Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Power of love??


__ADS_3

Sudah hafal betul dengan watak kedua Abangnya, Nari seperti menantang datang ke hadapan dua pria itu.


"Bang Jeon, Nari minta hadiah sepeda listrik" berucap tanpa basa-basi. Sikap songong Nari tentu menggelitik jemari Joen untuk menarik pipi sang bontot.


"Jadi kamu memanggil Abang berdua ke sini cuman mau minta hadiah saat kamu menikah nanti?" Jung berdiri dari duduknya. Menatap Nari yang sedang duduk di atas ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada.


Joen yang semula ingin langsung menyerang pipi Nari mengurungkan niatnya. Dia ingin melihat apa yang akan Jung lakukan pada bocah songong ini.


"Iya. Jadi Nari meminta hadiah itu dari sekarang-sekarang aja. Biar Abang berdua nggak kaget." Celotehnya seringan bulu. Dia pikir harga sepeda listrik itu murah.


"Biar Abang nggak kaget??!" Joen memicingkan mata menatap Nari.


"Iya. Biar Abang siap-siap.Syukur-syukur kalau amabang mau beliin sepeda itu sekarang, Nari pasti akan senang sekali."


Joen menarik Jung, dan terlihat dua pria ini berdiskusi.


"Ngomongin apa sih? kok menjauh dari Nari. Jangan-jangan Kalian mau menyiksa Nari dulu sebelum ngasih hadiah itu?."


Baru juga ingin membisikkan kejahilan itu kepada Jung, Joen terkekeh karena tindakannya sudah dapat ditebak oleh sang Adik.


"Memang harga sepeda listrik berapaan sih?" tanya Jung yang memang tidak tahu-menahu dengan harga benda tersebut.


"Mungkin sekitar 15 juta." Sahut Nari mengira-ngira.


Jung terkekeh"Itu mah murah. Kamu mau berapa? bilang sama Abang. Biar Abang belikan sebanyak yang kamu mau." Kembali duduk dengan mengangkat satu kakinya kemudian menyandarkan diri di sofa, masih dengan kedua tangan terlipat di dada.


Joen yang mendengar jawaban dari Abangnya itu merasa nggak setuju. Menurutnya mereka harus memberikan sedikit pelatihan fisik terhadap Nari.


"Bang, kok dikasih segampang itu!" protesnya pada Jung.


"Kamu mending diam aja deh" ujarnya dengan seringai tawa.


Melihat tawa jahat itu, Joen jadi mengerti. Sebenarnya Jung sedang menjahili Nari.

__ADS_1


Nari itu terkadang polos terkadang pintar. Melihat lirikan penuh makna kedua Abangnya itu, dia nggak mau meminta lebih kepada mereka"Cukup satu-satu aja, Nari nggak akan meminta lebih" gadis ini mulai menjaga jarak. Dia merasakan awan hitam sedang mengintainya.


"Oh jadi kamu cuman mau satu doang dari Abang, terus satu doang dari Bang Joen?. Kamu mintanya sedikit banget, Abang nggak mau ngasih."


Nari sudah menyimpan harapan kepada mereka berdua. Namun nyatanya setelah di berikan harapan, Nari malah dihempaskan ke bumi.


Mulai memberengut dengan tatapan tajam. Nari menatap Joen dan Jung secara bergantian"Dari awal Abang nggak serius nih mau ngasih Nari sepeda listrik. Oasti cuman mau bercanda aja kan."


"Nggak juga. Abang serius kok mau ngasih kamu sepeda listrik seperti apa yang kamu mau itu. Tapi kamu mintanya cuman satu doang, Abang merasa terhina. Secara duit Abang kan banyak" celoteh Jung bangga.


"Tau tuh pakai di wanti-wanti segala, kayakk kita nggak punya uang banyak aja ya Bang" Joen ikut membuat hati Nari gerah.


Emosi gadis itu seketika meledak. Dua bantal berwarna ungu melayang dengan indah ke wajah Jung dan Joen.


Mereka sangat puas mengerjai Nari. Sebab Nari sudah mulai melempar-lempar bantal di kamarnya, mereka pun segera mengambil langkah mundur. Membiarkan Nenek lampir itu mengamuk sendirian."


