Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Curahan hati


__ADS_3

Menyesal, perasaan itu mengajarkan Naria untuk lebih berhati-hati dalam mengambil tindakan. Meresapi setiap perkataan Jung kemarin, perihal tawaran ngendorse, Oppa yang satu itu ada benarnya juga. Memang sih alasan utamanya tergiur akan tawaran kerja sama ini karena sang Papah menghentikan aliran dana padanya. Namun, karena semua itu bermula dari kesalahan yang telah dia perbuat, kali ini dia nggak bisa menekan mereka untuk memberikan izin. Beruntung kalau Papah dan Mamah langsung memberikan izin tanpa melalui adegan drama, pake acara mengomel panjang kali lebar dahulu. Tapi kalau mereka nggak memberi izin sedangkan dirinya terlanjur menanda tangani kontrak, bayangan akan di tendang dari kartu keluarga terlihat jelas di dalam kepala Naria.


Sementara Jung, nggak mau mengambil resiko mendapat ceramah Agama dari sang Papah, abang yang baik hati dan enggak sombong ini menawarkan kebaikan pada nenek lampir.


"Cukup jadi adik yang manis, siap dengan segala perintah abang, berapapun nominal yang kamu mau pasti abang kasih."


Di tilik dari mimik wajah Jung, Nari sudah dapat membaca. Ada udang di balik bakwan, bukan Jung namanya kalau nggak menyelam sambil minum air. Saudaranya ini rela membiayai dirinya asalkan dirinya bersedia menjadi babu!. Begitulah yang Nari baca, apalagi ada seringai tawa di wajah Jung waktu mengatakan hal itu. Nari bukanlah pemain lama, baik Jung atau pun Joen, sifat jahil mereka sudah mendarah daging, dan Nari sangat tau akan hal itu.


Duduk di tumpukan kotak buah yang telah kosong, semilir angin di gedung paling atas sekolah rasanya sangat menenangkan. Rasanya pikiran yang sedari berkecamuk dapat sedikit terlupakan. Terdengar teriakan para lelaki di lapangan basket, namun Naria nggak tergiur untuk menyaksikan mereka pamer pesona.


Menyandarkan diri seraya membuang napas kasar, gadis ini berpikir, dengan cara apa meyakinkan Papah dan Mamah untuk memberikan izin kepadanya. Selain karena uang yang di tawarkan cukup menggiurkan, setelah menilik aksi para artis ngendorse di laman Instagram mereka, Naria sungguh tertarik untuk melakukan hal seperti itu juga. Dan....niat untuk mengisi celengan angsa itu pun menjadi pendorong semangatnya saat ini.


"Berat sekali napasnya, sedang gundah ya?."


Suara pria, Naria menoleh arah suara. Fay tersenyum memamerkan gigi kelincinya. Angin menyapa lembut helai legam pemuda ini, pesonanya nggak main-main. Pribadi yang ceria, baik hati dan berduit, sayangnya bukan Fay yang berhasil merebut hati Naria.


"Fay" ujar Nari membalas senyumannya.


"Aku cariin di kantin, kamu nggak ada. Kamu lagi ada masalah? cerita aja sama aku."


"Tau dari mana kalau aku di sini?" alih-alih menjawab pertanyaan Fay, Naria justru balas bertanya.


"Capek nyariin kamu aku iseng aja ke sini."


"Lagi ada masalah juga?" tanya Naria lagi.


"Juga? berarti kamu memang lagi ada masalah?" Fay berucap seraya melepaskan pandangan, pada langit biru hari itu. Mendung nggak berarti hujan dan biru nggak berarti terik, masih ada awan berarak yang menyelimuti sang matahari di atas sana.


"Hemmm" Naria bergumam"Sejujurnya, aku sedang memerlukan uang."


"Nanti aku kirim. Ponselku kehabisan daya, kamu perlu berapa?."


Dua bola mata nan bulat itu berlarian kesana dan kemari, sedang memikirkan sebuah nominal"200 juta sepertinya cukup."


Fay sontak menatap Nari lebih jelas"200 juta?, untuk apa? kamu mau buka usaha?."

__ADS_1


"Ada sih segitu, tapi Mamah aku pasti nanyain untuk apa aku ngeluarin uang segitu bayak." Lanjutnya.


"Hebat ya, kamu punya uang segitu."


"Memangnya kamu nggak punya uang segitu?, kamu kan anak orang kaya juga."


"Gimana caranya kamu sampai punya uang segitu banyak?" Naria ini, gemar sekali bertanya tapi nggak suka langsung menjawab pertanyaan orang lain.


