Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Tak usah kembali


__ADS_3

Kedatangan kekasih hati benar-benar membuat Rivan senang bukan kepalang. Menaiki motor gedenya, perjumpaan dua kekasih ini terjadi di bengkel Zaid. Ini nih, salah satu jomblo dalam lingkaran pertemanan Nari, si Zaid. Berbeda dengan Bisma yang kesal kalau di ledek jomblo, kalau Zaid orangnya santai. Baginya mencari kekasih bukanlah sesuatu yang di haruskan, sebab ini masalah hati. Dan sesuatu yang berurusan dengan hati akan menjadi masalah kalau salah melangkah. Gagal mendapatkan Nari nggak menjadikan seorang Zaid gegabah, hingga mencari kekasih sebagai pelampiasan, sebab Nari telah bersama Kai.


Seperti kata Hendro, mencintai itu nggak harus memiliki. Menjaganya dalam diam pun rasanya sudah cukup memuaskan.


Menatap Rivan yang cengengesan di dekat Niki. Cewek itu memesan makanan dan minuman saat ke sini, dan sekarang mereka sedang menikmatinya bersama. Hanya Rivan dan Niki, sedangkan Zaid hanya menonton.


"Serius nggak mau?. Pizza ini enak lho" Niki lagi-lagi menawarinya.


"Nggak. Kalian abisin aja. Buruan ya aku mau keluar soalnya."


"Kalau mau keluar ya keluar aja. Biar kami yang jaga markas ini."


"Ogah!" hardik Zaid segera.


"Ingat ya Rivan! kalau ada anak manusia berbeda jenis berduaan saja, di tempat tertutup, maka yang ketiga adalah setan!."


Spontan jari telunjuk Niki dan Rivan menunjuk padanya.


Mengikuti arah jari pasangan itu, Zaid mendengus kesal"Aku juga manusia. Jadi ada tiga anak manusia di sini!."


Rivan dan Niki terkekeh.


"Memangnya kamu mau kemana?. Setau ku kamu nggak punya cewek." Mengingat ini adalah malam minggu, Rivan menduga Zaid akan kencan seperti mereka.


"Hilih!. kamu pikir pacaran doang yang penting. Aku ada acara keluarga."


Meletakkan pizza di kotaknya kembali"Acara keluarga?. Wahhhh" bertepuk tangan. Niki mengikuti Rivan meski nggak mengerti.


"Kok bertepuk tangan. Kamu mikirnya apa?."


"Acara keluarga. Jangan-jangan kamu juga udah di jodohin kayak Fay dan Arin."


Buset!!!. Zaid langsung mengetuk meja"Amit-amit!!. Orang tua ku modern kok, aku yakin mereka nggak bakal menjodohkan ku kayak gitu. Ini bukan lagi jaman Siti Nurbaya."


"Orang tua Fay sama Arin juga orang tua yang modern" sahut Niki.


Terdiam, Zaid memikirkan ucapan dua sejoli ini. Wajah tegang Zaid, sungguh pemandangan yang indah bagi mereka berdua.


Merasa di ledek, Zaid menyuruh mereka segera pergi. Lagipula waktu yang di tentukan sudah hampir tiba. Zaid nggak mau menerima omelan dari Mamahnya.


......................

__ADS_1


Meninggalkan pasangan Rivan dan Niki yang melanglang buana usai di usir Zaid. Udin dan Greta terlihat di Cafe MAHA. Bersama keluarga barunya, Greta membantu menata dan mendekor tempat itu. Ide para sahabatnya boleh juga, Hanan berniat membuka butik di lantai atas. Namun sebelum itu dirinya hendak meneliti pasar model terlebih dahulu. Nggak lucu bukan kalau pakaian yang dia buat ketinggalan jaman, sebab sudah bertahun lamanya sejak terakhir kali dirinya bermain dengan mesin jahit dan meteran busana.


"Kamu haus?. Aku mau bikin minuman."


Perhatian Greta yang kecil pun mampu membuat hati Udin bergetar. Akh! kemana aja kamu selama ini Udiiinnnn!!.


Meletakkan bingkai foto kue-kue olahan Marina, Udin berucap"Sama kayak kamu aja."