"Abang jahaaat" teriak Nari dari dalam kamar. Seperti bocah yang kedapatan mencuri, Jung dan Joen kabur dari kamar Nari terbirit-birit, setelah sebelumnya menutup pintu terlebih dahulu.


...****************...


Awalnya permainan mereka terasa mengasikan. Namun ketika ponsel milik Bisma berdering, permainan itu pun usai.


Nggak berniat lagi untuk melanjutkan permainan, bocah itu duduk di tepi lapangan dan memainkan ponselnya.


"Woi, kok ngejogrok di situ. Ayo lanjut main lagi" ajak Iknal pada Bisma.


"Nggak deh. Aku udah capek. Kalian aja yang lanjut. Aku mau berbalas pesan sama Azalia dulu."


Gara-gara perempuan Bisma jadi nggak asik lagi bagi mereka. Sekumpulan cowok-cowok jomblo ini, biasanya kompak bermain di lapangan itu saat sore hari. Namun sejak Bisma mempunyai Azalia, waktunya lebih banyak tersita pada layar ponsel, alih-alih bermain bersama mereka.


"Gitu amat!. Setelah punya cewek kamu nggak asik lagi" seru Hendro. Bocah satu ini memang di kenal tanpa basa basi. Mulutnya kerap bicara tanpa filter. Seperti sekarang ini, terang-terangan mengatakan Bisma nggak asik lagi.


Kevin yang terkenal badas pun masih nggak enak mau menegur Bisma. Sedangkan Ikbal, cowok yang selalu tersenyum ini jarang melayangkan protes pada mereka.

__ADS_1


"Main aja dulu satu babak. Selanjutnya aku bakal main lagi kok." Bisma nggak mengalihkan pandangan dari ponsel. Hendro jadi cemburu pada benda pipih itu, aish!!.


"Sudahlah, dua lawan satu. Ayo" Ikbal menengahi. Sungguh cinta damai, itulah Ikbal.


Meninggalkan Bisma yang sedang mabuk cinta, tiga rekannya terlihat menikmati permainan itu. Sedang asik bermain, kedatangan seseorang mengejutkan Kevin.


"Udah dulu mainnya. Aku bawa minuman buat kamu." Angela. Gadis dari kota sebelah itu datang tanpa di undang.


"Kok nggak kasih bakar mau ke sini." Melepaskan bola, berjalan mendekati Angela. Kedatangan bersama Marisa, membuat Hendro tersenyum. Teringat kenangan saat mengantarkan Rivan menjumpai Niki, malam pesta itu hanya dirinya dan Marisa yang terlihat akur dan menikmati lantasi dansa.


"Gimana kabar kamu?" sama seperti Angela. Marisa datang membawa air mineral. Asem!! bocah ini mendapat perhatian dari seorang gadis.


Ikbal mengambil duduk di sambil Bisma"Sekarang, aku yang sendirian."


Sempat berada di posisi itu, Bisma meletakan ponsel kemudian menepuk punggung sang sahabat"Sabar, di saat teraniaya seperti ini memintalah pada sang maha pencipta. Sebelum berjumpa dengan Azalia, aku melakukan hal itu."


Ikbal membulatkan mata"Oh ya. Aku boleh meminta cewek orang nggak?."


Pletok!! Bisma memukul kening Ikbal"Jangan bilang kamu mau meminta Nari pada sang maha pencipta!."


Ikbal cengengesan, pemuda ini mengusap tengkuknya yang nggak gatal"Gimana ya, cari cewek seperti Nari tu sulit. Sedangkan seleraku cuman cocok sama Nari."


"Gila!. Buang jauh-jauh pikiran itu. Hati-hati kamu Bal, kalau Nari tau kamu masih mengharapkan nya, bisa jadi Nari akan menjaga jarak dengan mu. Kamu mau di jauhin Nari?."


Ikbal terdiam.


"Cewek di dunia ini bukan hanya Nari. Kalau seleramu terlalu tinggi, kamu harus merubah kriteria cewek idaman kamu. Setiap cewek punya daya tarik tersendiri, buka mata kamu!!" ujarnya menegaskan.


Ikbal terkejut, Bisma benar-benar berubah sejak mengenal Azalia. Gadis itu selalu memberikan nasihat baik kepada Bisma, dan Bisma pun tanpa paksa merubah diri menjadi lebih baik. Inikah yang di namakan power of love??.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2