"Ya...., itu dari sisa uang jajan bulanan aku. Ada uang dari paman dan tante aku juga. Pokoknya dari banyak sumber. Kamu kenapa sih?. Uang nya mau di pake buat apa?."


"Buat modal kawin sama Kai. Kalau buat kawin lari uang segitu cukup kan? buat ongkos kawin sama nyari kontrakan yang jauh dari kota ini."


Mengusap wajah nya kasar, Fay bahkan menggaruk keningnya yang rasanya nggak gatal sama sekali"Nari yang cantik dan menggemaskan" ujarnya dengan jemari yang gemas ingin mengobok-obok pipi tembem sang gadis namun urung di lakukan.


"Dari pada buat kawin sama Kai, mending buat kawin sama aku!!."


Naria terkekeh, wajah gemas Kai menggelitik perutnya"Hahahah, aku udah kayak orang gila ya, pinjem duit buat ngajak anak cowok orang kawin lari."


"Nah!" Fay menekankan kata itu.


Perihal uang jajan di hapuskan, itu sudah Fay ketahui. Sekedar untuk makan dan minuman Nari di sekolah bisa di tanggung para bucin, meski kerap mendapat penolakan dari Nari sendiri. Gadis ini menjelaskan bahwa dua abangnya selalu siap memberikan uang jajan, maka masalah pun selesai bukan. Lantas, hal apa yang membuat hati gadis ini bagai terhimpit?.


Kerap mencurahkan isi hati pada para bucin yang salah satunya adalah Fay, kali ini Nari akan kembali membagi beban di dada, namun dia ingin mendengar lebih dahulu masalah yang sedang Fay hadapi.


"Kabar kamu sama Rivan di jodohkan sudah terdengar sama Mamah aku. Aku udah bilang kalau itu hanya salah paham. Dan Mamah mengerti. Tapi...Mamah punya kabar mengejutkan untuk ku." Menghentikan ucapannya, hingga membuat Nari penasaran.


Memutar letak duduk hingga tepat menghadapi Fay, yang juga duduk di atas kotak bekas buah-buahan.


"Kata Mamah, dia udah punya calon istri buat aku." Fay membuang napas, hingga bahunya terlihat naik dan turun lagi.


Kedua bola mata Nari semakin membuat"Heeiii, kamu di jodohkan??."


Pertanyaan itu di angguki Fay.


"Sama siapa?" bukan cemburu, Nari hanya sangat penasaran gadis mana yang akan menjadi pasangan Fay, pria rendah hati ini. Dia punya uang banyak tapi berangkat dan pulang sekolah naik sepeda doang, padahal dia punya mobil sport di kediamannya. Rendah hati sekali kan pemuda ini.

__ADS_1


Memanyunkan bibir, Fay terlihat menggelengkan kepala.


"Kamu nggak tau?."


Lagi-lagi pertanyaan itu di anggukinya.


"Buset! ku kira hanya aku doang yang punya orang tua doyan jodohin anak. Ternyata kamu juga" celetuk nya, meraih pucuk kepala Fay seraya mengusap lembut. Ada rasa hangat yang menjalari hati pemuda ini, namun dia yakin itu bukanlah akar cinta, sebab saat melihat Nari bersama Kai hatinya nggak merasa tersakiti sedikit pun.


"Kamu nggak tanya Mamah kamu, siapa gadis itu?."


"Kata Mamah itu rahasia. Nanti kalau sudah cukup usia untuk menikah, barulah kami di pertemukan."


Nari menelan saliva, hal itu sungguh menggelikan.


"Jadi, buat apa Mamah kamu mengatakan kamu sudah punya calon? kalau kalian nggak saling di perkenalkan?."


"Kata Mamah biar aku belajar menjaga hati. Calon aku juga sudah di kasih tau, dia sama seperti ku nggak tau siapa si calon itu."


"Anak sekolah ini juga?."


"Aku nggak tau."


"Hemmm, nggak rumit-rumit amat sih. Intinya kamu dan calon kamu itu nggak boleh pacaran sampai kalian akan di nikahkan. Bagus sih."


"Bagus dari mana?, kalau dia jelek gimana? aku kan cakep badai!."


"Oh ya? jadi kamu yakin kalau kamu itu cakep badai?."


"Iya dong. Banyak cewek di sekolah ini yang sudah aku tolak. Cuman kamu aja yang nolak aku" Fay menunjukan wajah.


Nari semakin terkekeh"Heii Fay Radian!! cowok cakep nggak akan sedih hanya karena pernah di tolak seorang cewek."


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗.

__ADS_1


salam anak Borneo.


__ADS_2