niki dan Rivan."


Febby geleng-geleng kepala melihat tingkah sang sahabat, berjalan mondar-mandir di depan gerbang sekolah.


Kehadiran Febby seperti angin segar bagi Arin. Tanpa banyak bicara, dia langsung menumpang pada mobil yang menjemput Feeby, untuk pulang ke kediamannya.


Setelah mereka pulang, Nari baru muncul di ambang pintu gerbang. Nyaris saja hari ini mereka kehilangan teman. Si Keano pake acara keselek bakso. Nari yang merasa haus berbelok ke kantin sebelum menuju gerbang, eh ternyata di sana ada Keano dan Bisma. Karena terlalu asik bercanda dan tertawa sambil makan, Keano jadi keselek itu bakso.


Hanya ada mereka berdua di meja kantin, sedangkan Ibunya Ikbal berada di konter makanan, bersama dua rekannya. Jarak mereka di ujung sana, sedangkan Bisma dan Keano di sudut yang lumayan jauh.


"Kean!!. Oi!!" hardik Bisma gagal membantu Keano mengeluarkan biji bakso. Dia mengusap punggung sang sahabat, yang terlihat tersengal-sengal mengatur napas.


Nari langsung berlarian melihat kejadian itu.


"Keselek biji bakso!!" Bisma memberitahu.


Buk!!. Nari mengeluarkan jurus sakti ke punggung Keano. Dalam sekali pukulan biji bakso itu meloncat keluar dari tenggorokannya.


Terduduk di lantai, Keano akhirnya dapat bernapas lega.


"Te-ri-ma-ka-sih" ucapnya terbata.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2