Mengangguk seraya berjalan menuju konter minuman. Bersama Cleo, Greta sedikit bersitegang karena perebutan alat pembuat minuman. Kalau nggak ada Hanan menengahi, mungkin dua bocah ini akan bertikai.


Marina tersenyum melihat wajah tertekuk Cleo"Hei, sama perempuan harus selalu mengalah."


"Apalagi kalau dia lebih muda dari kamu" sangat memahami sang putra, Marina berhasil meredamkan amarah Cleo.


"Oke, karena dia Adik, maka Abang akan mengalah."


"Abang?" Kai baru turun dari lantai atas, usai mengantarkan manekin.


Menepuk dadanya seraya berkata"Abang Cleo."


"Kamu?, bukannya kamu bungsu!."


"Celo!!" hardik Greta.


"Panggil aku Abang!. Kalau nggak, aku nggak akan mengalah sama kamu!."


Oke!. Cleo menang. Demi kedamaian dunia, Greta memilih mengalah.


"Oke deh, Abang Cleo yang masih SMP!."


"Heh!!."


Greta gegas berlari ke arah Udin dengan dua jus mangga di tangan. Meletakkan jus-jus itu di atas meja, kemudian berlari menghindari kejaran Cleo. Dari luar terlihat Yohan tersenyum tipis, setidaknya Greta nampak bahagia dalam keluarga ini.


"Kenapa nggak masuk?" suara Nari mengejutkan Yohan. Gadis kecil itu membawa kantung besar berisi sampah. Nggak berat sih karena isinya karton bekas frame-frame yang banyak menghiasi dinding Cafe.


"Kamu semakin kecil kalau membawa benda besar seperti itu" ini jelas hinaan. Nari melempar sampah karton itu ke arah Yohan. Sontak Yohan menghindar.


"Hei, kesabaran kamu tipis banget."


"Baru tau?. Kalau nggak mau babak belur jangan bikin masalah, Pa-man!." Menekankan kata paman. Yohan menarik napas, Nari seolah membuka matanya bahwa dirinya orang dewasa di sini.

__ADS_1


"Oke baiklah bocah kecil. Maafkan paman mu ini" mengacak rambut Nari.


Gegas Nari menghindari Yohan"Eh paman, jangan pegang-pegang. Ku kira kamu om yang pendiam, ternyata om yang suka pegang daun muda!."


Jleb!!, hatinya bagai tertusuk sembilu. Yohan hanya ingin hubungan mereka semakin dekat, dengan bersikap layaknya paman dan keponakan. Sayangnya Nari nggak suka ada orang lain yang menyentuh rambutnya, selain Joen, Jung dan Kai.


Alih-alih cemburu, Kai yang melihat interaksi mereka berdua dari dalam butik terkekeh. Sebab Nari terang-terangan menolak Yohan. Dan Yohan langsung meminta maaf kalau sikapnya nggak nyaman bagi Nari.


"Maafkan paman mu ini. Jangan marah ya!."


"Buang sampah itu. Maka aku akan memaafkan mu."


"Oke, oke. Dasar Nona muda."


"Dasar paman muda" balas Nari.


Dengan sabar Yohan melaksanakan perintah Nari. Usai membuang sampah dia memasuki Cafe.


"Selamat malam Tuan Yohan" sapa Amir.


"Hem, selamat malam" sahutnya.


Melihat sekeliling, kini Yohan berada di lantai atas. Di sana ada Hanan yang sedang mengatur letak barang-barang nya. Perjumpaan dua lelaki ini, membawa kisah tentang Victoria.


"Dia masih sama, selalu menanyakan mu kalau aku berkunjung. Dia akan tersenyum saat tau kabar baik mu."


"Kemudian?" tanya Hanan.


"Kemudian akan histeris kembali, beberapa menit kemudian tertawa lagi. Kakakku telah gila, dan itu karena ulahnya sendiri" sorot mata yang kosong. Hanan tau ada hati yang menahan perih di dalam sana.


"Maafkan aku Yohan. Aku nggak tau harus berbuat apa agar dia sembuh."


"Mungkinkah aku menjenguknya bersama istriku?."


"Jangan. Akan lebih baik anda menjauhinya. Kehadiran anda takut di salah artikan olehnya. Sementara di dalam hati dia sangat berharga anda kembali padanya."


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2